
Rinjani tak menyangka bahwa Ansel akan benar membawanya pergi untuk tinggal di lingkungan baru
Seperti yang pernah Ansel katakan sebelumnya bahwa ia ingin membawa sang pujaan hati pergi ketempat dimana tidak ada gangguan dari keluarganya, tempat yang mampu memberi lingkungan baik untuk para anak-anaknya
Dan disinilah Rinjani saat ini, berada di lingkungan pondok pesantren yang berada di kota terpencil, di hadapkan dengan lingkungan seperti ini membuat Rinjani merasa salah kostum
Ansel sedang menemui pemilik pondok, sedangkan Rinjani dan anak-anak ditemani oleh para santri Wati dan ustadzah yang begitu ramah, mereka semua mengenakan baju longgar dan hijab besar, sementara Rinjani hanya memakai baju hamil tanpa penutup kepala, tetapi sepertinya hanya Rinjani sendiri yang gelisah karena merasa salah kostum, para santriwati dan ustadzah yang menemui Rinjani tampak tak mempermasalahkan tampilan Rinjani, mereka juga tidak melihat Rinjani dengan aneh, keramahan mereka tentu saja membuat Rinjani tersentuh
" Kami baru tau ternyata istri gus Ansel sangat cantik" Puji salah satu ustadzah dengan mengenggam tangan Rinjani
" Gus??" kutip Rinjani
Mereka tersenyum ramah
__ADS_1
" Gus itu biasa di sematkan untuk pangilan pemuda, atau laki-laki, artinya bagus, atau tampan, pintar dan lainya" Jelas salah satu ustadzah yang melihat kebingungan Rinjani
Rinjani hanya mengulum senyum malu, karena memang tidak faham dengan arti pangilan untuk Ansel
Setelah berbicara panjang lebar dan saling berkenalan akhirnya seorang santri menghampiri mereka yang asik mengobrol di gazebo, mengatakan bahwa Gus Ansel sudah menunggu istrinya di rumah mereka, tentu saja Rinjani terkejut dan hanya mampu menyerngir kuda
Akhirnya Rinjani di temani oleh para santriwati untuk mengantarkan Rinjani kerumah yang dimaksud santri tadi
Di depan pintu, Ansel menyambut kedatangan sang istri dengan senyum mengembang, tak lupa pemuda itu mengucapkan terimakasih kepada santriwati yang mengantarkan sang istri
" Kak apakah kita akan tinggal di sini?"
" Ya" Jawab Ansel santai
__ADS_1
" Kak, tapi kita bukan orang berilmu" Rinjani memang berpikir demikian, dihadapkan dengan para santriwati dan ustadzah tadi dia merasa kerdil dan fakir ilmu
" Justru karena itu, kita bisa sekalian belajar di sini" Ansel menangkup wajah Rinjani dengan lembut
Rinjani tampak menimbang, kemudian menengadah, memandang wajah suaminya yang juga tengah menatapnya
" Awalnya aku berpikir kita akan menetap di London, sama sekali tak kepikiran Kaka ingin mengajak kami ke lingkungan pesantren" Ucap Rinjani dengan terus terang
" Tidak sekarang, mungkin setelah anak kita lahir, sayang "
Rinjani tersenyum, kemudian masuk kedalam pelukan hangat Suaminya
" Kaka tau darimana tempat ini?" Rinjani bertanya dengan wajah yang masih tengelam di dada Ansel
__ADS_1
" Sudah cukup lama, tetapi jauh sebelum aku mengenalmu, aku juga membangun masjid disini dengan uang Niel, aku mengatasnamakan dia agar pahala tak akan putus untuk Kaka ku, aku ingin dirinya bisa beramal jariah, itu juga sebelum Niel tiada, dan pesantren ini juga aku yang mewakafkan tanahnya atas nama Al-Biru" Aku Ansel semakin mendekap tubuh istrinya
Ansel memang pemuda yang penuh kejutan, dan memiliki sejuta cara menyebar kebaikan di balik kediamannya, siapa yang tak terkagum-kagum dengan kebaikan suami Rinjani ini? bahkan adakalanya Rinjani merasa tak percaya bisa memiliki pemuda yang kesempurnaannya mencapai level tertinggi