
Mereka sedang saling merayu saat suara ketukan pintu terdengar, Ansel buru-buru merapikan pakaian nya, menutupi tubuh istrinya dengan selimut dan segera membuka pintu.
" Ada Tuan Ben di bawah Tuan Muda!" Asisten Mamanya memberi tahu begitu pintu terbuka.
" Ya, aku segera turun" Jawab Ansel sedikit menyergit, untuk apa Ben datang malam-malam begini??
" Kak" Rinjani juga sudah merapikan dirinya
" Ada Ben di bawah" Jelas Ansel
" Malam-malam begini??" Tanya Rinjani juga agak aneh.
" Aku temui Ben sebentar" ucap Ansel hendak melangkah.
" Aku ikut" Rinjani segera mengamit lengan Ansel.
" Sayang pake dalaman dulu" Cegah Ansel lembut
" Oh, aku lupa"
Setelah Rinjani memakai baju lengkap, mereka segera turun, menemui Ben yang sudah duduk bersama kedua orang tuanya.
Ben yang mendengar suara langkah kaki berpaling.
" Aku kesini ingin bertemu dengan Tuan Nikolas Al-Biru dan Nyonya Rubbyan, tidak ingin mengganggu kalian" Ben bersuara
" CK" decak Ansel dan duduk di sisi kanan Ben di ikuti Rinjani.
" Tidak biasanya kamu datang malam-malam , jadi aku kepo setengah mati" Jawab Ansel asal.
" Ben pamit ingin pergi ke Ichinomiya" ujar Mama Ansel.
" Apa??" Ucap Ansel dan Rinjani bersamaan.
__ADS_1
" Ben, kenapa kau pergi, bukankah perusahaan sangat membutuhkan mu?" Tanya Ansel.
" Aku hanya ingin berlibur sementara waktu, aku pasti akan kembali jika keuangan ku sudah menipis" ujar Ben
" Apa ini soal perasaan mu dengan istri ku Ben?? jika iya, aku tidak mempermasalahkan perasaan yang tumbuh tanpa bisa di cegah, kau dan aku sebenarnya tidak ada bedanya, aku pernah berada di posisi mu, Rinjani memang sangat layak di cintai banyak orang" ujar Ansel, tangan nya meraih tangan sang istri di bawah meja dan di tarik di atas pangkuan nya
" Bisa iya, bisa tidak, Ansel aku memiliki watak yang keras aku takut tak bisa mencegah egoku jika nantinya benar-benar membawa lari Rinjani" Ujar Ben, yang di tanggapi Ansel dengan rotasi matanya.
Sedangkan Rinjani hanya terperangah tak percaya, seolah dirinya mencibir Ben, sangat bodoh sampai bisa jatuh hati padanya.
Sebenarnya dari mata setiap Pria Rinjani memang sangat layak di cintai tidak hanya dari segi kebaikan hati nya, tetapi juga dari paras dan juga bentuk tubuhnya, tetapi Rinjani acuh akan daya tarik alami yang ia miliki, bahkan wanita itu tak pernah menyadari bahwa sebenarnya dia bagaikan berlian yang gemerlip di atas pasir hitam, terkadang orang yang cantik memang cenderung merasa dirinya biasa saja dan itu juga berlaku untuk Rinjani, bahkan Rinjani sama sekali tidak menyadari seberapa layak dirinya di inginkan setiap mata lelaki, dengan keluguan nya, pikiran cerdasnya, kebaikan dan kelembutan nya sangat banyak
Setiap orang pasti akan langsung jatuh hati melihat pribadi seorang Rinjani, dirinya selalu berempati pada kesulitan orang lain, dia bahkan rela melepaskan kebahagiaan nya sendiri demi orang lain bahagia, semua akan baik-baik saja, itu mantra yang selalu terpatri kuat dalam hatinya.
Rinjani percaya segala kejadian baik atau buruk, akan memberikan pelajaran dalam hidup. Semua itu tergantung dari sudut pandang manusia nya.
Satu pesan yang di ingat Rinjani dari Ayah nya ' Dunia itu adil, ada gelap ada terang, ada kesedihan yakinlah akan tiba juga kebahagiaan. Maka nikmatilah proses nya, itu akan menjadikan mu kuat dan dewasa' terdengar sangat sederhana tetapi makna didalam nya sangat dalam, dan dari kata sederhana itu Rinjani bisa menjadi wanita yang kuat dan tegar, juga pandai beradaptasi.
