
Rinjani menitihkan air mata nya saat menghadiri pernikahan Ben dan Maina, mereka telah resmi mengikat janji pernikahan, terlihat begitu mengharukan, jika dalam perjalanan pernikahan akan ada dimana fase pertama dan seterusnya, Rinjani dan Ansel sudah melalui proses itu, saat ini mulai menyongsong ke fase berikutnya, tetapi bahkan sebelum menikah ujian mereka, Ben dan Maina sudah begitu berat tapi tak memutus cinta dari kedua buah
Setiap mahluk yang bernyawa pasti melalui ujian dan ujian, tetapi bukan untuk kalah dan menyerah, melainkan mencari cara untuk mencari penyelesaian dan cara agar dapat melalui nya.
Untuk pertama kalinya Rinjani bertemu dengan keluarga besar Al-Biru yang sebenarnya, Rinjani merasa takjub melihat sepupu-sepupu Ansel yang memiliki wajah sama, ternyata anak kembar bukan hal yang baru di keluarga Al-Biru, bahkan sudah hal yang wajar kelahiran dua dan tiga anak sekaligus.
" Berapa bulan??" Tanya Rinjani ramah pada Nadia, istri dari Braham Al-Biru, anak dari Kaka Mama Nurry.
" Baru empat Bulan" senyum lembut yang menyejukkan tampak di bibir merah wanita itu dengan raut malu-malu
Rinjani sampai membandingkan antara perutnya dan perut Nadia yang terlihat sangat berbeda.
" Ini kembar tiga lagi" keterangan lirih itu kembali terdengar.
Rinjani tersenyum takjub, bagaimana susahnya ketika hamil tiga orang anak sekaligus sedangkan dua saja sangat melelahkan.
" Anak keberapa??"
" Anak ke tiga tetapi akan menjadikan delapan kepala" bukan Nadia yang menjawab melainkan Braham yang tampak menghampiri sang istri.
" Ternyata kau sangat cantik Rinjani" Puji Braham tersenyum ramah.
Rinjani hanya menanggapinya dengan senyum kecil, kalau diperhatikan wajah sepupu-sepupu Ansel tampak begitu mirip dari wajah satu kewajah lainnya.
Meskipun Rinjani diterima begitu baik di tengah keluarga Al-Biru tetapi Rinjani masih merasa canggung, biar bagaimanapun meski dirinya menjabat menantu Al-Biru sudah bertahun-tahun, nyatanya ini pertama kalinya dirinya baru di izinkan hadir ditengah-tengah keluarga, dulu saat bersama Nurry, setiap acara keluarga, Nurry tak mengizinkannya untuk ikut, Rinjani selalu mangkir, karena Nurry memiliki watak keras, dan tak ingin sekedar memperkenalkan dirinya, TIDAK PENTING, itu yang selalu pria itu ucapkan.
Saat seperti ini, Rinjani baru bisa menatap wajah-wajah keluarga besar Suaminya, mereka orang berada yang tampak ramah-tamah ada satu yang menyita perhatian Rinjani di pesta Ben, yaitu sepupu Ansel dari sang Papa.
Seorang wanita yang tampak cantik dan anggun satu-satunya wanita yang memakai hijab di antara keluarga besar Al-Biru.
__ADS_1
" Dia namanya Jingga Al-Biru" Ansel menghampiri sang istri dengan informasi kecilnya.
" Cantik Kak" Puji Rinjani dengan memandang Jingga.
Ansel dan yang lainya sedang menikmati momen kebersamaan saat tiba-tiba, seorang wanita tamu undangan mendekati Rinjani.
" Ohh, jadi ini wanita yang matre, yang rakus nikah sana keluarga Al -Biru??, Kaka nya mati gaet adiknya?" Ucap wanita itu menuding terang-terangan Rinjani.
Rinjani tertohok mendengar ucapan wanita tersebut, Rinjani bingung siapa sebenarnya wanita ini, mengapa tiba-tiba menghujat nya?
" Tante apa-apaan sih??" Nadia menyahut ketus.
" Tante tu kalo ngomong dijaga, bagaimana calon suami Jingga ngak pada kabur, kalo peringgai Tante seperti ini??" Terlihat sekali Nadia tidak menyukai wanita yang sepertinya Ibu dari wanita yang baru saja di puja oleh Rinjani.
