
Setelah yang lain pulang, Ansel kembali bicara sama kedua orang tuanya
" Waktunya sudah tepat untuk membawa anak dan istri ku " Ucap Ansel membuka suara
" Kamu langsung pindah juga nak?" Lirih Mama nya, Nikolas menatap sendu Putra nya
" Mungkin Rinjani dan anak-anak dulu, sementara aku harus mengurus perpindahan dan berkas lainnya"
" Masalah Phonix Jabir?"
" Semoga tidak ada masalah " jawab Ansel
" Mengapa bisa sampai semudah ini penyelesaiannya?" Nikolas masih tak habis pikir
" Tidak mudah sebenarnya" Aku Ansel
" Apakah kamu ada mengorbankan sesuatu Nak?" Tanya Rubbyan mendengar jawaban Ansel
" Tidak Ma"
" Terus?" Nikolas masih belum puas
" Anggap saja kita sedang bernasib baik"
Papa dan Mamanya bergeming, belum ada titik temu antara kenyataan dan pemikirannya
Ansel berdiri
" Mau kemana?" Tanya Nikolas
" Mengajak Rinjani main kerumah Phonix Jabir" Jawaban Ansel yang mampu membuat dua orang paruh baya itu terbelalak
" Ansel jangan main-main" sentak Nikolas
" Aku ada janji temu dengan Phonix Jabir dan istrinya" Jawab Ansel tenang
" Ansel apa jangan-jangan menantu Mama yang kau jadikan tumbal?" Panik Rubbyan
" Yang benar saja Ma, mana mungkin Ansel menyerahkan Rinjani" protes Nikolas
Ansel tidak menanggapi kedua orang tuanya yang tampak beradu argument, ia melenggang pergi meninggalkan keduanya kembali kekamar. Kadang kala Ansel memang se acuh itu
" Ansel" Papanya berseru, tapi Ansel tetap tak berpaling, membuat Nikolas mengelengkan kepalanya seraya kembali duduk di sofa
Ansel turun bersama Rinjani yang sudah siap dengan pakaian jalan
" Kamu ini Sel, Mama Papa sedang bersitegang kok malah di tinggalkan!" Semprot sang Mama
" Oh, tadi Ansel pikir kalian sedang olahraga bibir" Jawab Ansel enteng seraya tersenyum saat menatap wajah kesal kedua orang tuanya
" Anak mu Pa"
" Anak Mama itu!"
Ansel mengeleng mendengar kedua orang tuanya kembali berdebat
" Mungkin aku anak tetangga" Jawab Ansel akhirnya
" Enak betul, Mama setengah mati lahirin kamu, kamu bilang anak tetangga?" Semprot sang Mama
Entah mengapa sejak Nikolas dan Rubbyan melihat sisi lain Putranya, mereka seperti memiliki harapan indah, putranya normal dan bisa di andalkan, mereka bisa saling bercanda seperti ini rasanya sangat membahagiakan
Rinjani tertawa kecil melihat mereka , dan itu juga membuat ketiganya menatap Rinjani
" Oh, Ma, Pa, Ansel mau jalan sama Rinjani dulu, Papa dan Mama nggak usah pulang dulu ya" ucap Ansel
__ADS_1
" Iya Mama mau jaga cucu-cucu Mama, Nak kamu ngak beneran ke rumah Phonix Jabir kan?" Tanya sang Mama hati-hati
Belum sempat menjawab, asisten rumah tangga Ansel mengatakan ada tamu diluar berpakaian serba hitam
" Pa, Ma, anak buah Phonix Jabir sudah jemput, kita pergi dulu"
" Sel" Nikolas menarik tangan Putra nya
" Kami akan baik-baik saja Pa"
Sementara sang Mama terlihat sama khawatirnya dengan sang suami, namun tak lagi berucap apapun selain membiarkan mereka benar-benar dibawa tiga orang anak buah Phonix Jabir
Seperti biasa setelah sampai Ansel langsung di kawal menuju tempat dimana Phonix Jabir telah menunggu nya, lagi-lagi Ansel dibuat terpana dengan desain rumah sang ketua mafia ini, benar-benar tak tertebak, kali ini Ansel di bawa ke lantai setingkat lebih tinggi dari pertemuan sebelumnya yaitu kelantai lima
Sepanjang di dalam lift Rinjani tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada sang suami, bagaimana pun Rinjani merasa takut, untuk pertama kalinya dirinya akan bertemu dengan seorang mafia yang terkenal dengan kejahatannya