Contoh saat dirinya tiba-tiba menikah dengan mantan suami pertamanya, Rinjani di paksa hidup serba kekurangan, alih-alih mengeluh dan protes, Rinjani justru mampu bertahan hingga dua tahun lamanya, andai badai kehancuran itu tak datang barang kali saat ini Rinjani masih hidup sederhana bersama suami pertama nya, sayang perjalanan cinta Rinjani tak se sederhana itu, menikah sekali dan bahagia, lika-liku, suka-duka sempat menghampiri di pernikahan pertama, pun dengan pernikahan yang kedua, sedangkan yang ketiga Rinjani ingin dan berharap adalah pernikahan terakhirnya.
" Aku tidak yakin" jawab Ben acuh
" Ben, aku memang bukan Niel, tetapi jika untuk melenyapkan mahluk sebiji seperti mu aku juga mampu!" Tegas Ansel.
" Oh ya?? sayangnya bijiku dua jadi pasti kau akan kesulitan"
" Oh astaga___ kita sedang bahas Apa??
bahas biji terong nih??" Tanya Ansel yang mengundang gelak tawa, bahkan Ben juga tak bisa untuk tak tergelak, pria itu mengelengkan kepalanya.
" Aku bersyukur bisa tobat sebelum terlambat" ujar Ben disela tawanya. " Terimakasih kalian sudah memaafkan ku " tambahnya lagi.
" Urusan hati memang susah Ben, dulu aku rela bonyok hanya demi mendapat restu, kadang-kadang aku menyadari cinta dan bodoh itu beda tipis" ujar Papa Ansel yang mulai ikut mencairkan suasana.
__ADS_1
" Yang diperjuangkan sesuai jadi tidak masalah , Nyonya wanita yang layak di perjuangkan" Timpal Ben menatap Mama Nurry.
" Ben kau tidak sedang menggombal pada Mommy ku kan, gara-gara tak mendapatkan istri ku??" Tanya Ansel bercanda.
" Bisa jadi, kalau Tuan Nikolas mengizinkan". kekeh Ben.
" Sorry Ben, Tante tidak doyan brondong" ucapan Mama Nurry mampu membuat suasana semakin hangat oleh candaan non faedah, tak apa, yang penting semua baik-baik saja.
Ben pulang setelah mendapatkan izin untuk benar-benar pergi ke Jepang, Ben juga terlihat bisa menerima kenyataan, Ben juga memberi saran agar Rinjani bisa membantu Ansel sementara waktu dengan mengirim Andrean, menurut Ben, Andrean adalah kandidat terbaik untuk menjadi penggantinya.
Ansel menarik pinggang Rinjani yang ramping membingkai dengan tangan nya yang hangat.
Bibir Ansel mengecup pipi Rinjani yang bersemu, hidung, dahi , leher, tetapi melewati bibir indah Rinjani .
" Katakan sesuatu" bisik Ansel.
" Apa??"
" Apa saja" Balas Ansel mengesek ujung hidungnya pada telinga Rinjani.
" Bawa aku kekamar Kak" ucap Rinjani sedikit terengah
" Ya, tapi katakan sesuatu dulu" Ansel semakin memainkan telinga Rinjani kini tidak hanya dengan hidung nya, daging lembut yang terkenal tak bertulang itu ikut mengila di sekitar telinganya, semakin membuat Rinjani gelisah dan ingin menjerit.
" Aku mencintaimu"
" Aku tau, yang lain" Bisik Ansel tanpa melepaskan kerjaan yang di tekuni nya membuat Rinjani mengap-mengap kegelian
" Cium aku" Lirih Rinjani yang langsung di sambut Ansel dengan merampas bibirnya, tubuh Rinjani juga langsung di angkat oleh Ansel, tanpa melepaskan ciuman mereka, beruntung hari sudah malam semua sudah mendiami kamar masing-masing, hanya suara basah ciuman mereka yang terdengar.
Ansel sendiri sedang sangat bahagia, mendapatkan Rinjani memang hal yang dulu dikiranya mustahil, tetapi kini Rinjani benar-benar menjadi miliknya, tidak hanya tubuhnya tetapi juga hatinya, kebahagiaan yang tak ternilai, terlebih lagi ada darah dagingnya yang sedang tumbuh di dalam tubuh wanita yang teramat di cintainya ini.
" Apa aku boleh menginginkan mu" Dada Ansel sedang bergemuruh karena desakan keinginan dalam dirinya.
__ADS_1
" Ya____" Jawab Rinjani dengan tubuh yang mengambang di atas kasur, karena Pria nya tak segera menurunkan nya, Rinjani sedang di cumbu dan di manja membuat wanita itu tak mampu hanya untuk menjawab lebih panjang lagi.
" Ahh___ sayang__ maafkan aku__