Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Sebuah Bogeman


__ADS_3

Phonix Jabir mengeram layaknya seekor singa jantan, meneriakkan bodyguard nya untuk masuk


Enam pria berbadan kekar dengan otot dada yang tercetak jelas di balik kaos ketatnya mengerumuni tubuh Ansel, tidak ada pergerakan atau kata apapun dari Ansel, pemuda itu tetap menatap wajah Phonix Jabir datar.


Phonix Jabir seperti kehilangan harga diri melihat itu, dia berdiri tegas, membuka pakaian atas nya dan melemparkan asal, berjalan menghampiri dimana Ansel berada


Bagi orang mungkin melihat Phonix Jabir yang memiliki tubuh tinggi, badan liat dengan warna kulit yang sedikit gelap, tatapan mengerikan akan sangat menyeramkan, aura wajah yang suram tampak tak berbelas kasih


Ansel menatap dengan tatapan tak terbaca, tidak menampakkan ketakutannya, tidak juga menatap takjub atau semacam nya


Phonix Jabir semakin mengikis jarak, Ansel melihat dengan tenang, deskripsi tentang bagaimana tubuh seorang Phonix Jabir adalah sangat mengerikan


Setiap jengkal tubuhnya di penuhi dengan sayatan, entah bagaimana seseorang bisa tetap hidup dengan luka sebanyak itu, tatapan yang menghunus bak pedang tajam terus Phonix Jabir layangkan pada Ansel, tetapi pemuda itu tak gentar, berpaling pun tidak.


" Bawa dia ke ruang bawah tanah!" Perintah dari Phonix Jabir adalah mutlak, tidak bisa dibantah siapapun.


Seringai kejam hadir di belahan bibir yang ada bekas koyakan tebal Phonix Jabir , tetapi tak lama karena keinginannya sama sekali tidak terwujud, Phonix Jabir berharap tamunya akan berlutut dan mengiba akan melakukan apa saja agar tak di bawa, tapi ini??


Melihat Ansel menjulurkan tangannya kepada anak buahnya membuat emosi Phonix Jabir memuncak hingga


" Bugh"


Tubuh Ansel terhuyung ke belakang


" Bangsat!" Phonix Jabir mencengkram kerah Ansel menggoyangkan tubuh Ansel beberapa hentakan kuat, membuat leher Ansel memerah


Darah mengalir dari sudut bibir Ansel yang terkoyak, jangankan Mengaduh, meringis pun tidak!


Phonix Jabir kembali mengayunkan bogemannya, tapi kali ini dua hantaman itu bukan dilayangkan ke wajah Ansel, justru di layangkannya kepada dua anak buahnya yang sedang menarik tangan Ansel, napas Phonix Jabir memberat


" Pulanglah! Kau bisa kembali besok!" Setelah mengatakan itu Phonix Jabir meminta anak buahnya mengantarkan Ansel keluar


" Tunggu!"


Belum sempat Ansel melangkah sempurna, suara ketua mafia itu kembali menghentikan nya, membuat lagi-lagi tubuhnya berbalik berhadapan dengan Pria mengerikan itu


" Puk"


Sapu tangan dilempar tepat di dada Ansel


" Bersihkan darah mu, agar orang tak memikirkan yang tidak-tidak tentangku"


Berpikir yang bagaimana? bisa tetap utuh begitu keluar dari markasnya saja orang akan sangat bersyukur, bagaimana sempat memikirkan hal sekecil itu?


Ansel meraih saputangan itu dan membungkukkan badan sedikit sebagai rasa terimakasih dan hormatnya, tidak ada kata perpisahan apapun.


Belum benar-benar berbalik kata ' tunggu ' dari pria mengerikan itu menghentikan pergerakan Ansel

__ADS_1


" Bagaimana jika aku tak membiarkan mu pulang dan justru menyandra mu disini??" Suara berat itu membuat sudut bibir Ansel terangkat.


" Jika Tuan menghendaki, bukan hal mustahil bukan?"


Pertanyaan, yang dibalas pertanyaan yang membuat urat leher Phonix Jabir mengetat


" Mengapa kau berani menemui ku dan tak takut padaku?"


" Tidak ada alasan selain menawarkan kesepakatan, Anda manusia, saya manusia, apa yang saya takutkan?"


" Pergilah! ... Aku mual berbicara dengan mu!"


Regan, Awan dan Julio, melihat Ansel yang benar-benar keluar dari sarang mafia dengan keadaan selamat dan senyum pun, terperangah!, kawan mereka benar-benar seistimewa itu


" Apa Phonix Jabir tidak ada?" Tanya Awan meneliti keadaan kawannya


" Ada!" Jawab Ansel meminum air yang di sodorkan Julio


" Lalu?"


Ansel menoleh mendengar ucapan Awan


" Maksudnya, loe beneran ngak diapa-apain gitu??"


