
Ansel baru saja akan masuk kedalam mobil miliknya saat tiga orang berbadan kekar berpakaian serba hitam menepuk punggungnya
" Ya" Ansel menoleh
" Bos ingin bertemu dengan Anda"
Melihat cara berpakaian ketiga orang itu, Ansel menebak Phonix Jabir lah yang mengundangnya melalui tiga bodyguard nya ini
" Apa ada sesuatu yang penting?" Ansel bertanya seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celana
" Maaf Tuan, kami hanya menjalankan perintah!"
" Baiklah!" Ansel kembali menutup pintu mobilnya dan ikut bersama para pria berbadan kekar yang mengarahkan nya menuju mobil mewah yang mencolok
Sepanjang perjalanan Ansel tak memikirkan apapun, dirinya hanya mengirimkan pesan untuk sang istri, tidak perduli dengan sekitar, bahkan Ansel sama sekali tidak takut jika mereka akan membius nya sewaktu-waktu, menghadapi seorang yang besar ketenangan dan trik adalah kunci utama
Seperti yang sudah-sudah, Ansel langsung di kawal masuk Kedalam rumah besar yang tampak lengang, namun bedanya kali ini dirinya tidak di ajak naik tangga, melainkan menaiki lift dan menuju lantai 4, Ansel tidak tau jika rumah Phonix Jabir memiliki banyak lantai, karena dari luar hanya tampak dua susun saja
Begitu pintu terbuka, ketiga orang pengawal itu langsung kembali turun, meninggalkan Ansel yang di giring dua orang pengawal lainya
" Tuan Phonix Jabir menunggu Anda di dalam" Kening Ansel berkerut, saat mendengar suara anak kecil yang sedang berlarian, tetapi dirinya tetap melangkah menuju pintu berwarna hitam pekat dengan gambar tengkorak di depan nya
Setelah mengetuk beberapa kali, pintu terbuka dari dalam, dua wanita yang juga berbadan tegap layaknya pria membukakan pintu untuk nya
Ansel tidak hanya melihat Phonix Jabir di sana tetapi ada seorang wanita yang juga berada di ruang yang sama, pun dengan dua anak kecil yang sudah di ambil alih oleh dua orang yang tadi membuka pintu untuk nya
Ansel berjalan dengan tenang dan duduk di tempat yang di tunjuk oleh Phonix Jabir
" Ada alasan apa Anda mengundang saya kesini Tuan?" Ansel kembali menatap lawan bicaranya dengan ketenangan hakiki
" Mengenai tawaran ku"
Ansel tersenyum, kemudian menyamankan duduknya
" Jawaban saya masih sama!" Tegas Ansel
" Aku dengar, sodaramu berkhianat dan membebaskan tawanan mu?" Ucapan Phonix Jabir seperti mengejek
" Mereka melakukan hal yang menurut mereka benar" Jawab Ansel tak gentar
" Mereka sudah ada di sini!" Phonix Jabir menyeringai
" Selamat kalau begitu!" Ansel memberikan senyum tulusnya
" Apa?" berbeda dengan Phonix Jabir yang terperangah
" Selamat kalau begitu Tuan ku, keinginan anda sudah terwujud!" Ulang Ansel dengan menambahi beberapa kata di belakangnya.
Phonix Jabir menatap pemuda di hadapannya dengan mata yang menyipit
__ADS_1
" Untuk apa kau mencoba menyembunyikan mereka jika tanggapan mu sedatar ini??" Geram Phonix Jabir
" Hanya berupaya, biar bagaimanapun mereka tetap sodara ku"
" Lantas?"
" Tidak ada yang tau jalan Takdir, mungkin takdir mereka memang untuk Anda!"
" Omong kosong!" Kesal Phonix Jabir. Niatnya Phonix Jabir akan memancing reaksi Ansel saat mengetahui orang yang di jaminkan sudah berada dalam genggamannya dan berharap pemuda itu menawarkan sepatah dua patah kata meminta perdamaian atau sedikit waktu untuk menyerahkan keduanya, tapi ini .....
Perhatian Ansel tertuju pada wanita yang masih cukup muda dari Mama nya yang duduk di kursi roda, Ansel tersenyum tulus menatap wajah yang terlihat lembut
Phonix Jabir berdecak membuat fokus Ansel kembali pada pria itu
" Apa yang membuat mu menolak tawaran untuk menjadi orang kepercayaan ku? padahal tidak hanya uang melimpah yang akan kau dapatkan tetapi juga tak sepeserpun aku mengambil hartamu pun dengan dua sepupumu itu!"
" Ada tujuan lain di hidup ku" Jawab Ansel terlampau singkat
" Apa?"
" Ketenangan"
" Bahkan tanpa uang napas saja rasanya sesak" cibir Phonix Jabir
Ansel tidak menjawab hanya tersenyum tipis, sebelum menghampiri wanita yang tengah duduk di kursi roda, tangan pemuda itu meraih buah apel yang hendak wanita itu kupas, dan dengan kemurahan hati Ansel membantu mengupasnya, perlakuan Ansel di perhatikan oleh Phonix Jabir
" Maaf Nyonya, aku belum cuci tangan tadi" Ansel memotong apel itu dan diletakkan di atas piring kecil dan mengulurkan nya pada wanita itu
" Terimakasih" Wanita itu juga membalas senyum Ansel.
