
Rinjani mengambil sebuah kotak tisu dan memberikan nya pada Ben.
" Ben, boleh aku bercerita??" Tanya Rinjani mendongak menatap wajah Pria yang biasanya tegas dan berkharisma kini tampak meredup.
Kadang Cinta memberikan banyak rasa dalam kehidupan, baik senang, sedih, penasaran, galau, sampai kecewa. Terkadang saat cinta datang juga akan membuatmu untuk sulit mengutarakannya. Entah karena belum adanya keberanian atau takut untuk merasa kecewa. dan saat ini Ben sedang tergolong dari mereka yang galau sampai kecewa, tetapi Rinjani bisa apa??
" Kita duduk Ben, aku ingin banyak bercerita dengan mu, aku ingin kau mendengar alasan ku, agar nantinya kau bisa tau bagaimana kebenaran nya" Ungkap Rinjani lagi, kali ini menarik tangan besar Ben untuk duduk.
"Kau pernah dengar kalimat ini 'Love can sometimes be magic but magic can sometimes just be an illusion."
(Terkadang cinta adalah sebuah keajaiban, tetapi terkadang juga hanya sebuah ilus' terdengar sangat cocok untuk keadaan kita saat ini, karena aku sangat berharap apa yang kau rasakan untuk ku adalah ilusi Ben, masih banyak wanita yang jauh lebih layak untuk mu"
" Aku mencintaimu, sangat___"
" Tetapi suamiku juga sangat mencintai ku Ben, jauh sebelum aku menjadi iparnya" pangkas Rinjani.
Rinjani dapat melihat keterkejutan Ben.
" Iya Ben, tidak ada yang bisa menanggung rasa sakit melebihi dirinya, dia mencintaiku dalam diam, dalam kesabaran dan dalam keikhlasan yang sesungguhnya"
" Tetapi dia menikah dengan wanita lain" sanggah Ben, menatap Rinjani dengan tatapan tak terbaca, persis yang sering Nurry lakukan saat bingung.
" Dia rela berkorban, demi perasaan Kakanya, karena dibandingkan diriku, kak Nurry adalah cinta pertamanya, sodara yang selalu ada untuk nya meski tak saling dekat"
" Jadi bagaimana kau bisa tau, dia memberitahu mu??"
Rinjani mengeleng, kemudian wanita hamil itu memulai cerita nya, dari hubungan pernikahan mereka saat tiga bulan saling diam, dari awal hingga akhir, Rinjani menceritakan poin-poin penting dari segala perjalanan rumah tangga nya, bagaimana Ansel yang selalu menjaganya tanpa ada yang Rinjani tutupi bahkan dengan yayasan kesehatan milik Ansel yang diberikan namanya
" Tapi bukankah kau pernah terluka karena amukannya??" tanya Ben saat Rinjani mengakhiri ceritanya dengan air mata mengalir, begitupun Ben, pria itu merasa minder dengan cinta yang diberikan Ansel untuk Rinjani, tidak dipungkiri level cinta tertinggi adalah merelakan, dan Ansel sudah melakukan hal itu
Rinjani tersenyum. " Berkat cintanya dan kasih sayang nya sekarang, aku bahkan lupa suamiku pernah melukaiku Ben"
" Kau pantas mendapatkan cinta yang besar" ucap Ben sedikit sesak. " Dan kurasa cintaku memang tak sebesar cinta nya" tambah Ben dengan sedikit menunduk.
" Kau bisa mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik Ben, kau sungguh pria yang tampan dan baik" Rinjani menyemangati.
Ben tersenyum tipis, sebelum pria itu menyunggar rambutnya.
" Aku pastikan suamimu akan mendapatkan kembali nama baiknya, aku janji" tegas Ben dan berdiri di hadapan Rinjani.
" Kau memaafkan ku Ben??"
" Kau tidak salah Rinjani, aku yang tak tau diri"
" Kau tetap salah satu orang terpenting dalam keluarga Al-Biru Ben, dulu, sekarang sampai nanti"
__ADS_1
Ben tersenyum kali ini lebih lebar. " jika Tuhan memberiku kehidupan di lain hari aku ingin berpasangan dengan mu Rinjani"
" Aamiin" balas Rinjani tersenyum.
" Ku harap kau tak akan pernah melupakan ku Rinjani, meski aku akan menjauh dari kalian semua"
" Tidak akan pernah, Tuan Imanuel Ben Felim" Rinjani menjawab dengan tegas.
Ben sampai mendongak mendengar nama lengkapnya di sebut Rinjani.
" Kau tau nama lengkap ku"
" Iyya aku juga tau berapa usiamu"
" Ah, jangan disebutkan aku merasa tua" Ben tertawa sampai dada pria itu terguncang.
