Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Tangis si kembar


__ADS_3

Rinjani menunggu Ansel yang belum juga pulang disaat jam sudah jauh malam, tadi Andrean sudah menghubungi jika mereka sedang ada pertemuan di luar kota, tetapi kata Andrean mungkin sekitar jam delapan malam mereka sudah pulang, tetapi sampai sekarang Ansel belum juga sampai.


Rinjani sudah menghubungi ponsel sang suami tetapi sedari tadi tidak aktif.


" Hallo Dre, apa kalian masih di jalan??"


[" Aku sudah sampai dua jam yang lalu, apakah Pak Ansel belum sampai??"]


Kerutan di kening Rinjani terlipat, jika Andrean sudah sampai dua jam yang lalu harusnya Ansel sudah sampai di saat yang kurang lebih dengan Andrean, tetapi mengapa suami nya belum juga datang.


" Belum Dre" Jawab Rinjani dengan cemas


[" Apa kau sudah menghubungi nya??"] dari sebrang sana Andrean juga terdengar khawatir.


" Ponsel Kak Ansel tidak aktif" balas Rinjani lemas


[" Aku akan coba hubungi pihak kantor, kamu tenanglah!"] ucap Andrean menenangkan.


" Baiklah Dre, aku tunggu kabar baiknya"


[" Iya, tenangkan dirimu Rinjani"]


Setelah Ansel mematikan sambungannya, Rinjani hanya menghela napas pasrah.


Rinjani yang sedang gelisah, di kaget kan dengan suara tangis si kembar.


" Ada apa Bu??" Tanya Rinjani mendekati pengasuh putranya.


" Ini Bu, Baby Ivan dan Ivander mendadak nangis tanpa sebab" ucap kedua pengasuh itu mencoba menenangkan putra kembar Rinjani.


" Sayang kalian Kenapa??" Rinjani menghampiri kedua putranya yang sedang menangis tersedu-sedu


" Mommy___ rengek baby Ivan mengulurkan tangan kecilnya.


" Kemarilah" Rinjani duduk di bibir ranjang sang putra.


Sang pengasuh menurunkan si kembar dari gendongan mereka, Ivan dan Ivander langsung berlari memeluk Rinjani yang tengah duduk.


" Ada apa anak mommy menangis??" Rinjani memeluk bocah montok yang sedang memeluk dirinya


" Daddy mom" Isak baby Ivan

__ADS_1


" Daddy kenapa??" tanya Rinjani pada putranya yang sangat mirip dengan suaminya itu, sedangkan baby Ivander hanya terisak sesak dan sesegukan


" Daddy pelgi" ucap Baby Ivan dengan matanya yang sembab dan masih mengucurkan air mata.


" Daddy masih dijalan sayang" Bisik Rinjani yang sedikit parau, entah mengapa mendengar ucapan sang putra hati Rinjani menjadi was-was


Jam segini biasanya kedua Putra nya terlelap damai, kini tiba-tiba terbangun dan menangis memimpikan Daddy nya, yang memang sampai saat ini belum pulang dan tidak bisa di hubungi, hampir dua jam Rinjani menenangkan putra nya hingga kedua bocah gemuk itu tertidur karena lelah menangis, bahkan mereka tidak mau sama sekali meminum susu


Rinjani juga tak hentinya menghubungi ponsel Ansel, tetapi hingga saat ini hanya suara operator yang menjawab.


" Kak kau dimana??" Rinjani mendesah sedih campur khawatir


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tetapi tak ada kabar apapun yang menenangkan hati wanita yang tengah mengandung itu.


Entah jam berapa Rinjani tertidur, sampai dia terbangun saat suara keributan terdengar dari luar kamar nya.


Rinjani baru saja hendak membuka pintu, sebelum pintu itu terdorong terbuka lebih dulu.


" Ma__ Rinjani, menatap linglung, karena rumahnya banyak orang.


Sang Mama juga langsung memeluk nya dengan erat, dengan punggung bergetar, karena tangis


' Ada apa??' Batin Rinjani


" Ansel kecelakaan"


Tangan Rinjani yang tadi turut memeluk tubuh sang Mama luruh dan lunglai, dadanya Rinjani sesak mendadak, cobaan apa lagi ini??'


Ben dan Andrean menerobos masuk, Rinjani menatap wajah Ben berkaca-kaca, jika Ben benar-benar sampai datang, berati kabar buruk itu benar


Rinjani mengeleng dengan air mata berlinang.


