
Raut syukur terpatri dari wajah Bapak montir yang sudah meminjamkan motor miliknya pada Ansel, Ansel tidak hanya mengembalikan motor yang di pinjamnya tetapi juga memberikan sejumlah uang untuk beliau, beliau mengaku itu terlalu banyak, karena pendapatan nya tidak sampai sejumlah uang yang diberikan Ansel, tetapi Ansel memaksa untuk sang Bapak menerima nya untuk Menganti kerugian yang di terima sang Bapak, sekaligus Ansel bilang itu sedikit rejeki untuk beliau, wajah pria paruh baya itu berbinar, tak hentinya mengucapkan terima kasih.
Setelah mengembalikan motor, Ansel , Rinjani dan anak-anak nya menuju ke Jakarta aquarium, Rania dan si kembar begitu antusias melihat kehidupan di bawah laut di dalam mall itu.
Rinjani bergandengan tangan bersama Ansel, sedangkan anak-anak sudah saling menunjuk penuh kekaguman pada aquarium besar berisi aneka jenis ikan, ada beberapa bagian dibagi karena jenis ikan nya banyak.
Ansel dan Rinjani mengikuti langkah anak-anaknya, kesebuah akuarium berbentuk lorong kecil untuk melihat linsang yang lincah dari dekat.
" Keren! tak kalah seperti sea life Bangkok Ocean World" Puji Rinjani.
" Benar" Ansel sependapat.
Ivan dan Ivander tak ada berhentinya menunjuk berbagai jenis ikan yang sibuk mencari-cari, puas mengagumi akuarium raksasa, mereka pergi ke touch pool, Rania, Ivan dan Ivander begitu antusias menyentuh hewan laut yang mengemaskan, sampai-sampai si kembar tak mau lagi di gendong Daddy nya sibuk melangkahkan kaki kecilnya kesana kemari
Melihat kebahagiaan anak-anaknya Ansel dan Rinjani tersenyum lebar.
" Kita lihat Feeding time sekalian" ujar Ansel saat melihat para penyelam bersiap masuk kedalam akuarium untuk memberi makan ikan.
Terakhir mereka melihat pertunjukan teatrikal menarik bertemakan Pearl of the sea.
Sangat mengesankan untuk mereka, karena tidak hanya sekedar menyenangkan hati buah hati mereka, Rania dan si kembar bisa sekaligus belajar mengenal hewan laut, menjadi poin plus tersendiri, tempatnya juga Instagramable, banyak tempat untuk mendapatkan foto siluet nan indah dengan latar belakang ikan-ikan, pulangnya mereka juga langsung mampir makan dan berbelanja kebutuhan mereka, itulah enaknya rekreasi di dalam mall.
Rinjani tersenyum melihat anak-anaknya langsung terlelap saat mereka tiba di dalam mobil, sepanjang perjalanan Rinjani hanya menyandarkan kepalanya di bahu Ansel, tak memungkiri sebenarnya kaki Rinjani juga terasa pegal karena mengikuti langkah lincah kaki kecil anak-anaknya.
Tiba di rumah waktu sudah hampir magrib, Ansel langsung mengendong si kembar untuk di ajak membersihkan diri sebelum mereka melaksanakan shalat berjamaah, untuk Rania yang sudah paham tidak perlu di ingatkan karena Rania termasuk anak yang cerdas.
"Shadaqallahul-'adzim' " Rania mengakhiri bacaan Alquran nya, sedangkan Ansel dan Rinjani masih melanjutkan mengaji sampai tiba waktu shalat isya, tetapi untuk si kembar sudah terlelap sejak usai magrib.
Setelah memastikan anak-anak nya terlelap nyaman Ansel menyusul Rinjani ke kamar mereka.
Rinjani sudah bersandar di kepala ranjang saat Ansel masuk kedalam kamar mereka, Rinjani tersenyum saat Ansel duduk di di pinggir ranjang, siapa sangka Ansel segera meraih kaki Rinjani dan memijit di bagian betisnya.
__ADS_1
" Kak"
" Biar mengurangi lelah mu"
" Aku tidak lelah kak" Elak Rinjani.
Ansel hanya tersenyum untuk menanggapi, tangan nya tetap memijat lembut kaki Rinjani yang membuat sang empu merasa tak enak.
" Harusnya aku yang memperlakukan seperti ini" Ucap Rinjani, terpaksa menerima perlakuan suaminya yang membuatnya sangat nyaman
" Memperlakukan seperti apa?" Tanya Ansel.
