Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Phonix Jabir


__ADS_3

Ansel kembali bergabung bersama dua temannya yang menunggu.


" Sebenarnya ada apa sih??" Julio yang penasaran akhirnya bertanya.


" Mau tau saja wilayah yang dikuasai Phonix Jabir" Jawab Ansel tenang


" Untuk apa??" Tanya Awan kepo


" Tentu saja untuk berkenalan!"


Mendengar jawaban Ansel, Awan memukul lengan temannya. " Rasanya gue ngomong sama orang ngak waras!" kesal Awan


" Memang kapan gue pernah waras, dari dulu kan cuma gue yang gila diantara kalian!"


Mendengar jawaban Ansel, mereka bertiga hanya menghembuskan napas


" Canda Sel .. lu mah, serius mulu!!" Regan menepuk pelan bahu Ansel


Ansel hanya tersenyum tipis mengedarkan pandangannya pada ketiga temannya


"Jadi rencana loe apa?" Tanya Regan.


Ansel menyeringai menatap Awan


" Apa Loe?" Tanya Awan bergindik ngeri


" Mau ngetes seberapa ngaruh jabatan Loe!"


" A-apa?" Tanya Awan mulai ngerasa ada yang ngak beres.


" Cuma mau minta antarin gue ke markas Phonix Jabir!"


Awan terbelalak " Sel Loe jangan bercanda deh, kenapa dari tadi Phonix Jabir Mulu yang Loe sebut?"


" Emangnya ada apa sih Sel?" Julio ikut penasaran


" Ada masalah dengan keluarga dan ini juga menyeret istri gue"


" Istri?" Tanya mereka bertiga kompak


Ansel hanya mengangguk


" Loe bener-bener tau ngak...! udah sampai dua kali ... dan ngak pernah ngundang teman, dulu Loe alasan nikah di London, sekarang apa lagi, nikah di kutub Utara?" Awan nyerobot kesal


" Pernikahan kedua gue sedikit ribet, jadi ngak bisa di umbar di publik"


" Maksudnya Married by Accident gitu??" Tanya Awan


" Bukan!"


" Nah terus?" Tanya Awan dengan ke kepoan nya


" Gue nikah sama Kaka ipar gue!"


Jawaban Ansel membuat ketiganya menganga


Setelah menceritakan problem yang tengah ia hadapi, Akhirnya Awan bersedia membantu Ansel menemui Phonix Jabir


" Menghadapi seorang mafia itu mudah, cukup dengan merendah tapi tak mengalah, menjunjung tapi tak memuja!" kata julio


" Bahasa Loe ribet amat!" Semprot Regan

__ADS_1


Julio hanya berdecak "hanya orang jenius yang faham, dan gue yakin Ansel ngerti, ya kan Bro?"


Ansel hanya mengangkat bahu, membuat bibir Julio maju dua senti


" Ini kesarang mafia, semua harus di perhitungkan dengan matang, salah tingkah nyawa taruhannya" Ucap Awan, kali ini lebih serius


" Beberapa waktu lalu aku sudah mencari informasi di internet tentang Phonix Jabir, tidak ada biodata spesifik semua hanya tentang berita kekejiannya" ungkap Ansel.


" Kau benar! .. dia pria yang tak segan untuk mengambil organ tubuh manusia untuk pelunasan hutang" Awan membenarkan


" Tapi dia bodoh" decih Ansel


" Maksud Loe?" tanya Julio


" Ngincar istri gue!"


" Kan waktu itu belum jadi bini Loe Bro" Jawab Julio


" Sebelum nikah dengan Niel sebenarnya istri ku juga sudah pernah menikah!"


" Apa??" Ketiganya sontak kaget


" Itulah, aku ingin memanfaatkan situasi ini untuk penukaran jaminan"


" Maksudnya??"


Ansel menceritakan rencananya, ketiga temannya mendukung, biar bagaimanapun kejahatan harus di balas dengan imbang


Sementara itu


Ben sedang menunggu dengan gelisah, sudah hampir dua jam Ben dan Andrean duduk di depan dua gadis yang terikat, didalam bekas gudang yang lembab dan pengap


" Hubungi Pak Ansel aja Pak Ben, ngak lama lagi pasti mereka sadar"


[" Ya Ben??"] Terdengar suara Ansel dari sebrang sana.


" Mereka sudah saya ikat di gudang kosong!" Lapor Ben, berharap Ansel segera datang


[" Kau bisa membunuhnya kalau kau mau, tapi aku masih butuh jasatnya" ] Jawaban Ansel membuat Ben dan Andrean saling pandang, keduanya langsung menelan ludahnya masing-masing


Setelah Ansel mematikan panggilan, tubuh Ben dan Andrean menegang


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


" Loe bisa membuat asisten mu takut Sel" Ucap Julio


" Mereka orang baik, jelas takut membunuh orang" jawab Ansel tenang


" Maksudnya takut sama loe" Jelas Julio


Ansel hanya tersenyum tak menanggapi.


" Sel datanya sudah siap!" kata Regan


" Aku hubungi istri ku dulu!" ucap Ansel sedikit menjauh dari teman-teman nya


" Terkadang aku merasa dia memiliki kepribadian ganda" Komentar Awan melihat Ansel yang sedang berbicara manis dengan sang istri


Setelah semua siap Ansel benar-benar menemui Phonix Jabir


" Sel hati-hati!"

