Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Membujuk


__ADS_3

Ansel yang sedang sibuk dengan laptopnya, mendongak begitu Ben datang setelah mengetuk pintu dan di izinkan masuk oleh Ansel


Beru saja ingin membuka suara, Jeselyn dan Hanny sudah menerobos masuk, membuat Ansel menghela napas dalam-dalam


" Tolong maafkan kami! .... maaf jika perkataan dan perbuatan kami sebelumnya menyakitimu Ansel .... Maaf .. hu hu hu hu..!" Hanny benar-benar menangis tergugu, bersimpuh di bawah kursi yang di duduki oleh Ansel


" Selamatkan sepupu mu, aku janji setelah ini aku akan pergi sejauh mungkin dan tak akan menganggu kalian !" Jeselyn juga menangkupkan kedua tangannya di dada


Ansel masih tak bergeming, dia hanya melirik wajah kedua tantenya yang terlihat kacau, ada lingkaran hitam di bawah mata mereka, sejahat apapun mereka nyatanya mereka tetap seorang Ibu yang pasti akan memperjuangkan kebebasan putrinya


" Ansel .... Tante mohon ...!" Jeselyn membuka tas nya memberikan perhiasan dan beberapa gebok uang.Jika di perkirakan keseluruhan nilainya mencapai ratusan juta


Jeselyn juga tampak menunduk dalam, seolah malu menatap Ansel, Setelah apa yang di katakan pada Ansel kemarin rasanya ia seolah menjilat ludahnya sendiri


" Anggap sisanya adalah hutang Tante padamu nanti, Tolong lah Tante Ansel ... !! Tante menyesal ...!"


Jeselyn benar-benar terlihat putus asa, wanita yang biasanya tampil menor dan berparas seperti sosialita pada umumnya kini tampak kacau, tak ada sapuan apapun pada wajahnya yang terlihat pucat, penampilannya jadi terlihat beberapa tahun lebih tua


Tak beda jauh dengan Hanny yang juga ikut menyerahkan harta benda miliknya pun dengan beberapa kunci di hadapan Ansel, dengan kata-kata permohonan yang begitu berharap


Tidak semua orang beruntung bisa menemukan orang yang tepat, seperti yang mereka lakukan, Ansel sebenarnya juga bukan pemuda yang memiliki kuasa atas kejadian yang menimpa sepupunya, ini murni karena Ansel ingin membuat para tantenya sadar bahwa manusia tidak layak di jadikan bahan jaminan, karena tidak ada manusia yang berhak atas kehidupan manusia lainnya


Mereka benar-benar memohon, sementara Ansel merasa dirinya tidak punya kuasa untuk bisa membantu mereka, meskipun Ibu Maria bersedia meminjamkan uang untuk nya, tetapi itu nominal yang terlalu banyak untuk Ansel pergunakan, bukan ingin menjadi tega, tetapi mungkin dengan cara seperti ini, kedua tantenya bisa membuka pikirannya, seperti apa rasanya saat kemarin dirinya dan orang tuanya berada di posisi seperti itu


Baik boleh, bodoh jangan! meskipun menolong itu baik, tetapi jangan sampai kita menyulitkan diri sendiri karena membantu orang, Ansel tak ikut menikmati uang yang mereka pinjam, tentu tak mau jika harus terbebani hutang nantinya jika menolong, untuk itu Ansel memilih pergi dari hadapan mereka, membuat Jeselyn dan Hanny menangis histeris


Di kediaman orang tua Ansel. Nikolas sedang mencari donasi pada sodara-sodaranya untuk sedikit membantu meringankan beban Hanny dan Jeselyn, tetapi para sodaranya tidak Sudi membantu mereka, karena mereka tidak ada yang menyukai Jeselyn dan Hanny, mereka semua justru bersorak mendengar Hanny dan Jeselyn terkena masalah


" Bagaimana Pa?" Rubbyan mengelus punggung suaminya yang sedari tadi menghubungi satu persatu sodara nya


