Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Sayang


__ADS_3

" Aku menginginkan dirimu, Sayang" Ansel berdesis tak melepaskan cumbuan nya pada setiap jengkal kulit lembut Rinjani, pemuda itu menarik dagu istrinya untuk di tengadahkan dan di rambas bibirnya kembali


Jelas sekali Ansel begitu menginginkan Rinjani dengan Sangat. " Aku mencintaimu" Ansel masih terus saja menghujani Rinjani dengan kata-kata dan belum ingin memulai


Rinjani membiarkan dan tidak membalas ungkapan cinta suami nya, tanpa Rinjani ucapkan pasti Ansel pun tau seberapa berharga dirinya bagi Rinjani, Rinjani mencintai Ansel segala yang ada pada pemuda itu.


" katakan jika ada yang sakit"


Rinjani sedang sangat rindu, gerakan sedikit saja mampu membuat hatinya berdesir, hal yang tidak pernah Rinjani bayangkan bahwa dirinya bisa begitu menginginkan sentuhan dari pemuda yang sedang menaunginya dengan segala rasa melalui sentuhan nya, menyalurkan perasaan ingin memberi, perasaan ingin diterima, perasaan ingin di tenangkan dan menenangkan.


" Oh__ Sayang, apa kau tidak apa-apa??"


Ansel memulai dengan tekanan lembut, karena benar-benar tidak ingin menyakiti calon buah hatinya dan istrinya yang di cintainya begitu dalam


Rinjani menenangkan dengan membelai pipi Ansel, dan Ansel mengigit lembut jari-jari Rinjani yang sedang membelai pipi dan bibirnya, Rinjani sedikit beringsut untuk menemukan posisi yang nyaman.


" Ayo Kak aku tidak akan apa-apa" Rinjani menyemangati.


" Katakan saja jika ada yang sakit"


Rinjani merintih lembut saat Ansel benar-benar menyatu dengan dirinya, rasanya jadi berdenyut dan melesak serat ketika Ansel mengisinya, Rinjani pasrah menerima apa yang diberikan suami nya, apapun itu, ketulusan, cintanya, fisiknya, Rinjani akan pasrah menerimanya, karena dirinya juga sedang ingin terus di manja.


Ansel juga terus memperhatikan Rinjani, melihat reaksi istri nya, Ansel akan sangat waspada karena dirinya sama sekali tidak mau membuat istri dan calon anaknya sakit, waspada karena tidak ingin berlebihan disaat kehamilan muda Rinjani.


Ansel mencium bahu Rinjani dengan menggigit lembut di bagian itu ketika dirinya mencair memenuhi tubuh istrinya yang seakan menjepit dan berdenyut saat mereka bersamaan mencair.


Ansel menarik pinggang Rinjani yang ramping untuk dibawa melekat padanya, Rinjani langsung bisa merasakan otot perut Ansel yang basah dan berdenyut panas, Ansel kembali mencium bibir Rinjani, rasanya tiada puas pemuda itu ingin selalu merampas bibir Semerah Cherry milik sang istri.

__ADS_1


Rinjani dan Ansel saling berguling-guling tanpa ingin saling melepaskan, bergelut saling mencumbu intim untuk saling membalas satu sama lain, Rinjani sama sekali tidak keberatan jika Ansel kembali menginginkan nya, Rinjani faham dengan anatomi tubuh manusia dia pun sedang ingin terus di manja dan di dera, tetapi begitu mereka sampai tepi, Ansel segera membuat tubuh tanpa busana nya melayang.


Pemuda itu membawa tubuh saling polos itu menuju kamar mandi.


" Mandi bersama ku sayang, kau akan sangat menyukainya" Bisik Ansel yang membuat bulu kuduk Rinjani meremang, tanpa mandi bersama pun Ansel selalu berhasil membuat Rinjani menyukai kebersamaan mereka, apalagi di posisi sekarang, saling melekat tanpa ada sekat, saling berbagi kehangatan di setiap inci pori-pori kulit yang saling menghangatkan.


" Ansel membawa Rinjani kemanapun, tanpa ingin menurunkan tubuh istrinya, sampai dengan mengisi bathtub, sampai pada saat mereka benar-benar berendam berdua, Rinjani sendiri tidak tau mengapa ada hal seperti ini, hanya saling bersentuhan saja membuat hati bisa setenang ini, mereka tidak kembali bergulat, hanya saling menyentuh dan saling merasakan , saling memberi dan menerima belaian dan buaian lembut, tetapi rasanya seperti menembus kalbu.


" Kak, jangan pernah tinggalkan aku" Rinjani meraih tangan Ansel untuk di kecup. " Kak aku merasa lebih baik di ceraikan oleh mu dari pada kau pergi seperti kak Nurry untuk selamanya, saat kau tertembak, aku rasanya ingin mengakhiri hidup ku, aku tak sanggup jika harus kehilangan suami lagi" Bibir Rinjani bergetar, kadang saat kebahagiaan memenuhi hatinya, ada rasa was-was yang juga melintas, membuat Rinjani takut dan sangat takut.


" Ngomong apa kamu sayang! sampai matipun aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Aku sangat mencintai mu Rinjani Aqilla. Aku bisa mendapatkan mu setelah musibah yang tak pernah kita duga, memiliki mu seperti mendapat keajaiban, setelah perjuangan dan pengorbanan yang ku lakukan, tiba-tiba Tuhan menjodohkan aku dan kamu, meski kita sakit dan terluka karena sama-sama kehilangan, tapi akhirnya kita bisa saling menerima, lebih tepatnya kamu yang bisa menerima diriku, bagaimana aku bisa menceraikan mu istri ku, Never on million years Rinjani??" Ansel menciumi seluruh wajah Rinjani yang mendongak dihadapannya.


