
Mereka benar-benar kembali ke Indonesia, setelah menempuh kurang lebih 18 jam, akhirnya Ansel, Rinjani, beserta anak nya tiba di kediaman orang tua Nurry.
Semua masih terlihat sama, tidak ada bedanya sama sekali baik suasana dan segala Rumah itu.
Rinjani dan Ansel sedang berada di kamar Mama nya, sedangkan anak-anak sudah berada di kamar yang disediakan untuk mereka bersama para suster.
" Mama sangat senang hanya dengan melihat kalian yang masih terus bersama" Mama Ansel melihat putra dan menantunya.
Mama Ansel sangat tau jika Rinjani adalah wanita baik dan lembut, sangat tidak mungkin Rinjani mengabaikan putranya, Ansel juga terlihat bahagia , itu berarti perjodohan mereka tidak lah salah, meskipun keduanya masih belum bisa saling mencintai, Mama Ansel berharap mereka sudah mulai bisa menerima.
"Kalian istirahat saja, Ansel, Jani, cobalah untuk tidur dikamar yang sama, apakah selama ini kalian masih tidur di kamar terpisah??"
Ansel dan Rinjani saling tatap, ohhh tidak tau Mama nya bahwa mereka sudah sekamar bahkan sudah suka saling menempel tiga hari ini, meskipun dikatakan tidur layaknya suami istri baru sekali tapi langsung dua ronde tetap saja mereka tidak ingin pisah kamar lagi, ehhh!!
Ansel terseyum, kemudian meraih pinggang Rinjani.
" Kami sudah saling menerima Ma" ujarnya , Rinjani mengangguk menyetujui
Mama Nurry membekap bibirnya takjub.
" Oh Tuhan__" Mama Ansel tak mampu menyembunyikan rasa kagumnya.
Setelah membuat Mama dan Papa nya sedikit bahagia mengetahui hubungan mereka yang ada kemajuan
Ansel membawa Rinjani masuk kedalam kamarnya, kedalam kamarnya, bukan kamar Nurry atau kamarnya dulu bersama Bulan, kamar ini dulunya ruang kerja, tetapi setelah menikahi Rinjani satu Minggu Ansel merubah kamar kerja nya diam-diam, kamarnya tetap satu kamar dengan kamar miliknya saat bujang tetapi beda tempat tidur karena kamarnya lebih menjorok keluar.
" Kamar yang indah" puji Rinjani.
" Sayang apa kau lelah!"
Rinjani tertawa " Aku tidur sepanjang perjalanan , sekarang aku merasa fit"
" Kita keluar!"
__ADS_1
" Jalan? Kemana? Mau, tapi kamu ngak capek??"
" Untuk Ngedete dengan istri ngak bakal cape dong" ujar pemuda itu sudah mengeluarkan sesuatu dari lemari pakaian. " pake ini sayang, bisa ganti celana? Aku akan membawamu ketempat dimana belum pernah ada yang membawamu kesana!" ujar Ansel
Rinjani menerima jaket berbahan taslan anti air dan sepatu yang masih ada label nya tanda bahwa barang itu masih baru.
Tanpa protes Rinjani segera mengikuti keinginan Ansel, tak pernah Rinjani sangka ternyata jaket, sepatu, bahkan mereka terlihat dengan style yang sama,
" What??" Kaget Rinjani, astaga mereka seperti muda mudi yang benar-benar akan pergi berkencan, jaket sama, sepatu sama, kenapa jadi seperti sepasang kekasih??
"Let's Go" Ansel menarik Rinjani dengan semangat, Rinjani malah ingin tertawa melihat penampilan mereka
Rinjani benar-benar tak menyangka saat Ansel justru mengambil kendaraan beroda dua di banding sederet mobil yang berjajar di garasi Papa nya.
" Kemarilah!" Ansel mengajak Rinjani untuk naik motor
Ayolah Rinjani seperti mimpi, ternyata Ansel bisa naik motor, Rinjani dengan semangat segera duduk di belakang Ansel.
" Sayang pegangan, jangan khawatir, akan ku jaga keselamatan kita dengan segenap nyawa"
Ayolah!! Rinjani sangat terpesona dengan ucapan dan tindakan Ansel.
Rinjani benar-benar di bawa Ansel seperti anak muda yang sedang berkencan, rasa capek sepanjang perjalanan dari Inggris, bisa lenyap tak terasa, Padahal mereka tiba di tanah air sudah jam enam sore tetapi sampai jam sembilan malam mereka masih menghabiskan waktu bersama di luar, Ansel membawa Rinjani makan di pinggir jalan dengan suasana asri dengan iringan pengamen jalanan, Rinjani benar-benar tidak tau bahwa masih ada lingkungan seperti ini di sekitar Jakarta, setelah makan Ansel membawa Rinjani ke pantai sambil menunggu waktu Maghrib, setelah sholat di masjid pantai, Ansel membawanya ke pasar malam, bahkan Ansel mengajak Rinjani untuk naik satu permainan keranjang putar yang seperti kincir angin, tidak sampai disitu Ansel membawa Rinjani lagi ke taman kota menikmati secangkir kopi dengan segerombolan anak-anak muda yang bermain gitar.