Ting
Begitu pintu lift terbuka, Rinjani semakin merapat ke tubuh Ansel, Ansel pun memaklumi kecemasan sang istri, pemuda itu melingkarkan tangannya ke pinggang Rinjani yang sudah tidak ramping karena adanya buah hatinya yang sedang tumbuh
Pintu ruangan di ketuk tiga kali oleh anak buah Phonix Jabir sebelum akhirnya pintu terbuka dari dalam
Ansel disambut dengan Phonix Jabir dengan penampilan yang sama seperti tadi saat mengantarkan nya ke sekolah Rania
Tatapan Phonix Jabir jatuh pada Rinjani, membuat Ansel sadar, ternyata dibalik kekejaman yang dimiliki Phonix Jabir, pria itu memiliki belas kasih juga
" Istri ku tak akan masalah melihat wajah Anda Tuan, tetapi terimakasih atas kerendahan hati Anda"
Bukannya menjawab, Ansel malah dilempar apel oleh pria bermasker yang tak lain adalah Phonix Jabir
Dan, hap! .. dengan cepat Ansel menangkap buah apel berwarna merah marun itu dengan tangan kirinya
Istri Phonix Jabir tersenyum dan segera mengayuh kursi roda cepat membuat Rinjani kebingungan, lebih bingung lagi saat wanita itu menghampirinya dan ingin memeluknya seperti seorang teman
" Aku istri Arief Jabir Mahmudz"
" Ternyata nama Anda sangat keren" Puji Ansel menatap Phonix Jabir dengan berani yang menambah rasa bingung di hati Rinjani
" Dulu aku adalah pemuda yang tak kalah keren dengan mu" Ucap Phonix Jabir menanggapi
" Sekarangpun Anda masih sangat keren"
" Andai kau tak membawa istri yang membesar perutnya, kau bisa membuatku salah paham" Canda Phonix Jabir, seraya melepas topinya dan mempersilahkan tamunya duduk
" Anda bisa membuka maskernya Tuan ku, istri ku tidak akan takut"
Rinjani mengangguk menyetujui, meski sebenarnya dirinya tidak yakin, tetapi biar bagaimanapun Phonix Jabir tetap manusia, seberapa parah kondisi wajahnya Rinjani tidak akan memperlihatkan ketakutannya, Rinjani tak ingin menyinggung perasaan orang
Ragu Phonix Jabir menatap kedua tamunya
" Silahkan" Rinjani dengan santun mempersilahkan, dan juga memantapkan hati
Begitu Phonix Jabir membuka maskernya, Rinjani tak bereaksi apa-apa, mimik wajahnya sama seperti tadi saat melihatnya dengan mengunakan masker. Membuat Phonix Jabir mengerutu dalam hati, suami istri sama saja, memiliki sikap tenang yang menghanyutkan. Batinnya
Melihat Rinjani yang justru tersenyum membuat Phonix Jabir tak kuasa menahan pertanyaannya
" Apakah kau benar-benar tidak jijik melihat wajahku? "
" Sama sekali tidak" jawab Rinjani dengan senyum manis. " Itu hanya bekas luka, bukan sesuatu yang menular bagaimana saya bisa jijik?" Jawab Rinjani tenang
Phonix Jabir mengangguk kecil " Kau sangat cocok dengan nya" Phonix Jabir menunjuk Ansel dengan dagunya
" Aku kesini sekalian ingin pamit" ucap Ansel
" Bahkan ini kunjungan pertama mu setelah kita berteman, mengapa kau buru-buru akan pergi?" Phonix Jabir menarik sebelah alisnya
__ADS_1
" Sebenarnya tidak mendadak, hanya kita agak sedikit terlambat bertemu, anda bisa mengunjungi kami jika Sudi"
Sementara Ansel mengobrol dengan Phonix Jabir, Rinjani tergopoh-gopoh menghampiri wanita yang membungkuk hendak mengambil cincinnya yang jatuh, membuat perhatian kedua pria itu teralihkan
" Saya ambilkan" Rinjani langsung berjongkok di hadapan istri Phonix Jabir dan mengambil cincin wanita itu yang jatuh
Baik Phonix Jabir maupun istri nya menatap pada Ansel, mereka seolah bertanya apakah pemuda itu tidak mengatakan apapun tentang kondisi wanita yang duduk di kursi roda itu pada istrinya, sehingga istrinya benar-benar mengira wanita itu cacat?
