
Begitu helikopter yang membawa sang istri dan anak-anaknya hilang dari pandangan, Ansel dan yang lainnya langsung masuk kedalam kamar satu hotel milik Phonix Jabir
" Jadi Kami duluan yang berangkat?" Tanya Papa Ansel
" Tuan Arief sendiri bagaimana maunya?" Nikolas juga bertanya pada Phonix Jabir
" Bagaimana?" Phonix Jabir justru bertanya dengan sang istri
" Ya, pakaian akan dikirim dua puluh empat jam dari sekarang"
" Secepat itu?" Tanya Mama Ansel takjub
" Ma, jangan lupa mereka siapa?" Bisik Nikolas pada sang istri, yang di angguki oleh Mama Ansel
" Kalau begitu kita bisa langsung berangkat dong?" Tanya Papa Ansel
" Kita tunggu Ben dan Maina dulu Pa" jawab Ansel
" Andrean bagaimana?" tanya Mama Ansel
" Andrean akan di jemput oleh Awan nanti pas hari H" jawab Ansel
" Kamu sendiri?" Tanya Phonix Jabir
Ansel terseyum kecil
" Tentu saja aku juga langsung ikut, disana banyak yang musti di siapkan"
" Jawab saja jika kau tak ingin jauh dari Rinjani" Ledek Phonix Jabir
" Sepertinya" Ucap Ansel nyengir
Setelah berada dalam kamar selama beberapa menit, mereka kembali naik keatas gedung
Sebuah helikopter tengah siap membawa mereka terbang menyusul Rinjani
Disana juga ada Para sahabat Ansel lainnya, termasuk Regan dan Julio yang langsung melambaikan tangan kepada Ansel
Regan langsung menatap Ansel dengan mata menyipit dan meninju bahu pemuda itu
" Gila ... kita bisa melihat manusia yang paling ditakuti dengan sedekat ini" Bisik Regan
" Aslinya sama sekali tidak menakutkan" Jawab Ansel ikut berbisik
__ADS_1
" Gue kira mimpi saat semalam Loe hubungi gue sama anak-anak yang lagi nongkrong buat datang kepesta loe yang tertunda, eh nyatanya beneran" Seru Julio
" Nanti lagi ngobrolnya, ayo kita naik" Ajak Papa Ansel, pada ketiganya yang sedang asik ngobrol
Sementara Ben dan Maina menyapa Phonix Jabir dan Alara Halime, sedangkan Mama Ansel menyambut tujuh sahabat lain Putranya yang tak berani mendekati mereka karena kehadiran sosok yang paling mereka takuti yaitu Phonix Jabir, mereka bisa tau siapa pria yang sedang memakai masker itu karena banyaknya pengawal dan orang-orang kepercayaan pria itu.
Di tempat lain ....
Rinjani mengedarkan pandangannya sambil memasuki sebuah penthouse bersama dengan Awan dan anak-anaknya
" Bu, bawa anak-anak istirahat di ruang sana ya'" Awan menunjuk satu ruangan untuk anak-anak Rinjani
" Kamu juga istirahat Rinjani"
Berada di puncak ketinggian, dari jendela kamar Rinjani dapat melihat hamparan pantai yang sangat indah
" Apa ini Penthouse milik kamu?" tanya Rinjani
Awan mengeleng. " Ini milik Ansel, tapi Ansel jarang ada di negara ini jadi udah cukup lama kosong. Aku yang sebenarnya di suruh tempati, tapi karena aku lebih sering jalan-jalan jadi ya lebih sering kosong.
" Terus, kamu tinggal dimana?"
Awan tertawa kecil" Aku bisa tinggal dimana saja , semua tempat itu rumahku."
Tawa Awan sedikit keras. " Itu hanya dilihat dari luar, aslinya capek banget" Ujar Awan
Saat asik berbincang dengan Rinjani ponsel Awan bergetar
" Udah Sampai ...? Bagaimana istri dan anak-anak gue? ... Rinjani ngak sedih kan?, trus apa dia terlihat baik-baik saja? .. bagaimana dengan raut wajahnya? Apa istri ku bahagia ?"