__ADS_1


Ansel masuk seorang diri, meninggalkan ketiga temannya memasuki gerbang yang tinggi menjulang dengan barisan pria-pria berbadan besar, meninggalkan mobilnya Ansel di jemput sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap


Tidak seperti pada umumnya, jika seseorang akan mengigil jika diamati dan dikawal para bodyguard mengerikan, bagi Ansel ini justru seperti bernostalgia, ingatan dimana dirinya dulu selalu di kawal membuat Ansel tak merasa risi


Ansel dibawa kesebuah ruangan yang sangat luas dan terlihat lengang, Ansel diajak naik kearah tangga yang melengkung keatas tepatnya ke lantai dua


Tak ada kata apapun yang keluar dari para pria berbadan besar yang mengawalnya, begitupun Ansel, tak sepatah katapun yang keluar dari bibir pemuda itu


Dalam hati sang pengawal jelas bingung, siapa kiranya tamu Tuanya ini, apakah kawan lama? dari caranya bersikap jelas pemuda itu bukan seorang tawanan atau seseorang yang akan menyampaikan permohonannya untuk meringankan beban hutang nya, pemuda yang berjalan di sampingnya itu tampak tenang, tidak seperti orang-orang yang datang biasanya dengan merangkak, dengan tangis, dengan tatapan takut luar biasa seperti akan menghadapi kematiannya


Setelah sampai di pintu paling ujung dan paling terlihat megah, semua pengawal berhenti, membuat Ansel ikut menghentikan langkahnya


" Masuklah, Tuan Phonix Jabir di dalam"


Tak menunggu perintah dua kali Ansel segera melangkah , masuk dan menemukan seorang pria duduk dan menatap kakinya yang melangkah, sosok pria yang sangat menyeramkan dengan luka mengerikan jika baru pertama di pandang, sebuah goresan melintang, menghiasi pelipisnya hingga ke bawah sudut mata


" Apa kau kawan intelejen yang minta izin menemui ku tadi??" Suara berat dan terdengar begitu jantan mengema di dalam ruangan persegi nan tinggi itu


Ansel tersenyum tipis dan mengangguk


" Semua hutang ada perhitungan nya, tidak bisa di lunasi dengan sebuah permohonan dan air mata, untuk apa kau ingin menemui ku, bahkan aku sama sekali tak mengenal mu, apa kau ingin berhutang? ... atau jual organ? ... atau mungkin...."


" Tidak semuanya!" bantah Ansel tenang, yang membuat dahi Phonix Jabir mengkerut, untuk pertama kalinya dirinya melihat pemuda yang begitu tenang namun sama sekali tak angkuh, sikap yang menunjukkan bahwa dirinya bukan dari kalangan biasa, siapa pemuda ini?? ternyata benak Phonix Jabir juga dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, namun dia tak menampakkannya


" Aku tidak menjual barang haram, aku memberikan bantuan bagi orang yang membutuhkan perlindungan ku, dan pastinya harganya juga tidak murah dan itu juga minimal senilai satu nyawa!" Suara ngebas dan dewasa itu kembali terdengar.


Namun lagi-lagi Phonix Jabir hanya melihat senyum tipis di bibir tamunya, bahkan tak ada pergerakan apapun dari pemuda itu selain mimik wajahnya, sepertinya label Manusia mengerikan sudah tak di sandangnya lagi, bahkan pemuda tampan rupawan di hadapannya tampak biasa saja menatapnya, Phonix Jabir jadi geram sendiri, kenapa tamu nya ini begitu keren?


" Sebenarnya kau ini mau apa menemuiku??" Kesabaran Phonix Jabir mulai habis


" Menawarkan kesempatan!" Jawab Ansel tenang


Phonix Jabir terperangah tak percaya, untuk pertama kalinya ada seorang pemuda berani mengajukan kesepakatan padanya seperti meminta ibunya sebuah janji membelikan permen saat di suruh melakukan sesuatu, apa yang salah hari ini? kenapa dirinya kehilangan kesan menakutkan di mata pemuda itu, apakah karena sudah hampir dua Minggu dirinya tak memenggal kepala hingga pamornya melorot?


" Sayangnya aku tak tertarik" Phonix Jabir menolak dengan tanpa alasan, berharap pemuda itu akan mengiba tetapi yang terjadi ...


" Oh, baik kalau begitu maaf sudah mengganggu waktu Anda TuanPhonix Jabir" Ansel terseyum dan membalikkan badannya membuat Phonix Jabir ternganga


Kenapa jadi dia yang penasaran setengah mati? ini kandang mafia bukan taman kanak-kanak, bagaimana mungkin ada seseorang yang hanya datang tanpa kepentingan seperti itu


" Tunggu" Phonix Jabir berdiri, dia merasa emosi sendiri dengan dirinya, mengapa jadi dia perduli, dan harusnya dia bisa membunuh pemuda yang berani main-main dengan nya bukan


Ansel tersenyum dalam hati, trik yang digunakan memang sudah dia persiapkan dengan matang, jadi Ansel tidak perlu takut apapun


" Kesepakatan apa yang ingin kau ajukan??"


Ansel membalik badannya.


" Tuan ini sudah sangat malam, tidak seharusnya saya menganggu waktu istirahat Anda, saya lebih baik pamit undur diri dulu, kalau Tuan berkenan, besok saya akan kembali, karena kesepakatan yang akan saya ajukan tidak bisa di bahas dalam waktu singkat!" Jelas Ansel dengan tatapan keseriusan


Phonix Jabir lagi-lagi dibuat geram namun penasaran dengan keberanian pemuda tampan yang menawarkan pesona indahnya


" Tidak penting bagiku" Phonix Jabir mencoba menggertak


Namun pemuda di hadapannya hanya mengangguk kecil, dan tidak membantah ataupun berniat menjelaskan


' Setan' Batin Phonix Jabir mengumpat, apa-apaan ini, siapa pemuda yang berani membuat emosinya kembang kempis ini??


######


Terimakasih atas dukungannya...

__ADS_1


semoga dapat menghibur


happy reading ❤️🙏🙏❤️


__ADS_2