
Rinjani tersenyum begitu Ansel masuk kedalam kamar mereka.
" Apa tadi jagoan ku sempat rewel?" Tanya pemuda itu , dengan jemari yang mulai membuka kancing kemeja nya.
" Tidak sama sekali, hanya Rania tadi sempat sakit gigi, tetapi tidak lama, karena habis minum obat dia langsung tidur, pas bangun sepertinya nyerinya sudah hilang" Rinjani akan menceritakan apapun tentang anak-anak nya saat Ansel bersama nya, karena biar bagaimanapun Ansel harus tau perkembangan mereka dan juga apa saja yang mereka alami saat Daddy mereka tak di rumah
" Apa ada gigi Rania yang berlobang?"
" Ya, bahkan ada yang sudah sangat parah"
" Saat libur harus kita bawa ke dokter"
Rinjani mengangguk setuju
" Aku mandi dulu"
" Sudah ku siapkan air hangat"
Ansel terseyum dan mengecup kening Rinjani
" Terimakasih" Ujarnya dan segera masuk ke kamar mandi
Lima belas menit kemudian Ansel keluar dalam keadaaan lebih segar, hanya mengunakan jubah mandi Ansel merangkak naik ketempat tidur bergabung bersama Rinjani
" Teh hijau Kaka" Rinjani menunjuk dengan dagunya, karena tangannya sudah di genggam oleh telapak tangan Ansel yang dingin
" Apa Phonix Jabir menyeramkan seperti rumor yang beredar??" Tanya Rinjani membenamkan wajahnya di dada bidang Ansel
Ansel mengangguk membenarkan
" Kaka tidak takut?"
" Takut itu manusiawi sayang!, meski aku tak menampakkannya tetapi rasa khawatir itu pasti ada, jika dulu aku tak takut dengan kematian, berbeda dengan saat ini, ada Kamu, Mama, Papa dan anak-anak yang masih ingin ku bahagiakan, aku akan berusaha untuk tetap ada untuk kalian semua, terutama untuk mu istri ku" Ansel mendekap lembut tubuh istrinya
" Apa Phonix Jabir tidak tau jika Kaka ketakutan?"
__ADS_1
" Aku tidak takut, hanya sedikit khawatir dan sepertinya dia tidak tau!"
" Mengapa bisa begitu?"
Ansel tersenyum manis mengigit kecil bahu Rinjani yang sedikit terbuka
" Ekspresi wajah ku bisa mengikuti cuaca sayang, bukankah aku mencintaimu sebelum kau menikah dengan Niel? ... lantas selama aku menjadi adik ipar mu pernahkah sikap dan perlakuan ku mengambarkan perasaan ku sebenarnya pada mu? ... percayalah! ... menyembunyikan rasa cemburu jauh lebih sulit dibandingkan menyembunyikan rasa takut"
Ansel menyamankan tidur Rinjani, membawa kepala istrinya di atas satu lengannya
" Tidurlah!!, malam ini aku tak ingin menyakiti kalian, tadi malam aku sudah menjenguk anak kita, aku bisa menahannya beberapa hari kedelapan"
Rinjani tersenyum, satu perbedaan Ansel yang mencolok, jika dulu para suaminya yang pernah hadir di hidup Rinjani mereka akan melampiaskan kesedihan atau rasa kacaunya dengan bertempur di ranjang, sebagai obat penat dan pelepasan rasa tegang, tetapi pemuda yang tengah memeluknya ini sangat berbeda. Bahkan kelembutannya masih terasa sama, meskipun mungkin pikiran pemuda itu sedang ruwet dan keruh
Pagi hari setelah mengantar Rania, Ansel membawa Rinjani kerumah orang tua nya, dan sudut bibir pemuda itu langsung tertarik keatas begitu melihat dua manusia yang kini menjadi sosok paling dia benci turun dari satu mobil, sedikit lebih cepat di banding dirinya, Ansel yakin mungkin kedua wanita itu semalam sudah kesini dan kembali kesini saat segala informasi tidak ada titik terang.
