
"Kak!" Pagi hari Maina terpekik saat melihat Ben. Mondar mandir tak mengenakan sehelai benang pun
Ben menatap Maina penuh perhatian
" Ka-kak sedang apa?" Tanya Maina terbata
Ben mendengus " Kau benar-benar !" Terdengar nada bicara Ben berat dan seperti menahan geram
" Aku?" Tunjuk Maina pada dirinya sendiri
Ben tak menjawab dan langsung merangkak naik ke atas ranjang
" Bantu aku Maina please!"
" Soal?" Maina menahan dada Ben
" Dia!" Ben menjawab seraya menatap kebawah sana
" Kenapa tidak membangunkan ku?"
" Aku tidak ingin seperti pencuri" Ben berucap dengan mengendus leher jenjang sang istri " Mau ya?" Bisik Ben
" Aku tidak pernah menolak mu Kak" Lirih Maina dengan suara seraknya khas bangun tidur
" Tapi kau sedang dapet" Ben berbicara lebih lesu
" Tidak!" jawab Maina cepat
" Tapi ada sesuatu di bawah sana" Ujar Ben seraya melirik kebawah
Maina bangkit mendorong pelan tubuh Ben dan memposisikan dirinya untuk duduk
" Ada yang ingin Mai sampaikan pada kak Ben" Maina menatap wajah suaminya lurus
Ben mendengarkan, tetapi tangannya mulai menurunkan baju tidur Maina melalui pundaknya, kecupan demi kecupan di labuhkan Ben di sana
__ADS_1
" Katakan saja" kata Ben tetapi sama sekali tak menghentikan aksinya, Ben yang sudah tak memakai apa-apa membuat Maina merasakan sesuatu bereaksi di bawah sana
" Kak, Mai hamil"
Seketika Ben menghentikan aksinya, matanya langsung menatap wajah Maina
Ben masih diam sampai Maina menangkupkan kedua tangan kecilnya kewajah suaminya
"You'll be back to being a Daddy"
" Really?" tanya Ben, seolah tak percaya
Maina mengangguk. Membuat sudut bibir seorang Ben tertarik tinggi, senyum indahnya itu sampai membuat matanya menyipit
" Aku bahagia, Terimakasih sudah membuatku bahagia di pagi ini sayang" ucap Ben tulus, perlahan Ben merengkuh lembut tubuh Maina, dengan bibir yang masih terukir senyum
Maina membalas melingkarkan tangannya ke atas punggung Ben, Maina juga bahagia saat tahu dirinya mengandung, Aalona sudah cukup besar untuk memiliki adik, usia Maina dan Ben juga sudah tak muda lagi, keduanya bersyukur karena Tuhan kembali memberi mereka kepercayaan
Di rumah Jeselyn, wanita paruh baya itu tengah menahan emosi yang siap meledak, napas nya naik turun dengan wajah yang menahan geram luar biasa
Merry hanya diam dengan air mata yang menetes, wajah nya menunduk sangat dalam, dengan sisa-sisa kesadarannya Merry mengangguk
Mati-matian dia berusaha agar tak jatuh pingsan, Merry sangat takut jika harus dibawa kerumah sakit
" Siapa Pria yang melakukannya?" Bentak Jeselyn masih dengan kemurkaan
Disisa kesadarannya yang kian menipis, Merry menyebut nama Ansel beberapa kali sebelum gadis itu tersungkur di lantai
Mata Jeselyn terbelalak, apa maksudnya Merry memanggil nama Ansel?, atau jangan-jangan?
Jeselyn tak bisa berpikir jernih, ia langsung meminta tolong pada sopir agar mengantarkan mereka ke rumah sakit
Sampai di rumah sakit. Jeselyn menghubungi Hanny dan juga Nikolas, masalah ini tidak bisa dia tanggung seorang diri
" Kamu jangan asal bicara" Nikolas menatap marah adiknya
__ADS_1
" Aku juga tidak tahu mengapa Merry menyebut nama Ansel!" aku Jeselyn yang juga sedang kalut
" Anak ku bukan pemuda seperti itu " Rubbyan tak terima dengan pengakuan Jeselyn
" Aku juga tidak tau " Jeselyn tampak hancur, sebagai seorang Ibu, mengetahui putrinya tengah hamil saat status nya masih belum menikah adalah malapetaka
" Kita tanyakan pada Merry saat sadar, jangan berpikir buruk dulu" Hanny ikut bicara, setelah mengetahui kebaikan Ansel, mata hati Hanny sedikit terbuka, rasanya tidak mungkin Ansel akan se brengsek itu, ini pasti hanya salah paham
Setelahnya tidak ada lagi pembicaraan, semua tengelam dalam pikiran mereka masing-masing
" Bagaimana?" tanya Alara Halime mengamati wajah Rinjani
" Sangat enak!" Rinjani mengacungkan dua jempol tangan nya
Kemarin sore saat Ansel dan Rinjani berpamitan untuk pulang, Alara Halime melarangnya dan meminta keduanya untuk bermalam barang semalam saja, alasan anak tak membuat wanita istri dari ketua mafia itu bisa luluh, malahan setengah jam berikutnya Rania dan si kembar justru di hadirkan di dalam rumahnya membuat Rinjani dan Ansel tak mampu beralasan untuk pulang
" Aku sudah sangat lama tidak memasak, aku merasa kurang percaya diri" Kata Alara Halime menatap semua orang di meja makan
Sebenarnya saat ini hati Phonix Jabir sedang menangis bahagia, untuk pertama kalinya setalah bangun dari komanya lima belas tahun yang lalu wanita nya mau kembali menapaki lantai dengan kedua kakinya, bahkan sejak semalam Phonix Jabir sudah tak tau kemana rimba nya kursi roda istrinya, pagi ini Phonix Jabir kembali di kejutkan dengan istrinya yang memasak di dapur untuk menjamu tamunya, se sepesial itu kehadiran Ansel dan Rinjani?
