Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Permaisuri


__ADS_3

Rinjani memucat begitu melihat darah yang berada di bawah lantai yang dilihatnya tanpa sengaja, begitu pula di seprai


Dengan panik Rinjani langsung berlari ke kamar mandi.


Rinjani keluar kamar mandi dengan wajah bingung, dirinya juga berjongkok untuk memeriksa darah atau apa yang terjatuh tertetes di lantai.


Sebelum akhirnya Rinjani turun mencari Rania, tadi Rania yang menyerahkan ponsel padanya, apa Rania terluka.


" Rania, Rania " Rinjani mengetuk pintu kamar Rania


Beberapa menit kemudian pintu terbuka, menampilkan Rania yang sepertinya sudah sempat tertidur, karena gadis itu tampak Ling Ling.


" What's wrong mom?"


Rinjani langsung memeriksa Rania, sebelum mata itu melihat sebuah plaster di telapak tangan putri nya.


" Apa telapak tangan kamu berdarah??" Tanya Rinjani, jantung nya berdentum kencang.


" Tergores kater Mom, tadi Rania mau membuat sesuatu"


Rinjani langsung membuka plaster yang menutupi luka Rania, dan benar sayatan panjang itu masih mengeluarkan darah.


" Apa baru di tutup lukanya??"


" Iya mom, tadi ngak sempat karena Daddy telpon, Rania juga rindu sama Daddy, setelah dari kamar mommy, Rania baru minta Bi Nun mengobati "


Rinjani bernapas lega, perasaan nya tadi sudah tak karuan, sampai paranoid sendiri dan melupakan Ansel, Ansel?? Astaga pasti suaminya saat ini sedang khawatir.


Rinjani langsung membantu Rania menutup kembali lukanya dan hendak menghubungi suaminya, tetapi baru saja kaki nya melangkah, terdengar suara bel berbunyi.


' Tamu, malam-malam begini?'


Rinjani membuka pintu, saat mengetahui kedua orangtuanya lah yang datang.


" Apa kamu baik-baik saja??" Kedatangan orang tua Nurry, beserta Ben plus Maina, membuat dua suster dan asisten rumah tangga Rinjani bangun .


" Ma, tadi Rinjani terlalu kalut, Tolong Mama hubungi Kak Ansel katakan bahwa Rinjani baik-baik saja."


" Ansel sudah terbang, Papa langsung menghubungi Jev dan meminta teman Papa yang berada di Semarang untuk meminjamkan helikopter untuk membawa Ansel pulang"


Rinjani merasa bersalah sudah membuat semua orang panik di tengah malam begini.


" Tadi Ansel mau nekad nyetir, Semarang, Jakarta terlalu jauh, penerbangan domestik juga tidak ada di jam seperti ini, anak itu terlalu panik sampai lecek wajahnya"


" Padahal dia bisa minta Ben untuk menjemput"

__ADS_1


Rinjani hanya memeluk Mama mertua nya merasa bersalah.


" Sudah sayang, Mama tau kamu terlalu panik, Mama bisa maklum" ucap Mama Nurry mencium kening menantunya.


Raina juga langsung meminta maaf sama Rinjani karena sudah membuat mommy nya bersedih.


Rinjani memeluk putrinya, ini bukan salah Rania, Rania yang terluka bagaimana di salahkan?, Rinjani yang terlalu takut, panik, saat melihat darah di lantai, pikiran nya langsung mengarah pada kandungan nya, sebenarnya Rinjani juga tidak salah kan?.


" Bermalam disini saja Ben" Papa Nurry menepuk bahu Ben


Ben menundukkan kepalanya. " Kami pulang karena Aalona sendirian"


" Kalau begitu hati-hati"


Orang tua Nurry juga langsung meminta Rinjani untuk beristirahat, karena pasti Ansel sebentar lagi akan sampai.


Dengan langkah gontai Rinjani memasuki kamar nya, noda darah dilantai sudah dibersihkan, Rinjani jadi merasa tak enak hati karena sudah membuat suaminya cemas.


Kegelisahan hati Rinjani berakhir setelah pintu kamarnya terbuka, menghadirkan sosok pemuda yang membuatnya merasa sangat bersalah.


Berbeda dengan Rinjani yang menunduk dalam, Ansel justru begitu antusias untuk menghampiri sang istri yang terlihat baik-baik saja.


" Syukurlah Tuhan, engkau masih mau mendengarkan permohonan hamba mu ini" Ucap Ansel dengan tangan yang mendekap erat tubuh Rinjani.


