Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Air mata Ansel


__ADS_3

Ansel tak sabar membuka pintu kaca berkoden biru muda itu, sesaat mobil yang membawanya terparkir dengan sempurna di parkiran rumah sakit, pemuda itu tidak berjalan untuk masuk kedalam kamar rawat istri nya melainkan berlari dengan tergesa-gesa, selepas pintu itu terbuka netranya menemukan mata bulat almond itu sedang berpaling untuk melihat kehadiran nya.


Ansel membuang napas dari bibirnya seraya tersenyum saat melihat wanita yang begitu dicintainya sedang duduk di suap makan oleh sang Mama. Dadanya yang bergemuruh karena baru saja berlari seolah tergantikan dengan rasa lega luar biasa


Air mata Ansel mengalir meskipun bibir pemuda itu tengah menerbitkan senyum.


Ansel terpaku dengan pemandangan di hadapannya Beberapa saat, sebelum pemuda itu menghampiri dimana sang istri duduk, Ansel segera bergegas membawa Rinjani yang sedang duduk itu masuk kedalam dekapannya, dengan terburu-buru tanpa sepatah kata, tetapi siapapun tau hati pemuda itu sedang merasa lega


Tak ada yang terucap dari bibir pemuda itu, begitupun dari bibir Rinjani, Rinjani pun hanya membalas pelukan suaminya dengan tak kalah erat, seolah mereka saling meresapi kelegaan dengan saling memeluk.


Ansel melerai pelukanya, sebelum tangan nya yang bergetar menangkup wajah istrinya yang sangat dicintainya itu, dengan sapuan lembut ibu jari nya untuk menghapus lelehan air mata istrinya.


" Maafkan aku" Rinjani berucap lebih dulu.


Ansel mengeleng, mengecup pelantara bibir dan hidung istrinya, kemudian pemuda itu kembali mendekap tubuh istrinya yang masih rapuh.


Keduanya menangis, isakan dari sepasang suami istri itu mampu membawa rasa haru siapapun yang melihatnya, tak terkecuali Papa dan Mama Nurry, keduanya juga terisak melihat mukjizat yang diberikan Tuhan kepada menantu kesayangan mereka.


Rinjani sudah bisa duduk, alat-alat yang kemarin menempel di sekujur tubuhnya sudah tidak ada, Ansel sendiri seperti mimpi melihat istrinya yang sudah duduk dan sedang ia peluk.


" Tetap bersama ku Sayang, sungguh aku tidak ingin yang lainnya lagi, aku rela sepanjang hidup ku tidak memiliki keturunan asal kau tetap bersama ku untuk membesarkan Rania dan si kembar" Ucap Ansel di atas puncak kepala istrinya.


Rinjani mendongak dengan wajahnya yang mulai bersemu.


" Bukankah anak kita baik-baik saja??" Tanya Rinjani dengan napas yang masih terputus pendek, karena dirinya baru saja terisak.


" Ya, __ Ansel mengangguk, sebelum menghapus air matanya kasar dengan punggung lengannya yang tertutup kemeja. " Dia kuat seperti Mommy nya" Ujar Ansel membawa telapak tangannya mendarat di atas perut istrinya.


Rinjani masih sedikit lemas, tetapi dirinya tetap tersenyum membalas tatapan mata Suaminya.

__ADS_1


" Maafkan aku Kak"


" Aku yang meminta maaf pada mu Sayang__ aku tidak bisa menjaga kalian" ungkap Ansel.


Rinjani mengecup bibir suaminya yang bergetar dan dingin, sebelum Ansel kembali membawanya masuk kedalam dekapan hangat yang membuatnya ingin terus hidup.


Rinjani sendiri terkejut saat tau dirinya tak sadarkan diri lebih satu Minggu, Rinjani mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya dan juga Ansel, setelah sadar Mama dan Papa Ansel menceritakan bahwa semua baik-baik saja bahkan Ben akan segera menikah, tidak hanya itu Ben ternyata sudah memiliki seorang anak perempuan yang lebih besar sedikit di banding Rania, tentu saja di sambut berita membahagiakan seperti itu Rinjani langsung merasa bahagia, terlebih saat mereka Bilang Ben akan menjadi asisten Ansel, Rinjani langsung tersenyum, Rinjani tidak perlu menghawatirkan sesuatu.


