Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Hari seorang Ansel


__ADS_3

" Look at me! lihat aku, Mai" pinta Ben sambil menangkup wajah Maina.


" Kak Ben___"


Ben langsung menarik tengkuk Maina dan meraup bibir Maina dengan bibir nya, tak membiarkan secuil cela untuk Maina menjawab kata-katanya.


Maina hampir kehabisan napas, saat Ben melepaskan pangutan bibir mereka.


" Hanya aku yang boleh melihat ini__" Ben mengusap tengkuk Maina turun ke bahu hingga punggung. " ini__" Ben mengusap betis Maina naik ke paha . " Terlebih ini__" Terakhir Ben meremas dua gumpalan lembut dada Maina yang membuat Maina membusung.


" Kau mengerti Mai??" Tanya Ben tak menghentikan aksinya, lagi-lagi Maina hanya mampu mengangguk.


" Kak Ben___"


" Diamlah Mai!, ini adalah hukuman untuk mu berani-beraninya kau ingin mempertontonkan bagian tubuh mu yang hanya boleh ku lihat"


" Tapi tadi kak Ben yang minta Mai ganti baju yang lebih terbuka___ Kaaak" Maina menjerit begitu Ben mengigit telinga nya.


" Kau benar-benar!!" Kesal Ben, menindih tubuh kecil istrinya.


Maina sampai tidak berani bergerak, hanya sekedar beringsut karena takut membuat Ben semakin gila, otak Maina tiba-tiba padam menghadapi keinginan prianya kecuali hanya pasrah, entah mau diapakan saja, tubuh Maina di gulung dan ditekan untuk di tindih, tanganya di angkat ke atas kepalanya untuk di cekal tangan besar Ben, pria itu sibuk menciumi ceruk leher wanitanya yang hanya mampu pasrah, tangan sebelahnya bergerak untuk membuka kancing-kancing kemejanya sendiri.


Wanita yang sangat lembut dan polos, untuk dinaungi pria besar seperti Ben.


" Tatap aku Mai, aku ingin kau hanya melihatku, hanya memikirkan aku, karena hanya aku yang boleh kau pandang" Suara Ben semakin serak dan dalam.


" Jangan memejamkan mata mu, atau berpaling, karena aku ingin kau melihat bahwa aku yang menyentuh mu bukan orang lain" Ben benar-benar ingin egois dengan menyadarkan Maina bahwa dirinyalah yang menaungi wanita itu, padahal meski Ben tak mengatakan itu Maina pun tak pernah memikirkan pria lain.


Pipi Maina sudah merah padam, dengan prilaku Ben yang terus menjerat nya, seluruh tubuhnya dibuat merinding oleh perilaku prianya, dadanya berdesir, mengapa Ben begitu tega menyiksanya dengan sentuhan dan senyum kemenangan itu.

__ADS_1


" Kak Ben___" Akhirnya wanita itu tak mampu untuk menahan suaranya.


" Kak Ben Aku__" Maina sangat gelisah


" Ya aku tau" Jawab pria itu tenang, baru setelah Maina kembali tenang , Ben mulai menanggalkan seluruh pakaiannya, sama sekali tidak ada rasa malu atau canggung untuk menunjukkan bagian tubuhnya yang sudah siap dan sangat mengerikan untuk sekedar di bayangkan, Ben juga tak sungkan untuk menuntun tangan kecil Maina untuk sekedar menyentuh bagian tubuhnya.


Ben menunduk untuk merampas bibir Maina, mendesakkan lidah dan merampas napas wanitanya, membuat Maina tersengal dan membuat pria itu puas.


Entah sampai kapan siksaan Ben ini akan berakhir, Maina sudah tidak melakukan apa-apa kecuali kepasrahan.


Ben menderanya, Maina sedang dicampuri oleh pria yang menjadi suaminya, meski bukan pertama kalinya, tetapi tetap saja keterkejutan itu masih Maina rasakan saat Ben langsung menenggelamkan bagian tubuhnya di dalam milik istrinya.


" Apa yang kau pikirkan, ku bilang tatap aku" Maina baru saja mencoba menenangkan detak jantung nya saat permainan mereka baru saja usai, sedikit gugup saat Ben kembali berada di atas tubuhnya.


" Aku tidak memikirkan apa-apa kak" Jawab Maina gugup, sebenarnya Maina masih tak mengerti mengapa Ben, urung membawanya makan diluar, dan justru malah berakhir menguras tenaga di tempat tidur seperti sekarang.


Ben mengangkat alisnya, begitu melihat Maina menguap.


