Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Ben dan Maina


__ADS_3

Ben dan Maina baru usai saling membersihkan diri, sudah hampir tengah malam pesta mereka baru selesai, karena ternyata seluruh keluarga Al-Biru datang ke pesta pernikahan nya, suatu kehormatan bagi Ben, yang posisinya hanya seorang asisten tetapi di perlakukan seperti itu


Sebenarnya julukan Al-Biru adalah nama belakang dari keluarga Mama Nurry, setelah orang tua Nurry menikah, itu turun ke anak, cucunya, siapa sangka orang tua Mama Nurry dan Papa Nurry sepakat keturunan mereka akan diberi nama belakang yang sama agar anak-anak mereka saling mengetahui silsilah keluarga, biar bagaimanapun mereka hidup secara terpisah tidak saling berdekatan, terlebih kedua nya sama-sama memiliki gen kembar, dengan memberi embel-embel Al-Biru, itu sedikit menjelaskan siapa sebenarnya mereka, meskipun, itu tak di kenakan di kartu keluarga mereka, hanya di sebutkan saat mereka saling kumpul seperti ini, agar orang bisa membedakan mana tamu dan mana keluarga, karena sebenarnya mereka memang banyak.


" Mai" Ben mendekati sang istri yang sibuk mengisi air minum di gelas


" Ya Kak Ben" jawab Maina menoleh


Ben berjalan dan duduk di bibir ranjang, entah mengapa suasana jadi canggung untuk keduanya


Mainan ikut duduk di samping Ben


" Kaka mau langsung istirahat??" Mainan bertanya dengan lembut


Ben mengangguk " IYa, kita langsung tidur, kamu pasti capek"


Ben langsung membawa tubuhnya berbaring dan mencoba memejamkan mata, berbeda dengan Maina yang menatap Ben sedikit kecewa, tetapi sedari dulu memang Ben seperti ini, tidak romantis sama sekali


Maina ikut menyusul Ben dan menarik tangan Ben untuk melingkar di pinggang nya, membuat Ben membuka matanya


Maina tersenyum kemudian hendak mencium Ben, tetapi Ben buru-buru memundurkan wajahnya.


" Kak" lirih Maina kecewa.


" Kamu pasti capek, tidur lah" bisik Ben


" Kak, aku sudah menunggu momen seperti ini sepuluh tahun, masak kita masih harus berjarak??" Tanya Maina sendu

__ADS_1


" Bukan begitu Mai, aku hanya tak ingin menganggu waktu istirahat mu" terang Ben menangkup wajah istrinya.


" Kita sama-sama capek kak, kita sama-sama membutuhkan transferan energi" Maina menyentuh dada Ben, dari dulu Ben hanya dekat dengan Maina, satu-satunya wanita yang ada di hidup Ben, selain Ibu nya.


Maina sangat tau bagaimana Ben, keras kepala nya, kasarnya, dan juga memiliki sifat yang sama sekali tak ingin di bantah, tetapi sebenarnya Ben orang yang sangat baik


" Tidurlah Mai"


" Sentuh aku Kak, agar aku merasa di butuhkan di hidup Kaka" Mai berkata keras kepala


" Tentu aku membutuhkan mu Mai, karena nya aku menikahimu"


" Yakinkan aku malam ini Kak, agar aku merasa penantian ku tak sia-sia, kau tetap milik ku"


Mata Maina berembun, membuat Ben tak tega dan mengecup keningnya


Maina juga tak segan membalas semua sentuhan Ben, mencairkan kebekuan hati Ben dan merobohkan seluruh pembatas antara keduanya


Ben tersenyum lembut, dan dibalas oleh Maina, mereka saling menatap, rasa hangat yang bisa merasuk, hingga membuat dada berdebar Karena melihat tatapan suami untuk istrinya.


" Aku takut kau kelelahan, bukan berarti aku tak menginginkan mu Mai" Suara Ben yang parau membuat debaran di dada Maina mengila, biar bagaimanapun mereka orang dewasa yang sudah saling tau arti bersama, terlebih ini malam pengantin mereka, meskipun ini bukan malam pertama yang mereka lewati, tetapi setelah acara sakral dengan adanya upacara dan janji di hadapan Tuhan, tentu saja menjadi hal istimewa untuk keduanya, toh dulu mereka sama-sama tidak sadar, hingga hadir Aalona.


