
" Kak, apa Kaka tau? .. aku sangat tertekan karena tak mengerti apapun yang sedang Kaka rencanakan, sakiiiiit sekali rasanya, saat aku merasa bodoh dengan Kaka singkirkan aku seperti ini" Rinjani masih terus mengatakan isi hatinya, membenamkan wajahnya di dada Ansel yang hangat dan berdetak
Tidak ada luka yang tak sembuh
Sakit hati dan kecewa Rinjani pun terasa terobati begitu melihat wajah teduh Ansel, kata maaf juga tiada henti suaminya ucapkan, sebagai bukti penyesalan atas sikapnya yang tanpa sadar menyakiti baik istri maupun calon anak mereka
Kamar tak lagi sepi seperti semalam, saat ini pemuda yang di rindukannya sudah berbaring di sampung Rinjani, bahkan kini dirinya bergelung dalam selimut yang sama
Ansel tak jenuh menatap wajah istrinya yang kali ini lebih segar di banding beberapa waktu lalu, senyum tipis sudah bisa hadir di bibir manis Rinjani, saat mereka melerai pelukanya.
Ada kalanya, Ansel harus memahami posisi Rinjani, dimana wanita ini sudah mengalami masa sulit ujian rumah tangganya dimasa lalu. Kemungkinan itulah penyebab dimana Rinjani terlalu cemas berlebihan, bukan tanpa alasan, wanita itu pernah di duakan, dan juga pernah kehilangan untuk selama-lamanya
" Kenapa menatap ku begitu Kak?" Rinjani sedikit kikuk saat Ansel terus menatapnya dalam diam
Ansel tersenyum, tangannya meremasi jemari sang istri yang terasa dingin
" Aku minta maaf sayang, kadang aku masih kurang mampu mengerti keadaan mu"
" Jangan bicara seperti itu Kak, bisa jadi aku yang terlalu menuntut"
Ansel ganti menangkup kedua pipi Rinjani " Sudah menjadi hak istri untuk menuntut suaminya Rin!"
" Jangan bosan dengan sikapku yang terlalu parno ya kak" Mohon Rinjani
" Bosan bagaimana sayang? ... bagiku kau adalah anugerah terindah yang diberikan oleh Allah untuk ku"
Ada binar bahagia di mata Rinjani begitu Ansel mengatakan kata-kata manis untuk nya
" Rin, aku selalu berdoa, semoga Tuhan tak akan memisahkan kita seperti langit dan bumi, aku berdoa agar aku bisa mendampingi mu seperti siang dan malam, pasang dan surut, seperti gelap dan terang, menjadikan kita saling melengkapi, bisa bersamamu hingga salah satu di antara kita di panggil kepangkuanNya" Ucap Ansel dengan mendaratkan kecupan mesra di puncak kepala Rinjani
Mata Rinjani terpejam rapat, merasakan sejuk yang memenuhi paru-parunya, seolah perpisahan kemarin memang bukan hal yang perlu di khawatirkan, mungkin benar yang dikatakan Ansel, bahwa ini bukan kehendak pemuda itu, itu sebabnya mereka sama-sama merindu dan saling khawatir
" Tidurlah, besok adalah hari spesial untuk kita"
__ADS_1
" Spesial?" kutip Rinjani
Ansel tersenyum tipis dan menjawil hidung mancung Rinjani
" Besok kamu akan tau Sayang"
" Kejutan?" Tanya Rinjani
" Eeemmmmm"
" Apa?"
" Sayang namanya kejutan kok di beritakan, itu namanya pengumuman"
Rinjani tertawa mendengar ucapan Ansel, tapi kalo dipikir-pikir lagi memang tidak ada yang salah dengan ucapan suaminya, akhirnya Rinjani menurut, wanita yang semalam tak bisa memejamkan matanya barang sejenak, kini tertidur dengan senyum di bibirnya, praktis Ansel menatap istrinya yang sudah jatuh terlelap
Paginya, Rinjani sedikit panik saat tak menemukan keberadaan Ansel di sisinya, namun karena kehadiran Alara Halime dan Mama mertuanya masuk tiba-tiba kedalam kamar tidur nya, Rinjani merasa sedikit tenang, mungkin Ansel menemui Papa Nikolas dan Papa Arief nya
" Ma, Ibu" Rinjani tersenyum di sisa rasa paniknya
Rinjani hanya tersenyum seraya menunduk
" Sholat subuh dulu, setelah itu kita temui Ansel"
Alara Halime, mengelus puncak kepala Rinjani
Rinjani melihat jam dinding dikamar yang ia tiduri dan benar saja memang sudah masuk waktu subuh, Rinjani bergegas membersihkan diri lalu shalat, sementara kedua wanita cantik yang menjabat Mama Ansel dan ibu angkat suaminya itu menyuruh MUA untuk segera bersiap merias Rinjani
Selesai sholat, Rinjani langsung di giring menuju meja rias yang sudah di persiapkan, Rinjani tak sempat protes, karena melihat tak hanya dirinya yang di rias, namun ada Mama, Ibu, Maina, Andrea, bahkan Bibi Maria
Rinjani terkesiap begitu gaun pengantin indah dipasangkan pada tubuhnya, lebih terhenyak lagi saat hijab juga terpasang indah menutupi rambutnya yang tebal, Rinjani menatap bayangan dirinya di cermin, yang saat ini memantulkan bayangan wanita cantik seperti wanita muslimah yang begitu asing