Hati Rinjani berdenyut, mengapa hal seperti ini justru membuat rasa se istimewa ini? Rinjani seperti merasakan arti kebahagiaan hidup, bahkan saat menjadi mahasiswi saja Rinjani tak pernah sebebas ini, bisa nongkrong tanpa takut ada pundak yang bisa di sandarinya nyaman, kenapa bersama Ansel Rinjani bisa merasa se bebas ini?
" Lihatlah"
Ansel menunjuk Pemuda tampan yang baru turun dari mobil di ikuti tiga orang lainnya yang Rinjani perkirakan mereka adalah bodyguard pemuda itu.
" Percayalah, ada kalanya pemuda itu menginginkan kebebasan seperti kita" ucap Ansel sambil mengecup tangan Rinjani.
Rinjani jadi faham mengapa Ansel menyembunyikan jati dirinya, karena Ansel tidak mau seperti pemuda itu, Ansel ingin bebas seperti kupu-kupu, bukan seperti burung dalam sangkar.
__ADS_1
Rinjani jadi memikirkan kehidupan sebelumnya, bersama Akbar Rinjani memang cukup bahagia, tetapi hidupnya serba kekurangan, bersama Nurry Rinjani sangat bahagia tetapi benar Rinjani seperti terkurung dalam sangkar emas, Nurry yang tersohor, kemanapun orang akan menyoroti tindakan mereka, terlebih Nurry juga pencemburu yang sesungguhnya, Nurry tidak jahat padanya tetapi memang ingin selalu menyembunyikan Rinjani, Segala yang di lakukan Nurry akan selalu membuatnya tersanjung, segala hal mewah selalu Nurry berikan untuk Rinjani, jangankan naik motor, seandainya bisa Nurry ingin menyembunyikan dirinya di dalam dompet agar tak terkena hembusan angin, sedangkan Ansel?? pemuda ini tidak memberinya kemewahan, tidak juga nama yang tenar, tetapi Ansel mampu memberikan rasa nyaman dengan segala kelembutan dan rasa sayang.
" Kau mengantuk??" Ansel memeluk tubuh Rinjani dari samping, semakin malam akan semakin ramai.
" Akan ku buat kau lupa rasa ngantuk" bisik Ansel, pemuda itu tiba-tiba menjauh yang membuat Rinjani bingung, Tetapi detik berikutnya Rinjani di buat ternganga, saat Ansel ikut bergabung bersama gerombolan pemuda yang sedang memainkan musik.
Siapa yang tidak meleleh, saat tiba-tiba ada pemuda tampan yang menyanyikan lagu cinta untuk nya dengan petikan gitar yang bahkan pemuda itu sendiri yang memetiknya dengan jemari yang Rinjani tau masih sakit. Tatapan pemuda itu tak lepas darinya, binar mata itu penuh cinta dan dirinya lah yang di lihat.
Rinjani benar-benar menitihkan air mata nya, saat Ansel memeluknya di depan banyak anak muda setelah selesai menyayikan lagu romantis, bahkan Ansel berteriak.
"This is my most beautiful wife" Yang membuat suasana malam itu benar-benar menjadi momen berharga untuk Rinjani, wanita itu merasa di cintai, ucapan dan doa juga di ucapkan banyak orang untuk dirinya dan Ansel, Rinjani menangis di pelukan Ansel dengan rasa bahagia luar biasa.
" Selamat bersenang-senang, istri ku sudah mengantuk, sampai jumpa lain hari" Ansel berpamitan pada mereka seperti kawan lama dengan mengangkat tangan nya, Rinjani sendiri tak menyangka ternyata Ansel adalah pemuda yang sangat pandai bergaul
" Apa kau lelah??
Rinjani mengeleng, Ansel sedang memakaikan nya helm.
" Ansel, terimakasih, aku bahagia"
Ansel tersenyum. " Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk mu Rinjani, karena ya aku bukan bule kaya!" Ansel merendah dan itu membuat Rinjani tersenyum.
" Tetapi itu bukan berarti aku juga Bugil" sangah Ansel.
Rinjani reflek melihat Ansel dari ujung kaki sampai ujung kepala.
" Apa yang kau pikirkan? Ansel tak mampu menahan senyumnya " Rinjani maksud perkataan ku Bugil, itu bule gila bukan seperti yang kau pikirkan!"
Sumpah demi apa Rinjani langsung menutup kaca helm nya dan pura-pura tidak dengar, dan itu sukses membuat Ansel terpingkal.
Keduanya pulang dengan hati yang sama-sama puas dan bahagia, Rinjani memeluk tubuh tegap suaminya menghalau rasa dingin karena angin malam.
Ansel pun turut mengenggam tangan Rinjani yang melingkar di pinggang nya sesekali saat suasana memungkinkan, tidak sedang ingin mengerem atau memainkan Persneling motor nya.
__ADS_1