Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Ben dan pikirannya


__ADS_3

Kedua orang tuanya mengelus punggung menantu yang sudah dianggap putri mereka sendiri.


" Sudah sayang, Ansel sehat dan masih bersama kita, sudah-sudah malu kalau sampai Ivan dan Ivander lihat mommy mereka menangis" Hibur Mama Ansel.


" Iya__ masak udah gede minta gendong" Goda Papa Ansel mengelus puncak kepala Rinjani.


" Iya nih, Cup-cup banyak permen di mobil aku Rinjani, udahan nangisnya, nanti kuambil kan sebanyak-banyaknya" Ben ikut mengoda Rinjani.


Perlahan tangis Rinjani mulai mereda, tetapi tak berniat turun dari gendongan Ansel, wajah sembab itu menatap wajah suaminya yang menatapnya penuh cinta.


" Apa aku mimpi??" tanya Rinjani dengan bibir bergetar.


Ansel menanggapi, menurunkan pelan tubuh Rinjani di kursi yang tadi ia duduki.


" Kamu mimpi apa sayang? apa mimpi ketemu monster?? Coba kulihat apa dia mengigit jari-jari tangan mu?" Ansel juga serius memeriksa jemari istrinya, yang mampu membuat semua orang menatap pasangan manis di depan mereka dengan mengulum senyum. Perilaku Ansel yang selembut kapas jelas terpancar cinta yang mengebu, bagaimana Rinjani tak hilang kendali saat merasa akan kehilangan pemuda selembut Ansel?.


" Syukurlah jari-jari istri ku masih utuh, terimakasih Tuhan" ucap Ansel sok dramatis, Bersama usainya ucapan Ansel Rinjani mengigit bahu Ansel yang membuat tiga orang yang ikut menyaksikan romansa konyol itu terbahak, sedangkan Ansel langsung memekik kesakitan.


" Awwww___ Sakit sayang" Keluh Ansel mengelus bahunya tetapi tak sekalipun mata hazel itu berpaling dari mata bulat almond wanitanya.


Rinjani tak menanggapi, air bening itu kembali menitih dari kedua matanya yang berkedip.


" Udah dong nangis nya Sayang, nanti anak kita ikut sedih" Tutur Ansel menyelipkan anak rambut Rinjani di belakang Telinga nya.


Perlakuan romantis, tutur kata manis siapa yang tak meleleh diperlukan seperti itu, Ben saja sampai meneguk ludahnya, melihat perilaku Ansel untuk Rinjani, Pria itu membayangkan bagaimana jika Maina ia perlakuan seperti itu, apakah istrinya akan senang? atau justru merasa dirinya sedang kesurupan? bagaimanapun Ben tidak pernah berbuat seperti itu, bahkan untuk mencobanya saja Ben ragu.


" Kalian lanjut sarapan saja" ucap Ansel, kembali membawa Rinjani dalam gendongannya, Rinjani yang sudah sadar dan sedikit malu karena tingkahnya yang seperti anak kecil hanya mampu membenamkan wajahnya di dada bidang Suaminya, malu menatap wajah kedua mertuanya dan juga Ben.


Terkadang berapapun usia kita, saat kita merasa nyaman akan sesuatu, terkadang kita akan cenderung merengek dan berprilaku tak terduga karena kita sedang menunjukkan kebutuhan kita bukan unjuk kebolehan, begitu juga Rinjani, hanya bersama Ansel dirinya bisa menjadi pribadi yang seperti anak kecil, kedewasaannya terkadang bisa di asingkan nya dan berganti sikap manja yang dulu tak pernah ada.


" Kalian mau kemana, Ansel bahkan makanan mu belum habis" ucap sang Mama sebelum Ansel naik ke tangga.

__ADS_1


" Ansel lagi ingin sarapan yang lain Ma" Jawab Ansel mengerling.


" Menantu Papa belum sehat Ansel, kamu jangan macam-macam" ucap sang Papa garang.


" Apa yang Mama dan Papa pikirkan, aku sedang ingin makan kentang rebus yang tadi ku bikin Pa, ngak mungkin Ansel makan istri saat ada kalian"


Ucapan Ansel mampu membuat Ben keselek.


" Ya Tuhan anak itu__" Desah Mama Nurry.


" Kita disini karena cemas sama dia, eh malah dikira pengganggu, dikira kali dia sendiri yang punya istri" ucap sang Papa mengeleng.


Dua kali Ben harus tersendak, sampai wajah pria itu memerah.


" Kamu kenapa Ben, udah kangen juga sama Maina??, yaudah habis makan kamu pulang saja ngak perlu ke kantor, sepertinya hari ini hari istimewa untuk istri" Ucap Papa Nurry yang dibalas deheman dari Mama Nurry.