Maina mengenal tabiat Ben, yang sangat tidak suka dibantah, tetapi untuk kali ini saja Dirinya ingin membantah titah agar dirinya tidur, Maina ingin dirinya dan Ben benar-benar melewati manisnya malam pertama yang sesungguhnya, tidak salahkan?? terlebih hubungan mereka kini sudah sah Dimata hukum dan agama kepercayaan mereka


Telapak tangan Ben terasa begitu dingin saat menelusup di balik baju tidurnya " Sambut aku Mai, aku ingin datang untuk mu"


Maina mengangguk setuju, dirinya juga begitu ingin di sentuh oleh Ben, sebagai tanda di inginkan, biar bagaimanapun mereka sudah terpisah sangat lama, dengan Ben menyentuhnya, itu menandakan dirinya masih di hati pria itu, karena Ben bukan Casanova, bukan pria petualang yang gemar meniduri wanita, kepribadian Ben yang pendiam dan sulit di dekati membuat wanita enggan untuk sekedar menatap, wajah dingin dan mengimindasi begitu membuat orang merinding hanya dengan tatapannya yang galak.

__ADS_1


Wajah mereka sangat dekat, sehingga mereka bisa saling bertukar napas hangat , Ben dan Maina begitu mendamba seseorang yang di hadapannya, mata mereka saling mengunci.


" Aku tidak menyangka akan ada hari seperti ini" Bisik Maina dengan bibir bergetar. "aku kira aku akan mati tanpa pernah bertemu dengan mu, setiap hari aku berdoa agar Tuhan mengingatkan kamu tentang aku"


Sangat memilukan, Maina berdoa ingin Ben mengingat dirinya, sedangkan Ben selalu berdoa agar Tuhan menghilangkan nama dan bayangan Maina dalam hidupnya.


Sungguh fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, Karena ke egoisan Darius, baik Ben dan Maina jadi mati hati, menutup diri dan saling membenci, padahal cinta mereka sangat besar, tetapi benar, Tuhan tidak tidur, kesabaran Maina berbuah manis.


Ben bukan pria biasa, butuh tekad dan keberanian yang besar untuk menghadapi nya, Ben bukan pria sembarangan dan mudah di genggam hatinya, karena jika mudah sudah sejak dulu Ben memiliki pendamping.


Maina bahagia luar biasa saat Ben menariknya kedalam pelukannya, membingkai tubuh kecilnya dalam dekapan lengan yang kokoh dan keras, tidak ada kata-kata romantis, karena Maina sangat tau suaminya bukan tipe pria yang pandai berucap manis, cukup dengan merasa di inginkan Maina sudah sangat luar biasa bahagia


Maina benar-benar seperti anak-anak, saat tubuhnya dibawah himpitan tubuh besar suaminya, pinggulnya terus di hantam dengan mantap dan bibirnya terus di rampas tanpa lepas, dagunya di cekal dengan kuat, kadang-kadang juga di gigit untuk meredam desisan prianya yang sedang mencari-cari peredam, Maina hanya bisa merintih dengan segala perbuatan Ben yang membuatnya hilang kewarasan, meraih apasaja yang bisa ia gunakan untuk meredam suaranya yang terus ingin keluar, Ben tak berhenti bergerak, membiarkan Maina menerima segala kebutuhan dengan suka rela hingga tubuh besar Ben ambruk di samping Maina yang bernapas berat.


Hari sudah pagi, saat Maina masih meringkuk di dalam pelukan suaminya, Maina membuka mata terlebih dahulu dan memerhatikan ketampanan Ben dengan jarak dekat, Maina tak bisa menyembunyikan perasaan bahagian saat mengingat kejadian semalam, melihat leher Ben yang di penuhi tanda merah Maina semakin malu, dia tak ubahnya seperti vampir yang haus darah, sampai-sampai leher Ben menjadi santapan nakalnya.


" Jangan membuatku takut dengan tersenyum sendiri seperti itu Mai, sangat menyedihkan sekali jika aku harus berpisah di pernikahan kita yang baru semalam karena kau masuk RSJ" ucap Ben kembali memeluk tubuh istrinya yang kecil.


Bayangan dimana romantis nya?, Ben memang super nyebelin, bahkan hari masih pagi untuk membuat mood istrinya tiba-tiba memburuk, dasar Ben, tetapi Mai tetap tersenyum manis Meskipun Ben tak memujinya, melainkan meledeknya, begitulah Ben, tetapi Maina mencintai Pria itu sangat mencintainya.


#######


Thoorrr kok ngak pernah UPP banyak lagi??


Jawaban nya para reader tau kan, syarat UPP banyak apa???


Jadi saat komen ngak sesuai target author slow juga update nya....

__ADS_1


happy reading ❤️🙏❤️


__ADS_2