Rinjani juga di ceritakan bagaimana sedihnya Ansel saat dirinya dinyatakan koma, pemuda itu selalu murung, akan tersenyum bila sedang berada di dekat anak-anak nya saja. Rinjani menyayangkan mengapa dirinya tidak mampu segera bangkit, sehingga membuat pemuda itu sangat terpukul.


" Aku akan selalu menemani mu Kak, selama dada ini berdetak aku adalah milik mu"


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Sore hari, anak-anaknya juga berkunjung melihat keadaan Mommy nya, Rinjani begitu bahagia melihat ke-tiga anak nya yang begitu antusias menciuminya.


" Daddy gendong" selalu seperti itu, Baby Ivan merengek minta gendong jika waktunya minum susu.


Tubuh Baby Ivan sedikit lebih gemuk daripada tubuh Sodara kembarnya Ivander, karena baby Ivan tidak rewel makan dan gemar tidur, sedangkan baby Ivander sedikit sulit makan dan juga tidak banyak tidur, kecuali tidur siang dan malam hari, sedangkan baby Ivan akan tidur kapan saja asalkan perutnya kenyang.


" Mau" Rinjani menunjuk ke dalam mangkuk milik Ansel


" Mama ambilkan untuk mu Sayang" Ujar sang Mama mau memberikan sup pada menantu nya


" Tidak usah Ma, ini aja Sama Ansel" Ucap Ansel dengan cepat menyodorkan mangkuk miliknya untuk di ambil alih Rinjani, sedangkan baby Ivan yang di gendong nya sudah mengayun kepalanya sebagai tanda sudah tertidur


Pemandangan yang sangat mengharukan untuk sekedar di lihat, terlebih wajah mereka yang bagai pinang di belah dua, benar-benar seperti Ayah dan anak kandung.


"Anak-anak biar pulang sama Mama" Ucap sang Mama setelah mereka selesai makan

__ADS_1


" Besok kamu tidak perlu datang ke kantor, untuk dua hari kedepan kamu bertugas mengurus menantu kesayangan Papa dulu" Ucap sang Papa mengelus puncak kepala Rinjani yang sudah kembali berbaring.


" Tapi gajiku tetap jalan kan Pa??" canda Ansel, pemuda itu sudah kembali seperti semula , periang dan murah senyum.


" Tentu" Jawab sang Papa dengan tawa kecil nya


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Ansel masih tetap terjaga, meski setiap orang sudah pergi meninggalkan mereka tiga jam yang lalu, Rinjani sudah tertidur pulas sejak Keluarga Al-Biru masih berada di ruang dimana dia di rawat, mungkin karena Rinjani mengonsumsi obat, jadi wanita itu cepat tertidur.


Tidak ada yang pemuda itu lakukan selain memandang wajah istrinya yang tak membuatnya jemu, semakin dipandang rasa sejuk merasuk di hati Ansel


Istrinya masih ada dan tetap bersama dengan nya, begitupun dengan buah hati mereka yang bertahan tidak mau meninggalkan rahim Ibu nya, setelah badai yang hampir membawanya ikut hanyut dan menyerah, kini datang pelangi yang kembali memberi rona warna untuk Ansel menyongsong hari esok.


" Kenapa belum tidur" Kelopak mata bulat almond itu menatapnya lembut, membuat Ansel tersenyum.


" Belum ngantuk Sayang" Ujar Ansel mendekati istrinya yang sedang terbaring miring menghadapnya. " Butuh sesuatu??" tanya Ansel membelai lembut pipi istrinya


" Iya"


" Apa??" Lirih Ansel menatap manik mata Rinjani.


" Kaka peluk" Ansel tersenyum dan mencubit hidung mancung istrinya. " itu bukan butuh namanya, tapi mau"


" Sama aja, ih" lirih Rinjani tersenyum.


Ansel juga tersenyum, sebelum benar-benar ikut bergabung bersama Rinjani, tetapi saat Ansel memeluk istrinya dari belakang, Rinjani beringsut membalik badan dan menghadap Suaminya.


" Awas tangan nya sayang" Ansel membenahi selang infus istrinya.

__ADS_1


Rinjani ikut mengatur posisi tangan nya agar nyaman, sebelum akhirnya membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya yang sangat di rindukan aroma nya, membuat dada Ansel berdesir , air matanya pun mengalir, karena kebahagiaan kembali hadir dihati nya yang Beberapa hari ini hanya di penuhi ke khawatiran akan rasa takut kehilangan istri dan buah cintanya


__ADS_2