
" Kak__!" Panggil Rinjani yang melihat tubuh Ansel, hanya dengan sebuah handuk menutup bagian pinggang sampai lutut nya
" Iya" Sahut Ansel sambil menarik kaos yang sudah disiapkan Rinjani untuk nya.
Rinjani langsung melingkarkan lengannya ke perut pemuda itu, dan menyandarkan kepalanya di punggung Ansel
Ansel menahan napas sambil melihat tangan istrinya yang melingkar di perutnya yang kekar, menarik napas dalam-dalam, saat jemari Rinjani bergerak perlahan di atas perutnya.
" Rin, What are you doing??" Tanya Ansel sambil membalikan tubuhnya menatap Rinjani.
Rinjani hanya tersenyum.
" Maaf tadi tidak menjawab pangilan telepon dari Kaka, aku__ aku, entahlah, aku kesal ada perempuan lain yang tiba-tiba memeluk milik ku" Ungkap Rinjani.
" Milikku??" Kutip Ansel.
Rinjani mengigit bibir bawahnya.
" Rin__ Sayang!"
" Ya __milik ku, Dunia mu, hati mu, tubuh mu, semua yang ada pada dirimu milik ku" Rinjani menatap wajah suaminya. " you are my man" Tegas Rinjani.
Ansel menangkup wajah Rinjani. Pemuda itu tersenyum .
" Kau mendapatkan semua yang kau inginkan, dunia ku, hati ku, ini__" Tunjuk Ansel dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan meraih tangan Rinjani untuk di letakkan di atas jantung nya. " selama jantung ini berdetak, aku akan selalu menjadi milik mu"
Rinjani menghambur kepelukan suaminya, Ansel juga menyambutnya dengan suka cita.
" Aku takut jika wanita tadi bukan sepupu mu, tetapi orang lain yang bisa merebut mu dari ku" kata Rinjani di dalam pelukan Ansel.
" Jingga sepupu ku, kau tau kan hubungan ku dengan Tante juga kurang baik, jingga adalah anak tunggal Tante Hanny, usia Jingga sepantaran dengan Niel kalau kamu ingin tau, tetapi karena tubuhnya yang mungil dia tampak muda"
Rinjani menengadah.
" Maaf sudah membuatmu lama menunggu sayang, Setelah Tante di tangani aku harus menenangkan Jingga, ternyata sebenarnya Jingga ingin kabur dari rumah, karena sudah tidak tahan dengan segala tindakan Tante Hanny, untuk kesekian kalinya Pria yang berniat melamarnya mundur, karena Tante Hanny yang banyak kemauan, sayangnya Tante Hanny tau rencana jingga dan ikut masuk kedalam bagasi, setelah nya mereka bertengkar di dalam mobil hingga___ yaaa__ mobil mereka menabrak pohon dan Tante Hanny kejepit tadi, untung tidak ada luka serius, hanya saja Jingga tampak frustasi"
" Kasian sekali" Komentar Rinjani.
" Tetapi Kaka tidak ada perasaan kan sama Jingga??" mungkin bawaan hamil sehingga Rinjani jadi ingin mengusut tuntas perihal perasaan nya yang tak nyaman.
__ADS_1
Ansel tergelak kecil.
" Cintaku sudah terkunci di kamu, Ngak bisa kemana-mana lagi" Ansel mengecup kening Rinjani lembut, dengan tatapan penuh sayang, membuat Rinjani selalu betah di dekat Suaminya, menempelkan telinganya di atas detak jantung suaminya yang berdedup teratur, Ansel memeluknya lembut dan mengecup kening nya beberapa kali
" Sebenarnya menantu idaman Tante Hanny adalah Niel, tetapi nenek jelas menentang hubungan antara sodara, terlebih kami ini sepupu sekali, masih keluarga dekat, tujuan para tetua memberi nama belakang Al-Biru di jejeran anak dan cucu karena jangan sampai ada hubungan darah dekat yang saling menikah, sedangkan Niel juga benci setengah mati dengan Tante Hanny membuat keinginan Tante Hanny tak terwujud, hingga Niel menikah dengan Kirani dan juga dengan mu" Ansel menghela napas nya dalam
" Mendengar ucapan Jingga aku menyadari seberapa besar Tante Hanny terobsesi dengan Niel, semua Kriteria yang di sebutkan Tante Hanny untuk syarat menjadi suami Jingga semua ciri-ciri itu ada pada Niel"
" Berapa usia Jingga sekarang kak??"
