Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Pergi


__ADS_3

Aagha cetin Emin dan Ercan Hamza Karem. Kedua anak Phonix Jabir masih terlelap bersama ketiga anak Ansel, Aagha dan Ercan tidak pernah bermain dengan sebayanya sebelum ini. Membuat mereka begitu bahagia bisa bermain bersama Ivan dan Ivander, meskipun Rania perempuan sendiri tetapi juga tak menghalangi mereka berlima untuk akur, Hanya saja Aagha dan Ercan kurang lancar berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. tapi ya namanya anak-anak mereka msh enjoy saja


Rinjani menghampiri kelimanya, Setelah lebih dulu meninggalkan meja makan


Putra-putra Phonix Jabir sangat tampan, berbeda dengan Ivan dan Ivander yang memiliki wajah kebulean, kedua putra Phonix Jabir menuruni gen Turki kental, memiliki kulit kuning Langsat dengan hidung mancungnya disertai alis tebal dan bulu-bulu halus di area wajahnya, sangat tampan meski mereka masih sangat muda, tetapi garis wajah ketampanan mereka sudah nampak begitu nyata


Tangan Rinjani mengelus Surai tebal kehitaman milik putra-putra Phonix Jabir, mendengar cerita kilat Nyonya rumah yang kini disebutnya sebagai Ibu, Rinjani faham seberapa kurangnya kasih sayang mereka, diusianya yang sedang aktif nya belajar mereka tak mendapatkan kasih sayang maksimal, hati Rinjani tersentuh, berandai-andai jika posisi Ivan dan Ivander seperti mereka entah bagaimana jadinya?


" Anne" mata Aagha terbuka dan langsung memanggil Ibu pada Rinjani dengan bahasa Turki


Rinjani tersenyum. " Bangun, kita makan" Rinjani yang tidak bisa berbahasa Turki, mengunakan bahasa Inggris sambil memperagakan gerakan mandi dan makan dengan tangan nya


Putra kedua Phonix Jabir itu tersenyum tulus, giginya indah dan tampak runcing di bagian taringnya membuat ketampanan nya kian bertambah saat giginya tampak. Pria kecil itu langsung berceloteh sambil menyentuh perut buncit Rinjani, Rinjani yang tidak mengerti hanya tertawa kecil, yang pada akhirnya membuat mata-mata tanpa dosa itu terbuka satu persatu


" Mommy" Sebut si kembar dengan suara seraknya, Rania yang dekat dengan mommy nya langsung bersandar di bahu sang Mama


" Mandi sayang" Rinjani mengelus sayang kepala putrinya dari samping


" Oke mom, apa kita masih lama disini?"


" Rania suka di sini?"


" Yes mom, yes I'm happy because I have many friends"


Rinjani tertawa kecil. " oke, lain kali kita bisa mengunjungi Aagha dan Ercan lagi." ucap Rinjani seraya mengelus kepala dua putra Phonix Jabir


"Promise mom" Rania mengulurkan jari kelingkingnya, yang disambut Rinjani dengan jari kelingkingnya juga dengan anggukan kepala, yang membuat Rania tersenyum kesenangan


Tanpa Rinjani ketahui, apa yang sedang ia lakukan tengah di perhatikan sepasang mata yang menatap kebersamaan mereka dengan tatapan sendu


" Hai" Phonix Jabir memeluk pinggang istrinya yang berdiri mengamati satu layar yang fokus pada kamar kedua putranya


" Mereka sangat bahagia dengan kehadiran sosok Ibu penyayang"Alara Halime memutar tubuhnya, ikut menatap suaminya yang tengah menatapnya


" Kau pun sosok Ibu sempurna" Bisik Phonix Jabir


" Mas Arief, tolong maafkan aku" Alara Halime menitihkan air mata, setelah sekian lama Phonix Jabir bisa mendengar wanitanya menyebut namanya seperti dulu


Tidak hanya Alara Halime yang menangis, sosok pria di hadapannya pun tak kuasa menahan rasa harunya


" Aku terlalu tengelam dalam luka masa lalu, aku mengabaikan mu dan putra-putra kita" Isak Alara Halime


Phonix Jabir merengkuh tubuh wanitanya, membiarkan wanitanya menumpahkan keluh kesahnya di dalam pelukannya yang hangat