" Gue di tonjok sekali!" Jawab Ansel menyandarkan punggungnya di kursi mobil


" Jadi mau Loe Ansel di mutilasi gitu??" Semprot Julio pada Awan


" Bukan gitu tolol! .. ini tu mustahil, berurusan dengan mafia itu sama kayak berurusan dengan monster, mereka ngak segan-segan potong organ tubuh manusia"


Mendengar kawan nya ribut sendiri Ansel menengahi, dan menyampaikan kalau dia akan kembali menemui Phonix Jabir besok, tentu saja ucapan Ansel membuat ketiganya terhenyak, mereka berpikir bagaimana Ansel bisa bermain asal janji temu dengan seseorang yang bukan lawan sepadan, keberuntungan tidak bisa datang beberapa kali, mungkin malam ini Ansel selamat, tetapi besok, mana ada yang menjamin


" Jangan khawatir, aku yakin setelah apa yang kulakukan malam ini, Phonix Jabir akan mencari tau siapa aku sebenarnya, dengan begitu akan lebih mudah dia menemukan data yang sudah kita bikin sedemikian rupa" Ucap Ansel menenangkan


" Maksudnya?"


" Lihatlah di belakang kita ada mobil yang mencurigakan, gue yakin itu anak buah Phonix Jabir yang sengaja diminta mengikuti kita, makanya kalian langsung antarkan gue pulang, biar rencana akan semakin mudah"


" Gila!" Regan menepuk punggung Ansel


" Re, pastikan semua data istri gue sudah Loe perbarui, Tulis namanya seperti yang ku inginkan, termasuk Mantan suaminya sebelum Kaka gue!" Ansel menoleh pada Regan


" Sudah beres!"


Ansel tersenyum dan mengangguk kecil


Sampai dirumahnya, Rinjani menyambut kepulangan Suaminya dengan derai air mata, Ansel pulang hampir jam dua belas malam

__ADS_1


Melihat sudut bibir Ansel terluka lutut Rinjani tiba-tiba lemas, Ansel sampai harus memeluknya agar Rinjani tidak terjatuh


" Aku tidak apa-apa!" Namun Rinjani masih menangis di dada Ansel membuat Ansel kian memeluknya


Bagaimana Rinjani bisa tenang, jika sang suami berpamitan akan menemui seorang mafia yang terkenal dengan kekejian nya, bagaimana Rinjani bisa tenang jika Ansel datang kesana seorang diri, meski saat ini Ansel pulang selamat, bukan berarti mereka akan baik-baik saja sampai akhir


" Sayang, udah dong nangisnya, aku ikut sedih Lo!!" Ansel mencubit hidung Rinjani


Rinjani tak menghiraukan, sibuk mengabsen detail tubuh suaminya " Beneran cuma ini kan lukanya?" Rinjani mengecup sudut bibir Ansel yang terkoyak kecil


" Iya dong suami tampan mu ini kan memang jagoan"


Rinjani kembali memeluk tubuh suaminya, mengungkapkan kelegaan yang tak bisa dijabarkan


" Aku sama sekali tidak bisa bernapas lega sejak Kaka izin menemui Phonix Jabir" Keluh Rinjani


" Percaya padaku Sayang, ini pertama dan terakhir kalinya Phonix Jabir melukai ku, ini juga bukan salahku, ini luapan kekesalan dari dalam diri yang ia coba luapkan!"


" Apa yang membuatnya kesal Kak?"


" Tentu saja karena ketampanan suamimu ini yang membuatnya iri" Jawab Ansel asal yang membuat Rinjani bisa senyum


" Kaka terlalu percaya diri!" Rinjani memukul lengan Ansel, membuat pemuda itu tergelak


" Ayo sayang aku udah mau makan !" Ajak Ansel


" Kaka belum makan?"


" Sudah !"


" Terus?"


Ansel mengerling, membuat Rinjani mengelengkan kepalanya seraya tersenyum.


" Aku lihat anak-anak dulu, Tunggu aku di kamar!"


Rinjani mengangguk dan membiarkan Ansel menengok anak-anak nya


Dikediaman orang tua Ansel. Dua wanita paruh baya datang membuat keributan


Orang tua Ansel terkejut melihat orang yang sudah mereka cari berhari-hari tetapi bak hilang di telan bumi kini muncul dua-dua nya, yang lucunya lagi mereka menuduh dalang penculikan putri mereka adalah orang tua Ansel.


Dan perihal Jingga dan marry, percayalah baik Ben maupun Andrean bingung dengan apa yang akan mereka perbuat


Beruntung Sebelum sampai pada rumah nya bersama Rinjani, Ansel meminta Orang yang sudah dia persiapkan untuk menjemput Ben dan Andrean pun dengan sepupunya, setidaknya membuat Ben dan Andrean biasa pulang dengan napas lega


Ansel juga mengirimkan keduanya pesan, agar langsung pulang, ada dua wanita yang akan mengurus sepupunya, meminta mereka untuk bersiap datang besok pagi kerumah orang tua nya, meski Ben dan Andrean tidak tau apa rencana Ansel setelahnya, tetapi mereka tetap menjawab pesan Ansel dengan kata 'ya siap' Tak ada yang lain

__ADS_1


__ADS_2