Awan sampai menjauhkan ponselnya dengan mengerutkan dahi, mendengar berondongan pertanyaan dari Ansel dari sebrang sana
" Loe nyerocos kayak tukang jamu tau ngak..? gimana gue jawabnya jika pertanyaan loe sepanjang kwitansi tagihan hutang" Awan mengomel kesal
" Tinggal jawab saja apa repotnya sih?" Ansel juga kesal di sebrang sana
" Gue tembak mati Loe entar!" Seru Awan, yang dibalas tawa dari sebrang sana
" Buruan jawab!" kata Ansel setelah tawanya mereda
" Jawab yang mana dulu, aish ... bahkan gue lupa Loe nanya apa!" Seru Awan
" Mau mati Loe ya?" Suara Ansel terdengar sangat nyaring
__ADS_1
" Dih mentang-mentang ada si Ono ya Loe sekarang"
" Kalo ya.. mau apa Loe?" tantang Ansel
Awan yang tak ingin membuat Rinjani salah faham, meminta Rinjani langsung masuk kedalam kamar nya saja, sementara Awan lanjut berbicara pada Ansel dari panggilan telepon
" Dia baik, dia pasti percaya sama Loe, makanya dia tenang" ujar Awan
" Fiuh.." Ansel terdengar lega " Lagian ini jaman apa sih musti ada pingitan segala, istri dan gue kan sudah merid tinggal pesta doang, kenapa musti di pisah segala sih?"
Awan tergelak mendengar gerutuan Ansel
" Sabar mas Bro" Hibur Awan dengan suara yang dibuat selembut mungkin
Ansel menutup pangilan telepon nya setelah Phonix Jabir memangilnya untuk berdiskusi sesuatu
Rinjani bersandar di kepala ranjang, matanya menatap keluar jendela, setelah memastikan anak-anaknya nyaman , Rinjani berencana mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, Rinjani menghela napas nya, berharap hari akan cepat berlalu
Baru beberapa jam terpisah, ia sudah sangat merindukan pemuda yang selalu memperlakukan dirinya dengan lembut, pemuda yang selalu ada untuk ia dan anak-anaknya
Namun justru detik yang ia lalui terasa begitu lama saat ini, waktu berjalan sangat lambat, membuatnya gelisah, hingga tak mampu memejamkan matanya.
" Ini?" Mata Ansel menatap gaun yang akan dikenakan Rinjani lusa sudah membalut manekin
" Sesuai?" Tanya Alara Halime menatap Ansel dengan binar yang bahagia, wanita itu benar-benar menganggap Ansel adalah putra pertamanya, meskipun jelas tak ada darahnya pada tubuh pemuda tampan itu
" Banget" Ucap Ansel dengan menyentuh bagian yang menjuntai hingga lengan. Ya gaun yang akan dikenakan Rinjani lusa memang di pesan oleh Ansel mengunakan hijab, begitupun untuk sang Mama dan Ibu angkatnya siapa lagi jika bukan Alara Halime
" Semua sudah datang, termasuk jas milik mu, cobalah!" Alara Halime memberikan kotak pada Ansel yang berisi jas milik pemuda itu
Ansel memang akan mengumumkan pada seluruh Dunia bahwa Rinjani adalah wanita nya, seorang istri dari Ansel Al-Biru, cukup sudah Rinjani selama ini selalu di anggap numpang hidup pada keluarganya saat sang suami sudah tiada, Ansel ingin memutus prasangka orang dan memperkenalkan bahwa dia adalah pria pemilik wanita hebat itu
Senyum indah terukir di bibirnya, keinginannya untuk memperkenalkan Rinjani sebagai istri sah nya akan segera terjadi
Pagi hari ...
Rinjani yang baru selesai sarapan bersama dengan anak-anaknya di ajak oleh seseorang yang mengaku akan membantunya mandi. Rinjani sudah menolak, akan tetapi begitu wanita itu berkata bahwa Ansel lah yang menyuruhnya Rinjani langsung terdiam
Sebenarnya kemana Suaminya? mengapa Ansel tidak menghubungi nya? Mengapa Ansel tega membuat Rinjani merasa khawatir dan gelisah seperti ini
Tak beda jauh dari Rinjani, Ansel pun di perlakukan seperti seorang pangeran. Begitu bangun tidur ia langsung di minta berendam, seorang pemuda merapikan rambutnya, ada yang juga yang memotong kukunya ada yang mengurus wajahnya , meski merasa berlebihan, tetapi Ansel tetap menuruti keinginan Orangtua nya, toh besok semua akan berakhir dan dirinya bisa memperkenalkan pada dunia siapa Rinjani Aqilla
" Maaf kan aku sayang, ini memang rencana ku untuk memberimu kejutan sebelum kita meninggalkan kota ini, tetapi perpisahan ini sama sekali bukan rencana ku" Ansel bergunam dengan mata yang menatap wajah Rinjani di dalam ponsel miliknya
__ADS_1