
Rinjani pada akhirnya keluar dari kamar Rania setelah Si kembar dan Ibu Maria datang, Wanita yang di panggil Bi Mary itu mengajak mereka semua barbeku atau Barbeque dalam bahasa Inggris, dari segala jagung, ayam, daging, sosis segala macam sudah wanita itu sediakan, semua tampak bersemangat, hanya Ansel yang seolah tak suka dengan kegiatan mereka.
Semakin malam Hawa di balkon rumah mereka semakin dingin, api panggangan membuat mereka nyaman.
Rinjani sejak tadi ingin mengorek informasi tentang Ansel pada teman-teman nya, tetapi dari tadi tidak ada kesempatan baginya untuk mengobrol, hingga si kembar merengek minta di temani Ansel tidur, disitu Rinjani memiliki kesempatan untuk mencari tau tentang Ansel.
" Jadi Ansel tidak pernah berpacaran??"
" Pernah, wanitanya juga mencintai Ansel dengan tulus, sayang wanita itu hamil setelah melakukan one night stand, ya bukan hal tabuh di kehidupan kita kan ?, cuma karena wanita itu takut mengecewakan Ansel, akhirnya dia memilih bunuh diri"
Rinjani pernah dengar sebelumnya, tetapi setau Rinjani Ansel bilang wanita itu bunuh diri setelah di temui oleh Mama Nurry, ternyata begitu kejadian sebenarnya?
" Apa yang Ansel ceritakan tentang aku"
" Oh astaga__ kau harus percaya saat Ansel kembali untuk pertama kalinya setelah bertemu kau, dia sepanjang hari hanya menceritakan tentang kau, kau yang cantik, kau yang Baik, kau yang perhatian dan kau yang ahhh___ segalanya, dia bercerita sebagaimana kau memperdulikan nya, memberinya nasehat, ingat jangan begini, ingat jangan begitu semua dia ceritakan
Dia jatuh cinta padamu saat pertama kali dia bertemu dengan mu, Ansel bukan pria bebas Rinjani, dia tak sebrengsek kami, Ansel pria suci, saat dia mengatakan telah mencium mu dia sangat bahagia, tetapi di saat yang sama Ansel menangis karena harus merelakan mu.
Kau tau demi terlihat baik-baik saja dia menjalin hubungan dengan wanita bernama Bulan, bersyukur karena Bulan adalah wanita yang agresif jadi mudah bagi Ansel untuk melakukan hubungan yang selama ini mungkin tak pria itu inginkan, Ansel adalah pria paling puitis yang pernah ku kenal, tetapi Ansel tak akan pernah mengirimkan puisi nya pada orang yang di cintai nya."
Rinjani menyimak dengan khusyuk, sama sekali tidak menyela. Karena dia memang tak pernah tau kalo Ansel pandai berpuisi
"Saat dia akan menikah dengan Bulan, sebelum kembali ke Indonesia dia sering sekali datang ke bar, minum hingga mabuk, malam itu kami kembali bertemu dengan nya yang sudah sangat mabuk, dia menangis dan terus saja meracau, dia mencintai mu Rinjani, tapi dia juga sangat mencintai Kakanya, Ansel bilang jika saja Nurry meminta nyawanya dia akan berikan apalagi jika hanya merenggut cintanya, sungguh Ansel rela meski dia harus mengubur dalam-dalam perasaan terlarang nya untuk mu" Lucia menghapus air matanya, sedangkan Rinjani semakin meremas tangan nya dibawah meja
" Tidak hanya itu, dia juga membangun yayasan atas nama mu Rinjani" Rinjani menoleh saat Ibu Maria turut menepuk pundaknya.
Wanita paruh baya itu mengangguk-angguk.
" Ya Ansel membangun yayasan terbesar nya atas namamu, mereka saksi nya. ujarnya dengan menunjuk ketiga teman Ansel
__ADS_1
Jimmy menyerngit " Inajnir" Nama yang sangat aneh untuk sebuah yayasan kesehatan, apa itu adalah namamu??___ Oh astaga I-N-A-J-N-I-R__ " Pekik ketiganya dan melirik Ibu Maria. "ohh my God itu nama mu yang dibalik??"
Rinjani sendiri sangat terkejut, namun saat ingin membuka suaranya, Ansel sudah kembali dari kamar si kembar.
" Sebaiknya kami pulang Rinjani" Ketiga temanya membubarkan diri, Ibu Maria mengumpulkan panggangan mereka yang masih berada di atas pembakaran
" Sebaiknya Aku juga segera pulang, kalian segeralah beristirahat" Ucap Ibu Maria dan segera mencium Ansel dan Rinjani sebelum menutup balkon, dan benar-benar pergi.