" Kamu cantik sekali sayang" Mata Ibu mertuanya berkaca-kaca, begitupun Alara Halime
__ADS_1
" Ansel beruntung mendapatkan wanita cantik seperti mu Rinjani" Bibi Maria juga langsung memuji
Rinjani yang tak mengerti apa yang terjadi hanya tersenyum kikuk
Semua orang sudah menunggu di aula, termasuk para rekan bisnis baik Ansel, Nurry maupun Nikolas, sudah tidak sabar menyambut pengantin nya
Rinjani terpaku melihat pemuda yang di carinya sejak pagi telah berdiri gagah di atas panggung pendek yang di hiasi bunga mawar putih dimana-mana, pemuda itu menatapnya dengan senyum mengembang, suara tepuk tangan riuh menyadarkan Rinjani akan ke terpakuannya, membuat kakinya melangkah perlahan menuju dimana Ansel berada
Rinjani tersipu saat tepukan tangan semua orang mengiringi langkah nya mendekati Ansel, disana Ansel berdiri dengan ketampanan yang kian memancar, jantung Rinjani berdebar semakin mendekat pada suaminya, karena pemuda itu benar-benar sangat tampan siang ini , Ansel mengenakan jas senada seperti pakaian yang di pakai Rinjani, membuat Rinjani mulai faham akan situasi saat ini
Tangan Rinjani di raih dan langsung di genggam oleh Ansel begitu mereka sudah sama-sama berdiri dan saling berhadapan, kehamilan Rinjani semakin membuat kecantikan wanita itu memancar
Ansel membiarkan sang Papa untuk memberikan sambutan pada seluruh tamu yang hadir, setelah mengalihkan perhatiannya dari Ansel, Rinjani baru menyadari seberapa mewah dan banyaknya tamu undangan yang hadir.
" Dia menantu kebanggaan kami, Rinjani Aqilla, istri dari Putra kedua kami yaitu Ansel Al-Biru"
Rinjani menoleh saat Mendengar suara Papa mertuanya
Ansel segera memeluk pinggangnya untuk dibawa bergabung bersama sang Papa
Di atas panggung pendek namun megah, di saksikan jutaan pasang mata, di masukkan ke berita TV swasta, saat ini Ansel telah menekuk lututnya di hadapan Rinjani, meraih tangan lentiknya dan memasangkan sebuah cincin berlian di jari manis Rinjani, pemuda itu bahkan tak malu mencium perut buncit beberapa kali di hadapan semua orang
" Dia istri ku, wanita terhebat yang pernah ku temui, wanita tersabar yang pernah ku kenal dan wanita terkuat yang pernah kulihat, kalian mungkin selama ini sering salah sangka dengan keluarga kami, mengenai status istri ku tercinta, tentang gosip yang beredar, dimana istri ku hidup menumpang di keluarga kami, anggapan kalian salah" Ansel tersenyum menatap teduh Rinjani yang berdiri di sampingnya
" Kami sudah menikah atas izin takdir, wanita yang kalian pikir menumpang hidup bersama kami sebenarnya adalah jantung hati keluarga kami" Ansel menyusut air matanya, dan menjentikkan jari, beberapa saat video kebersamaan dirinya, Niel dan Rinjani sudah terputar di layar raksasa yang bisa di saksikan oleh setiap yang hadir di pesta megah dan mewah itu
Suasana menjadi hening, meski jutaan pasang mata telah menatap fokus pada video yang sedang berputar
Begitu video selesai, gemuruh tepuk tangan memenuhi seluruh aula, tatapan haru mereka layangkan pada Rinjani, semua tamu terenyuh menyaksikan video kebersamaan mereka, pun dengan Rinjani yang dengan berani melawan bodyguard keluarganya untuk menyelamatkan Ansel dari suntikan obat penenang
Banyak diantara mereka yang turut menitihkan air mata, saat menyaksikan video pemakaman Bulan dan Nurry, kini mata mereka telah terbuka, mereka menikah karena tujuan baik Tidak pantas rasanya ada pemikiran buruk tentang Rinjani, kini titik noda itu telah hilang di gantikan dengan rasa kagum pada sosok Rinjani wanita kuat dan berhati lembut
Rinjani sendiri langsung menangis dalam dekapan suaminya
__ADS_1
Rinjani tak bisa mengungkapkan rasa bahagianya yang teramat sangat, Rinjani seperti menjadi pengantin baru yang sesungguhnya, saat dia menyadari bahwa ini adalah acara resepsi pernikahannya membuat air mata wanita itu kian tak terbendung, rasa haru, sedih karena melihat klip masa lalu, rasa bahagia karena kebahagiaan , menjadi campur aduk membuat wanita itu tertawa dan menangis, namun tetap kebahagiaan lah yang lebih dominan, karena Rinjani seperti seorang ratu yang diagungkan saat ini, ditambah perlakuan suaminya yang selalu membuatnya merasa tersanjung di hadapan seluruh dunia