
Ansel menitihkan air mata, tetapi secepat kilat menghapus nya, Ansel tidak pernah memaksa istrinya untuk melihatnya, cukup mereka saling bersama membesarkan anak-anak itu sudah cukup.
Seperti layaknya hubungan mereka dulu saat pertama kali menikah, mereka juga jauh lebih asing dari pada ini, dan Ansel sanggup, asalkan Rinjani bisa tersenyum itu sudah cukup untuk nya, nyatanya Rinjani dulu memang hanya memandang dirinya sekedar adik ipar, berbeda dengan perasaannya yang memang mencintai Rinjani dalam diam dan tersembunyi di hatinya paling dalam, sakit, kecewa, sudah biasa Ansel rasakan, jadi ini belum apa-apa.
" Makan yang banyak" Ucap Ansel dengan tangan yang masih setia mengelus perut istrinya.
" Sepertinya anak kita ingin makan kentang rebus seperti saat kita di London besok pagi"
Ucap Rinjani dengan mulut yang sedang mengunyah.
Mendengar kata anak kita, tentu saja Ansel sangat senang, entahlah! banyak kata yang ingin di dengar Ansel dari bibir Istrinya yang sudah hampir tiga Minggu terakhir tidak banyak bicara, kecuali saat pertama kali sadar saja, Rinjani tampak biasa saja, setelahnya perubahan wanita itu semakin terlihat, Rinjani jarang bicara, banyak melamun dan sering menangis diam-diam, itu rutinitas Rinjani sejak keluar dari rumah sakit, Ansel sengaja memantau keadaan istrinya lewat kamera, agar Rinjani memiliki waktu untuk menyendiri dan Ansel tau kebiasaan menyedihkan sang istri, perasaan Ansel teriris setiap kali melihat Rinjani menangis diam-diam, dia merasa gagal menjadi suami, bahkan untuk sekedar menghibur Ansel hanya mampu menggunakan anak-anaknya sebagai pelantara.
" Kak, apa Kaka keberatan, membuatkan untuk kami??" Tanya Rinjani berpaling untuk menatap suaminya.
Ansel mengeleng antusias. " Sekarangpun akan ku buatkan untuk kalian" Ujar Ansel memaksakan senyumnya, meskipun tampak aneh mungkin.
Rinjani mengambil daging dengan tangannya, di jepit daging itu mengunakan ibu jari dan telunjuknya kemudian di suapkan pada Ansel.
" Aaaa" Rinjani meminta Ansel membuka mulutnya, tak tunggu waktu Ansel segera melahap daging yang di suapkan sang istri.
__ADS_1
" Ingin nya besok pagi" ucap Rinjani dengan menghisap dua buah jarinya yang tadi menyuap daging untuk Ansel, seolah menghisap bumbu yang tertinggal, perbuatan kecil yang juga bisa membuat hati Ansel hangat.
Akhirnya Rinjani Benar-benar menyuapi Ansel sampai daging dari kedua piring mereka tandas, terkadang saat sedang bahagia momen sederhana bisa membuat kehangatan tersendiri, dan Ansel tengah merasakan hal itu.
Rinjani dan Ansel masuk kekamar mereka bersama, tangan mereka saling terpaut, membuat keduanya seperti dulu lagi.
Setelah mengosok gigi bersama, akhirnya mereka pun naik ketempat tidur bersama.
" Kak Ansel" Rinjani memulai obrolan, baru saja Ansel memejamkan mata saat tadi hanya keheningan yang menyelimuti, Ansel kembali membuka matanya, menurunkan lengan nya yang dibuat pemuda itu menutupi kedua matanya.
" Ya"
" Maafkan aku" Ucap Rinjani tulus, wanita itu juga benar-benar merasa sangat bersalah pada suaminya, setelah tadi Rinjani meminta maaf pada anak-anaknya, kini waktunya dirinya memohon maaf kepada suami nya.
Ansel memiringkan tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan istri nya yang juga tidur memiringkan tubuhnya, mereka saling berhadapan.
" Jangan meminta maaf, tidak ada yang salah Sayang" Ucap Ansel menghapus air mata istrinya yang tiba-tiba jatuh, mata pemuda itu menatap teduh wajah istrinya yang memerah karena tangis
Rinjani mengeleng. " Aku sudah melupakan tugas ku, aku terlalu lemah dan terpuruk dalam rasa semu, tolong maafkan aku Kak, maaf sudah mengabaikan Kaka dan anak-anak beberapa Minggu ini, aku egois Kak, aku lupa akan kotdratku" iba Rinjani dengan bibir yang mulai bergetar, ingatan dimana Nurry memeluk Ansel terus menari di pelupuk matanya, Rinjani benar-benar tak ingin kehilangan Ansel, Rinjani akan menebus kesalahannya, semoga Tuhan tidak mengambil suaminya ini, Rinjani benar-benar tidak sanggup kehilangan Ansel.
