Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Mencoba


__ADS_3

Cinta memang misteri, tiada yang tau akhirnya, begitupun perjalanan cinta yang dilalui sepasang suami istri yang tengah tertidur dengan saling berpelukan di atas tempat tidur mereka, Ansel dan Rinjani


Layaknya cerita-cerita yang sudah sering kita dengar, banyaknya materi tak menjamin kebahagiaan secara instan. Banyaknya uang yang ada dalam tabungan tak serta-merta membuat bahagia.


Namun pada kenyataannya memang semakin tinggi jabatan seseorang, waktu bersama keluarga akan semakin berkurang, Karena tuntutan tanggung jawab yang semakin besar.


Sering kali orang yang dibawah memandang mereka yang sukses penuh takjub, merasa iri akan pencapaian materi yang kaum tinggi miliki, tetapi sebenarnya yang di atas pun merasa iri pada mereka yang memiliki banyak waktu untuk keluarga, iri atas keharmonisan dan rasa toleransi tinggi akan kebersamaan, sedangkan yang kaya, waktu nya seolah di kejar tangung jawab.


Karena sesungguhnya hidup kaya dan miskin tidak ada enaknya, semua ujian, tergantung manusianya bagaimana menyikapinya.


Rinjani mengeliat kecil, sedikit merenggangkan tubuhnya yang mulai pegel karena tidur miring sepanjang malam, namun gerakannya membuat Ansel terbangun.


Senyum pemuda itu tersungging, sebelum membenarkan posisi tidur istrinya, tak lupa elusan di perut Rinjani di berikan, saat Ansel hendak bangun tangan nya di tarik oleh Rinjani.


" Tidurlah lagi, aku buatkan sarapan dulu" Ucap Ansel membungkuk menenangkan istrinya.


Rinjani mengeleng " ini terlalu pagi Kak" ucap Rinjani.


" Biar enak nanti pas waktu sarapan sudah dingin" ucap Ansel menimpali.


" Minta Bibi aja yang buatin kak" ucap Rinjani dengan mata yang sedikit sayu.


" Katanya mau aku yang buat??"


" Aku cuma bohong"


" Lhoh kok gitu??"


Rinjani tak menjawab semakin menarik Ansel untuk kembali berbaring di tempat tidur.


" Sayang______"


" Aku ingin begini dulu kak__ please"


Akhirnya Ansel kembali menyamankan tidurnya, menunggu apa sebenarnya yang di mau istri tercintanya itu.


" Aku ingin kita seperti dulu kak, aku sungguh minta maaf sudah egois dan tengelam dalam rasa kesedihan, aku minta maaf sudah melupakan tugasku sebagai istri Kaka, izinkan aku kembali berbakti pada mu Kak, izinkan aku melayani mu seperti dulu"


Sebuah pernyataan sederhana tetapi mampu mengambarkan seberapa besar sayang Rinjani pada Ansel, mustahil jika Ansel tak ingin segera memeluk tubuh istrinya lagi

__ADS_1


Ansel menangkup kedua pipi Rinjani dengan telapak tangan nya, setelah mereka saling memeluk " Apapun untuk mu Sayang" Tutur Ansel mencium lembut kening istrinya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Ansel baru akan masuk ke kamar mandi saat Rinjani ikut berjalan bersamanya.


" Biar ku bantu Kak"


Ansel yang baru mulai melepas kancing baju tidurnya memutar menghadap Rinjani


" Aku tidak bisa pulang cepat hari ini" tutur Ansel pada Rinjani yang sibuk melepas kancing baju nya.


Mendengar ucapan Ansel gerakan tangan Rinjani sempat terhenti sejenak, namun setelahnya Rinjani kembali melepaskan satu kancing terakhir


" Taruh di situ saja Kak, biar aku yang bawa keruang laundry" Tegur Rinjani saat Ansel akan membuka baju dan celananya.


Setelah selesai bersiap, akhirnya Ansel dan Rinjani turun dan sarapan bersama dengan anak-anak nya.


" Sayang nanti baju Daddy kotor lagi, sini biar sama mommy" Rinjani sedang menegur baby Ivan yang sedari tadi di suap suster nya tapi minta di pangku Daddy nya, sesekali bibir kecil penuhnya di gosokkan ke jas yang sudah membalut tubuh sang Daddy.


" No problem sayang, nanti bisa di ganti" Ansel menenangkan istrinya


" Aku pergi dulu" Ucap Ansel mencium kening Rinjani, saat Rinjani mencium punggung tangan nya.


