Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Rencana


__ADS_3

" Apa tidak terlalu berlebihan Tuan??"


" Tidak, lakukan sesuai instruksi ku, mereka sudah membuat anak ku pergi dengan sakit hati, biadab" Geram seseorang yang yang mengunakan kursi roda.


" Tuan Muda akan marah jika tau masalah ini Tuan ku"


" Anak lemah itu tidak akan pulang dalam waktu dekat, dasar pengecut, dia terlalu setia sampai dendam ku sekian lama tak terbalas gara-gara anak itu, pergilah__ pastikan berjalan sesuai rencana" Geraman tertahan itu terdengar sangat nyaring di ruangan yang gelap


Ke empat orang itu membungkuk hormat, sebelum meninggalkan pria bermata gelap malam itu bersama seseorang yang berdiri di belakangnya.


" Kali ini keluarga itu akan benar-benar hancur" Pria itu tersenyum culas dengan aura wajah yang meremehkan


" Bawa aku pergi dari sini, sepertinya malam ini aku akan benar-benar tertidur nyenyak, rasanya sudah tidak sabar melihat kehancuran Nikolas jahanam itu" Gunamnya dengan tawa yang mengelegar.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


" Sayang__ minum susunya dulu" Bisik Ansel lembut mengelus lembut pipi kemerahan Rinjani.


" Ehh" Rinjani hanya melenguh dan kembali terlelap, membuat Ansel gemas.


Ansel menyisipkan tangannya, membelai punggung istri nya yang terbuka membuat sang empu mengeliat geli


" Sayang aku ngantuk" Rinjani menyahut dengan suara parau


" Minum susu dulu, baru tidur lagi" Bujuk Ansel mencium kelopak mata Rinjani


" Tapi aku mager sayang, besok ajah ya bikin susunya" Rengek Rinjani seperti anak kecil.


" Tinggal minum, sudah aku buatkan" kata Ansel lagi.


" Hmm__ " Rinjani mengucek matanya ringan. " Beneran Udah di buatin??" Tanya Rinjani


" Iyaaa__ ini" Ansel mengangkat gelas yang berisi susu.


Rinjani buru-buru bangun dan meminum susu buatan Ansel dengan semangat, sebenarnya dia sedikit lapar Karena habis olahraga dengan sang suami, tetapi Rinjani malas bergerak, matanya juga sudah seperti di beri lem, maunya merem anteng.

__ADS_1


" Ahh__ Alhamdulillah" Rinjani tersenyum dan mengecup pipi Ansel sekilas sebelum kembali tidur"


Ansel terkekeh kecil melihat tingkah istri nya, setelah menaruh gelas di nakas, Ansel juga menyusul Rinjani untuk tidur, memeluk tubuh istrinya yang sehalus Baby , Tubuh polos yang hanya tertutup selimut tebal.


Waktu masih sedikit gelap saat mata Rinjani terbuka, matanya bersiborok dengan netra hazel milik suaminya yang menatap nya dalam dan ada keintiman seperti sedang menginginkan nya, astaga__ bahkan ini masih sangat pagi, haruskah mereka kembali olahraga ranjang?


" Sentuh aku, Sayang" Ansel menawarkan dirinya dengan suara dalam


Sebenarnya Rinjani ingin protes, karena waktu subuh sebentar lagi


" Janji tidak akan lama, biarkan aku memasukkan nya lagi"


Bagaimana Rinjani bisa mengelak ketika Ansel bisa membuatnya nyaman dengan sentuhannya sekali lagi


Ehmmmm__ Kak " Rinjani terpekik saat Ansel


menawarkan dirinya, selama ini Ansel tidak pernah seperti itu, jadi ya Rinjani sedikit asing


Kelopak mata Ansel mulai meredup berat dan berkabut oleh gelombang yang terus mengulung , sebelum runtuh, Ansel segera menarik pinggang lembut istrinya, membawanya berada di atas tubuhnya untuk di satukan.


" Kak___" Rinjani memeluk erat leher suaminya, dan berpegangan kencang disana.


" Aku menyakitimu??"


Rinjani mengeleng, atas pertanyaan suaminya, Rinjani memang sama sekali tidak disakiti


" Aku akan keluarkan di luar" Ucap Ansel di sela Rintihan lembut nya


Rinjani mengangguk, laci di samping wastafel itu sampai berdenyit karena ulah keduanya.


" Sayang___" Ansel tau akan segera kalah, karena sejak awal dirinya memang sudah hampir meledak sebelum bertempur.