" Anak-anak masih tidur?" Tanya Ansel pada sang istri
" Mereka lelah bermain, mereka baru tidur setelah menjelang pagi, biarkan saja, ini juga hari libur" Phonix Jabir menjawab dengan bibir yang penuh dengan makanan
" Sayang pelan-pelan kau seperti anak kecil" Mendapat teguran manis dari sang istri, Phonix Jabir sampai menengadah seolah tak percaya pada pendengarannya, tetapi matanya malah menemukan senyum tulus istri yang sangat di cintainya
' Jika ini mimpi, aku sama sekali tak ingin bangun' kata Phonix Jabir dalam hati, sejak sang putra di bunuh didepan mata ia dan istrinya, saat itu pria yang dulu dipanggil Arief itu kehilangan jiwa sang istri, Alara Halime selalu menyalahkan dirinya atas kematian putranya, kata 'andai saja' selalu istrinya gunamkan
' Andai saja kamu tidak berhutang pada rentenir itu, putraku pasti masih hidup' Itu yang terus di makikan padanya sebelum wanitanya dinyatakan koma karena kembali mendapat penganiayaan dari penagih hutang. Dan begitu bangun dari koma sang istri sudah sangat jarang bicara, meski hubungan mereka masih layaknya pasangan tetapi Alara Halime seperti jiwa yang mati, dua kali hamil, dua kali menjalani operasi sesar. Wanita yang sudah melahirkan dua putra untuk nya itu tetap tak bisa menjadi Alara Halime yang dulu, bahkan untuk beranjak kemanapun harus ada seseorang yang mendorong kursi rodanya, mandi pun dilayani oleh dua pelayan wanita yang dipilih sendiri oleh nya
Hidup seperti orang cacat, hanya sesekali berinteraksi dengan kedua putranya, Phonix Jabir tidak bisa berbuat banyak, rasa cinta yang besar di tambah rasa bersalah yang tak termaafkan karena kesalahan fatalnya membuat Phonix Jabir membiarkan sang istri mencari kenyamanan sendiri, ia hanya mendukung kemauan wanita yang dicintainya itu, tak perduli apapun, asal wanita itu tetap bersama dengan nya, dan setelah lima belas tahun bisa melihat pemandangan seperti ini bagaimana Phonix Jabir tak jatuh hati kembali pada wanitanya yang sudah memberikan tiga putra untuk nya itu, jika bukan demi Alara Halime dan dendamnya mungkin sudah lama Phonix Jabir mati, demi membayar biaya untuk pengobatan sang istri bahkan Phonix Jabir rela di siksa di dalam ruangan yang sangat pengap, hidupnya dengan satu ginjal tidak membuatnya menyerah, suara tawa mengema tiap kali sebuah cambukan atau pedang mengores tubuhnya yang kecoklatan, dia seperti sebuah benda tak bernyawa yang selalu di jadikan tontonan hiburan bagi para rentenir itu, luka terparahnya adalah saat dia di adu oleh seekor banteng yang begitu besar, perutnya tidak hanya Robek, tetapi tulang rusuk nya pun patah karena terinjak banteng tersebut
Hidup seperti sebuah boneka dan di jadikan sebagai alat percobaan di tempatnya di lahirkan membuat Phonix Jabir melarikan diri, di pelariannya dia membawa serta sang istri, dari sana hidupnya mulai berubah, karena kelaparan dia mulai malak dan mencuri, dari sana dia mulai menemukan kawan senasib, menjadi bandit kecil-kecilan dia yang hanya memiliki satu ginjal tidak mampu berlari cepat, dia mengandalkan otak untuk mencari mangsa, dari kecerdasannya dia mulai memiliki anak buah
Merangkul mantan napi yang tak memiliki masa depan untuk dijadikannya sebagai teman. Apapun kerjaannya yang penting mendapatkan uang, Alara Halime semakin membaik keadaan nya, Phonix Jabir pun semakin berjaya hidupnya, hingga dirinya bisa membangun karakter diri yang sangat mengerikan untuk melakukan balas dendamnya, saat Alara Halime sadar Phonix Jabir sudah terjun kedalam dunia hitam, lika liku hidup yang sangat menyakitkan sudah dilaluinya, tetapi Phonix Jabir tetaplah manusia yang memiliki hati, ada kalanya dirinya lelah dengan semua, apa yang telah ia capai tak membuat istrinya kembali seperti dulu. Hidup miskin sengsara, kayapun tak membuatnya bahagia.
__ADS_1