Ansel hanya menjawab dengan gelengan kepala
" Termasuk wajahku?" Desis Phonix Jabir
" Ya, aku membawanya ke sini untuk berkunjung, bukankah seseorang datang bertamu harus menulikan telinga dan membutakan mata?, apa yang saya lihat disini tidak perlu saya ceritakan di luar sana"
" Dia istri mu"
" Dia tidak bertanya"
Entah bagaimana Phonix Jabir harus menjabarkan perasaan kagumnya pada pemuda di hadapannya ini
Melihat ketulusan hati Rinjani, Alara Halime wanita yang lahir dan tumbuh di Turki itu berdiri membuat Rinjani terkejut
Rinjani dapat melihat sorot mata wanita cantik itu berbinar, bola matanya indah seperti berwarna abu-abu, Rinjani tidak menyadari bahwa sebenarnya wanita dihadapannya juga tengah mengagumi keindahan mata bulat almond miliknya
" Kau sedang hamil, kau tidak boleh melakukan pergerakan seperti tadi" Tutur istri Phonix Jabir, tangan wanita itu mengelus lembut perut Rinjani
" Saya takut Anda akan terjatuh" Jujur Rinjani
" Aku tak mengira suamimu tidak mengatakan apapun tentang kondisi ku" tutur Alara Halime lembut
"Saat suami datang, saya sedang tidur, dia mengurus sepupu kami, pas bangun langsung diajak kesini" Rinjani tersenyum dan menjawab tutur kata Alara Halime dengan sopan
" Panggil aku Ibu" Alara Halime mengenggam tangan Rinjani
Rinjani langsung mengangguk
" Ibu Alara" gunam Rinjani
" Sangat indah" ucap Alara Halime sebelum merengkuh tubuh Rinjani
Phonix Jabir dan Ansel memperhatikan dua pasangannya masing-masing yang seperti bernostalgia
" Perasaan kami sama, entah mengapa aku tak merasa asing dengan kalian!" gunam Phonix Jabir yang dapat di dengar oleh Ansel
" Anda ingin mengatakan wajah kami pasaran begitu?" Tanya Ansel mengulum senyum
Phonix Jabir benar-benar meninjau lengan pemuda itu cukup kuat, namun tak ada reaksi apapun dari Ansel, jauh beda saat Rinjani yang memukul ringan atau mencubit lembut. Reaksi pemuda itu akan mengaduh dan mengeluh sok dramatis. sedangkan saat ini Ansel malah tertawa saat kepalan tangan Phonix Jabir mendarat di lengan nya yang keras dan kokoh, tak bisa dipungkiri perasaan senang juga hinggap di hati Phonix Jabir
Ansel
Ansel
Ansel
Pemuda asing yang bisa membuat hatinya terketuk untuk kembali berbelas kasih
Ansel
Ansel
Ansel
Seorang pemuda asing yang tiba-tiba bisa membuat wanita berharganya tersenyum
Dan kini ada wanita cantik yang lagi-lagi mampu membuat istrinya mau bangkit dari kursi rodanya
__ADS_1
Dan lagi itu berkat seorang pemuda yang bernama
Ansel.