" Memijat Kaka"
" Lain kali kan bisa Sayang, sekarang giliran mu, kelak aku akan meminta padamu jika aku mau, dan ku harap saat itu kamu tidak menolak"
Rinjani tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
" Siapa??" Tanya Ben pada Maina saat seorang pria baru saja pergi dari halaman rumah mereka
" Orang tanya alamat kak" Jawab Maina lembut.
" Lain kali kalau ngak kenal ngak usah di tanggapi' Ujar Ben, sambil kembali masuk kedalam rumah.
Maina hanya menghela napas nya dalam, mendengar nasehat suaminya, lagian masak Maina tak menanggapi jika seseorang bertanya baik-baik tentang alamat, mau melipir begitu saja kan tidak mungkin.
" Mai aku ngak suka kamu terlalu sibuk mengurus halaman, besok biar aku cari tukang kebun" Ucap Ben begitu Maina bergabung duduk di sebelah Ben yang menonton televisi.
" Tidak terlalu sibuk kok kak, lagian Mai hanya menyiram tanaman"
" Iya, dan akhirnya kamu di lihatin oleh pria-pria ngak jelas, tukang ojek lah, tukang sayur lah, belum lagi pria-pria yang pura-pura tanya alamat kayak barusan" jawab Ben ketus
__ADS_1
' Kak Ben kenapa sih' Batin Maina
" Pokoknya besok aku Carikan tukang kebun" ucap Ben yang terdengar mutlak
Lagi-lagi Maina hanya mampu pasrah, karena sedari dulu Ben memang seperti itu. Ben tetap tak berubah, Ben tetap pria cueknya yang diam-diam mencuri hatinya.
" Kemarilah" Ben menepuk samping sofa tepat di samping nya, Maina juga langsung beringsut tanpa debat, begitu Maina duduk di samping Ben, Ben segera menarik kepala Maina untuk bersandar di bahunya
" Jangan suka mendebat ku Mai, kau tau aku tak suka di bantah" Ujar Ben.
Lagian siapa juga yang mendebat, bahkan Maina hanya mengangguk menanggapi ucapan Ben.
" Iya kak" Akhirnya Maina hanya mengatakan itu, yang di tanggapi Ben dengan helaan napas.
" Aku akan membawamu makan di luar kalau kamu mau" Ucap Ben merangkul pinggang Maina
Sebenarnya, Ben hendak mengajak, tetapi yang keluar malah seperti sebuah pertanyaan.
" Mai siap-siap dulu" Mainan tersenyum dan bergegas melangkah menjauh menuju kamar, sedangkan Ben masih menatap tubuh istrinya hingga menghilang di balik pintu.
" Apa aku terlalu keras padanya?" Gunam Ben pada dirinya sendiri
Maina keluar dari kamar memakai baju putih gading dengan belahan dada yang sedikit rendah, Ben terbelalak melihat penampilan istrinya, raut wajahnya berubah dari santai jadi menegang.
" Aku mau membawamu keluar Mai, bukan masuk kamar" suara Ben terdengar tegas
Maina sendiri dibuat bingung, dirinya paham kalau Ben mengajak dirinya keluar, bukan masuk kamar, makanya dirinya berdandan dan mengenakan baju bagus, kalau di ajak ke kamar ngapain pakai dandan dan baju segala yang ada bisa terkoyak-koyak itu pakaian dan berakhir di tong sampah.
" Apa tak ada lagi yang lebih terbuka dari pada itu??" Tanya Ben menaikan sebelah alisnya. " Ganti" ujarnya memerintah.
Mai kembali masuk ke kamar, suaminya ingin yang lebih terbuka, padahal Maina tidak memiliki baju yang terlalu terbuka, Maina membuka tempat pakaian nya mengambil baju warna marun yang tak berlengan, panjangnya hanya menyentuh lutut, menimbang apakah Ben ingin dirinya tampil seksi? dan pada akhirnya Maina benar-benar Menganti pakaian nya, karena warna bajunya lebih terang, Maina juga menambah warna bibir nya menyesuaikan dengan bajunya, tetapi saat berdiri di hadapan suaminya, bukanya di komentari yang ada Ben langsung mengendong tubuh mungilnya kembali masuk ke kamar, yang membuat Maina melongo, karena bukanya jadi jalan Ben malah mengajaknya kembali berperang di atas tempat tidur.
__ADS_1