
Rinjani melihat Kedua orang tua Nurry yang tampak rapuh tak berdaya, mereka jadi seperti orang lain, sangat asing di mata Rinjani.
Tadi setelah sholat subuh, kedua mertuanya tiba-tiba mengajak Ansel dan Rinjani berkumpul di ruang keluarga, yang membuat Rinjani terkejut adalah kedua mertuanya menangis, membuat bingung Rinjani.
" Pa, Ma, ada apa sebenarnya?"
Rinjani duduk di samping suaminya, mendengar Ansel bertanya, Rinjani juga turut penasaran apa yang membuat kedua mertuanya tiba-tiba menangis?
Bahu Papa Nurry bergetar, membuat hati Rinjani tak karuan.
" Tolong maafkan Papa, sungguh Papa tidak ingin kalian ikut celaka!" pria paruh baya itu tampak mengeleng frustasi
Ada rasa takut menelusup di hati Rinjani, reflek tangan nya mengenggam tangan suaminya.
" Pa sebenarnya ada apa, tolong jangan membuat kami khawatir!" Ansel kembali membuka suara.
" Maafkan Papa Sel, Maafkan Papa sayang!"
Rinjani begitu terkejut melihat Papa mertuanya berlutut dihadapan dirinya dan Ansel.
" Pa!!" Seru keduanya bersamaan, sedangkan Mama Nurry sudah menangis terisak.
Pelan-pelan Papa Ansel mulai bercerita, bahwa dirinya sudah di tipu oleh kedua sodarinya, yaitu Hanny dan jeselyn, kakak, beradik yang membuatnya terjerat hutang dengan komplotan mafia, hutang yang sangat besar, dan terasa mustahil untuk mereka lunasi dengan waktu yang sudah di tentukan.
Rinjani dan Ansel shock dengan semua cerita Papanya. Bagaimana mungkin pengusaha besar seperti Papanya bisa begitu ceroboh??
" Papa takut mereka akan menyakiti kalian, sungguh Nak, Papa tidak rela!" Masih dengan tangis Papa Nurry menangkup pipi Rinjani dan Ansel.
" Pergilah kemanapun, bawa cucu-cucu Papa, sejauh mungkin, supaya mereka tidak bisa melukai kalian!"
" Berapa Tante meminjam uang atas Nama Papa??" Tanya Ansel dengan hati perih, segitu teganya sodara Papa nya, padahal mengetahui status mereka yang janda, Papa nya selalu royal untuk kedua sodara nya itu, tetapi mengapa jadi begini??
" 16 milyar, dan kini sudah menjadi 3,7 triliun"
" Mustahil" Ansel berseru, karena terkejut. " Jaminan apa yang mereka sodorkan??"
" Rinjani dan perusahaan Papa!"
Mata Rinjani dan Ansel terbelalak.
__ADS_1
" Bangsat!" Ansel tak bisa lagi menahan luapan emosi di dadanya.
" Hutang ini sudah berjalan hampir dua tahun, itu berarti mereka meminjam uang itu saat Nurry masih ada"
Rinjani tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
" Bagaimana bisa mengatasnamakan Papa??"
" Papa yang salah, saat itu Tante mu datang menyodorkan berkas yang harus Papa tanda tangani, katanya itu surat persetujuan wali untuk acara pernikahan Jingga dan marry tapi .....!" Papa Ansel sudah tak mampu melanjutkan ucapannya
" Mereka memberi waktu sampai akhir Minggu ini!" kepala pria paruh baya itu semakin menunduk dalam.
Ansel tak mengatakan apa-apa, dada pemuda itu naik turun, matanya memerah karena gejolak amarah yang ingin pecah, sedangkan Rinjani berlari kedalam kamar yang di susul oleh Mama Ansel.
Papa Ansel menjambak rambutnya frustasi, merasa menjadi orang tua yang tak becus melindungi anak, cucunya.
" Kalian pergi saja, Papa akan menyelesaikan masalah ini!" Lirih Papa Ansel membuka suara setelah sebelumnya hanya ada keheningan.
Ansel mendongak dengan mata memerah
" Mereka akan tetap menemukan kami" Ansel tau, berurusan dengan komplotan mafia bukan masalah sepele
" Minta penangguhan Pa, kita jual seluruh aset yang kita miliki"
" Papa sudah mengupayakan tiga bulan ini, tetapi semua sia-sia, yang ada bunga nya semakin membengkak nilai hutang kita semakin tak masuk akal!"
Ansel diam, seujung kuku Ansel tak berniat mengemis belas kasih dari keluarga pihak Papa nya karena Ansel tau, keluarga besar Papa nya tidak ada yang tulus, meskipun mereka tergolong orang besar semua. Sedangkan mencari belas kasih dari keluarga sang Mama juga terasa mustahil, Mamanya serasa tak dianggap Setelah menikah dengan Papa nya, meskipun masih saling berkunjung, tetapi untuk keperdulian sepertinya hanya sebatas angan.
Ansel menyapu wajahnya.
