
" Aku Bisa-bisa beneran makan kamu jika kita terus seperti ini" Bisik Ansel saat Rinjani melepas ciumannya
Rinjani menatap wajah suaminya. " Apa Kaka masih banyak kegiatan??"
Ansel mengangguk sambil menyelipkan rambut Rinjani ke belakang telinga nya. " Ada meeting satu jam lagi, bukankah tadi pagi sudah ku katakan aku pulang telat hmmm"
Rinjani mengangguk mengerti, ternyata suaminya benar-benar sibuk.
" Ya sudah, Kaka makan dulu, ayo ku siapkan" Rinjani menghampiri kotak makan yang Ia bawa.
Setelah selesai makan bersama, Rinjani menemani Ansel mengecek dokumen yang bertumpuk di atas mejanya
Rinjani benar-benar merasa sangat bersalah setelah mengetahui kegiatan Ansel, suaminya begitu banyak kesibukan di kantor, saat pulang , bukan nya melepas penat kadang malah ngurusin dia, ngurus anak-anaknya yang kadang rewel, menyiapkan keperluan kerja dan lainnya sendiri, Rinjani benar-benar seperti tertampar berkali-kali, kurang beruntung apa dirinya memiliki pria yang sangat pengertian seperti Ansel, suami yang tak menuntut nya sama sekali.
" Kau tidak jenuh, kau bisa istirahat di kamar" Ansel sudah berdiri dari aktivitas nya membaca laporan, kini pemuda itu sudah membungkuk untuk mencium perut istrinya dengan sayang.
" Aku pulang saja" ucap Rinjani.
Ansel langsung menyambar kunci mobilnya. " Ku antar" ucap pemuda itu gegas.
" Tidak perlu kak, mereka stay untuk menungguku"
" Biar ku antar saja"
" Selesaikan dulu pekerjaan Kaka aku menunggu mu dirumah" Rinjani mengecup singkat bibir suaminya yang membuat Ansel terdiam.
Pada akhirnya Rinjani benar-benar pulang, tak ingin menganggu pekerjaan suaminya yang sedang padat, sepanjang perjalanan Rinjani terus mengelus perutnya yang belum terlihat seperti wanita yang sedang hamil, karena kehamilan nya baru jalan sekitar tiga bulanan.
Rinjani ingin menjaga titipan suaminya ini dengan segenap jiwanya, Rinjani merasa beruntung dapat mengandung anak dari pria se luar biasa Ansel.
__ADS_1
Rinjani masih mengingat, sebesar apa kebahagiaan Ansel saat mengetahui dirinya mengandung benih pemuda itu, Rinjani benar-benar tak ingin kembali mengecewakan suaminya.
Rinjani sedang sangat gelisah saat Ansel belum juga pulang di hati yang sudah larut, setelah menemani anak-anak sampai tertidur Rinjani kembali duduk di ruang tamu, Rinjani sedang sangat khawatir, pasalnya Ansel belum juga datang.
Entah berapa kali wanita itu terus membuka korden, sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi Ansel.
Rinjani berjalan ke kamarnya sesaat setelah mengakhiri panggilan dari telpon genggam nya, Ansel meminta Rinjani agar tidur lebih dulu Tidak perlu mencemaskan nya.
Meski Rinjani benar-benar membaringkan tubuhnya, tetapi ke khawatiran nya belum juga surut, entah berapa jam dia seperti itu, hingga ada sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang
Rinjani membiarkan pemuda itu memeluk nya, dulu ketika bersedia menikah dengan Ansel, Rinjani tidak pernah berpikir macam-macam, tujuan nya hanya untuk anak-anaknya, tak berpikir bahwa dirinya juga akan membutuhkan pemuda itu begitu besar, tidak hanya sekedar menjadi sosok Daddy anak-anak nya tetapi juga menjadi sosok suami yang ingin terus di rindukan.
Rinjani merindukan detak jantung suaminya saat mereka sedang bergelung dalam selimut, rindu di inginkan sampai ke pori-pori saat mereka menyatu, Rinjani seperti anak kecil yang banyak maunya ketika sedang sadar dengan siapa dirinya saat ini, pemuda yang tengah memeluknya adalah pangeran nya, yang terlihat tegas, tetapi pemuda itu selalu perduli dengan perasaannya
Rinjani tetap tak bergeming meskipun tangan Ansel sudah menelusup ke balik gaun tidurnya, tangan hangat itu mengosok lembut perutnya, menyalurkan kehangatan hingga ke sekujur tubuhnya.