" Hmmm" Ben hanya bergunam tak jelas


Maina pikir dirinya sudah di izinkan untuk beristirahat, tetapi ternyata dirinya salah, saat tiba-tiba kakinya kembali di renangkan dan Ben kembali mengisinya tiba-tiba yang membuat dirinya mengencang untuk beberapa saat karena lagi-lagi terkejut.


" Tidurlah jika kau lelah, aku bisa melakukannya sendiri" Ucap Ben dengan tangan yang mengusap lembut kening istrinya, seperti menenangkan


Mustahil jika Maina bisa tidur saat dirinya sedang di dera dengan begitu dominan, ternyata Ben tak membiarkan Maina beristirahat, tubuh kecilnya sampai terpantul dan tersentak naik turun mengimbangi hujaman hebat dari pria besar yang menderanya, Maina sendiri begitu heran dengan keperkasaan lelakinya yang terasa tak pernah puas jika hanya satu, dua jam bermain dengan nya, padahal tubuh wanita itu sudah terasa remuk.


Ben memanggil nama Maina begitu pria itu berhasil menanam benih untuk kesekian kalinya, Maina sendiri sudah tak mampu untuk bergeser, membiarkan Ben tetap berada di atas tubuhnya, sebelum pria itu berbaring dan memeluk tubuhnya yang basah oleh keringat.


" Jangan membuatku cemburu Mai, kau hanya milikku" Ben berkata dengan suara parau sebelum terlelap di samping istrinya, Maina sendiri juga langsung jatuh tertidur karena rasa lelah yang luar biasa.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


" Mereka sudah tidur??" Tanya Ansel saat Rinjani sudah kembali kedalam kamar, tadi si kembar terbangun dan di temani Rinjani untuk sekedar bermain dan mereka kembali terlelap setelah hampir dua jam Rinjani menemani putra-putra nya.


Rinjani mengangguk, dan menaruh minuman dingin untuk suaminya, sebelum duduk dimana Ansel sedang mengamati layar laptopnya


" Masih lama??" Tanya Rinjani


Ansel segera menutup laptopnya dan meraih tangan Rinjani.


" Kemarilah" Ansel menyambut sang istri untuk duduk di sebelahnya.


" Tidak apa-apa jika Kaka masih sibuk, Aku juga belum mengantuk" ujar Rinjani.


" Untuk ku??" Tanya Ansel basa-basi meraih lemon tea kesukaan nya. " Seger banget,kayak yang bikin" Pemuda itu tersenyum teduh menatap istrinya, Rinjani hanya mengelengkan kepalanya pelan melihat perilaku suaminya yang selalu membuatnya tersipu


" Jangan menatap ku begitu kak" Protes Rinjani.


" Aku hanya mengagumi kecantikan Ibu anak-anak ku, apa tidak boleh??" Pemuda berhidung mbangir itu tertawa kecil.


" Terimakasih, nanti ku traktir makan kalau aku banyak uang.


Sontak keduanya sama-sama tertawa kecil dalam satu pandangan


Rinjani meraih tangan Ansel dan menciumnya Beberapa kali. " Kaka terlihat cemas"


" Sebenarnya, Jujur aku tidak terlalu suka dengan kegiatan ku saat ini sayang, menjadi seorang CEO sama sekali bukan keinginan ku, aku lebih suka bermain saham, yang lebih memiliki banyak waktu di banding pekerja kantoran, bermain saham kita bisa memantau dari mana saja, hanya sesekali keluar, lebih banyak waktu untuk keluarga, tetapi pendapatan juga menjanjikan terlebih jika kita menanam modal di tempat yang benar, selain untung, waktu kerja juga dapat di atur"


Ungkap Ansel panjang lebar, memang benar yang dikatakan Ansel, menjadi pemimpin perusahaan bukan keinginan nya, Ansel memang cepat belajar, tetapi setiap orang memiliki keinginan yang berbeda, bila Nurry berjuang mati-matian untuk menjadi CEO terhebat dan terkenal beda dengan Ansel, pemuda itu tidak suka di kenal banyak orang, ingin terus berbuat baik tetapi tidak terlihat, ingin banyak menolong namun tanpa menunjukkan identitasnya, menjadi pribadi arogan dan sombong di depan khalayak ramai, tetapi menjadi orang berguna diam-diam.

__ADS_1


Namun untuk pemikiran nya, Ansel juga tak mengungkapkan pada Rinjani, biarlah dirinya sendiri yang tau keinginan hatinya, Ansel hanya selalu berharap Tuhan selalu memudahkan jalan nya untuk menjadi orang baik dan saat ini berdoa semoga Allah memanjangkan usia nya agar mampu membahagiakan orang-orang yang di kasihi nya, terutama kedua orangtuanya, Rinjani dan anaknya.


__ADS_2