Ansel menarik Rinjani. " kita kedalam sayang, banyak yang ingin bertemu dengan mu" ucap Ansel tanpa melirik sedikitpun pada wanita paruh baya yang mengolok Rinjani.
" Memang ya, jauh betul penerus Al-Biru dulu dan sekarang, kalo Nurry dulu sama sekali ngak terpengaruh dengan perempuan, tegas dan berwibawa, ngak lemah dan penyakitan kayak penerus yang sekarang"
Ansel memejamkan matanya rapat sebelum membuka suaranya
" Maaf Tante, aku ngak pernah tanggapin Tante bukan karena aku takut, tetapi karena aku menghormati Tante, jika tidak saat ini juga cap lima jari sudah menempel bak stempel di pipi Tante karena berani mengejek istri ku" Suara Ansel benar-benar dingin
Ansel segera membawa sang istri menjauh dari adik perempuan Papa nya
" Kak"
" Inilah alasan Niel tidak pernah membawamu ke pertemuan keluarga" ucap Ansel tersenyum pada sang istri
" Sejujurnya ini juga pertama kalinya aku berada di situasi seperti ini, karena dulu Niel juga tak mengizinkan aku hadir di tengah keluarga seperti ini, Niel tidak bisa mendengar orang yang di sayangnya di hina, bukan berarti aku suka, tetapi menurut ku pertemuan seperti ini penting untuk menjalin silaturahmi, lagian orang menghina sebatas ucapan sayang, kalo kita tidak tanggapin dia juga berhenti nanti, aku dulu nurut sama Niel, karena Niel tempramen, aku tak mau hanya karena masalah sepele keluarga Papa dan Mama renggang jadinya"
__ADS_1
Rinjani menoleh kearah Ansel, ternyata Nurry juga bersikap sama pada Ansel, tetapi yang di ucapkan Ansel benar pertemuan seperti ini bagus mempererat hubungan sodara
" Kalian ini, sudah tidak pernah ikut acara kumpul begini, begitu ikut eeee___ malah mojok" Gadis cantik bermata biru itu tersenyum menghampiri Ansel dan Rinjani. " Tante Hanny memang gitu, namanya tak semanis ucapannya, kita-kita mah sudah biasa, udah tua ini, entar juga lewat" wanita itu tertawa.
" Hanny kau disini??" Seorang pria seumuran Ansel menghampiri wanita itu dan memeluknya posesif
" Jangan panggil itu mix, aku takut ketularan mulut judes ratu nyinyir" Ucap siwanita menghempas tangan pria itu.
" Mereka Mixayla dan Mixael" ucap Ansel memperkenalkan.
" Jangan kaget, kami ini kembar tapi banyak yang mengira kami sepasang kekasih" Ujar mix tertawa
Bagaimana tidak, Rinjani tadi juga menyangka begitu, ternyata jika kembar sepasang cewe cowo, kemiripan nya tak mencolok, apalagi di dongkrak dengan si wanita yang ber mek-up sangat jauh.
" Ternyata keluarga Al-Biru banyak" Ucap Rinjani menanggapi.
"Para sepupu ada lebih empat puluhan, tetapi dengan bertambah kembar putra-putri kecil sudah beranak Pinak sampai tak terhitung" ucap Mix , yang di hadiahi pukulan di lengannya oleh kembaran nya.
" Itu terlalu berlebihan" ujar wanita itu tersenyum.
Rinjani tak menyangka bisa bertemu dengan para sepupu Ansel di pesta pernikahan Ben.
Sedangkan dipernikahannya dulu dengan Nurry maupun Ansel Rinjani tak di kenalkan sama sekali.
Mereka pulang terlebih dahulu, mengingat Rinjani sedang hamil, Ansel tak ingin istrinya kelelahan, sepanjang jalan Rinjani termenung dengan menatap keluar jendela.
" Sayang" Ansel mengapai tangan Rinjani.
" Iya Kak, Rinjani juga langsung menghadap suaminya
__ADS_1
" Setelah ini mungkin aku akan sering terlambat pulang, karena Ben dan Maina pasti ingin pergi bulan madu"
Rinjani tak menjawab tetapi kepalanya mengangguk.