Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Kedatangan Jeselyn dan Hanny


__ADS_3

Pipi Rinjani terus merona , karena rasa bahagia yang ditunjukkan Ansel karena kabar janin yang dikandungnya adalah seorang putri dan dia tumbuh sangat sehat di dalam sana, Rinjani balas mengenggam tangan Ansel yang juga terus melingkari pinggangnya. Benar-benar kebahagiaan yang sulit dijabarkan dan di ungkapkan lewat kata, karena apapun yang kini mereka pikirkan jauh terasa lebih indah, penuh limpahan cinta, kebahagiaan dan sebuah harapan.


Ansel terus memperhatikan Rinjani yang sedang makan, mengisi nutrisi kedalam tubuhnya yang akan dibagi untuk buah hati mereka. Ansel benar-benar merasa sebagai pria yang sangat beruntung, bisa memiliki wanita seperti Rinjani, Rinjani tidak hanya cantik tapi pandai menempatkan diri, wanita yang lembut dan penuh kasih, tanpa Ansel sadari bahwa sebenarnya Rinjani juga sedang sangat merasa beruntung memiliki suami se hebat dirinya. Didalam kediaman keduanya, masing-masing saling membanggakan dan saling mensyukuri takdir Allah yang membuat mereka berjodoh


Ben datang dengan tumpukan berkas di tangannya, dokumen yang harus di tanda tangani oleh Ansel


" Kau tak perlu kesini Ben .. ! mulai besok aku sudah masuk kantor" Ansel menerima berkas yang di antarkan oleh Ben. " Kemana Andrean?"


" Dia sedang keluar untuk rapat menggantikan saya!"


Ansel mengangguk dan meminta Ben masuk


" Aku tidak sedang membawa apapun!"


" Kau membawa dokumen, bagaimana kau bisa berkata tak membawa apapun?"


" Maksudnya buah tangan untuk anak-anak mengemaskan di rumah ini"


" Bukan masalah!"


Memang selama ini Ben tak pernah datang dengan tangan kosong saat berkunjung ke rumah Ansel dan Rinjani, dirinya selalu membawa sesuatu untuk ketiga anak Rinjani bersama Nurry, setiap melihat ketiganya jiwa pengabdian Ben selalu keluar secara naluriah, jauh sebelum ketiganya lahir Ben tau lika liku hidup Nurry, meski pria itu tempramen tapi Nurry juga pria yang sangat bertanggung jawab dan juga sangat berjasa untuk nya


Begitu masuk, Ivan dan Ivander langsung tersenyum menunjukkan gigi susunya yang putih bersih


" Waaaaaaahh kalian sedang makan?"

__ADS_1


" Ayo gabung Ben!" Rinjani mempersilahkan Ben untuk duduk bersama mereka


" Terimakasih" Ben menarik satu kursi dan mendudukinya. Mereka akhirnya makan bersama dengan Senda gurau, Ben merasa kagum dengan Ansel, dibalik masalah pelik yang tengah di pikulnya Ansel masih bisa berlaku hangat seperti tak pernah terjadi apapun, karena Ben memang tidak mengetahui di balik sikap Ansel yang terlihat tanpa beban, karena sebenarnya tujuan Ansel sudah tercapai, tentang uang pun seandainya kepepet dirinya sudah ada yang menyediakan, jikapun kedua cara itu gagal dirinya masih memiliki opsi lain, yaitu rela menjadi tangan kanan penjahat itu asal semua sesuai dengan keinginannya


Malam hari ketenangan Rinjani dan Ansel terusik dengan suara bel yang terus berbunyi


Ansel membuka pintu dan menemukan Jeselyn dan Hanny datang dengan tatapan penuh permusuhan di susul kedua orang tuanya


" Dasar tak punya hati..! bagaimana bisa seorang sepupu tega mengorbankan sodaranya sendiri, dimana otak kamu ??" Bentak Jeselyn


Ansel melipat kedua tangannya di dada, tadi sebelum membuka pintu Ansel sudah berpesan pada Rinjani agar tetap berada di dalam kamar bersama ketiga anaknya


Papa Ansel ingin bersuara, tetapi Ansel memberi kode agar sang Papa tetap tenang sedangkan Mama Ansel sudah gemas ingin mencakar kedua iparnya itu


" Oh ya ...? bibir Ansel tersungging "sekarang pertanyaan yang sama saya tanyakan ...! apakah kalian lupa jika punya hati ...?? " Ansel menyeringai "Bagaimana bisa seorang Tante tega menjaminkan seorang istri dari keponakannya.. ?bagaimana bisa seorang sodara yang selama ini segala kebutuhannya di jamin oleh sodaranya tetapi justru mengadaikan aset yang bahkan dari sanalah sumber penghasilan sodaranya sampai bisa membantu menyekolahkan anak keponakannya..?? coba kasih saya alasan masuk akal akan pertanyaan saya!" Kini mata Ansel menatap kedua tantenya bergantian


