
Paginya Ansel terkejut dengan kedatangan dua tantenya dan juga orang tuanya beserta Ben dan empat orang penjaga villa milik Awan
Ansel langsung meraup wajahnya dengan gusar
" Apa yang sebenarnya Tante lakukan .. ?? Ya Tuhan ...!" Ansel sampai tidak mampu mencegah luapan amarahnya, pemuda itu lepas kendali dan berteriak tepat di kedua wajah tantenya yang tengah tersenyum
Rinjani menenangkan Ansel dengan mengelus punggung suaminya yang tampak menekan emosi
" Apa tidak bisa di lacak Ben?" Tanya Ansel mengabaikan Tantenya yang tampak lega, berbeda dengan keadaannya yang tampak kacau
Ben, mengeleng, membuat Ansel mendongak frustasi dengan napasnya yang memberat
Ansel mendengar ucapan Hanny dan Jeselyn yang mencibir membuat pemuda itu menurunkan wajahnya
" Maafkan aku Pa, semua diluar kendaliku ..." Ansel tak menatap sama sekali wajah Hanny dan Jeselyn, Ansel benar-benar tak menyangka kalau kedua tantenya akan bertindak se ceroboh ini
" Maksudnya bagaimana Sel?"
Ansel memijit pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk, sebelum pemuda itu meraih tangan Rinjani untuk di genggam seperti mencari peredam emosi
" Batas waktu penebusan mereka tinggal besok, beberapa hari ini aku selalu mencari jalan keluar terbaik untuk anak keponakan Papa, dan aku sengaja menyembunyikan mereka untuk melindungi Jingga dan Marry dengan cara mengawasi mereka, sejahat-jahatnya mereka, kita tidak bisa memungkiri bahwa mereka tetap sodara ku Pa, jelas aku tidak ingin mereka celaka!" Ansel mendesah dengan wajah yang lagi-lagi menengadah
__ADS_1
Hanny dan Jeselyn menegang mendengar ucapan Ansel
" Maksud mu nak?" Rubbyan juga penasaran dengan ucapan Ansel
Ansel mengangguk
" Kita berurusan dengan mafia Ma, kemanapun mereka berlari akan tetap bisa di temukan, beda saat aku sengaja menempatkan mereka di villa milik Awan, karena teman ku itu intelejen, ada kemungkinan mereka aman disana sebelum aku bisa mencari cara untuk membebaskan mereka tapi ....."
Ansel tak melanjutkan ucapannya. Memilih mendekap tubuh istrinya untuk mencari ketenangan jiwa, usahanya sia-sia, meski begitu dia tidak perlu merasa berdosa. Karena ini semua diluar kendalinya, meskipun tidak bisa di pungkiri Ansel sangat menyayangkan tindakan kedua tantenya yang bertindak tanpa pikir panjang
" Mak- maksud mu, kau- kau - kau sengaja menaruh Jingga dan Marry di villa itu untuk melindungi mereka?" Jeselyn benar-benar shock berat mendengar ucapan Ansel, hingga bicara pun dirinya menjadi terbatas
Ansel mendesah, dan tak berniat menjawabnya
" Aku menyerah!" kata Ansel dengan kedua tangan terangkat " kalian selalu melakukan tindakan sesuai keinginan kalian sendiri, ku rasa aku sudah tidak bisa membantu, aku sudah berusaha melindungi putri kalian, tetapi kalian sendiri yang menghancurkan" Ansel mengeleng " Kini aku serahkan pada kalian penyelesaian masalah ini, karena bantuan ku tidak kalian hargai sama sekali!"
