Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Mengurai benang kusut


__ADS_3

Rinjani Sedang bermain bersama si kembar saat pintu kamarnya di ketuk.


" Nyonya Rinjani, ada Tuan Darius, Ayah Tuan Ben" Ucap sang maid saat Rinjani membuka pintu.


" Ayah Ben??" kutip Rinjani


" Iya, mau bertemu dengan Tuan Muda Ansel, tetapi saya bilang sudah ke kantor, terus katanya ingin ketemu sama istri Tuan Ansel tidak apa-apa"


" IYa, Bi, tolong bawa anak-anak kembali ke kamar nya, biar mereka main lagi sama susternya, saya temui Ayah Ben dulu"


Sang maid mengangguk, masuk bersama Rinjani kedalam kamar.


" Mommy" Ivan dan Ivander ngacungin pesawat kecil di tangan mereka masing-masing mengajak sang Mama kembali bermain.


" Nanti kita main lagi, Mommy ada tamu , kesayangan mommy sama suster dulu ya" Rinjani mengecupi pipi dua bocah tembem itu yang di sambut tawa geli keduanya.


Rinjani menemui Ayah Ben di ruang tamu, Rinjani terkejut saat melihat pria seusia kedua orang tua Nurry yang sedang duduk di kursi roda ' Apa ayah Ben sakit?' Tanya Rinjani dalam hati.


Selama ini Rinjani tidak pernah tau tentang Ben, yang di tau Rinjani, Ben adalah asisten pribadi Nurry, selain itu Rinjani tidak tau apa-apa.


" Maaf menganggu waktu istirahat Anda Nyonya" Sapa pria paruh baya itu


" Sama sekali tidak , Om" ujar Rinjani dengan senyum lembut di bibirnya, kakinya melangkah untuk mendekat ke arah sofa.


'Wanita yang sopan' Batin Darius


" Aku kemari ingin mengambil barang Ben yang ketinggalan, anak itu sedikit teledor akhir-akhir ini"


" Oh, Om bisa saya antar ke kamar Ben"


" Terimakasih, tapi apa saya boleh mengobrol sedikit dengan Nyonya muda, tolong maafkan pria seperti ku ini nak, aku sedikit mengagumi kesopanan mu, padahal aku hanya Ayah seorang kacung, tetapi Anda menyambut baik kedatangan pria seperti ku"


" Anda tidak seharusnya bicara seperti itu, saya, Ben, Anda, kita semua sama, tidak ada perbedaan mencolok di sini, Ben adalah orang kepercayaan keluarga kami, itu berarti kami memiliki hubungan layaknya sodara" Tutur Rinjani lembut pada Pria yang memiliki mata gelap malam itu.


Rinjani sama sekali tidak tau, bahwa saat ini di luar sedang ada kekacauan, Darius membawa para anak buahnya untuk mengelabuhi para bodyguard rumah Al -Biru, ini bukan kedatangan kali pertama Darius ke rumah ini, para bodyguard juga mengenal baik Ayah dari asisten pribadi Anak sulung Al-Biru.


Ayah Darius menyeringai, saat Maid menyuguhkan minuman untuk dirinya dan Rinjani, diam-diam matanya mengawasi setiap detail wajah wanita yang membuat putra nya jatuh cinta.


'Andai kau menyambut baik cinta putraku mungkin aku akan memperlakukan kamu sebagai menantu dengan layak' Batin Darius.


" Silahkan di minum Om" Rinjani beramah tamah.


" Terimakasih Nyonya, Anda sangat lembut"


Rinjani hanya tersenyum tipis.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


"Tuan Muda tidak apa-apa??" tanya sopir Ansel yang sedari tadi tampak tak bisa fokus menyetir karena Tuan nya tidak berhenti mengeluarkan suara hendak muntah.

__ADS_1


" Pak, dada ku sakit, perut ku juga tidak berhenti mual, sepertinya tidak bisa lanjut ke kantor, kita pulang saja" putus Ansel yang tiba-tiba merasa tidak sehat.


Entahlah, tidak hanya mual, tetapi perasaan Ansel juga sedari tadi tidak tenang, padahal kantor mereka sudah terlihat, tetapi Ansel merasa ingin pulang saja.


Ansel menghubungi Andrean, mengatakan bahwa dirinya kurang sehat dan tidak bisa memimpin rapat pagi ini, Biarlah dirinya juga belum resmi menjadi pengganti Sang Kaka yang sudah tiada, tidak lupa Ansel juga menghubungi Kedua orang tua nya.


Ansel baru saja mengakhiri panggilan, saat nama Ben tertera di layar ponsel Android nya


" Ya Ben??"


[" Apa kalian sudah berangkat ke kantor??"]


" Aku kembali pulang, ada apa??"


[" Aku sedang menuju ke rumah, ada berkas kesehatan ku yang tertinggal"] ucap Ben di sebrang sana


" Bukankah harusnya kau sudah terbang"


[" Aku hampir pingsan kemarin karena tensi rendah, jadi aku bermalam di hospital, sangat menyebalkan"]


" Astaga__"


[" Oke kita ketemu di rumah"]


" Ya"


Setelah Ansel mengakhiri panggilan, dirinya menyandarkan tubuhnya, dengan tangan terangkat menutup kedua kelopak matanya.


Mereka semua juga tampak bingung, bisa sampai bersama an.


Semua menyergit saat menyadari tidak ada para bodyguard yang biasanya menjaga di sekeliling rumah Al -Biru


" Pada Kemana petugas pengamanan??" Tanya Papa Ansel


Di sela kebingungan keluarga Al-Biru, mata Ben terbelalak melihat mobil Ayah nya yang di parkir dekat bangsal .