Jeselyn dan Hanny membuang muka mendengar ucapan Ansel


" Untuk apa kalian datang kepadaku, tidak ada gunanya, yang bisa membantu kalian adalah Phonix Jabir sendiri, pergilah temui dia seperti dulu kalian pergi menemuinya saat berhutang!" ucap Ansel tegas. Ansel mengambil sebuah lembaran yang berada di map warna coklat yang dikirim Phonix Jabir untuk nya dan di berikan pada Jeselyn dan Hanny


Setelah meremas amplop coklat di tangan nya sampai buku-buku jarinya memucat, rahang kedua wanita itu mengeras kaku. Mereka benar-benar tidak menyangka, pemuda cacat mental seperti Ansel bisa berbuat seperti ini, membalikkan keadaan dengan waktu sesingkat ini, dada Jeselyn dan Hanny naik turun berat, kepalanya seperti akan pecah, dari mana mereka bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat


Sementara Ansel dan kedua orang tuanya sudah merasakan duluan rasanya dalam ambang kehancuran, bahkan masih tidak menyangka, si biang masalah kini bisa merasakan kerisauan mereka dua hari yang lalu


"Bagaimana mungkin ada manusia setega dirimu ..?!" Hanny menghujat Ansel

__ADS_1


" Harusnya pertanyaan itu lebih cocok untuk kalian tanyakan untuk diri sendiri! " Ansel mundur dan menunjuk dimana pintu berada " tolong anda pergilah, tidak ada gunanya kalian datang ke sini, sekarang keputusan ada di tangan Phonix Jabir, tolong kalian pergi dari rumah ku, kami akan istirahat, dan kedatangan kalian sangat mengganggu kami!"


" Dasar tidak punya hati, kamu sangat sombong Ansel, suatu hari nanti Tuhan akan menghancurkan mu dengan kesombongan mu sendiri dan saat itu terjadi akulah orang pertama yang akan tertawa akan kehancuran mu!"


Setelah memaki-maki Jeselyn dan Hanny pergi dari rumah Ansel dan Rinjani, Papa Ansel menatap kecewa pada kedua adiknya , tetapi menatap bangga ada sang putra


" Bagaimana kamu bisa sesabar itu nak? mereka sudah sangat menghina mu?" Mama Ansel memeluk tubuh Ansel yang tersenyum pada mereka berdua


Papa dan Mama Ansel memeluk Ansel dengan rasa bangga luar biasa, ada kelegaan yang begitu jelas dari mimik wajah dua pasangan paruh baya itu


Tangan Jeselyn masih terus bergetar, ketika mencengkram kemudi, Walaupun sudah mencoba berkonsentrasi tetapi dia tetap tidak bisa. Otaknya kacau dan belum pernah dia merasa se kacau ini sebelumnya


Tidak hanya Jeselyn, Hanny pun dalam keadaan yang tak jauh beda, dia tidak hanya terlihat kacau, tetapi dia juga berusaha agar tak menangis


Mereka duduk lemas , Jeselyn memilih menghentikan mobilnya, punggung keduanya bergetar Karena tangis, mereka ketakutan teramat sangat, dua hari yang lalu mereka masih berfoya-foya, pergi kesana kesini dengan penyamaran, mengelabui Keluarga Kakanya, tapi sekarang, seolah Tuhan menjatuhkan hukuman terlalu cepat


Marry adalah anak perempuan Jeselyn satu-satunya, karena anak keduanya kembar dan berjenis kelamin laki-laki, mereka masih duduk di bangku sekolah SMP masih belum mengerti apa-apa, bahkan selama ini yang biayanyai kebutuhan mereka adalah Papa Ansel


Begitupun dengan Jingga, dia malah anak semata wayang Hanny, karena setelah melahirkan Jingga Hanny dinyatakan tidak bisa mengandung lagi, itulah meski Papa Jingga meninggal, Hanny tak berniat untuk menikah lagi. Dan kini anaknya satu-satunya nyawanya sedang terancam karena ulahnya sendiri


" Kenapa begini??" Isak Hanny " Mengapa jadi begini?"


Jeselyn sedang tak bisa bicara apa-apa, dia jadi merasa bersalah dan berdosa pada putri nya. Jeselyn masih duduk di balik kemudi tanpa bergerak


" Aku tidak mau, aku tidak mau seperti ini, anak sialan itu membuat semuanya jadi kacau!" Hanny terlihat begitu marah, hatinya di luapi amarah yang besar untuk Ansel, pemuda yang sejak dulu dibencinya itu ternyata memang layak untuk di benci siapapun. Anggapannya

__ADS_1


Sedangkan di rumahnya, Ansel tersenyum saat melihat Rinjani meringkuk tidur bersama ketiga anaknya, setelah ini Ansel akan benar-benar membawa perubahan untuk hidupnya dan hidup kedua orang tuanya, Setelah semua yang terjadi Ansel membulatkan tekadnya untuk membawa keluarga besarnya hidup dimana ada keterangan


Ansel tidak membawa Rinjani, pemuda itu hanya membenarkan posisi tidur istrinya, sebelum pemuda itu keluar dari kamar anak-anaknya untuk berdiskusi dengan kedua orang tuanya


__ADS_2