Bibir Rinjani bergetar " Dimana Ansel" Tanya Rinjani dengan wajah yang pucat karena rasa takut


Ben dan Andrean mengeleng, sedangkan Mama Ansel kembali menangis hebat


Rinjani mundur


" Apa maksudmu__ tanya Rinjani menghapus air matanya.


" Sayang tenangkan dirimu" Bisik Mama Ansel merengkuh tubuh menantunya.

__ADS_1


Rinjani melepas pelukan Mama mertuanya dan berjalan meraih tangan Ben dan Andrean.


" Mana Suami ku??" Tanya Rinjani tidak sabaran


Ben dan Andrean saling pandang dengan wajah sendu


" Mobil Ansel di temukan masuk jurang, Ansel masih dalam proses pencarian" Ucap Ben memegang kedua pundak Rinjani.


Rinjani menghempaskan tangan Ben, kepalanya mengeleng, kakinya terus melangkah mundur.


" Tidak, kalian bohong, Ansel tidak mungkin kecelakaan, suamiku tidak mungkin kecelakaan"


Dada Rinjani sesak, napasnya memburu, Rinjani tidak percaya Ansel kecelakaan, Ansel sudah berjanji akan mengajak dirinya berbelanja kebutuhan anak mereka, Ansel tidak mungkin kecelakaan, mereka bohong.


Mama Ansel mendekat, tetapi Rinjani semakin menjauh.


" Bawa aku pada suamiku Dre" mohon Rinjani berlinang air mata.


" Rinjani doakan yang terbaik, tetapi Ansel memang belum di temukan" Ucap Andrean menatap Rinjani dengan sendu.


" Bawa aku kesana Dre, aku yang akan menyusul nya agar Suami ku mau pulang"


Sepanjang perjalanan menuju tempat dimana mobil Ansel ditemukan Rinjani hanya menunduk dengan Isak tangis, anak-anak tidak turut serta, mereka tidak harus tau kesedihan semua orang.


Sampai di tempat kejadian, Rinjani turut melihat mobil suaminya yang tengah berada di dasar jurang yang cukup tinggi, di bawahnya ada bebatuan dan sungai yang sangat deras, siapapun bisa menebak, jika seseorang jatuh disana kemungkinan untuk hidup sangat kecil


Garis polisi melintang di sana, Rinjani dapat melihat cat mobil yang masih menempel di aspal, sepertinya sebelum masuk jurang mobil Ansel sempat terbalik dan terseret terlebih dahulu, sebelum menabrak besi pembatas dan masuk jurang.


Hati Rinjani seperti sedang di remas oleh sesuatu yang menghancurkan nya sampai remuk, sesak di dadanya tak mampu lagi ia tahan.


Bahkan bangkai mobil itu jelas tak mudah untuk di eksekusi, karena tempatnya yang curam dan di penuhi semak belukar.


Seorang petugas kepolisian menghampiri mereka.


Menyerahkan benda yang katanya berada di dalam mobil Ansel dengan sarung tangan, di dalam plastik putih itu Rinjani dapat melihat satu buah jas Suaminya yang kemarin di kenakan Ansel, ada tisu yang sudah bersimbah darah, ada cas dan benda lainnya yang memang milik Ansel.


Rinjani langsung di peluk oleh Papa Ansel, mereka semua hanya tak bisa berangan lebih melihat bagaimana parahnya mobil itu, jelas sekali sempat terguling-guling sebelum masuk ke jurang.


" Kita pulang yuk Pa" tutur Rinjani lirih. " Sudah dong Pa bercandanya, Rinjani kan ngak sedang ulang tahun"


Mana Ansel menangis melihat wajah menantunya yang sedang di peluk sang suami, wajah putus asa yang mengambarkan kehancuran hati, meskipun Ansel di temukan mungkin pemuda itu dalam kondisi buruk, melihat dan seberapa parah kondisi mobil dan tempatnya terlempar Mama Ansel hanya bisa berharap ada keajaiban.

__ADS_1


Tidak hanya mama Ansel, Andrean dan Ben juga hanya mampu menatap nanar tubuh Rinjani yang tengelam dalam dekapan pria paruh baya yang sudah menganggap Rinjani malaikat keluarganya.


__ADS_2