Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Berubah


__ADS_3

Akhirnya setelah genap tiga Minggu di rawat di rumah sakit, Rinjani di perbolehkan pulang, bukan luka fisik yang perlu pemulihan lama, tetapi lebih ke psikisnya.


Memang sih Rinjani kelihatan baik-baik saja, tetapi jauh di dalam hatinya sangat sedih mengetahui kepergian suami, dua putranya dan sahabat nya karena ulah seseorang yang haus balas dendam, bisa dikatakan di bunuh dengan cara tragis, niatnya memang melenyapkan seluruh keturunan Al -Biru, itu berarti Seandainya sesuai rencana, bahkan dirinya, Ansel bahkan Ivan dan Ivander ingin di lenyapkan semua.


Padahal sebenarnya Balas dendam tak akan menyelesaikan masalah, bahkan sebaliknya, justru akan memperpanjang masalah, kebanyakan pula setelahnya dendam itu justru membawa dengki tak terelakkan dan hanya mendapatkan kepuasan sesaat.


Dendam didefinisikan melakukan tindakan berbahaya terhadap seseorang atau kelompok sebagai tanggapan terhadap keluhan, baik itu nyata atau dirasakan. Dendam menjadi hal yang manusiawi, namun bila dilakukan secara berlebihan maka hal tersebut menjadi hal yang tidak baik, bahkan menjadi salah satu penyakit gangguan jiwa bila dilakukan secara berlebihan.


Seperti kasus yang menimpa keluarga Al-Biru, mereka menjadi korban salah sasaran yang tragis. meskipun kebenarannya itu semua adalah takdir, tetapi untuk menerima setelah mengetahui kebenaran nya pasti sedikit berat.


Beruntung Rinjani di dampingi seorang suami yang lembut dan pengertian, tak ada hentinya Ansel menenangkan Rinjani disaat tiba-tiba bayangan Nurry hadir, sejak mengetahui meninggal nya Nurry karena di rencanakan, Rinjani sedikit emosional dan mood nya berubah menjadi buruk setiap kali, mereka semua memaklumi terlebih saat ini Rinjani sedang mengandung.


" Sayang__" Ansel baru saja pulang dari kantor, seperti biasanya pemuda itu akan segera mencari keberadaan Rinjani di kamar mereka dan akan memeluk tubuh istrinya dengan lembut.


Rinjani menepuk punggung suaminya.


" Semuanya lancar??" Tanya Rinjani tak seperti biasanya yang hanya diam saat Ansel memeluknya.


" Ya, Alhamdulillah" Balas Ansel tersenyum sebelum mengecup hidung Rinjani. " Aku mandi dulu, setelah ini kita ke kamar anak-anak"


Usai mandi, Ansel terkesima saat matanya melihat baju ganti yang di sediakan di ruang walk in closed yang nyata baru di letakkan di sana, apakah Rinjani yang menyiapkan?? jika iya, Ansel sangat bersyukur karena nya


Ansel keluar dari wardrobe mengenakan baju yang disediakan oleh Rinjani, Membuat Rinjani tersenyum, nyatanya benar dirinya yang menyediakan baju ganti untuk suaminya.


" Terimakasih" Bisik Ansel menarik pinggang Rinjani, mereka akan turun, untuk makan malam bersama dan juga menemani anak-anaknya sampai mereka waktunya tidur.

__ADS_1


" Mommy ini Mommy jatuh" Rania memberikan sebuah anting "


Ansel mengerutkan keningnya.


" Oh, IYa sayang ternyata ketinggalan di kamar bermain ya, dari tadi mommy cariin" Ucap Rinjani dengan mencium pipi Rania.


Ansel mengarahkan pandangannya pada pengasuh si kembar, tampak keduanya mengangguk seraya tersenyum.


Sejuk hati Ansel mengetahui Rinjani sudah mau turun sendirian untuk menemui anak-anak nya, biasanya wanitanya akan terus mengurung diri, lebih sering anak-anak yang mendatangi Mommy nya.


Pernah sekali Ansel mendapati istrinya menangisi foto mendiang Kakanya seraya memukul-mukul dadanya, tidak dapat di ungkapkan sesaknya dada Ansel melihat itu, perasaan nya pun sama, setelah mengetahui tiadanya sang istri dan calon anaknya karena sebuah perencanaan ada luka lama yang terungkit, Ansel juga merasa sedih, tetapi tentu Rinjani lebih dalam dari pada dirinya.


