
Ansel masuk didalam villa milik Awan yang ia gunakan untuk menyembunyikan dua sepupunya
Andrean dan Ben yang sebelumnya di hubungi Ansel turut masuk kedalam kamar, begitu Ansel mendekat sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya, tidak hanya itu air liur Merry juga langsung diberikan tepat di wajah Ansel
Perbuatan Merry membuat Ben dan Andrean terkejut, rasanya sangat tidak sopan seorang wanita meludahi wajah pria, selain kurang ajar itu sangat menjijikkan
" Ansel berjalan tenang ke arah wastafel dan mencuci wajahnya, menghiraukan sumpah serapah Marry, lain halnya dengan Jingga yang hanya menunduk dalam
" Dasar pecundang, ngapain kau kesini, pergi!! seorang gangguan mental seperti mu membuatku jijik dan muak! ...kenapa kau tak mati saja??"
" Marry ... !!" Jingga menarik lengan sepupunya
" Ngak usah belain dia Kak ... !" tunjuk Merry pada Ansel "aku jijik dan muak lihat wajah nya, seandainya Om Nikolas tidak menikah dengan Tante Rub, tidak akan ada generasi memalukan dari keluarga kita"
Ben di buat geram dengan ucapan Merry, hati nya yang tadi ikut khawatir dan sedikit prihatin dengan wanita di hadapannya kini rasa iba akan nasib Merry melebur bersamaan dengan rasa jengkel, pantas saja semasa hidupnya Nurry selalu menjauhkan diri dari keluarga besar Papa nya ternyata ini salah satu alasannya, pepatah yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kelakuan Merry cukup menunjukkan bahwa ia dan Ibunya pun memiliki sifat yang sama.
Begitupun Andrean. Pemuda yang kini sudah menjadi salah satu kepercayaan keluarga Al-Biru ikut kesal, meski Andrean seperti pemuda pada umumnya, tidak tempramen, tidak dingin, tidak juga terlalu ramah pada seseorang yang tidak dikenalnya, tetapi jelas dari wajahnya Andrean ikut jengkel melihat tingkah sodara sepupu yang menghina sodara nya sendiri di hadapan orang lain, namun karena tidak ada perintah apapun dari Ansel mereka hanya diam
" Sudah bicaranya?" Tanya Ansel, setelah sekian lama diam, membiarkan sepupu ya mencaci maki dirinya tanpa menyahut atau membalas
Merry membuang muka, tak Sudi memandang wajah Ansel, berbeda dengan Jingga yang menatap sepupunya
" Apa kamu yang membawa kami kesini Sel?" Tanya Jingga dengan air mata yang ingin jatuh
Ansel balas menatap wajah sepupunya.
" Katakan padaku kenapa kau mendukung sesuatu yang keliru ??"
__ADS_1
Ansel dapat melihat mata Jingga bergerak gelisah, meskipun saat ini mata itu terisi genangan air mata yang siap jatuh
" Mak - maksudnya apa?"
" Apa yang kau ketahui tentang Phonix Jabir?" Pancing Ansel
Tubuh kecil Jingga tampak menegang, sebelum wanita berhijab itu mengeleng pura-pura tidak tahu
" Aku tidak mengira wanita-wanita cantik seperti kalian memiliki hati yang buruk, harusnya sebagai wanita terhormat kalian mencegah prilaku tercela Mama kalian, tidak malah mendukung"
Tubuh Ansel di dorong oleh Merry, tampak wajah wanita itu memerah , entah karena amarah atau karena hal lain
" Terserah kami mau mendukung apa, apa pedulimu, urus dirimu sendiri idiot .. ! ngak perlu urusi hidup kita"
Ansel menarik pergelangan tangan Merry membawa gadis itu terhimpit tembok, dua tangannya di angkat di atas kepala dan satu kaki Ansel mengunci dua kaki jenjangnya
" Bagaimana aku tak perduli jika perusahaan dan istri ku yang kalian pergunakan sebagai jaminan?" Ansel tersenyum tipis, tetapi justru membuat Merry kehilangan kata-kata nya.
" Ansel itu sudah sangat lama, pasti hutang itu sudah dilunasi oleh Mama dan Tante Jeselyn"
Jingga menarik lengan Ansel agar melepaskan Merry.
Ansel memang segera melepaskan, tetapi kini giliran Jingga yang mendapat perilaku seperti Merry
" Tetapi kebenarannya tidak!! ... Ansel menatap kedalam manik kecoklatan milik Jingga " empat hari dari sekarang, Phonix Jabir akan menyita perusahaan beserta ... " Ansel sengaja mengantung kata-katanya sebelum menjauhkan diri dari Jingga
Setelah Ansel melangkah menjauh Ansel kembali menoleh untuk melihat dua wajah sepupunya bergantian
__ADS_1
" Persiapan diri kalian, karena setahuku Phonix Jabir bukan pria yang baik!"