Melihat kedatangan Ansel wajah keduanya tampak menyunggingkan senyum mencemooh, dan Ansel sama sekali tidak perduli
" Apa kalian kesini karena merasa kehilangan sesuatu??" Tanya Ansel yang mampu menghentikan langkah kedua wanita itu
" Carilah uang 3,7 triliun jika kalian mau anak gadis kalian selamat!" Ucap Ansel dengan seringai yang tak pernah di tunjukkan kepada keluarganya sebelumnya
" Apa maksudmu?" Bentak Hanny, sedangkan jeselyn langsung menarik kasar kemeja Ansel
Papa Ansel dan Mama Ansel teriak dari dalam rumah, sedangkan Rinjani kaget dengan perlakuan Tante Ansel pun dengan ucapan Ansel
Setelah Papa Ansel menghempaskan tangan Jeselyn yang bertengger di kemeja Ansel, Pria yang memiliki netra zamrud seperti milik mendiang Nurry itu melayangkan telapak tangannya pada dua sodarinya
Suara tamparan yang begitu keras terdengar, bersamaan dengan datangnya Ben dan Andrean
" Pa, tenang!" Ansel menenangkan Papa nya
Rinjani langsung di tarik oleh Mama Ansel kedalam rumah
Mengabaikan rasa panas di pipinya, kedua wanita itu kembali menodong Ansel dengan sejuta tanya
__ADS_1
" Apa maksudmu bajingan??" gertak Jeselyn
Ansel tersenyum miring, dan meminta Ben mendekat
" Ben, katakan! .... bagaimana keadaan Jingga dan Marry??"
Mendengar ucapan Ansel, tidak hanya kedua tantenya, tetapi Papa Ansel pun terbelalak
Ben menjelaskan, segala sesuatu yang ia ketahui sebelum Ansel semalam memintanya kembali pulang
" Ansel ... jadi Jingga dan Marry ...."
" Iya Pa, masih ada lima hari, untuk aku menyerahkan dua gadis itu pada Phonix Jabir, untuk itu biarkan mereka ku kurung saja agar tak kabur" Ansel memotong ucapan Papanya
" Bangsat!" Hanny akan menampar wajah Ansel, tetapi dengan cekatan Ansel menangkap tangan nya
" Tidak perlu meluapkan emosi, lebih baik kalian cari uang untuk menebus anak kalian, aku yakin dalam lima hari jika kalian tak mendapatkan uang tebusan, kedua putri kalian mungkin akan dijual oleh Phonix Jabir, atau bahkan di ambil organ tubuhnya, tentunya setelah Phonix Jabir merenggut kehormatan mereka"
Wajah Hanny dan jeselyn pucat pasi mendengar ucapan Ansel, tetapi wanita itu kembali berkata dengan percaya diri , Hanny dan Jeselyn mencoba terseyum
" Di perjanjian kami nama Rinjani yang kami sodorkan, lagi pula Phonix Jabir tidak bodoh, dia tidak akan mengambil sesuatu yang bukan jaminan sebenarnya" Jeselyn mengangkat dagunya angkuh
Ansel tertawa , tawa yang terdengar seperti ejekan yang sempurna
" Yang anda katakan benar bahkan sangatlah benar bahwasanya Phonix Jabir bukan orang bodoh, tetapi ungkapan jika Phonix Jabir pria yang tak akan mengambil sesuatu yang bukan haknya apa itu tidak terdengar lucu? ... apakah kekejiannya belum pernah anda dengar? ... atau mungkin anda belum pernah mencari tau dulu siapa orang yang anda ajak bekerja sama? ... satu yang aku ketahui, seorang mafia tidak ada kata belas kasih, mereka sangat tidak mau rugi, tetapi untung besar adalah tujuan nya."
Ansel menyeringai
" Dan kebodohan yang sudah kalian lakukan adalah berani menjaminkan istri ku, ralat istri Kaka ku ... ups!! ... " Ansel menutup bibirnya sendiri dramatis. "salah juga, mantan istri seorang guru SD ..."
Ansel mengangkat satu alisnya
" Dengan menyodorkan seorang wanita tidak virgin saja kalian akan celaka, apalagi ini seorang wanita yang sudah menikah tiga kali, menurut kalian apakah Phonix Jabir akan keberatan jika satu Rinjani di tukar dua gadis ?? ... oh, ada lagi, dan lagi Rinjani yang malang menikahi seorang pemuda yang cacat mental seperti ku, Phonix Jabir tidak akan berpikir dua kali untuk menyetujui penukaran yang menguntungkan itu, satu wanita di tukar dengan dua gadis, satu organ di tukar dengan dua organ sekaligus, untung berlipat dan seorang mafia suka dengan itu"
Tentu saja mendengar penjelasan Ansel yang panjang lebar membuat dua wanita itu mengigil, apalagi status Rinjani yang pernah menikah sebelum bersama Nurry dan kebenaran bahwa tidak ada orang yang menolak keuntungan membuat keduanya lemas
__ADS_1
Ansel melihat wajah dua tantenya yang memutih, acuh tak perduli, Ansel mengajak Ben dan Andrean untuk masuk kedalam rumah, dia butuh bicara sebelum kembali menemui Phonix Jabir, meskipun Ansel tau mungkin saat ini ketua mafia itu sudah mengetahui siapa dirinya, tetapi akan lebih menyenangkan bisa bertemu dengan Pria mengerikan itu secara langsung.