" Nyonya mau saya ambilkan sendiri??" Tanya Maid yang membuat Ansel tersadar dari lamunannya.


Ternyata Rinjani sedang makan diatas piring yang sama dengan Ansel.


Melihat Rinjani yang kesulitan memotong daging, Ansel juga cekatan memotongnya, dengan garpu dan pisau


" Ivander sedikit demam kak, tadi sudah di periksa Dokter, ada gigi baru yang akan tumbuh di pangkal, sedikit bengkak gusinya".


" Wah, jagoan ku sudah besar, giginya sudah lengkap" Timpal Ansel menanggapi ucapan istrinya.


" Dari tadi tidur Bu??"


Sang pengasuh mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


" Apa bengkak nya sampai ke pipi??" khawatir Ansel.


" Tidak Tuan ku, hanya di gusi nya saja, Baby Ivander juga tidak rewel, hanya demam"


Ansel juga gegas menuju kamar putranya untuk memastikan, Rinjani membiarkan saja, nyatanya seharian ini Rinjani benar-benar menghabiskan waktunya bermain dengan anak-anak nya, sama seperti dulu, Rinjani juga sudah sedikit mengikis rasa sedihnya, apapun yang terjadi nyatanya Nurry tetap tidak akan pernah bisa kembali meskipun dirinya ingin, Rinjani akan semakin menumpuk dosa jika mengabaikan pemuda yang kini menjadi suaminya, tidak hanya pada Ansel, Rinjani bahkan seperti melupakan dimana dirinya berpijak.


Terpuruk akan rasa sedih, melupakan kewajiban nya sebagai seorang Ibu dan istri, sampai pada akhirnya Rinjani bermimpi Nurry memeluk suaminya semalam, entah petanda apakah itu, entah Nurry merasa sedih karena adik nya sedih ataukah justru Nurry akan membawa serta sang adik, dari situ kewarasan Rinjani mulai kembali, Nurry sudah tenang disana, terkuaknya misteri kematian nya hanya untuk mendapatkan pelaku yang membuat mereka kehilangan.


Ansel kembali ke meja makan


" Daddy, mommy, Rania selesai, Rania duluan, love Dad, Mom" Rania mencium pipi Ansel dan Rinjani bergantian sebelum masuk kedalam kamar nya.


Setelah pulang dari rumah sakit, Ansel membawa Rinjani pulang kerumahnya bersama Rinjani, bukan lagi ke rumah orang tuanya, karena khawatir akan membuat mereka cemas dan menyudutkan Rinjani, biar bagaimanapun, sebagai suami yang sama-sama merasakan terungkitnya perasaan sakit Ansel mencoba memaklumi dan memberi waktu sang istri untuk menenangkan diri.


Dokter juga mengatakan , Rinjani butuh waktu untuk menerima, tetapi jangan terlalu khawatir, bayi mereka sehat insyaallah akan baik-baik saja, Ibu nya butuh ketenangan hanya itu.


" Kok masih banyak??" Tanya Ansel melihat daging yang tadi di potong kan nya untuk Rinjani.


Rinjani tak menjawab melainkan memundurkan kursinya dan mengitari meja untuk duduk di atas pangkuan Ansel.


Tentu saja Ansel terkejut, karena biasanya kemesraan yang seperti ini sudah tidak pernah ada lagi, kedekatan mereka hanya pelukan dan Ansel yang mencium duluan, hubungan mereka jadi asing sejak terkuaknya kasus kematian pasangan mereka, mereka seperti di paksa membuka luka lama, yang akhirnya membuat kecanggungan, seolah kematian dan kehilangan itu baru kemarin terjadi, karena sebuah ungkapan kebenaran seorang Darius.


" Kak" Panggil Rinjani, saat Ansel tak segera memundurkan kursinya membuat Rinjani terhimpit meja .


Astaga, begitu sadar Ansel langsung memundurkan kursinya dan membuka sebelah pahanya untuk sang istri duduk.

__ADS_1


Rinjani tersenyum dan duduk di sebelah paha Ansel dengan senyum semanis dulu, sebelum menarik piring yang tadi di sodorkan Ansel.


Sembari mengunyah daging, tangan Rinjani mengapai tangan suaminya, membawa tangan Ansel untuk menyentuh dimana buah hati mereka tumbuh, sesuatu yang sangat di rindukan Ansel, meskipun setiap malam dirinya selalu memeluk istrinya, ini untuk pertama kalinya Rinjani mau bermesraan dengan nya seintim ini saat mereka tidak sedang di kamar.


__ADS_2