
Ini UPP ketiga hari ini..
Bab berikutnya akan di lanjutkan jika komentar tembus 50, jika tidak tembus, pokoknya di tunggu sampai tembus baru UPP
author ngambek
hehehehe
canda reader__
happy reading ❤️❤️❤️
☘️☘️☘️🤗🤗
" Kandungan Ibu Rinjani selamat, tetapi keadaan Ibunya yang mengkhawatirkan, Ibu Rinjani seperti tidak memiliki semangat hidup, jiwa nya seperti tidak ingin bangkit, apa sebelum ini mental ibu baik-baik saja? maaf tapi darah Ibu tadi waktu di bawa kesini cukup tinggi, beliau seperti habis tertekan" Jelas sang Dokter, saat keluar dari ruang Penanganan, tidak menunggu lama Ansel langsung pulang detik itu juga untuk mengecek Cctv dan melihat apa yang sebenarnya istri nya alami.
Ansel memejamkan matanya rapat, saat mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, Rinjani diserang secara mental oleh Ayah Ben, setelah mengakui dialah dalang dari kecelakaan yang merenggut lima anggota keluarga Al-Biru, yang pastinya Nurry dan kedua anak Rinjani yang belum lahir, Darius juga mengakui menyesali karena Ansel masih hidup, untuk itu Darius berbohong dengan mengatakan sudah merusak mobilnya agar Ansel akan mati kecelakaan, tidak hanya itu Rinjani di suruh memanggil siapapun di rumah itu, Darius mengatakan semua penjaga sudah di sekap begitupun si kembar, sebagai wanita sekuat apapun dirinya jika mentalnya di tindas sedemikian pasti juga bakal setres, tidak hanya itu saat Rinjani bertanya baik-baik tubuh nya di dorong sekuat mungkin oleh Darius hingga Rinjani terjatuh hingga membentur tangga.
Jangankan Rinjani, Ansel pun sangat terpukul mengetahui kebenaran bahwa meninggal nya Kaka nya, istri dan calon anaknya adalah faktor kesengajaan, apa lagi Rinjani, apalagi Darius juga berbohong bahwa Ansel pun sedang di ambang maut, si kembar sudah di sekap, jelas mental Rinjani down.
Ansel juga langsung menyerahkan bukti rekaman video itu ke kantor polisi, untuk di proses sebagai tanda bukti, Darius pantas mendapatkan hukuman seberat-beratnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Seorang pria sedang merasa bingung akan keberadaan nya, begitupun dengan pandangan nya yang menemukan seseorang yang mustahil untuk hadir di sisinya, dia adalah Ben.
" Kak?, Ya Tuhan__ akhirnya Kaka sadar juga" Pekik wanita itu dengan raut syukur, Ben memejamkan matanya dan membuka kembali untuk menghilangkan bayangan yang tampak mustahil itu
" Maina" Lirih Ben, seolah tak percaya
" Iya Kak, ini Mai" Lirih wanita itu menitihkan air mata.
Ben membuang pandangannya sebelum wajah pria itu berubah mengeras dan marah
" Ngapain kamu disini, jangan sok perduli setelah apa yang pernah kamu lakukan pada ku" keras Ben.
" Justru aku yang harusnya bertanya, mengapa Kaka tidak menepati janji selama itu, sepuluh tahun kak, Mai menunggu, mengapa Kaka tega mengantung status Mai??" Maina terisak
__ADS_1
" Aku?? yang ingkar janji itu kamu, berjam-jam aku bersama pendeta menunggu untuk melakukan pemberkatan pernikahan kita kamu tidak hadir Mai"
" Bukankah Kaka yang mengubah jatwal dan tempat pernikahan kita kak, aku menunggu, lewat jam, lewat hari, lewat bulan, bahkan sampai sepuluh tahun berlalu, tetapi Kaka tidak pernah datang untuk menepati janji"
Nikolas Papa Nurry menghampiri keduanya yang sedang berdebat, membuat Ben dan Maina langsung terdiam, Ben dan Maina menghapus air mata di wajah masing-masing, posisi Ben yang masih telungkup karena punggungnya habis operasi sedikit menaikkan kepalanya.
" Bagaimana Rinjani dan janinnya??" Tanya Ben pada Papa Nurry
" Doakan semua baik-baik saja"
Papa Nurry mengnarik nafasnya dalam, sebelum menyodorkan ponselnya untuk memberikan video detik-detik pengakuan Ayah Ben. Ben pun menyimak dengan gigi yang gemelutuk menahan geram.
" Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan kebenaran Ben, Maina bukan tidak datang ke acara pernikahan kalian, tetapi Ayah mu yang membawa Maina pergi ke Boston, mengatakan bahwa kamu akan menyusulnya disana, karena Boston adalah tempat menikah impian mu, tetapi yang terjadi di Indonesia berbeda, Ayah mu pura-pura malu karena tidak datang nya Maina dan meminta orang untuk berbohong mengatakan Maina pergi bersama Pria lain" Papa Nurry menjelaskan, sesuai pengakuan Darius saat tadi memohon maaf atas kesalah fahaman yang membawa celaka.
Ben segera menatap wanitanya, dan Maina mengangguk dengan wajah basah air mata.
" Kenapa kamu tidak pulang, dan menghampiri ku Mai" lirih Ben, dengan iris yang berkaca.
" Uang dari mana Kak, Mai disana hanya di kasih uang pas-pasan untuk hidup dari Ayah Kaka, itupun hanya sampai enam bulan, sisanya Mai berjuang dengan bekerja di tempat panti jompo, sampai sekarang Mai bisa hidup karena itu" Wanita hitam manis itu tersenyum miris.
Pecah lah tangis Ben, dosa apa dirinya sampai harus memiliki Ayah bejat seperti Darius?
" Ada yang ingin bertemu dengan mu Kak, apa Kak Ben mengizinkan nya??"
Ben menyentuh pipi wanitanya yang di bencinya sepuluh tahun terakhir, tetapi cinta kini kembali mengembang di hatinya, ternyata mereka juga korban ke egoisan Darius.
"Iya" ucap Ben, mengosokkan wajahnya kebantal untuk menghilangkan air matanya
Maina buru-buru keluar dari ruangan Ben, tetapi tidak lama, karena setelah nya dia membawa masuk gadis manis bermata serupa dengan Ben, kira-kira gadis itu berusia sembilan tahun.
" Aalona ini adalah Daddy" ucap Maina mengelus Surai pirang milik gadis itu.
" Maina ini____
" Putri kita Kak" Jawab Maina dengan anggukan kepala.
Ben hanya megap-megap mengetahui dirinya memiliki putri yang sudah tumbuh sebesar itu, keajaiban apa yang membuat dirinya bisa menjadi seorang Ayah dalam waktu beberapa menit.
__ADS_1
Anak bernama Aalona itu mengecup pipi Ben, yang memberi gelenyer ketenangan di hati Ben.
" Maina??"
" IYa Kak, dia hadir setelah kita melakukannya"
" Ya Tuhan___" Ben benar-benar tidak tau, dirinya bisa sejahat itu, mereka memang saling mencintai, tetapi kejadian malam penyatuan itu karena keduanya sedang sama-sama mabok saat pesta lajang kawan mereka.
" Aku akan mengesahkan pernikahan kita di hadapan Tuhan, kita akan mengucapkan janji pernikahan di atas altar" Ucap Ben, mencoba mengapai tangan kedua belah hatinya.
" Dia mirip dengan ku" Tangis Ben saat mencium pipi putri nya
"Aku memberinya Nama Aalona, karena aku ingin dia Sekuat pohon oak" Ucap Maina ikut memeluk tubuh putrinya
Dan Ben mengangguk tidak apa-apa, bahkan Ben merasa ini keajaiban Tuhan
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Satu Minggu berlalu, tetapi Rinjani belum juga membuka matanya, Ansel sendiri tiada hentinya memberikan semangat juang untuk sang istri, rutinitas kekantor dan mengurus si kembar juga Ansel lakukan dengan baik
Ansel tidak mau ketiga anaknya kekurangan kasih sayang, kadang-kadang Ansel juga membawa Rania, Ivan dan Ivander untuk menemui Rinjani di rumah sakit, berharap Rinjani bisa mendengar suara mereka dan bersemangat untuk membuka matanya.
Saat ini hari sudah sangat larut, saat Ansel baru saja tiba mengantikan Ben dan Maina untuk menjaga Rinjani.
" Kalian pulang saja, biar aku disini "
" Apa tidak apa-apa??" Tanya Ben khawatir.
" Iya" Jawab Ansel tersenyum tipis.
Ben yang sudah di izinkan pulang setelah tiga hari dirawat, keadaan nya berangsur pulih, dirinya juga aktif membantu Ansel di kantor bersama Andrean.
Ansel duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Rinjani.
Dokter mengatakan, keadaan janin melemah sejak siang, membuat Ansel khawatir.
" Sayang___ buka matamu, lihat aku , anak-anak merindukan mu" Pemuda itu lagi-lagi menangis di atas tangan istrinya, entah sampai kapan penantian panjangnya akan berujung??.
__ADS_1