Akhirnya Ben dan Rinjani bisa berdamai dengan keadaan terkadang Kenyataan memang tak selalu beriringan dengan harapan tapi bukan berarti kita harus dilanda keputusasaan. Ben juga pria yang memiliki pemikiran terbuka, mengetahui cinta Ansel lebih besar darinya dia otomatis sadar diri.
Rinjani akan meninggalkan ruangan sebelum dirinya kembali Beberapa langkah, membuat Ben menyergit.
" Ben, apa permenmu bisa menjadi milikku??" tanya Rinjani polos.
Ben tergelak, benar-benar tertawa seolah tanpa beban.
" Astaga, jangankan permen nya hati yang punya saja sudah kau ambil lebih dulu" gelak Ben.
" Iya-iya kau bisa memiliki semua permen di laci itu, juga di situ, di sana, di sini, dan di box itu!" jawab Ben dengan menunjuk ke sebagian arah yang ada tempat penyimpanan.
" Ben____??"
" Aku memang se suka itu dengan permen" Jawab Ben cepat menjawab kebingungan Rinjani.
" Oh astaga__ aku akan keluar Saja"
" Tidak jadi ambil permen??"
" Lain kali saja" Rinjani langsung melambai dan pergi, Ben menatap nya dengan getar tawa yang tersisa.
" Aku ikut bahagia jika kau menemukan pemuda yang cocok untuk mu Nyonya" Gunam Ben melihat foto Nurry di atas meja nya seraya tersenyum.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hanya satu yang ingin Ansel lakukan saat ini yaitu memeluk istrinya yang sabar luar biasa.
Ternyata benar, orang yang sabar akan berpikir jauh ke depan tentang apa efek yang bisa timbul dari keputusannya. Karena dipikirkan dengan lebih matang, lebih besar kemungkinan keputusannya bisa tepat dan menguntungkan diri sendiri maupun orang lain.
__ADS_1
" Aku tak tau harus berkata apa sayang" Bisik Ansel, Ansel melihat dan mendengar apa saja yang di bicarakan antara Ben dan istrinya, lagi-lagi buah kesabaran itu indah.
" Papa juga ingin peluk menantu Papa" ujar Papa Ansel dengan air mata berderai, begitupun Mama Ansel, kedua orang tua Ansel juga begitu terkejut dengan perkataan Rinjani semua tentang Ansel, bahkan Mama Ansel terus menerus berkata maaf pada Putra nya, ternyata sehebat itu putranya bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
Bagaimana Ben tidak mundur? sedangkan kedua orang tuanya yang mendengar segala pengorbanan Ansel untuk Nurry dan Jani sampai merinding.
" Kemari" Mama Ansel memeluk semuanya, suaminya, Rinjani dan Ansel. " Kalian adalah hartaku yang sebenarnya, tidak masalah mami rela bangkrut asalkan kalian selalu semangat"
" Perusahaan kita tidak cuma satu Ma" ujar Papa Ansel mengingatkan.
" Tetapi ini paling besar Pa"
Sedangkan Rinjani dan Ansel tersenyum dengan tangan bertaut dan masih di pelukan kedua orang tuanya.
Dan yang terjadi adalah, tidak ada satupun orang yang mengundurkan diri, dari mereka berangkat sampai mereka pulang, bahkan Andrean setelah datang makan siang juga langsung kembali ke kantor Rinjani tanpa membantu apapun.
Rinjani baru saja Menganti baju saat Ansel tiba-tiba sudah berdiri di hadapan nya.
Ansel mengikis jarak. " Sayang sudah ku katakan jangan pake dalaman saat kita hanya berdua" bisik Ansel dengan tangan yang sudah melepas pengait penutup dada Rinjani.
" Aku akan memberimu hadiah"
" Apa ??"
" Kehangatan" bisik Ansel yang mampu membuat Rinjani tertawa.
" Kaka suami atau selimut ?"
" Emang beneran kan sayang" Ansel mengekor sang istri yang sudah naik ke tempat tidur.
" Sayangnya aku ngak mau" ujar Rinjani. Sambil tersenyum.
Ansel ikut merangkak naik ketempat tidur, Rinjani menarik tangan Ansel agar duduk dihadapan nya.
Rinjani mulai membuka satu persatu kancing baju tidur Ansel, kemudian meraba bagian dada yang memiliki bekas jahitan yang mulai memudar.
" Bilangnya tadi ngak mau diberi kehangatan??" tanya Ansel menyisipkan rambut Rinjani ke balik punggung.
" Aku maunya diberi kenikmatan dan kepuasan" bisik Rinjani yang mampu menerbitkan senyum manis di bibir Ansel.
" Sayang________
########
Kalian semangat memberi dukungan, author juga semangat update nya___
__ADS_1
happy reading ❤️❤️❤️❤️