Begitu tingal berdua suasana kembali canggung, terlebih untuk Rinjani yang saat ini mengetahui kebenaran bahwa ternyata Ansel memendam rasa untuk nya, Rinjani tak pernah menyangka Ansel bisa sesabar itu, ternyata Ansel adalah pria sejati dalam artian sebenarnya
Tujuh ciri-ciri pria sejati di miliki oleh Ansel
Mandiri.
Memegang prinsip dengan teguh.
Berani melakukan hal yang benar.
punya pengendalian diri yang kuat
Ucapan nya bisa di pegang
Berani bertanggung jawab
" Rinjani apa mereka berbicara sesuatu yang membuatmu tak nyaman??" Tanya Ansel mengenggam tangan Rinjani
" Tidak" Sungguh Rinjani ingin menangis saat ini, mengapa Ansel mencintainya begitu besar, selama ini Ansel sama sekali tak menunjukkan rasa cintanya, pria itu begitu memiliki pengendalian diri yang luar biasa, haruskah Rinjani senang atau justru sedih karena ternyata Ansel memiliki hati yang tulus.
" Kamu tidak berbohong? mereka ada mengatakan sesuatu tentang aku??" Tanya Ansel menyelidik, kali ini menatap wajah Rinjani dengan serius.
__ADS_1
" Kemarilah" Ansel menarik Rinjani kedalam pelukannya, entah mengapa pelukan Ansel kali ini terasa sangat berbeda, terlebih saat Rinjani mengetahui seberapa besar Ansel mencintainya, tidak banyak orang yang bisa sekuat dan se iklas Ansel dalam melepaskan wanita yang dicintainya, Rinjani seperti merasa beruntung
" Apa kau benar-benar tidak apa-apa??" tanya Ansel mengelus pundak Rinjani, Ansel benar-benar memperlakukan dirinya dengan hati-hati dan terlihat perhatian biasa tetapi siapa yang menyangka dibalik sikap tenangnya Ansel memendam luka, berapa kali selama ini Ansel mengumbar kemesraan nya bersama Bulan, apakah itu wujud pelampiasan??
" Kau berbohong padaku jika kau baik-baik saja Rinjani"
" Aku hanya ngantuk" Rinjani tersenyum tipis, tetapi Ansel sama sekali tak membalas senyum nya.
Sebenarnya memang Ansel sendiri sangat takut jika para sahabatnya membocorkan perasaannya yang sebenarnya pada Rinjani, dulu Ansel berani bercerita pada sahabat nya karena mengira dirinya tak akan pernah bersama Rinjani apalagi tinggal di sini dengan status yang sungguh tak terduga, tetapi takdir sama sekali tak terprediksi.
" Ansel aku ngantuk, bisa kita masuk kamar sekarang?"
" Ah__ ya" Ansel mengandeng tangan Rinjani untuk naik tangga bersama.
Saat mereka masuk kedalam kamar, Ansel langsung menuju ke ruang Wardrobe dan Rinjani pun menyusul nya, Ansel yang tidak tau Rinjani menyusul dirinya langsung melucuti begitu saja pakaiannya, Ansel terkejut saat Rinjani ikut serta. pemuda itu segera menyambar jubah tidurnya.
Ansel hanya tidak mau Rinjani berpikir yang tidak-tidak tentang nya, padahal Rinjani memang sengaja menyusul dirinya.
Ansel tersenyum dan hendak keluar, tetapi Rinjani menarik tangan pemuda itu
" Apa kau sungguh tak menginginkan ku Ansel?? Aku benar-benar ingin memberikan semua untuk mu, apa kau benar-benar tidak mau??" Rinjani berkata dengan mata yang berkaca-kaca, sungguh setelah mengetahui Ansel mencintainya seluas samudera Rinjani kian merasa bersalah, bersalah karena ketidak pekaan perasaannya
Ansel terlihat meraup wajahnya, sebelum pemuda itu mencondongkan badannya
Ansel membelai pipi Rinjani, Ansel menatap wajah Rinjani dengan mata Hanzel nya
" Ya aku menginginkan mu, sangat menginginkan mu, bukan untuk sekarang, tapi sejak lama, tetapi aku tak akan pernah melakukannya sebelum kau bisa menerima ku" setelah mengatakan nya Ansel kembali berdiri tegak, lagi-lagi Ansel tersenyum.
" Ayo kita tidur! Besok aku ada janji ingin membawa anak-anak ke pantai sebelum berganti musim"
__ADS_1
Ansel keluar dari ruang wardrobe meninggalkan Rinjani dengan hati yang teramat gelisah dan bersalah, apa dirinya sudah menerima Ansel? sudahkan Ansel berada di hatinya?