__ADS_1
Ansel tidak menjawab, dirinya hanya segera meraih tubuh istrinya untuk ditenggelamkan di dalam pelukannya.
" Aku mencintaimu Kak, aku hanya terkejut dengan kabar tentang kepergian kak Nurry, aku seperti tidak percaya kepergian suamiku karena korban dendam salah sasaran, aku hanya terenyuh, sampai aku melalaikan kehadiran Kaka, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mel_____"
" Shttttttt___ sudah Sayang, aku sama sekali tidak apa-apa" Potong Ansel cepat, cukup dengan Rinjani mengakui cinta untuk nya Ansel sudah sangat cukup, apapun yang Rinjani rasakan, Ansel juga merasakannya, Ansel faham, sangat faham.
" Cukup dengan kita terus bersama ini sudah sangat cukup untuk ku Rinjani, kamu, aku, dan anak-anak, itu sudah sangaaat cukup" tambah Ansel.
Rinjani terisak di pelukan Suaminya, hatinya sedang di tenangkan oleh suaminya yang sangat sabar, Rinjani faham, Ansel pun tak kalah terpukul nya, tetapi pemuda itu tetap mampu menenangkan dirinya meski hati pemuda itu pun sama sakitnya, sama hancurnya, Rinjani patut bersyukur dengan kelembutan Ansel, pemuda yang berjuang untuk kehidupan nya pun dengan anak-anak nya, pemuda yang sebenarnya memang sudah merenggut cintanya sejak beberapa bulan yang lalu, kini tidak hanya raganya yang terikat, tetapi hati, perasaan dan seluruh dirinya sudah terikat atas nama cinta untuk suaminya, suami yang masih ada yaitu Ansel.
" Tidurlah sayang, jangan pikirkan apapun, besok pagi aku akan membuatkan kentang yang kalian inginkan, jangan berpikir yang tidak-tidak, aku disini, selalu disisi kalian" bisik Ansel di atas kepala istrinya.
Ada kelegaan dan rasa haru yang sangat luar biasa, saat Rinjani mendengar kata-kata Ansel, dirinya merasa beruntung ribuan kali memiliki suami yang tidak hanya mencintainya tetapi mampu memahaminya sedalam itu, karena tidak semua yang mencintai bisa mengerti.
Karena kebenaran nya adalah, Cinta Murni itu tidak mengharapkan imbalan apa pun. Cinta adalah sesuatu yang harus bisa di berikan dengan bebas. sangat tidak mudah, tetapi itulah yang membuat cinta itu benar dan murni. dan Rinjani mendapatkan itu dari Ansel, apa yang perlu di khawatirkan, ketika dirinya sudah dilimpahi rasa yang tidak semua wanita beruntung mendapatkan nya.
Ketika berbicara mengenai perasaan, ada banyak kisah menarik di dalamnya. Mulai dari munculnya perasaan itu sampai sikap dalam memahaminya. Perasaan bahagia, sedih, kecewa, sampai marah bisa terjadi pada siapa saja. Maka dari itu, Rinjani akan belajar untuk terus memahami segala kondisi dalam perasaan nya sendiri, agar mampu mengimbangi perasaan Ansel untuk nya karena Ansel benar-benar pemuda yang layak untuk mendapatkan balasan atas ketulusan nya.
Kelopak mata Rinjani sudah begitu berat saat Rinjani mendengar ungkapan cinta dari suaminya, tanpa Ansel ucapkan pun Rinjani sangat tau seberapa besar Ansel mencintainya, kadang-kadang Rinjani masih merasa mustahil bisa menikah dengan Kaka beradik keluarga Al-Biru, sedangkan sebelumnya dirinyapun juga ipar dari suami sebelumnya, hidup memang terkadang serumit itu, tetapi di balik kejadian pasti ada hikmah didalamnya, dan Rinjani hanya perlu mensyukuri itu.
__ADS_1
Akhirnya Rinjani benar-benar terdidur dalam dekapan suaminya, pun dengan Ansel yang tertidur pulas dengan memeluk wanita yang dicintainya.