Setelah ngucapkan itu, Ansel menarik Rinjani untuk segera duduk sarapan, biar bagaimanapun Ansel tidak bisa mengabaikan janin yang butuh nutrisi dari ibunya, si kembar dan Rania juga telah menunggu, Ansel juga menawarkan pada Ben, tetapi tidak sama sekali berpaling menatap tantenya, Ansel hanya berpamitan pada orang tuanya. Sebelum pergi duduk di meja makan bersama Rinjani
Sementara Hanny dan Jeselyn yang wajahnya tadi sempat dihiasi senyuman kini berubah mimik ketakutan dan gelisah, kata-kata Ansel menohok hati mereka, benar, sangat benar yang dikatakan pemuda itu. Mereka tidak berurusan dengan orang biasa, kemanapun Jingga dan Merry lari Phonix Jabir pasti akan menemukannya
Kenapa sebelumnya mereka tidak berpikir seperti itu? memang untuk apa Ansel menyekap keduanya jika perjanjian itu memang sudah berubah secara hitam di atas putih, bukan tugas Ansel untuk ikut mengurus mereka karena Phonix Jabir pasti akan mencari sesuatu yang menjadi miliknya apapun caranya, dan kini setelah mengetahui niat Ansel untuk melindungi putri mereka, semua sudah terlambat, kedua gadis itu sudah pergi, bahkan mereka meminta kedua nya untuk tak menghubungi mereka sementara waktu, meminta keduanya Menganti nomor ponsel. Dan mungkin saat ini keduanya sudah berada dalam pengawasan Phonix Jabir
__ADS_1
Ben dan kedua orang tua Ansel pun tak menyangka, dibalik sikapnya yang tenang, ternyata Ansel tetap mau perduli dengan sodara yang bahkan sudah berlaku curang, kini Ben hanya menatap prihatin terhadap dua wanita yang menangis dengan bahu yang terguncang
" Saya permisi" Ben sedikit membungkuk dan berlalu pergi, karena ini masih terlalu pagi dan masih ada waktu untuk menganggu istri kecilnya sebelum berangkat kekantor, masalah sepupu Ansel tidak begitu ia tanggapi, menurut nya justru akan bagus jika mereka menuai apa yang sudah mereka tanam, Ben melangkah tegas meninggalkan kediaman pemuda yang membuatnya terus merasa terkejut dengan prilaku dan sifat pemuda itu, rasa kagum pada sosok Ansel semakin melambung tinggi, ada rasa bangga yang membuncah bisa memiliki bos berkarakter luar biasa seperti Ansel, untuk pertama kalinya Ben bisa melangkah dengan senyum bangga di bibirnya bisa menjadi salah satu orang kepercayaan Ansel
" Aku begitu beruntung memiliki mu" Rinjani menarik tangan Ansel yang hendak menaiki mobilnya untuk mengantar Rania ke sekolah
" Kau bicara apa sayang, harusnya aku yang berkata seperti itu" Ansel mengelus pipi Rinjani yang lembut
Rinjani memang sangat cantik, bahkan tanpa sapuan apapun , rambutnya di Cepol asal dengan beberapa anak rambut yang dibiarkan menghiasi sebagian keningnya menjadi poni alami, pipinya yang putih bersih akan sering merona saat malu, terlihat kemerahan yang membuat Rinjani tampak sangat cantik alami, ditambah senyum lembut yang selalu hadir di bibir manisnya
Ansel menangkup pipi Rinjani dengan telapak tangannya yang hangat sebelum mendaratkan kecupan di kening Rinjani, tangan nya juga cepat berpindah untuk mengelus lembut permukaan perut Rinjani yang membulat
Rinjani langsung membalas menatap Ansel yang juga sedang menatapnya dan tersenyum, Ansel juga pemuda yang sangat tampan di tambah kebaikan hatinya membuat ketampanan Ansel kian sempurna
Rinjani mencium tangan Ansel. Tetapi ternyata air matanya ikut mengalir meski tanpa isakan, Rinjani tau seberapa banyak pemuda dihadapannya ini berusaha terlihat baik-baik saja, meski sebenarnya hatinya sedang memikirkan banyak hal termasuk dua sepupunya
" Sayang bahkan aku belum mengigit mu, tapi kau sudah menangis" canda Ansel pemuda itu tersenyum dengan memamerkan gigi putihnya, kedua tangannya dimasukkan dalam saku celananya " Aku tidak kekantor, habis ini aku kembali, kita tidak bisa terus bermesraan di sini nanti Rania bisa telat" pemuda itu terkekeh kecil dan itu dapat menyadarkan Rinjani bahwa mereka saat ini berada di halaman rumah, beruntung para bodyguard berada di luar dan menghadap berlawanan arah dengan pintu
" Masuklah, aku antar Rania dulu"
Rinjani mengangguk patuh dan membiarkan Ansel melambai untuk mengantarkan putri mereka ke sekolah
__ADS_1
Entah dibawa kemana kedua tantenya tadi oleh orang tua Ansel, tetapi itu cukup membuat Rinjani lega.