Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Ketenangan seorang Ansel


__ADS_3

Rinjani memerhatikan Ansel yang tengah bermain bersama si kembar, bahkan pemuda itu sudah mengantarkan Rania ke sekolah. Wajah dan prilakunya sungguh terlihat begitu tenang seperti biasanya


" Lempar bolanya jagoan!" Ansel mengayun telapak tangannya memberi instruksi pada putranya, pemuda itu tampak santai dengan kaos tanpa lengan dan celana selutut, pemuda yang sangat rupawan, jelas Ansel tampak menawan, ditambah lagi usia pemuda itu masih muda, dua puluh tujuh bukan usia tua bagi Pria bukan?


" Aku mau berenang Daddy!" Tubuh gembul Ivan sudah duduk di tepi kolam renang.


" Tentu, kemarilah!, Daddy bantu lepas pakaian mu"


" Kaka tidak ke kantor?" Tanya Rinjani, melihat Ansel yang menuruti kemauan kedua putranya , Rinjani ikut duduk di kursi santai tepi kolam renang


Ansel mengalihkan perhatian nya dari Ivan dan menatap istrinya.


" Aku meminta Ben kesini, mungkin sebentar lagi dia datang" Ansel tersenyum


Hati Rinjani berdenyut, apakah dibalik ketenangan suaminya, beban besar tengah menghimpit hati pemuda itu, tentu saja bukan perkara sepele yang mereka tengah hadapi, tetapi untuk sekedar bertanya Rinjani terlalu sungkan, mungkin Ansel bersikap seperti itu agar tak membuatnya khawatir, tetapi tidak dipungkiri hati Rinjani terasa nyeri melihat kenyataan dirinya digunakan sebagai jaminan.


Jam makan siang Ben datang, setelah makan bersama Ansel mengajak Ben keruang kerja nya sedangkan Rinjani menemani anak-anaknya tidur, Rinjani tidak mau anak-anaknya tau jika orang tuanya sedang bersusah hati.


" 120 miliar, ini sebagian harta Papa ku, aku tidak bisa membantu banyak, aku memberikan ini sebagai tebusan rasa bersalah sudah teledor menjaga Nyonya Rinjani, seharusnya sebagai orang kepercayaan Tuan Nur aku bisa mengendus masalah ini sejak awal" Terang Ben, dengan menyodorkan tiga buah kartu dengan tatapan penuh penyesalan.


" Bagus kalau kau sadar diri" Ucap Ansel yang membuat Ben terkejut.


Tidak ada lagi tatapan ramah dan jenaka di wajah Ansel, tatapan itu seperti sebilah pedang yang mampu membelah apapun dengan tatapan tajamnya yang membuat bulu kuduk Ben berdiri.


Ansel tertawa dan berdehem sejenak. " Aku hanya bercanda Ben! mengapa wajahmu tegang seperti melihat dewa pencabut nyawa!" Ucap Ansel dengan wajah yang sudah kembali ramah


' Ya Tuhan, aku bisa mengigil hanya dengan melihat tatapan nya ' Batin Ben mencoba menelan air liurnya sendiri yang tiba-tiba berubah pahit.


Ansel mendorong kembali kartu yang disodorkan Ben. " Kau simpan dulu!, aku akan memperkirakan jumlah nya, aku akan berusaha agar tidak sepeserpun uang kita keluar nantinya, tetapi sebelum itu aku butuh bantuan mu!" Ansel menyandarkan punggungnya di kursi putar yang tengah ia duduki.


Dahi Ben berkerut, mendengarkan segala rencana Ansel, rasa-rasanya jantung Ben terjun bebas mendengar rencana bos barunya, awalnya dirinya kira seorang Nurry adalah manusia terkejam yang pernah ia temui selain Papanya, ternyata pemuda dihadapannya yang sempat membuatnya iri dengan segala kelembutan dan kata manisnya, justru jauh lebih menakutkan.


" Lakukan, tanpa sepengetahuan Papa, dan untuk tugas Andrean kamu bisa membicarakan nya setelah ini"


Tidak ada yang bisa Ben lakukan selain mengangguk. membuat senyum tipis di bibir Ansel terbit, tetapi bukanya menenangkan, sikap Ansel yang seperti itu justru membuat Ben bergindik


Ansel menghabiskan waktunya untuk menemani Rinjani dan anak-anak nya dirumah, raganya memang dirumah, tetapi pikiran pemuda itu bercabang kemana-mana.