" Maksudnya?" Tanya Merry teriak
Ansel tersenyum menenangkan, sebelum pemuda itu melangkah keluar tanpa penjelasan apapun, Ansel yakin mereka berdua mengerti, sama seperti mereka mengerti tentang keburukan Mama mereka, tetapi justru mendukung, bagaimana bisa ada orang yang tega menjaminkan seorang wanita yang tengah hamil, tidak hanya kini, tetapi dari dua tahun hitungan saat itu Rinjani di jaminkan saat masih mengandung Ivan dan Ivander, andai saja Merry dan Jingga tidak tau perihal itu mungkin Ansel akan mencoba membebaskan sepupunya, tetapi kebenarannya mereka tau, dan dari kata-kata Merry dirinya tampak jelas membenci Ansel, yang Ansel sendiri tidak tau mengapa.
" Kalian kembali ke perusahaan! .... Aku harus menemui Rinjani di rumah"
Ansel, Ben dan Andrean mengendarai mobil masing-masing
Rinjani sedang membuat salad buah saat Ansel tiba-tiba memeluknya dari belakang. Ansel menarik Rinjani lebih merapat, membawa tubuh istrinya berbalik untuk dia cium dengan intens dan dia raba perutnya. Ansel meluapkan rasa leganya, usahanya untuk menjaga istri dan anaknya tidak sia-sia. Ansel tidak akan membiarkan siapapun mengusik ketenangan hidupnya, terlebih yang berani menyakiti wanitanya, kini Rinjani adalah istrinya, sudah menjadi tugasnya untuk menjaga wanita itu seluruhnya
Ansel mendapat telepon dari orang tuanya, membuatnya harus sedikit menjauh dari Rinjani, dan membiarkan istrinya duduk di meja makan . Sepertinya balasan untuk kedua orang tak tau balas budi itu sudah di mulai, orang tuanya memberitahu bahwasanya kini tantenya sedang kelimpungan menjuali seluruh perhiasannya, menawarkan rumah yang mereka tinggali dan usaha mencari pinjaman pada bank .
Rinjani memperhatikan suaminya yang sedang berdiri sambil berbicara dengan ponsel ditangan nya, pemuda yang sangat tampan, tidak hanya tampan. Tetapi Ansel memiliki hati yang sangat luar biasa baik. Banyak hal yang dilihat Rinjani dari suaminya. Pria yang memiliki kasih sayang tulus untuk anak-anaknya, Ansel bukan hanya malaikat untuk anak-anaknya, tetapi pemuda itu juga memiliki cinta yang teramat besar yang dapat Rinjani rasakan
" Apa yang sedang kau lihat ?" Tanya Ansel saat mendekat dan duduk di kursi makan
Rinjani mengeleng " Bagaimana pertemuan dengan Phonix Jabir??"
Ansel memasukkan ponselnya kedalam kantong celana, sebelum membawa tubuh istrinya kedalam gendongan nya untuk segera di bawa kedalam kamar mereka
" Kita bicara di kamar saja, agar tak menganggu si kembar dan Rania" Ansel mengecup bibir Istrinya sekilas, saat melihat Rinjani yang akan membuka suara
Ansel dan Rinjani baru saja kembali dari rumah sakit, sepanjang perjalanan pulang Ansel tak bisa menutupi wajah bahagia nya, tadi sebelum kerumah sakit ada paket yang mengantarkan kiriman atas namanya. Begitu dibuka ternyata itu adalah surat kesepakatan dari Phonix Jabir yang sudah tidak ada lagi nama Rinjani di dalamnya, bahkan tidak hanya itu, Phonix Jabir menuliskan agar Ansel mau memikirkan tawarannya untuk menjadi tangan kanan ketua mafia itu. Dan kini seolah kebahagiaan Ansel semakin lengkap saat Dokter memberitahu tentang jenis kelamin anaknya yang ternyata perempuan, tidak di pungkiri, setelah menikah dengan Rinjani Ansel memang menginginkan seorang putri untuk melengkapi kehidupan mereka
Ansel memiliki duplikat dirinya yaitu Ivan, Ansel sudah menganggap dua jagoan itu adalah putra nya sendiri jauh sebelum diri nya menikahi ibunya, ikatan batin dirinya dengan Ivan juga sudah seperti Daddy dan anak kandung
__ADS_1
Rinjani juga tak menyangka saat Ansel tak hentinya menciumi perutnya meski mereka masih berjalan di koridor menuju parkiran, membuat banyak pasang mata menatap iri kebersamaan mereka, dan kini pemuda itu sepanjang jalan sampai tiba di rumah wajahnya terus dihiasi dengan senyuman, Rinjani merasa sangat bahagia melihat bagaimana suaminya yang juga bahagia.