
"Maafkan aku" Ansel menciumi seluruh wajah Rinjani dengan lembut. Dan menarik Rinjani kedalam pelukannya.
Rinjani tidak mengatakan apapun terlalu bahagia mengungkapkan kelegaan dan kepuasan atas perilaku pemuda yang baru saja menaungi nya dengan penuh kelembutan
Rinjani yang lemas segera di peluk oleh Ansel, membawa tubuh mereka berdua berputar dan memangku Rinjani untuk menguyur tubuh mereka bersama di bawah kucuran air shower, Ansel juga membantu Rinjani membersihkan diri, pipi Rinjani di sapu dengan sentuhan lembut dan rambutnya di tuangkan sampo dan kondisioner bergantian, ciuman bertubi-tubi juga terus Ansel berikan untuk Rinjani yang masih setia di pangku dan di dekap Tubun polos nya, sampai selesai ritual mandi mereka, Ansel juga mengendong Rinjani dan dengan sabar memakaikan baju untuk istrinya, sampai melupakan tubuhnya sendiri yang hanya terlilit sebuah handuk di bagian pinggang nya
Satu Minggu setelah kejadian pagi yang hangat, akhirnya hari ini Ansel harus pergi ke Inggris, mengurus perpindahan mereka kembali.
Rinjani mengantarkan sampai bandara, sekarang tak ada lagi bodyguard yang selalu mendampingi pemuda itu, melihat keadaan Ansel empat tahun terakhir, akhirnya kedua orang tuanya percaya bahwa Ansel benar-benar mampu menjaga diri.
" Ansel nanti aku mampir ke pemakaman dulu ya?" Izin Rinjani saat mereka dalam perjalanan ke bandara.
" Iya, kamu hati-hati, doakan semua lancar jadi aku bisa segera kembali, Januari di Inggris sedang musim dingin kayak nya aku akan sangat merindukanmu" Ansel mengenggam tangan Rinjani dengan lembut
" Jangan minum! jaga kesehatan, Ansel, segeralah kembali"
" Ya" Ansel memeluk istrinya yang pastinya sedang berat melepaskan kepergian nya, yaa__ karena biar bagaimanapun satu Minggu belakang ini mereka sudah saling dekat dan mulai saling terikat dengan rasa nyaman
Akhirnya mobil mereka sampai di bandara.
" Telepon aku jika anak-anak rewel, jangan terlalu capek, setelah dari makam langsung pulang" Ansel berpesan pada Rinjani.
Rinjani mengangguk, dan meraih tangan Ansel untuk di cium.
" Ingat jangan minum, ingat jangan sering di luar rumah nanti kamu bisa flu, jangan lupa minum vitamin"
Ansel tergelak kecil " Sayang dirimu yang seperti ini yang membuat hati ku hangat dan tak mampu berpaling"
" Aku menunggu kepulangan mu " Rinjani merangkul suaminya, memeluk pinggang suaminya kemudian menenggelamkan wajahnya di atas dada Ansel yang hangat dan berdetak
" Aku pergi"
Ansel benar-benar pergi menjauh dari Rinjani masuk kedalam bandara meninggalkan Rinjani yang menatap sendu.
Ini bukan untuk pertama kalinya Ansel pergi ke Inggris, tetapi ini untuk pertama kalinya Rinjani berharap Ansel segera pulang untuk anak-anaknya terlebih untuk dirinya.
__ADS_1
Rinjani membawa langkahnya ke pemakaman elite, tempat peristirahatan terakhir Suaminya.
Ini kunjungan pertamanya seorang diri.
" Kak, aku datang!!, anak-anak kita sehat dan tumbuh dengan baik, semua ini berkat Ansel, dia benar-benar menyayangi anak-anak kita seperti dirimu, Kak aku akan selalu mendoakan mu, Semoga Allah menempatkan Kaka di sisi terbaik Nya" Meski hanya ungkapan kecil Rinjani tetap menitihkan air mata, Nurry juga pria dewasa yang bertanggung jawab, sosok suami yang sangat- sangat baik untuk Rinjani, Nurry tempramen, tetapi selalu mampu menjaga emosinya saat bersama nya, Nurry sering kali meluapkan kekesalan nya dengan benda meski tak jarang buku-buku jarinya menjadi luka-luka karena di hantam kan sesuatu untuk meredam amarahnya.
Rinjani kembali kerumahnya bersama Ansel, rumah yang sempat di tinggali selama tiga bulan tetapi tidur dalam kamar terpisah, begitu masuk rumah suasana sepi dan sunyi langsung menyambutnya, anak-anak masih kerumah Mama dan Papa Ansel, mereka tidak ikut mengantar kepergian Ansel karena takut si kembar akan menangis, makanya pilih di titipkan pada orang tua Ansel.
Rinjani menatap nanar jam dinding, masih sangat lama Ansel sampai , tetapi Rinjani sudah rindu dengan suara pemuda itu.