" Delapan sampai sembilan tahun di atas kita Sayang, kurang lebih tiga puluh empat atau tiga puluh lima tahun"
Rinjani jadi prihatin, ternyata memiliki Ibu yang terlalu ikut campur juga bisa membuat anaknya merasa frustasi.
" Sekarang apa kita bisa mulai makan Sayang??" Tanya Ansel tersenyum.
" Astagfirullah" Rinjani sampai lupa.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
" Kaka hati-hati"
Ansel akan dinas keluar kota bersama Andrean selama dua hari, ini untuk pertama kalinya Ansel izin tinggal.
Rinjani mengangguk, " Memangnya Kaka bisa on 24jam jika mengurus bisnis??"
" Aku on setiap detik untuk mu dan keluarga ku" ucap Ansel mantap
' oh Hatiii' jerit Rinjani
" Gombal" desis Rinjani mencabikkan bibirnya
Ansel tergelak, mengecup singkat bibir Rinjani lantas segera menunduk untuk memberi pesan-pesan menenangkan untuk anaknya yang masih di dalam perut istrinya.
" Aku pergi dulu, jangan capek-capek, titip anak-anak, ingat langsung hubungi aku jika terjadi sesuatu" Pesan Ansel yang di angguki Rinjani, Ansel mengelus puncak kepala istrinya sebelum masuk kedalam mobil
Tangan Rinjani melambai begitu mobil yang membawa Ansel mulai jalan.
"Belum apa-apa aku sudah rindu" Gunam Rinjani sambil mengelus perutnya yang mulai terlihat
__ADS_1
Malam hari
Rinjani sedang memijit ringan pinggangnya saat Rania menyerahkan ponselnya yang sedari tadi menampilkan gambar suaminya, tetapi sayangnya suami tampan nya itu ingin berbicara banyak dengan anak-anak nya dulu baru dirinya, membuat Rinjani merasa tak dapat tempat karena ketiga anaknya saling berebut untuk berbicara dengan Daddy mereka.
" Kangeeen___!" Ansel langsung merengek seperti anak kecil saat wajah Rinjani sudah di depan latar, Rinjani tersenyum sambil memperhatikan Ansel yang tengah bersandar di headhoard ranjang hotel yang ia tempati.
" Capek??" Tanya Rinjani pada Ansel, rasa hatinya sedih cuma bisa menatap seperti ini
" Capek banget" ujar Ansel memijit pundaknya sendiri " Aku suka capek kalau jauh dari kamu sayang, biar aku capek banget asal ketemu kamu capeknya pasti hilang, bahkan sampai pagi juga kuat" Dari sebrang sana Ansel tergelak.
" Kaka jadi centil bin Mesum" ucap Rinjani yang tak mampu menyembunyikan rona merah kedua pipinya.
Ansel ini selalu menjurus kesana kalau bicara, membuat Rinjani tersipu
" Abisnya kamu buat aku kecanduan!" Ansel kembali tertawa, sedang Rinjani hanya menutup wajahnya dengan bantal.
" Sayang apa kamu merindukan ku??" Tanya Ansel dengan wajah jenakanya
" Enggak tuh!" elak Rinjani.
" Ih kok gitu??" Protes Ansel dengan wajah yang di tekuk sendu
" Kebenarannya itu" Rinjani tersenyum tapi suami tampan nya mendengus.
" Belum ngantuk??" Tanya Rinjani yang tak mendapat jawaban.
" Kak"
Hening
Rinjani sampai memperhatikan ponselnya memastikan pangilan video masih tersambung dan tidak ada gangguan jaringan.
Rinjani menarik sudut bibirnya. " Iya aku kangen sama Kaka, kangen banget malah" tutur Rinjani lembut, dan di sebrang sana pemuda tampan itu sudah tersenyum menawan.
" Sayang"
" Ya"
" Astaga__ rasanya aku ingin pulang malam ini juga" Ucap Ansel.
__ADS_1
" Sabar, aku dan anak-anak akan tetap disini menunggu Kaka pulang" Rinjani menanggapi
Setelah mengobrol ngalor-ngidul penuh Gombal akhirnya Rinjani jatuh tertidur, Ansel tersenyum melihat Rinjani yang terlelap di layar ponselnya, tangan nya seperti mengapai wajah istrinya sebelum mengakhiri panggilan dan ikut memejamkan matanya untuk tidur.