Entah mengapa Ben malah ngebayangin kalo dia tiba-tiba bertindak manis kayak Ansel apakah pujaan hatinya akan senang, atau malah ilfil ya.


" Sudah kita lanjutkan makan, habis ini Ben kamu pulang , Om sama Tante juga mau pulang, tadi kita juga sudah hubungi Andrean untuk langsung pulang" Tutur Mama Nurry dengan wajah yang mengulum senyum.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Ansel mengecup tangan Rinjani yang masih ada jarum infus nya, setelah mendudukkan Rinjani di atas kasur.


" Makan dulu ya??" tanya Ansel lembut, mengecup mata Rinjani yang bengkak


" Belum ingin kak, nanti saja" Ucap Rinjani lirih.


Ansel mencium bibir Rinjani, Rinjani hanya membiarkan saja, Rinjani masih terlalu bingung dengan apa yang terjadi, tetapi melihat jarum infus menancap di punggung tangannya, jelas saja kejadian mengerikan itu benar adanya, tetapi mengapa suaminya ada di hadapannya??


Rinjani mengulurkan tangannya untuk menangkup pipi suaminya yang terasa hangat, bahkan Ansel juga terlihat baik-baik saja, tidak pucat dan tanpa cela.

__ADS_1


Ansel meraih jemari Rinjani dan membawanya pada bibirnya mengecup jemari itu lembut.


" Kau sedang memastikan sesuatu sayang??" tanya Ansel membalas menangkup kedua pipi Rinjani.


" Bagaimana Kaka baik-baik saja, bahkan mobil itu____"


Ansel menempelkan jari telunjuknya ke atas bibir Rinjani


" Sama saat kita di London dulu, saat inipun bukan aku yang mengendarai mobil itu, lebih tepatnya aku di rampok, tetapi rampok dengan cara lembut, karena mereka sengaja menyebarkan paku di jalan, kemudian ban mobil kempes semuanya membuat aku harus mencari bengkel terdekat, harusnya jam delapan malam aku sudah sampai rumah, tetapi yaa karena aku harus ke bengkel jadi waktu nya sedikit terulur, siapa sangka karyawan bengkel ternyata sudah merencanakan itu bersama mereka yang menebar paku, beruntung aku Memesan kopi hingga kopi itu di campurkan dengan obat tidur, sedangkan pemilik bengkel harus di hantam hingga pingsan, selain mereka membawa kabur mobil, uang di bengkel juga habis di rampas mereka" ucap Ansel panjang lebar pada Rinjani


" Terus Bagaimana Kaka pulang??"


" Pakai motor pemilik bengkel, nanti Sore kita kembalikan, sambil kita beri ganti rugi untuk beliau, biar bagaimanapun beliau baru saja kerampokan, untuk kita, kita relakan saja sayang, bahkan pencuri nya sudah mendapatkan balasan sebelum bisa menikmati uang yang mereka curi"


" Tadi aku sangat takut" Jujur Rinjani


" Sayang hidup dan mati seseorang tiada yang tau, tetapi aku selalu berdoa, semoga Allah memberikan umur panjang untuk ku, agar aku bisa menjaga istri dan anak-anakku lebih lama"


Ansel kembali memeluk istrinya.


" Aku masih memiliki banyak mimpi bersama mu kak"


" Kalau begitu kita lekas tidur" Ucap Ansel yang membuat Rinjani menyergit, Ansel terkekeh kecil. " Katanya banyak memiki mimpi bersama ku sayang, kan kalo mau mimpi kita musti tidur dulu"


Rinjani berkedip-kedip linglung sebelum akhirnya menghadiahkan sebuah cubitan kecil di dada Ansel, yang membuat pemuda itu makin terbahak.


" Aku serius Kak" ucap Rinjani kesal.


" Loh kan bener sayang, kita bisa mimpi kalo kita tidur"


" Tau ah, Kaka ngeselin" Rinjani merebahkan tubuhnya memunggungi Ansel, Ansel tersenyum dan ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya.

__ADS_1


" Iya-iya, Aku hanya bercanda sayang, aku juga masih memiliki ribuan angan yang ingin aku wujudkan bersama mu" Bisik Ansel yang membuat Rinjani memutar tubuhnya menghadap Ansel.


Ansel beringsut, mencium perut Rinjani, membuat Rinjani memejamkan matanya, lagi-lagi air mata tak bisa di ajak kompromi, Rinjani benar-benar merasa sedih sekaligus bahagia karena pemuda yang menjadi suaminya masih ada untuk dirinya dan untuk anak-anak nya.


__ADS_2