
Pagi hari, Rinjani mengantar Rania ke sekolah, bersama si kembar, sekalian sudah ada janji temu dengan Akbar dan Keyra, tentunya atas izin Ansel suaminya.
Akbar melambaikan tangannya saat melihat kehadiran Rinjani, Keyra juga langsung menghampiri Rinjani bersama si kembar dan dua suster nya.
" Ya Allah tampannya!" Keyra langsung berjongkok di hadapan Ivan dan Ivander, matanya tampak berbinar melihat putra Rinjani.
Tetapi Ivan dan Ivander langsung meraih pergelangan tangan Rinjani, seolah tidak suka dengan seseorang yang di depan nya.
" Maaf, mereka memang tidak terbiasa dengan orang asing" Tutur Rinjani sopan, pada Keyra.
" Iya, aku maklum kok" Keyra tersenyum masih dengan tatapan penuh kekaguman pada kedua bocah yang mengemaskan.
Ivan dan Ivander memang terlihat lebih mencolok karena gen Nurry yang mendominasi, mata mereka, rambut mereka, juga kulit mereka yang putih sampai kemerahan
" Dia sangat mirip dengan Pak Ansel ya Rin!" Ucap Akbar mengamati Ivan.
Rinjani tersenyum, beberapa saat mereka masih mencoba membujuk si kembar agar mau sekedar di peluk atau di cium, beragam gombalan ini itu mereka tawarkan sampai akhirnya Ivan, Ivander mau dekat dengan Akbar dan Keyra.
Rinjani dapat melihat tatapan Keyra yang terus menatap kedua putranya dengan penuh minat, Rinjani bisa melihat Keyra memang menginginkan seorang anak lagi, itu sebabnya Akbar nekad menemuinya waktu itu.
" Ini rumah sakit yang di rekomendasikan oleh suamiku, katanya kalian bisa menghubungi mereka untuk berkonsultasi, jika memang kalian minat, nanti Suami ku bersedia membantu mengurus keberangkatan kalian ke Jerman."
Mata Keyra berkaca-kaca, tangan nya meraih tangan Rinjani yang berada di atas meja.
" Terimakasih Rin, kalian benar-benar orang baik, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian, sungguh aku tidak tau harus mengatakan apa selain mengucapkan kata terimakasih atas segala bantuan kalian"
Akbar memandang wajah wanita masalalunya itu dengan tatapan kekaguman, seperti mimpi pernah memiliki wanita itu seutuhnya, bahkan Akbar lah pria pertama Rinjani, tetapi untuk sekedar menatap wajah Rinjani saat ini rasanya ia begitu malu.
Setelah banyak mengobrol, akhirnya Rinjani pamit undur diri, Keyra dan Akbar tak hentinya mengucapkan terima kasih.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Maina sedang bersemangat memasak untuk Ben, yang sebentar lagi pasti akan pulang.
" Apa yang kau buat??" Suara berat Ben tiba-tiba terdengar di ambang pintu dapur, menatap perbuatan Maina.
" Membuat makan malam untuk kita" Jawab Maina tersenyum.
" Aku tak menyukai sayur" Komentar Ben begitu ikut melihat apa yang berada di atas api kompor
" Nanti biar Mai yang makan sayurnya, Kaka bisa ambil kuahnya saja"
" Hmmmm" Ben hanya bergunam, sebelum akhirnya melangkah meninggalkan Maina untuk membersihkan diri.
Setelah melanjutkan acara memasaknya, akhirnya Maina menyusul sang Suami, berniat menyiapkan pakaian Ben
Mainan meletakkan baju yang baru di ambil dari lemari.
" Mai, apa itu kau?" tanya Ben yang masih berada di dalam kamar mandi.
" Ya" Maina berujar sedikit berteriak.
" Kemarilah"
__ADS_1
Maina mendekati kamar mandi dan mendorong pintunya yang tak tertutup rapat, Ben masih berdiri di bawah guyuran shower dan masih polos tanpa busana.
" Kenapa masih disana, ayo mendekatlah!"
Meskipun sempat ragu, tetapi akhirnya Maina benar mendekat, dan Ben segera menarik tubuh kecilnya turut terguyur air dari kucuran shower.
Ben menurunkan baju Maina melalui satu sentakan kuat, bukan sebuah amarah, tetapi Ben tidak sabar untuk segera membebaskan sesuatu yang membuatnya tergoda.
Pakaian Maina di lucuti dan di biarkan jatuh begitu saja di atas lantai.
Dalam sekejap mereka sudah sama-sama polos, berhadapan tanpa sehelai benang
Maina menatap Ben yang dengan tergesa merampas bibirnya dalam sekejap, merasakan deru napas Ben yang terasa berat dan hangat, membuat dadanya ikut bergemuruh panas hingga ke rongga tenggorokan nya.
Maina merinding, tubuhnya mulai di dorong menghadap ke dinding, di tekan disana untuk dimasuki secara tiba-tiba
Maina tetap terkejut seperti biasanya saat Ben melakukan penetrasi, Maina terkesiap, karena bagaimanapun porsi tubuh mereka yang tidak seimbang, Maina terlalu kecil untuk Ben.