Ansel segera mencabut miliknya dan mengenggam erat agar cairan nya tak tumpah sembarangan, Ansel tersenyum menatap istrinya yang bersandar lemas di atas kaca.


" Ini ganti nya nge Gym, aku harus berangkat lebih awal kekantor" Ansel mengecup pelipis Rinjani yang ikut basah karena cairan keringat.

__ADS_1


Setelah selesai sholat, Ansel meminta Rinjani untuk tidur lagi, anak-anak sudah di titipkan sama susternya untuk mengantarkan kekamar mommy nya kalau sudah mandi dan sarapan, sedangkan Rania akan berangkat ke sekolah bersama Ansel.


" Ngak usah ikut turun kalo sayang capek" Ucap Ansel.


" Aku ngak kenapa-napa Kak" Rinjani ikut turun sarapan.


Seperti biasa, sejak ada Rinjani dan Ansel di rumah orangtuanya, sekarang mereka lebih sering sarapan bersama, tidak seperti dulu yang akan pergi tanpa sarapan satu sama lain, hanya di waktu tertentu saja mereka bisa makan bersama.


Obrolan hangat juga selalu mereka hadirkan, yang membuat suasana pagi semakin hangat, berbeda saat ada Nurry dulu, ruang makan akan sunyi senyap, karena Nurry tidak suka jika ada yang berbicara di saat sedang makan, tidak hanya itu , Nurry juga tidak membolehkan maid berkeliaran saat dirinya sedang makan


" Terimakasih" Ucap Ansel saat seorang maid memberikan susu untuk istrinya.


Rinjani tersenyum tipis, mereka bersoda, tetapi memiliki sifat yang sangat berbeda, Rinjani hanya sempat melihat Nurry berinteraksi dengan para maid saat dulu dirinya hamil, dan saat mereka ingin berenang, Nurry hanya mengatur satu orang sebagai pengatur seluruh tugas maid , yaitu kepala pelayan.


" Maaf Tuan ku__" Maid dan Ansel terkejut saat sup ayam yang dibawa pelayanan tumpah mengenai kemeja Ansel.


Tiba-tiba Ansel berdiri, kuah itu masih sangat panas, jelas saja Ansel terkejut, Ansel mengibaskan kemejanya


Semua juga ikut khawatir, begitupun Rinjani, Rinjani takut Ansel membentak wanita paruh baya yang sudah menumpahkan sup ayam panas ke sebagian tubuhnya, tatapi nyatanya Ansel, tidak melakukannya, Ansel hanya segera mengambil tisu untuk mengelap kemejanya.


" Bibi hati-hati" Tegur Mama Ansel.


" Ngak Papa Ma, Bibi juga tidak Sengaja" bela Ansel sambil tersenyum, seolah berkata dia baik-baik saja. " Aku ganti dulu, soal nya ada rapat direksi pagi ini sekalian aku ambil tas dan jas ku" ujar Ansel berdiri dan berjalan ke arah tangga.


" Ma, Pa, Rinjani bantu kak Ansel dulu" Rinjani juga gegas menyusul suaminya keatas untuk berganti pakaian


Kedua orang tua Ansel ikut sangat bahagia, menyaksikan keharmonisan mereka berdua, meskipun dulu pernikahan mereka begitu rumit, nyatanya mereka bisa saling menerima, Rinjani wanita baik dan tulus, mustahil jika tidak bisa merawat Ansel, tetapi nyatanya Ansel bisa sangat bertanggung jawab, Pemuda tampan itu sudah layak menjadi Ayah yang sesungguhnya.


" Biar ku bantu" Rinjani melepas kancing kemeja suaminya yang sedikit basah, kemeja putih itu berubah menjadi kekuningan di bagian perutnya


" Kenapa tidak sarapan saja, sebenar lagi si kembar akan bangun dan kamu belum sempat sarapan"


" Aku bantu suami dulu, itu lebih penting" Ujar Rinjani sambil mengambilkan kemeja baru untuk Ansel, kemudian membantu mengenakan nya


Saat tangan Rinjani mulai mengancing, Ansel mengecup kening Rinjani

__ADS_1


" Aku terlalu berlebihan, sebenarnya aku sedikit gelisah sejak terbangun, tolong maafkan aku Sayang" Ansel meraih tangan istrinya untuk di kecup, kemudian menunduk untuk mengecup perut istrinya. " maafkan Daddy karena egois, tolong jaga Mommy dengan baik, Daddy kerja dulu"


__ADS_2