" Hati-hati kak!"


Ansel tersenyum dan bergegas masuk kedalam mobilnya, Rinjani menunggu hingga mobil Ansel menghilang dari pandangannya sebelum dirinya masuk rumah.


Setelah melakukan banyak hal, Rinjani kepikiran ingin memberi kejutan untuk Ansel, Rinjani berniat ingin mengantarkan makan siang untuk suaminya.


Kedua sudut bibir Rinjani tertarik keatas, sudah saat nya keasingan diantara mereka di robohkan, Rinjani rindu Ansel yang manja dan genit, Rinjani sadar Ansel masih berusaha untuk menjaga perasaannya, dan saat ini perasaan Rinjani sudah baik-baik saja, waktunya mengembalikan juga perasaan pemuda yang menjadi suaminya itu seperti dulu, sebelum ini, bukankah sebelum ini mereka sangat harmonis?? Rinjani merindukan itu, terlebih sentuhan Ansel yang biasa memanjakannya, tidak hanya sekedar cium dan elus perutnya.


Rinjani gegas Menganti pakaian nya, sebelumnya sudah meminta Maid untuk menyiapkan makanan yang akan di bawanya untuk sang suami


Rinjani akan berusaha untuk membuat suaminya nyaman, karena Ansel sudah sangat sabar menghadapinya, Ansel juga bukan pemuda yang rewel, tidak pernah menuntut Rinjani untuk memenuhi kebutuhan dan melayaninya.


Rinjani berjalan menghampiri pintu yang sedikit terbuka, setelah tadi sempat bertemu dengan Andrean dan juga Ben yang hendak makan siang, dengan baik hati Rinjani juga memberikan keduanya menu makan siang yang sudah di masakan dan di bawakan memang untuk Ketiga nya, kini tujuan nya adalah ruang suami nya.


Ansel yang sedang mengoreksi berkas mengendus saat menemukan bau familiar yang sangat di kenalinya.

__ADS_1


" Rinjani, apakah itu kau sayang??"


Bagaimana Rinjani tidak merasa di sayangi segenap jiwa dan paket komplit dirinya, jika bahkan dengan mencium parfumnya saja Ansel sudah tau kehadirannya.


" Ya' ini aku kak!" Rinjani berjalan menghampiri Ansel, dengan cepat Ansel berdiri dan menyambut kedatangan wanitanya.


" Hai, kenapa tidak bilang jika ingin berkunjung, kau kemari dengan siapa??" Tanya Ansel mencium puncak kepala istrinya.


" Sama paket komplit kak, tenang!" Paket komplit yang di maksud Rinjani adalah satu sopir pribadi nya dan dua bodyguard yang bertugas mengawal nya dimana saja kecuali di dalam rumah.


" Duduklah"


" Aku kesini mau antarkan makan siang untuk Kaka"


Ansel tersenyum manis. " Terimakasih, tapi aku lagi ingin makan yang lainnya " ucap Ansel.


" Kaka ingin makan apa??" sela Rinjani cepat, barangkali suaminya sedang mengidam.


" Makan kamu" Jawab Ansel dengan senyum jahilnya yang membuat Rinjani berdecak.


" Udah serius juga"


" Aku serius Sayang" Ucap Ansel dengan mengecup sekilas bibir Rinjani " Aku merindukanmu___" Kali ini suara pemuda itu sudah berbeda.


Rinjani sampai memundurkan kakinya untuk menatap wajah suaminya, Ansel masih tersenyum manis tetapi tatapan itu Rinjani mengenalinya, tatapan yang sudah lama tak Rinjani lihat, tatapan rindu dan____


" Aku hanya bercanda Sayang, yuk kita makan" Ansel hendak menuntun Rinjani untuk duduk, tetapi Rinjani tak bergeming.


" Sayang??" Ansel memanggil Rinjani lembut.


Ansel juga menyapu pipi Rinjani yang hangat dengan punggung tangannya, tak lupa menyibak rambut Rinjani yang tergerai indah hingga punggungnya.


" Aku mau" Ucap Rinjani tiba-tiba, yang membuat Ansel menghentikan gerakan tangannya.


" Aku mau kau makan" Ulang Rinjani dengan wajah yang menatap suaminya penuh tekad.


" Rinjani____"


" Aku juga merindukan sentuhan mu Kak"

__ADS_1


__ADS_2