Siang hari akhir nya Rinjani menjemput anak-anaknya, baru juga empat jam, si kembar mulai mencari keberadaan Daddy nya.
" Mommy sudah sole, Daddy ngak pulang?" Ivander yang mulai merengek, di susul dengan Ivan.
Baby sitter mereka juga sudah membujuk agar para pria kecil itu tidak merajuk tetapi tidak bisa, si kembar berlarian ke kamar Rinjani bersama Ansel.
" Mommy apa Daddy pulang malam?"
" Ya, kalian tidur dulu nanti mommy bangunkan kalo Daddy datang oke!" Bujuk Rinjani.
" Tidak apa-apa Mba, bawa mereka istirahat saja, saya temani" Rinjani menuntun anak-anak nya turun kembali ke kamar si kembar.
" Mommy telpon Daddy!" Ivan mulai lagi merengek.
" Daddy akan segera pulang kalau kalian segera tidur oke!"
Mungkin Si kembar mulai merasakan bahwa saat ini Daddy nya jauh, selama ini Ansel memang benar-benar mengutamakan anak-anak nya, tak perduli sesibuk apapun pemuda itu akan tetap pulang tepat waktu, memilih melanjutkan kerjaannya di rumah asal waktu bersama anak-anak tak kurang, Rinjani sudah merasa kehilangan meski baru begini saja, baru berjalan enam jam tetapi tanpa Ansel, pemuda lembut yang menjabat suaminya itu kekacauan hidupnya mulai terasa, lihatlah anak-anak mulai rewel dan mempertanyakan keberadaan pemuda itu.
" Mommy apa Daddy ada lapat??"
Sepertinya Ivan masih belum puas dengan Jawaban Mommy nya, Rinjani hanya bisa mengangguk sambil membujuk lagi agar anak-anak nya tidur, Rania yang faham kemana Daddy atau paman nya saat ini hanya diam membiarkan sang mommy menenangkan adik-adik nya.
Satu jam lamanya kembar baru tidur, setelah Rinjani membaca empat buku cerita full, biasanya saat bersama Ansel, pemuda itu hanya mengarang cerita khayalan nya sendiri, bercerita yang kadang tak mampu Rinjani cerna, tetapi hanya sebentar anak-anak nya akan tertidur, sedangkan bersama nya si kembar malah sulit tidur, ternyata seorang anak laki-laki memang sangat cocok berdekatan dengan Ayahnya, karena bagaimanapun mereka memiliki kesamaan dan sikap yang kurang lebih.
Sepuluh jam berlalu hidup tanpa Ansel, Rinjani benar-benar tidak bisa tidur, makan tak enak, pikirannya selalu tertuju pada suaminya yang tampan rupawan.
__ADS_1
Masih sekitar tujuh hingga delapan jam Ansel dalam perjalanan panjangnya, tetapi Rinjani sudah tidak sabar ingin menghubungi nya, ingin menanyakan apa pemuda itu baik-baik saja.
Akhirnya penantian Rinjani membuahkan hasil, saat pagi menjelang dering panggilan dari Ansel terlihat di layar ponselnya, hati Rinjani membuncah.
Tanpa pikir panjang Rinjani langsung mengangkat panggilan dari Ansel.
" Halo!"
{" Rinjani ini Ibu Maria"} Suara di sebrang sana
" Ibu Maria!"
{" Iya, ini Ansel sudah tiba , tetapi sepertinya anak itu mengalami jet lag"} Ibu Maria memberi tahu.
" Mana Ansel BI??" Lirih Rinjani.
{" Di kamar mandi"}
Rinjani dapat mendengar suara seseorang yang sedang muntah-muntah, apakah itu Ansel??
{" Dia terus muntah sejak ku jemput dari bandara, entahlah ini pertama kalinya aku melihatnya seperti ini"}
Percayalah perasaan Rinjani sedang tak karuan, Ansel sakit di saat jauh darinya, oh seandainya Inggris bisa di jangkau dengan mobil Rinjani akan menyusul nya sekarang juga.
{" Sayang, aku baik-baik saja! jangan khawatir, apa anak-anak sudah bangun" }
Rinjani dapat mendengar suara Ansel yang parau dan Ansel juga seperti menahan sesuatu saat bicara, belum sempat Rinjani menjawab apapun terdengar suara krasak krusuk dari sebrang sana dan lagi-lagi suara seseorang yang muntah terdengar
{" Rinjani akan ku hubungi lagi nanti, biar aku bawa Ansel ke dokter dulu".}
" Baik Bi, Bi tolong titip Ansel, aku menyesal tidak membersamainya"
{" Jangan khawatir, tanpa kau minta akan ku lakukan yang terbaik untuk anak itu, kau jaga kesehatan sayang sampai jumpa" }
Ponsel di tangan Rinjani langsung mengelap, bersamaan dengan datangnya awan gelap yang menaungi hati Rinjani, kabut hitam yang membuat rasa khawatir dan sendu menjadi satu.
__ADS_1
'Tuhan jaga dia untukku' Bisik hati Rinjani.