Rinjani meraih tangan Ansel dan mengecup nya


" Maaf sudah membuat Kaka khawatir, aku terlalu paranoid! hingga membuat kalian semua cemas"


" Tidak! tidak sama sekali sayang, aku sangat bersyukur kalian semua baik-baik saja" Tutur Ansel mengecup kening Rinjani yang membuat Rinjani memejamkan matanya


Rinjani masih meringkuk di dalam pelukan suaminya, sedang tidak ingin kemana-mana, Setelah mengurai ke khawatiran, Ansel mengajak Rinjani istirahat, perasaan pemuda itu juga sudah lebih baik, mengetahui keadaan sang istri dan anak-anaknya baik-baik saja, Rania juga sudah di nasehati agar tak bermain kater sembarangan, anak se usia Rania memang sedang aktif-aktif nya mengasah bakat, membuat anak itu menyalurkan imajinasi dan kreativitas yang dia miliki jadi semua memaklumi.


Rinjani tidak pernah menyangka jika akan mencintai Ansel sebesar ini, Ansel pemuda yang sangat luar biasa, tidak hanya masih muda tetapi Ansel memiliki cinta yang tulus, kelembutan hati serta keteguhan jiwa yang membuat wanita seperti Rinjani begitu jatuh cinta


Rinjani menerima semua sentuhan dari suaminya dengan penuh cinta untuk menguraikan seluruh perasaan yang ingin saling di salurkan untuk meredam kegelisahan. mereka bercumbu lembut saling memberi buaian masing-masing, seperti tak ingin di pisahkan


" Kak" Rinjani menengadah memandang wajah suaminya yang begitu tampan dengan bulu-bulu kasar yang mulai memenuhi rahangnya, membuat pemuda itu terlihat lebih dewasa


" Aku mencintaimu" ungkap Rinjani yang mampu menerbitkan senyum manis di bibir Ansel.


" Alhamdulillah, pengajuan proposal hatiku tak sia-sia" Mata hazel itu terbuka dan ikut menatap wanitanya, membuat pandangan mereka bersiborok


Saling berpandangan membuat getaran hati keduanya menghangat, entah siapa yang mulai duluan, nyatanya kini mereka sudah saling berbagi napas hangat.


" Aku lebih mencintaimu Rin" balas Ansel, jempolnya membelai lembut bibir ranum Rinjani, mengecupnya sekilas, kembali dibelai, kembali dikecup hingga perlakuan berulang itu membuat kepala Rinjani pening akan sensasi nya, pembawaan Ansel yang tenang, prilakunya yang hangat, tutur kata lembut serta teliti dengan keintiman yang membuat nyaman sukses menjadikan Rinjani terbuai, tidak hanya tubuhnya, hatinya, perasaannya bahkan seluruh jiwa, raga wanita cantik yang sedang bergelung di pelukan Suaminya

__ADS_1


" Rinjani___" bisik suara berat yang menyisir halus daun telinga Rinjani " Aku tidak akan buru-buru tetapi sepertinya aku mendengar suara anak kita rindu di jenguk Daddynya!"


Sontak saja Ucapan Ansel membuat Rinjani tertawa


" Modus" Rinjani memukul lengan Ansel lirih, yang mampu membuat pemuda disampingnya ikut tertawa.


" Modus sama permaisuri sendiri tidak masalah kan?!"


" Permaisuri??" tanya Rinjani dengan ekspresi geli.


" Ya' Ansel Raja, Rinjani permaisuri, ngak salah kan??" Alis Ansel menyatu menatap serius istrinya


" Raja Gimbal"


" Gombal, sayang!" koreksi Ansel yang membuat keduanya tertawa.


" Maaf sudah membuat Kaka khawatir, sampai meninggalkan pekerjaan di tengah jalan"


" Tidak masalah, asal aku dapat Hadiah!"


" Hadiah? apa??"


" Berikan dunia mu untuk ku!"


Rinjani tersenyum lebar, ia mengecup kilat bibir Ansel " Apa itu cukup?"


Ansel tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya " Kecupan kilat belum bisa melegakan rasa sesak ku tadi karena khawatir sayang"


" Baiklah, asalkan Kaka memaafkan ku , akan ku penuhi semua yang Kaka ingin kan dariku."


" Termasuk duniamu?" Tanya Ansel


Rinjani mengangguk


" Hatimu?"


" Ambillah!"


" Tubuhmu??"


" Pakailah!"


"Baiklah. Dengan senang hati " senyum merekah terpatri di bibir Ansel, dengan semangat pemuda itu membuat dirinya polos tanpa busana, membuat Rinjani tak mampu berkata-kata.


" Izinkan aku ciluk ba dengan anak kita, kuharap kau tidak keberatan!"

__ADS_1


__ADS_2