Nikolas mengeleng lesu, keduanya memilih duduk di sofa, Rubbyan tidak tertarik sama sekali untuk membantu sodara suaminya, tetapi meski begitu tidak ada salahnya mendukung Nikolas untuk mencoba mencari solusi bersama keluarga besar suaminya, nyatanya semua tidak ada yang perduli membuat Rubbyan hanya mampu menenangkan hati suaminya dengan sentuhan lembut dan kata hiburan

__ADS_1


Tak berselang lama setelah kepergian Ansel. Hanny tak sadarkan diri, membuat Andrean dan Ben segera membantu untuk di baringkan di atas sofa yang berada di ruangan Ansel. Jeselyn menatap iba pada Hanny, keadaan mereka sama-sama terpuruk, kesombongan dan ketamakannya membuat mereka berada di ambang kehancuran, jika dalam waktu tiga hari tidak ada yang bisa membantu mereka, dengan terpaksa mereka merelakan Jingga dan Marry menjadi tebusan hutang mereka, termasuk perusahaan milik orang yang selama ini membantu mereka untuk hidup layak


Mengingat itu air mata Jeselyn tak berhenti menetes, tubuhnya mengigil karena rasa kecewa pada diri sendiri, ia sadari betapa baiknya sodara laki-laki nya, Tanpa Nikolas, mungkin mereka hanya janda yang miskin, tetapi Nikolas selalu mencukupi kebutuhan mereka bahkan menyekolahkan anak-anaknya, kini ia tidak hanya terancam kehilangan anak, tetapi dia juga telah membuat usaha Kakanya yang menghidupi keluarganya selama ini di ambil alih oleh orang lain, perasaan hancur dan menyesal itu terlalu menyakitkan untuk ia tanggung seorang diri. Tetapi karena ini kesalahannya ia harus merasakan perasaan sakit dan penyesalan dalam hati


Ansel duduk di hadapan dua gadis dewasa yang tengah menatapnya dengan tatapan penyesalan


Tanpa sadar air mata Jingga dan Marry menetes, mereka bisa melihat keperdulian pemuda yang duduk tenang di hadapannya


" Aku tau kalian berdua wanita hebat dan sebenarnya juga baik, maaf sudah menepatkan kalian di posisi seperti ini, tapi jujur uang untuk menebus kalian dan perusahaan mustahil untuk di dapatkan dengan mudah, meski ada tetapi bukan uang yang Halal, aku tak ingin menggunakannya!" Ansel menyapu rambutnya kebelakang


Marry yang tadinya menganggap remeh Ansel, kini gadis itu menatap Ansel dengan pandangan berbeda, hari itu, dimana dia merasakan napas hangat Ansel yang mengancamnya ada rasa nyaman yang hadir di dalam jiwanya. Ansel bukan seperti pemuda cacat mental pada umumnya, wangi tubuhnya menenangkan, dadanya kokoh membayangkan berada di dalam dekapan pemuda itu sepertinya membuat Merry merona, tetapi mengingat ucapannya yang selama ini selalu menghina Ansel. Tiba-tiba ada kepedihan dan penyesalan yang Merry rasakan


" Tenangkan diri kalian, berdoa dan berpikir yang baik-baik saja, aku akan mencari cara untuk bisa membantu sodaraku, meskipun kalian membenciku, aku tak pernah membenci kalian!"