" Tapi itu lebih baik dari pada kakak tiada untuk selamanya"


" Dengar sayang, dua-duanya tidak ada yang baik atau lebih baik, not for today or forever, yakin Tuhan tidak akan pernah mengambil aku darimu, kita akan menua bersama, aku, kamu, Rania, si kembar dan adik-adiknya kelak, kita menua bersama dan mati dalam kedamaian, aku mau hidup sejuta tahun untuk menemanimu, i promose"


" Aamiin" Rinjani tidak bisa untuk tidak menangis, Rinjani juga berharap seperti itu


Setelah sayang- sayangan dan saling membicarakan perasaan, Rinjani tertidur nyenyak di atas pembaringan, rambutnya yang panjang terdampar lembut di atas seprai biru muda, tubuhnya hanya di tutupi oleh selimut, Ansel terus memperhatikan wanita yang dicintainya itu, dalam hatinya terus bersyukur karena bisa mendapatkan cinta wanita lembut yang sedang tersenyum dalam tidurnya.


Ansel turun untuk melihat anak-anak nya, waktu sudah sangat larut, tetapi pemuda itu belum bisa memejamkan matanya, Ansel terlalu bahagia dan merasa sangat beruntung, ternyata tidak hanya gelisah saja yang membuat orang susah tidur, bahkan teramat bahagia juga bisa membuat seseorang sulit untuk memejamkan matanya.


" Sedang apa??" Ansel terkejut saat mendengar suara seseorang, setelah menengok ke kamar anak-anaknya Ansel hendak membuatkan susu untuk istrinya


" Ma!" Ansel mengelus dadanya.


Mama Ansel baru saja mengambil minuman, saat melihat putranya sedang bingung mencari sesuatu melihat sekeliling.

__ADS_1


" Ingin apa Sel, kenapa ngak minta maid buatkan"


" Tidak ma, aku hanya ingin membuatkan susu untuk istri ku"


Mama Ansel sedikit terkejut, pasalnya Ansel belum pernah terlihat berada di dapur seperti ini, saat di rumah orang tuanya Ansel cenderung manja semua butuh dilayani, jadi terlihat sangat tidak biasa saat melihat putranya berdiri di belakang meja pantry.


" Biar Mama buatkan"


" Tidak perlu Ma, aku hanya ingin membuatkan sendiri, Mama tunjukkan saja dimana sendok dan susu istriku"


"Ada di balik lemari itu" tunjuk sang Mama, merasa kagum dengan putra nya yang sudah sangat berubah, Ansel terlihat sangat bertanggung jawab, tidak hanya sebagai seorang suami bahkan sebagian Daddy dari anak-anak putra sulungnya, Ansel menjadi seorang Ayah yang sangat hebat untuk anak-anak Nurry, siapapun mengakui hal itu apalagi Mama Nurry tau sendiri bagaimana Ansel merawat si kembar


Ansel sibuk membaca aturan pembuatan susu yang berada di kotak kemasan , kemudian mulai membuatnya, Mamanya juga masih menatap punggung putranya penuh kekaguman, anak yang dulu terlihat rapuh ternyata mampu mengemban tanggung jawab besar


Mama Ansel tak meninggalkan putranya yang sibuk sendiri di pantry, bahkan sampai gelas itu sudah tersaji dengan baik, sebelum Ansel membawa susu itu untuk sang istri, Pemuda tampan itu juga mencicipinya dulu, mungkin untuk merasakan kelayakan rasanya.


" Ma kenapa rasanya aneh??" Tanya Ansel setelah tes rasa dan menemukan rasa nya yang tidak sesuai.


" Rasanya memang seperti itu" komentar sang Mama, merasa geli dengan tingkah Ansel yang sedari tadi mengaduk dan terus mencicipi, entah sudah berapa teguk susu hamil itu di rasainya.


" Kamu buat susu hamil untuk Rinjani, tapi kamu malah sibuk meminumnya, ntar itu Bisa-bisa habis karena kamu cicipi" tambah sang Mama yang membuat Ansel nyengir, dirinya baru sadar ketika gelas itu hampir kehilangan seperempat dari isi nya.


" Aku takut rasanya kurang pas, jadi aku terus mencicipi nya , karena rasa nya aneh Ma!"


" Lebih aneh lagi ketika Mama melihatmu meminum susu hamil sedangkan yang mengandung Rinjani Sel" sanggah sang Mama dengan tawa kecil nya


Ansel mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa salah tingkah.

__ADS_1


" Biarkan saja, tidak usah dilap mejanya, nanti biar Bibi yang bereskan Sel, lebih baik kamu segera berikan susu itu pada menantu Mama selagi hangat, kalo dingin rasanya lebih aneh"


Mendengar nasehat mamanya Ansel segera bergegas meninggalkan dapur, tetapi baru menaiki dua buah undakan tangga, Ansel kembali turun, Mama nya sempat bingung sebelum akhirnya Ansel mencium kedua pipi Mama nya dan bilang "terimakasih, Ansel sayang Mama" apa yang lebih membahagiakan bagi Mamanya saat anaknya mengungkapkan perasaan sayang nya sesuatu yang dulu tak pernah ia rasakan, bersama Rinjani Nurry menjadi lembut, bersama Rinjani Ansel berubah dewasa, benar-benar wanita yang sangat membawa keberuntungan.


__ADS_2