" Aku akan coba cari cara Pa, katakan kemungkinan buruk apa yang musti kami hadapi jika sampai batas waktu kita tak bisa melunasi hutang adik Papa??" Tanya Ansel menahan geram, Ansel tau pasti, dua orang pembuat onar itu sudah pergi mengasingkan diri
" Jaminannya adalah Putri Papa!" lirih Papa Ansel tak berani beradu tatap dengan sang putra.
" Akan diapakan istri ku Pa? ... mereka jual?? ... Mereka pake bergilir? ... Kemana otak adik mu Pa haaa??"
" Ya Tuhaaaaaan ...!" Bibir Ansel bergetar.
Ansel menipiskan bibirnya, 3,7 triliun bukan nilai yang kecil, terlebih dirinya baru saja membangun bisnis nya, aset Nurry sebagai atas Nama Rania dan si kembar, jika dirinya jual, Ansel akan merasa berdosa untuk ketiga anaknya, tetapi jika tidak, aset yang dia miliki tak sampai bernilai triliunan, mengapa ujian selalu melanda di saat mereka baru merasakan sedikit bahagia.
__ADS_1
Sedangkan di kamar. Rinjani takmampu menahan tangisnya, Mama Nurry hanya mampu memeluk tubuh menantunya dengan emosi yang coba di redam, sodara iparnya memang sudah sangat keterlaluan.
" Rinjani bahkan tidak mengenal siapa mereka Ma, mengapa Rinjani yang di tumbalkan?"
" Mama dan Papa tidak akan pernah membiarkannya sayang, maka dari itu kalian pergilah dulu, menjual aset tak semudah menjual emas, biar Mama dan Papa yang tangani, kalian mau kan bersabar sebentar" Hibur Mama Ansel pada Rinjani, meskipun sebenarnya hatinya sendiri sedang lululantah dengan kelakuan iparnya, Rinjani adalah jantung untuk cucu-cucunya, paru-paru untuk Putranya, menumbalkan Rinjani berarti merenggut kebahagiaan seluruh keluarganya. Gigi wanita paruh baya itu bergelutuk, andai saja dua adik suaminya itu ketemu, dia tidak akan takut untuk mencincang wanita tak tahu terimakasih seperti mereka
Ansel masuk menyusul sang istri, melihat Rinjani yang menangis tergugu, hati Ansel rasanya sesak, sangat sulit untuk sekedar bernapas, dengan derai air mata Mama Ansel menepuk pundak putra nya dan berlalu dari kedua anaknya untuk mencari jalan keluar, bertukar pikiran dengan suaminya, Mama Ansel tak akan membiarkan orang asing merenggut kebahagiaan keluarganya.
" Mereka memeras Kita Kak" Lirih Rinjani dengan wajah basah.
" Mereka mafia, kejahatan adalah ladang bisnis mereka!" Ansel menangkup wajah sembab istrinya, melihat derai air mata sang istri rasanya iblis di dalam tubuh Ansel serasa mau keluar, dan menyiksa manusia bejat yang berani mengusik kebahagiaan istrinya, terkadang orang yang sabar akan sangat mengerikan jika marah, dan itu tidak terkecuali dengan pemuda seperti Ansel
Rinjani memberanikan diri untuk menatap netra suami nya, Ansel tersenyum tipis, sebelum raut wajah itu berubah, tatapan Ansel terlihat keji dan wajahnya suram, benar-benar menggambarkan sosok yang tak akan berbelas kasih, seolah ada iblis yang mendiami jiwanya dan memangsa habis seluruh kebijakan dan kesabaran nya.
" Sepertinya kediamanku selama ini begitu diremehkan!"
Rinjani tertegun melihat seringai keji dari pemuda yang selama ini begitu penuh cinta kasih, Rinjani seperti melihat sosok orang lain.
Tiba-tiba Ansel tertawa, tawa yang membuat Rinjani bergindik.
" Berani bermain dengan ku, harus berani menanggung resiko nya"
Rinjani diam, sebelum telapak tangan Ansel membelai pipinya.
" Semua akan baik-baik saja percaya pada suami tampan mu ini Sayang!"
Mendengar nada lembut Ansel, Rinjani balas menatap suaminya, tidak ada lagi raut asing di wajah pemuda itu, kini hanya ada raut lembut dan tatapan teduh yang menenangkan.
Ansel juga mengecup bibir Istrinya sekilas, senyum jenaka kembali terpatri di bibir nya.
" Selama jantungku berdetak, tak ku biarkan se inci pun wanitaku, ibu dari anak-anak ku tergores, aku akan melindungi mu sampai titik darah penghabisan, sayang percayalah! kamu dan anak-anak kita, akan baik-baik saja!" Kembali Ansel mencium puncak kepala istrinya dan merengkuh Rinjani kedalam pelukan hangat nya.
######
Rekomendasi, cerita komedi, romantis dari author, ini ceritanya ringan, kocak dan pastinya seru..
happy reading ❤️🙏🙏
ditunggu jejak cintanya yaaa
__ADS_1