Ia merindu akan rasa seperti ini, rasa saling berkeluh kesah yang sekian lama tak pernah singgah di kehidupannya berpuluh tahun berlalu dalam kehidupan rumah tangganya

__ADS_1


Alara Halime menyadari betapa besar kesalahannya terhadap laki-laki yang tengah memeluknya ini, jika saja orang lain, mungkin pria nya sudah mencari wanita cantik dan sehat di luar sana, terapi Phonix Jabir adalah pria yang sangat mencintainya, laki-laki yang paling setia yang pernah ditemuinya seumur hidup


Lima belas tahun dengan keterpurukan yang ia alami, tak sekalipun lelakinya tak ada untuk ia, Phonix Jabir selalu membersamai dirinya dengan sabar dan tulus, cinta lelaki yang tak sekedar memandang fisik. Namun murni karena kesucian cinta yang pria itu miliki untuk nya, membuat Phonix Jabir setia menemani kehidupannya yang monoton dan tak menarik


Ansel terpingkal kerap kali mendengar kedua putra Phonix Jabir mencoba berhasa Indonesia yang ia ajarkan, Setelah memandikan empat jagoan, Ansel pun tak keberatan memakaikan pakaian ke empat pria-pria kecil yang terlihat tampan keseluruhannya, sedangkan Rania sudah pandai mandi dan bersiap sendiri


Rinjani memilih duduk memperhatikan interaksi suaminya dan empat pria kecil yang kerap kali membuat bibirnya tertarik karena kelucuan mereka.


Menjelang sore hari Ansel dan keluarganya baru di pulangkan oleh Alara Halime, ya.. tidak hanya Phonix Jabir saja yang mengantar, bahkan sang istri pun ikut mengantarkan mereka, dan itupun perjalanan pertama Alara Halime tanpa sebuah kursi roda


Sebenarnya Ansel sudah mendengar perihal Merry, tetapi Ansel tidak berniat mengunjungi sepupunya itu di rumah sakit, entah mengapa mendengar kabar bahwa Merry mengandung di luar nikah, hati Ansel sangat miris, sejauh itu ternyata sepupunya mengenal agama, sesuatu yang berdosa di anggap biasa, kalau sudah seperti ini? bahkan keluarga besar yang tak menahu apapun ikut tercoreng namanya


" Jadi sebenarnya Merry hamil sama Tristan kak?"


Tanya Rinjani setelah datang dari kamar anaknya dan ikut gabung Ansel duduk di sofa kamar


" Dia sendiri tidak yakin"


" Maksudnya?"


Ansel hanya mengangkat bahu


" Merry banyak pacar kak?"


Ansel membasahi bibirnya, dan beralih menatap lekat dan dalam netra bulat almond milik Rinjani


" Sepertinya kita harus segera pergi, aku mau kita hidup di lingkungan baru"


" Aku dan anak-anak mau dibawa kemana sih Kak?"


" Ketempat dimana ada keterangan dan tidak ada ganguan orang yang berniat memisahkan kita" Ucap Ansel mengecup bibir Rinjani


" Kan sudah Merry katakan, kalau dia tak berniat mengatakan bahwa Kaka yang menghamilinya, dia hanya melihat wajah Kaka di sisa kesadarannya, makanya dia menyebut nama Kaka" Bela Rinjani untuk Merry


" Ya Sayang, tapi aku tidak mau ada kejadian seperti ini lagi, lagian jujur aku ini pria yang pencemburu sebenarnya, aku ngak suka ada orang yang gangguin kamu" Ansel menciumi lagi pipi Rinjani yang bersemu


" Benarkah?" tanya Rinjani melerai ciuman suaminya


" Apa?" Tanya Ansel sedikit tak suka kesenangannya di ganggu


" Kaka pencemburu"


" Banget" Ansel kembali mengecup bagian-bagian titik sensitif Rinjani


" Kenapa aku tak pernah menyadari itu??"