" Satu tahun tujuh bulan, istri ku koma" Phonix Jabir tiba-tiba saja berdiri dan menghampiri Ansel dan wanita yang duduk di atas kursi roda
" Tidak ada luka pada kaki tapi cidera kepala membuat sarafnya rusak, kemiskinan membuat kami terpaksa berhutang pada rentenir, aku tidak hanya kehilangan putraku yang duduk di sekolah menengah atas, tetapi harus kehilangan satu ginjal juga untuk menebus hutang yang tak seberapa, tidak hanya itu bahkan mereka memukuli istri ku membabi buta hingga....
Ansel menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa pahit, ternyata di balik kekejaman Phonix Jabir ada dendam dan sebuah pelampiasan rasa sakitnya karena kejadian masalalu
Phonix Jabir mendongak, Ansel tau pria itu tak ingin terlihat lemah
" Anda sudah sukses Sekarang Tuan, mungkin juga Anda sudah melakukan kekejaman yang sama seperti yang pernah anda alami" Potong Ansel
" Kau benar, tapi aku sama sekali belum puas"
" Manusiawi" komentar Ansel singkat
Setelahnya hanya ada keheningan, sebelum Ansel mendengar Phonix Jabir menarik napas kasar
" Aku memberimu keriangan, mintalah" Phonix Jabir tidak pernah membawa siapapun untuk melihat kondisi istrinya, untuk pertama kalinya pria yang memiliki goresan di hampir seluruh bagian tubuhnya itu membawa seseorang untuk melihat keadaan hidupnya bahkan cerita masalalunya, setelah ini pria itu merasa menyesal dan malu dengan Ansel, tetapi tampaknya Ansel bukan pria yang suka mengumbar kelemahan orang
" Beri waktu kami untuk membayar bunganya, untuk hutang pokoknya kami bayar duluan" Ansel benar-benar mengambil kesempatan untuk meringankan beban Hanny dan Jeselyn
__ADS_1
" Kau bisa meminta lebih dari itu"
" Tidak, itu sudah sangat cukup"
Phonix Jabir tertohok, apakah pemuda itu sedang menyindirnya, seolah hidupnya tak ada puasnya untuk melampiaskan hasrat balas dendam nya dan melakukan tindakan kejam yang pernah ia alami.
" Saya harus segera pulang, karena istri saya sudah menunggu"
" Tunggu ... ! apa kau benar-benar hanya meminta keringanan untuk membayar bunganya?" Tanya Phonix Jabir tidak percaya
Ansel mengangguk mantap.
Ansel hendak berbalik sebelum suara lembut itu menghentikan langkahnya
" Segera kau bayar hutang pokoknya, untuk bunganya biar aku bayarkan untuk mu sebagai rasa terimakasih ku karena kau sudah membantuku mengupas apel!"
Wanita yang duduk di kursi roda itu tersenyum dan tiba-tiba berdiri untuk memeluk Ansel dengan lelehan air mata
" Kau mengingatkanku pada Putra ku, ternyata yang dikatakan suamiku benar, kau seperti suamiku saat masih muda" Wanita itu menangis sebelum melanjutkan ucapannya " Andai penjahat itu tak membunuh Putra kami mungkin dia sudah tumbuh seperti mu, setelah koma dan sadar butuh waktu yang sangat panjang untuk kami bisa kembali memiliki buah hati, bukan karena aku yang lumpuh tetapi juga faktor suami yang hanya memiliki satu ginjal, hingga kami bisa memiliki dua putra yang hadir sedikit terlambat, seperti sebuah keajaiban."
Ansel melerai pelukan wanita yang sedang menceritakan kisah kelam nya
" Jangan seperti ini Nyonya, saya takut suami anda cemburu dan kepala saya di penggal di sini!"
Phonix Jabir yang hampir menitihkan air mata, mendengus, ternyata pemuda itu sangat menyebalkan, berbeda dengan Phonix Jabir, wanita itu justru tertawa
Wanita itu mundur dan kembali duduk di atas kursi roda
\*
Ansel yang tadinya di jemput oleh anak buah Phonix Jabir, kini saat kembali ke sekolah Rania justru diantar oleh Phonix Jabir sendiri, karena wajahnya yang memang banyak bekas sayatan luka Phonix Jabir memakai topi dan masker, saat Ansel hendak turun Phonix Jabir kembali bersuara
" Akan ku bebaskan dua sepupumu, dan perusahaan Papa mu tak akan ku ambil, aku juga bisa menganggap lunas hutang yang...."
" Tidak perlu ..! Hutang tetap hutang dan itu memang wajib untuk dibayar, saya tunggu nomor rekening nya agar saya bisa secepatnya membayarnya" potong Ansel
" Dasar keras kepala"
" Berarti kita sama" Ucap Ansel yang mampu membuat Phonix Jabir mendengus
" Turun, atau aku tendang kau"
" Anda terlalu murah hati Tuan. Terimakasih"
Selepas Ansel turun, Phonix Jabir menarik sudut bibirnya, untuk pertama kalinya ia bisa melihat istrinya kembali tersenyum, alasan dirinya selalu kejam karena dia sudah kehilangan jiwa sang istri, wanita itu bahkan sudah tak lagi cacat, tetapi seperti kehilangan gairah hidup, dirinya hanya duduk di kursi roda sepanjang hari, di rawat seperti layaknya orang cacat, meskipun mereka sudah di karuniai dua orang putra tetapi rasa kehilangan putra pertama mereka membuat wanita yang begitu dicintainya itu seperti kehilangan jiwa, Phonix Jabir rela melakukan apa saja, bahkan membunuh sekalipun asal bisa membuat istrinya terseyum, namun baru hari ini Phonix Jabir melihat tawa yang hampir lima belas tahun tak pernah ada di bibir istri tercintanya itu dan semua karena kehadiran pemuda yang memiliki perilaku yang serupa dengan dirinya saat muda.
__ADS_1