Mendengar kalimat yang keluar dari bibir Ansel, Merry menunduk, enggan untuk melihat Ansel, rasa malu mendominasi hatinya, orang yang dia benci tapi masih mau perduli


Rinjani sedang mandi saat seseorang mengetuk pintu dari luar


Rinjani tersenyum mendengar suara familiar yang tadi pagi di cium tangan nya


Setelah Rinjani membuka kuncinya, Ansel segera masuk dan tak lupa mengunci slot pintu dari dalam, biar bagaimanapun kini mereka adalah orang tua, tidak bisa sembarang, ada anak-anak yang bisa saja masuk tiba-tiba, Ansel mendorong tubuh Rinjani kembali di bawah pancuran air shower, ikut menguyur tubuh nya meski pakaiannya masih lengkap


Ansel langsung menarik pinggang Rinjani, membuat perutnya yang bulat menempel pada tubuhnya yang masih berpakaian lengkap. Rinjani tertawa kecil, sebelum tangan nya membuka satu persatu kancing kemeja milik Ansel, Ansel mendorong tubuh Rinjani agar lebih rapat Kedinding, Rinjani juga ikut meraba tubuh Ansel yang sudah terbebas dari kemejanya, meraba dadanya dan terus turun bersama rasa panas otot perut Ansel yang ikut berdenyut


Walau Ansel bertubuh tinggi jangkung, tetapi Ansel selalu lembut memperlakukan Rinjani, membuat Rinjani nyaman selalu berdekatan dengan Ansel


Rinjani sedang menyisir rambut, saat Ansel memangilnya. Pemuda itu duduk di pinggir tempat tidur dengan kedua paha yang terbuka, menepuk salah satu pangkal pahanya agar Rinjani duduk di sana


Rinjani mendekat dan berdiri dihadapan suaminya


" Tidak perlu memakai ini"

__ADS_1


Ansel menarik turun ****** ***** berenda hitam yang di pakai Rinjani sampai meluncur melewati kakinya yang ramping dan lembut, Ansel juga melepas pengait bra yang ikut di renggutnya dari tubuh Rinjani


" Seperti ini saja saat hanya ada aku di kamar" Ansel tak kuasa untuk tak bermain di atas gumpalan lembut dada istri nya yang tampak kian berisi karena kehamilannya


" Oh, Rinjani ....." Desah Ansel yang langsung mengulingkan tubuh istrinya di pembaringan, baru saja keduanya akan bersatu, ketukan pintu membuat keduanya kelabakan


Ansel segera memberikan kemejanya untuk di kenakan oleh Rinjani sedangkan dirinya menyambar jubah tidurnya asal, menunggu sang istri sudah masuk ke kamar mandi, baru akhirnya Ansel membuka pintu kamar mereka


" Daddy hiks .. hiks ..hiks !"


Begitu pintu kamar terbuka Ivan langsung menangis dan mengacungkan tangan untuk minta segera di gendong


Dengan senyum Ansel langsung meraih tubuh putranya yang seperti duplikat dirinya


" Maaf Tuan!" Pengasuh Ivan menunduk merasa tidak enak dengan sang majikan


" Tidak apa-apa Bu, di tinggal saja, biar Ivan tidur disini!"


Ansel membawa Putranya masuk dan mendudukkan tubuh gembul itu di atas kasur


" Jagoan Daddy Kenapa?"


Ivan dengan semangat bercerita kalau dirinya mimpi di kejar kambing yang bernama Shipp membuat Ansel terpingkal


Rinjani yang keluar dari kamar mandi memperhatikan suaminya yang begitu sabar menanggapi cerita Putranya, hati nya menghangat


Rinjani ikut berbaring, menatap Ansel yang menciumi putranya gemas, tawa Ivan begitu bahagia, Ivan juga membalas mencium kedua pipi Ansel dengan bibirnya yang kecil dan tebal


" Tidurlah." Ansel meraih tangan Rinjani untuk di genggam sambil memeluk putra mereka yang ikut berbaring di tengah


Rinjani tertawa pelan, begitu juga Ansel, meski hasrat nya belum usai dan mereda, tetapi Ansel tidak keberatan untuk membiarkan istrinya istirahat, bagaimanapun perbuatannya bisa dilakukan kapan saja, tetapi kemanjaan putra mereka tidak bisa diabaikan, karena kebersamaan bersama anak tak akan bisa terulang.

__ADS_1


__ADS_2