__ADS_1


Ansel tak menjawab pertanyaan istrinya, dirinya sudah hanyut dan tekun bermain di area favorit nya


Otak Rinjani seketika padam, dia tidak punya solusi untuk mencegah prianya yang sedang menyentuhnya dimana-mana , tubuh Rinjani di gulung di tekan dan di tindih. Ansel berhenti untuk menatap Rinjani. Tetapi napas pemuda itu menderu agak berat, tatapannya intim dan menghipnotis


" Kak, aku"


" Ya sayang, aku tau"


Kemudian Ansel mulai melepaskan kancing kemejanya sendiri, melucuti semua pakaiannya agar Rinjani lebih nyaman


" Kak " Rintih Rinjani sebelum bibirnya di rampas oleh Ansel


" Kita ukir kenangan indah kita disini, besok kau dan anak-anak akan kubawa pergi" Di sela gerakan Ansel yang membuat Rinjani gelisah, pemuda itu kembali berucap tentang rencananya


Rinjani sendiri tidak mengetahui kemana Ansel akan membawanya, tetapi Rinjani percaya apapun keputusan Ansel pasti yang terbaik untuk dirinya dan anak-anak


Paginya, Rinjani dan anak-anak sudah di bawa ke atas atap hotel milik Phonix Jabir. Tak lama kemudian, helikopter yang dibawa oleh Awan juga sudah terlihat terbang di atas kepala mereka


Rinjani melihat ke arah helikopter yang perlahan turun ke atas helipad yang tak jauh dari mereka, baling-baling nya mulai berputar pelan saat kaki helikopter itu sudah menapak di lantai beberapa detik


Awan langsung membuka pintu helikopter dan melambai ke arah mereka


Pasangan Phonix Jabir dan pasangan orang tua Ansel merangkul Rinjani, Phonix Jabir kembali mengenakan maskernya, dan kali ini Ansel tidak protes karena ada kedua orang tuanya, siapa lah dia yang tiba-tiba mendapatkan kesempatan seperti layaknya seorang prajurit perang hingga bahkan sang ketua mafia sudi mengantarkan keluarga nya dan memberikan fasilitas seperti ini


Setelah berpamitan mengharu biru, Ansel mengenggam tangan Rinjani Ivan dan Ivander di gendong oleh sang Opa, Rania di tuntun oleh sang Oma, mereka melangkah memasuki helikopter tersebut


" Rin, pakai safety belt nya" Ansel berkata lembut saat mereka sudah berada di dalam helikopter. sementara awan juga membantu memasangkan safety belt pada anak-anak Ansel


Ansel memeluk Rinjani dan anak-anak nya dan tangan nya menepuk pundak sahabatnya Awan dan pilot. beberapa saat kemudian baling-baling helikopter kembali semakin cepat


" Wan, aku titip Rinjani dan anak-anak ku"


Awan mengangguk serius


" Kak, Kau tak ikut pergi?" Rinjani kebingungan pasalnya Ansel tak kunjung memasang safety belt nya. Sedangkan helikopter itu sudah siap terbang.


" Tunggu aku 48jam sayang, ada yang harus aku selesaikan, percayalah ini semua aku lakukan demi kalian. Rin, jaga diri dan anak-anak, tunggu aku" Ansel menangkup kedua pipi Rinjani dan mengecup lembut bibir wanita itu. Dan beberapa saat dia melompat keluar dari helikopter tersebut


" Daddy" Seru si kembar histeris, sambil mencoba melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya


Co-pilot langsung menarik pintu helikopter, dan menutup nya rapat-rapat, perlahan helikopter itu mulai meninggalkan helipad


Sambil menghibur kedua putranya, Rinjani menatap tubuh Ansel yang melambaikan kedua tangan ke arahnya. Senyum Ansel begitu menenangkan, tetapi Rinjani justru gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa Ansel seperti merencanakan sesuatu yang tidak ia ketahui?


" Percayalah, semua yang dilakukan Ansel adalah untuk kebaikan kalian" Tiba-tiba Awan menghibur istri sahabatnya yang tampak sendu, sementara si kembar sudah berganti wajah ceria melihat pemandangan dari dalam helikopter, yang masih terbang rendah

__ADS_1


Rinjani menarik napas dalam-dalam sambil menganggukkan kepalanya


Helikopter mulai meninggalkan gedung pencakar langit itu, kini capung besi itu sudah semakin tinggi hingga tak mampu melihat pemandangan dari tempat mereka duduk. Rinjani tidak tau kemana Ansel akan mengantarkannya pergi. Rinjani hanya terus berdoa semoga mereka akan segera bertemu kembali


__ADS_2