Rinjani tidak menjawab, dirinya malah naik di atas tubuh Ansel yang masih berpakaian lengkap, bahkan dasinya masih menempel di kerah lehernya.
Ansel tersenyum, pemuda itu menyamankan tidurnya, kedua tangannya di arahkan ke belakang kepala, di jadikan nya bantal.
Rinjani memandang wajah suaminya dengan senyum mengembang, pemuda tampan yang sangat enak di pandang, tidak hanya baik fisik nya saja hati pemuda itu juga sangat baik luar biasa.
" Kenapa belum tidur??" ulang Ansel, Karena sepertinya istrinya tidak menghiraukan pertanyaannya tadi.
" Aku sangat khawatir, kenapa pulang selarut ini??"
" Sebenarnya aku dan Ben tadi ke Surabaya, itu sebabnya pulang telat" Jelas Ansel yang membuat mata Rinjani terbelalak.
" Kenapa tidak bermalam saja di sana??"
__ADS_1
" Aku mengkhawatirkanmu dan anak-anak, keluar kota manapun jika mungkinkah aku akan tetap memilih pulang, maaf Rinjani aku tak berniat membuatmu cemas"
Ansel meraih tubuh istrinya untuk berbaring di atas tubuhnya, Ansel tidak tau jika Rinjani menangis, pemuda itu menyadari nya saat merasakan kemejanya basah.
Ansel ingin melerai dekapannya, tetapi Rinjani dengan keras kepala tak mau , justru malah semakin mengeratkan pelukannya.
" Sayang___ aku justru merasa bersalah jika kau seperti ini" Tutur Ansel , membelai punggung Rinjani.
Rinjani melerai pelukanya setelah merasa dirinya mampu menahan air matanya agar tak terjatuh lagi, Rinjani sedang di dera rasa bersalah yang bertubi-tubi, perlakuan Ansel dan pengertian pemuda itu terlalu berlebihan untuk nya, membuat Rinjani khawatir tak mampu membalas semua kebaikan pemuda itu, dan justru membuat dirinya semakin merasa berdosa.
Rinjani membuka dasi Ansel, kancing kemejanya yang membuat sang empu memandang sayu wanitanya.
Rinjani mengecup dada Ansel yang bergemuruh, menyapu lembut dengan hidung mancungnya, sesekali menghirup aroma khas Ansel dalam-dalam, meskipun tidak Menganti bajunya tetapi Ansel pemuda yang selalu menjaga kebersihan tubuh nya, Ansel selalu rapi dan wangi , bahkan meskipun baru pulang dari kerja sekalipun.
"Oh___Rinjani!" Lenguh Ansel, saat Rinjani mengigit dada bidangnya.
Rinjani juga tak malu untuk melucuti pakaiannya sendiri di atas tubuh suaminya, ada kalanya perbuatan sederhana seperti mampu merekatkan hubungan yang sedikit renggang.
" Ya Tuhan___" sekuat apapun dirinya, melihat pemandangan yang di tunjukkan Rinjani, membuat Ansel kelabakan juga.
Ansel segera menarik tengkuk Rinjani untuk di rampas bibirnya, tangannya tak tinggal diam, membuka pengait bra istrinya yang membungkus gumpalan lembut yang sangat mengiurkan untuk sekedar di remas dan di hisap.
" Kak Ansel" Rinjani merintih, saat Ansel membalik posisi tubuhnya, kini Ansel telah mengukung tubuh istrinya yang terbaring lembut di atas pembaringan.
" Apa kau mau digigit di sini??" tanya Ansel mengigit bahu Rinjani yang terbuka
" Oh___ Rinjani hanya merintih saat gigitan kecil itu semakin turun dan turun.
Rinjani mengakui hanya bersama Ansel dirinya merasa ingin menangis meski tidak sedang di sakiti, Ansel selalu memperlakukan dirinya dengan lembut, seperti sebuah kaca yang akan retak jika terlalu di kerasi, pemuda yang tak pernah terburu-buru saat menyentuhnya, meskipun keinginan itu begitu kentara hingga kepori-pori kulitnya.
__ADS_1