" ****" umpat Ben yang mampu menarik perhatian seluruh kepala, semua mengikuti arah pandang Ben, mereka juga tidak tau mobil siapa yang parkir di dekat paviliun atau bangsal mereka.


Ben buru-buru masuk, di ikuti mereka semua, semua orang terbelalak melihat Rinjani yang di panggul seperti karung beras dengan tubuh yang tak bergerak, terlihat sekali Rinjani habis mendapat penyiksaan, terlihat rambut wanita itu yang terhambur dengan bekas air mata yang masih terlihat, tidak hanya itu pelipis wanita itu berdarah.


Ansel ternganga melihat tubuh istrinya yang di panggul oleh pria berbadan kekar, Suasana mendadak hening.


Mata Ansel memerah melihat luka di pelipis Rinjani.


Pemuda itu bergegas maju, tetapi sebuah suara menghentikan langkahnya.


" Tetap di tempat, atau aku akan menembak wanita kesayangan kalian semua"


Darius muncul dari kamar Ben, matanya yang melihat kehadiran Ben tampak terkejut.

__ADS_1


Tangan Ben mengepal kuat, tidak menyangka Ayahnya akan bertindak seburuk ini


" Turunkan Rinjani" Bentak Ben.


" Anak bodoh! harusnya kau senang aku bisa membantumu untuk melenyapkan wanita ini, sudah lama aku memintamu untuk menghancurkan keluarga biadab ini tapi kau malah mendukung mereka" Teriak Darius pada Ben


" Siapa yang Ayah sebut keluarga biadab, mereka? " Ben menyeringai. " Bahkan kelakuan Anda lebih buruk dari sebutan biadab"


" Heii__ Aku ini Ayah mu, mereka bukan siapa-siapa" Bentak Darius.


" Seorang Ayah??, tetapi aku tak pernah melihatmu seperti itu, aku hanya melihat mu sebagai pria egois yang sibuk menghabiskan waktu dengan para wanita muda untuk mencari kebahagiaan mu sendiri, apa kau pernah mengurusku di saat terpuruk?? yang ada keluarga biadab ini yang mendukungku, kau____" Ben mengeleng , mengacungkan jempolnya dan mengarahkan kebawah.


" Bajingan" Darius tampak murka.


Tubuh Rinjani yang Semampir di bahu seseorang itu di acungkannya pistol


" Aku pastikan kalian semua akan hancur" Desis Darius menatap wajah kedua orang tua Nurry yang kebingungan, pasalnya mereka sama sekali tidak tau apa penyebab kebencian ayah Ben pada mereka.


" Kau __ tunjuk Darius pada Nikolas Papa Nurry.


" Dasar pria pecundang, kau merebut wanita yang jelas-jelas memiliki kekasih" Mata Nikolas terbelalak, siapa wanita yang ia rebut??


" Dan kau__ " Darius menatap wajah Rubbyan Mama Nurry penuh luka. " Bagaimana kau bisa menikah dengan nya sedangkan kita sudah menghabiskan malam begitu indah" Mulut Rubbyan ternganga, begitu juga semua orang.


" Tunggu-tunggu ini sepertinya ada kesalahpahaman" Ucap Mama Nurry


" Saya sama sekali tidak mengenal Anda, selain Anda adalah Ayah Ben"


" Munafik, kau memilih Nikolas karena dia lebih kaya dariku?? bahkan kau sampai mengubah namamu demi meninggalkan aku" bentak Aysh Ben penuh amarah


" Merubah nama??" bingung Mama Nurry


Ayah Ben tertawa sumbang " Namamu adalah Vabby, bukan Rubby" Bentak Darius.


" Anda mengenal kembaran saya??" tanya Mama Nurry yang sepertinya bisa mulai mengurai benang kusut yang membuat mereka salah faham.


Alis Darius menungkik tajam.


Kini pistol itu di arahkan nya pada Mama Nurry, Ben berjalan bersama Ansel untuk mengambil alih Rinjani, tetapi kemudian tembakan itu benar-benar dilepaskan oleh Darius ke arah Rinjani, saat melihat Ansel mendekat pada Rinjani, Ansel dan Ben terkejut dan berlari secepat kilat kearah Rinjani, naas peluru itu mengenai punggung Ben.


Semua orang terbelalak, melihat kejadian itu, pistol itu juga langsung terjatuh dari tangan Darius begitu timah panas itu mengenai Putra nya sendiri.


Papa Ansel sudah tidak bisa tinggal diam, dirinya langsung merampas kerah kemeja Darius dan menghajarnya membabi buta. empat orang yang datang bersama Darius juga langsung di Serang oleh Ansel dan sang pengacara, beruntung mereka orang-orang yang sedikit banyak pandai berkelahi jadi tidak terlalu remeh untuk dikalahkan keempat bodyguard Darius.


Kekacauan begitu terdengar di tengah keluarga itu, Sang pengacara juga cepat memanggil dokter, setelah mampu menumbangkan dua bodyguard Darius, Ansel juga langsung memeluk istrinya yang tak sadarkan diri.


Sedangkan Ben sudah di bantu Papa Nurry untuk duduk di sofa, Darius seorang yang masih diam bagai arca.


Mama Nurry juga langsung berlari ke kamar nya untuk mengambil foto-foto kebersamaan nya bersama sodari kembarnya yang bisa jadi sodarinya lah yang sebenarnya kekasih Ayah Ben.

__ADS_1


#####


Tinggalkan jejak jika ingin lanjut UPP hari ini


__ADS_2