Maina terpeliuk di bawah guyuran air, tubuhnya menempel di permukaan dinding marmer dengan Ben yang terus menghentak pinggul nya sedikit kasar, Ben yang merasa Maina tak kuat berdiri, dan kuwalahan, langsung mengendong tubuh Maina dan di dudukkan di atas wastafel untuk kembali di dera dengan semangat.
Maina masih mengeliat di atas ranjang saat Ben tiba-tiba menciumnya, Pria itu sudah mandi, wangi sabun memenuhi Indra penciuman Maina
" Apa itu tadi sakit??"
Memang terasa nyeri , tetapi Maina bukan gadis cengeng, Maina mengeleng dan memeluk tubuh suaminya.
" Aku ingin kau segera hamil lagi"
Maina benar-benar terkejut dengan ucapan Ben, bukan nya Maina tidak mau, lagian Aalona juga sudah besar, tetapi Maina tak menyangka Ben akan mengatakan itu.
Maina tertegun saat Ben tiba-tiba mencium perut Maina yang baru saja dibuahi. Ben juga menelusuri pipi Maina dengan punggung tangannya kemudian membelai lembut Surai Maina yang tampak berantakan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Ting
[ "Sayang" ]
Baru saja sebuah pesan masuk, tak seberapa lama Ansel menghubungi Rinjani dengan panggilan Video
" Kaka Belum tidur??" tanya Rinjani begitu melihat wajah suaminya, tadi saat Ansel mengobrol dengan anak-anaknya Rinjani sedang di kamar mandi.
Ansel mengeleng " Baru selesai evaluasi dan ngecek bahan untuk meeting besok pagi sebelum pulang"
Rinjani mengangguk.
" Aku kangen banget sama kamu dan anak- anak"
Rinjani dapat mendengar Ansel menarik napasnya dalam
" Anak-anak juga kangen sama Kaka"
" Bagaimana dengan mommy nya??" goda Ansel menaik turunkan alis nya.
__ADS_1
" Mungkin!" jawab Rinjani mengulum senyum
" Kok mungkin??" Terdengar protes Ansel dari sebrang sana.
Rinjani tak menjawab memilih tertawa kecil. " Tadi aku Udah bertemu dengan mas Akbar dan juga Keyra, amanat Kaka sudah aku sampaikan" ucap Rinjani mengalihkan topik.
" Oh ya?? terus??"
" Ya seperti yang Kaka katakan padaku, aku menyampaikan nya seperti itu, semoga keinginan mereka terwujud ya Kak!"
" Aamiin" Ansel mengaminkan dengan tulus.
Ansel melihat ada yang ganjil di raut wajah istrinya.
" Sayang are you okay??"
Ansel tak mendapat jawaban, tetapi Ansel melihat wajah Rinjani yang tiba-tiba memucat.
" Rin, Sayang!!" Panggil Ansel tetapi hanya keheningan yang terdengar.
" blood " Tiba-tiba suara Rinjani terdengar.
" Darah? Darah apa sayang, kau baik-baik saja??" Ansel dilanda rasa cemas luar biasa.
" Kak Ansel __ aku berdarah"
Ansel melompat dari tempat tidurnya, ingin terus bertanya pada Rinjani tetapi tiba-tiba ponselnya mengelap, panggilan telepon terputus, Ansel mencoba menghubungi kembali tetapi Rinjani tak mengangkat nya.
" Ya Tuhan, Ya Tuhan__ Ya Tuhan__"
Ansel segera menghubungi Ben dan keluarga nya, setidaknya mereka bisa segera melihat keadaan istrinya, sementara dirinya langsung menyambar jas yang tersampir di sofa yang ada di kamar hotel nya dan buru-buru keluar dari sana, langsung berdiri di kamar sebelahnya dan mengetuk pintu dengan tak sabaran.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka.
" Ada apa Pak?" Andrean yang menemaninya melakukan presentasi langsung bertanya.
" Kita pulang sekarang"
" Meeting besok bagaimana___?"
" Terjadi sesuatu pada Rinjani, aku harus kembali kesana" Jawab Ansel dengan napas tak karuan.
" Ya Allah, Rinjani kenapa?? Tengah malam seperti ini juga tidak ada penerbangan menuju kesana" Andrean ikut cemas
Ansel tak menyahut, saat kalut , pikiran jelas tak karuan.
" Pak, kalau kita berdua pergi sekarang, perusahaan akan dapat nama buruk, bagaimana kalau presentasinya biar saya yang handle??" tutur Andrean menatap wajah Ansel yang sudah sangat kacau.
Andrean kasian jika mereka tidak menyelesaikan pekerjaan, terlebih Ansel bisa rugi besar jika mereka pergi begitu saja
" Baik , ini kartu kamar ku, semua bahan presentasi ada di laptop dan sudah link ke ponsel juga , ada catatan evaluasi dan ada note nya juga, kamu bisa cek sendiri, aku mengandalkan kamu kali ini"
Ansel melangkahkan kakinya menyusuri koridor sambil membuka aplikasi untuk mengecek jadwal penerbangan.
__ADS_1
" Aarrrgggh...! Tuhaaaaaan__" seru Ansel saat semua pilihan yang ada di hadapannya tidak ada yang bisa membawanya kembali dengan cepat ke sisi istrinya.