[" Ada apa menghubungi ku anak nakal??"] Suara dari sebrang sana membuat Ansel tertawa


" Tentu saja karena merindukan gadis cantik ku!" Ansel tertawa saat mendengar decihan dari sebrang sana.

__ADS_1


[" Tunggu aku mengunjungimu, aku masih ada urusan kebaktian untuk waktu dekat ini, Kemana Rinjani?"]


" Aku sedang berada di mobil Bibi!"


[" Ada apa kau menghubungi ku??"]


" Aku butuh bantuan keuangan Bibi!" suara Ansel terdengar serius


[" Jangan membual Ansel, bahkan kau selalu mengembalikan uang ku untuk membelikan mu keperluan, kau pikir aku tak tahu! .. bajingan!"]


" Aku sungguh-sungguh! ... aku terlibat urusan dengan seorang mafia, lebih tepatnya Papa ku kena tipu daya"


[" Oh My God! ... Berapa yang kau perlukan??" ] Tanya dari sebrang sana.


Ansel menghela napas dalam-dalam " Sangat banyak, berapa kiranya Bibi bisa meminjamkan ku dengan waktu dua hari??"


[" Uangku banyak Ansel, tetapi sebagian besar dari hasil diskotik dan bar yang kau tak akan mau menerima bantuan dari uang usaha itu, kalau yang dari bisnis hotel dan usaha bersih hanya ada miliaran!"]


" Aku tidak perduli uang hasil apa itu Bi Maria, aku hanya butuh uang banyak secepatnya, hanya sebagai jaga-jaga jika rencana ku meleset!" Terdengar suara Ansel yang sangat serius.


[" Sekitar empat sampai enam triliun, jika hanya dalam waktu dua hari"]


" Oke, itu sudah lebih dari cukup, aku boleh menggunakan nya jika mendesak kan Bi??, aku akan mengembalikan setelah penjualan aset ku beres, tetapi untuk saat ini aku tidak membutuhkan pencairanya, itu hanya sebagai jaga-jaga"


" Anda terlalu percaya diri"


[" Itu memang gaya ku!"]


Setelah mendapat dukungan materi yang cukup, Ansel membenamkan kepalanya diatas kemudi, sekarang ia tengah mengatur rencana, agar kedua manusia laknat itu keluar tanpa harus di paksa.


Dering ponsel membuat Ansel merogoh saku jasnya.


" Ya Ben??"


[" Mereka ada bersama kami!"]


" Bagus!, ikat mereka , aku harus kesuatu tempat terlebih dahulu, mereka biar jadi umpan dua wanita tua menjijikkan itu, aku segera kesana Setelah utusan ku selesai!"


Setelah mematikan ponselnya, Ansel bergegas menuju tempat yang ia kehendaki


Suara musik yang memekakkan telinga menyambut kedatangan pemuda berpenampilan karismatik itu.

__ADS_1


Tiga orang pemuda seusianya mengacungkan tangan, melambai meminta pemuda itu turut bergabung, sebelah tangan mereka sibuk menggoyangkan gelas berwarna pekat yang memiliki aroma menyengat


" Ketempat yang agak tenang, Aku mau bicara!" Ansel berjalan mendahului ketiga nya, sampai di ruang privat


Regan, Awan dan Julio.


" Re, cari informasi tentang Phonix Jabir, seberapa luas daerah kekuasaannya!" kata Ansel begitu pemuda itu duduk dihadapan ketiga sahabatnya.


" Sel, Loe ngak terlibat prostitusi kan??" tanya Awan dengan wajah terkejut nya.


Ansel menarik satu alisnya " Gue ngak suka jajan lacur kayak Loe!!" kata-kata datar itu keluar dengan mulusnya, datar tapi sangat menyakitkan bukan


" Bajingan Loe Sel!" umpat Awan kesal.


Ansel tak lagi menanggapi, kini fokusnya pada satu titik yaitu Regan


" Nanti ku cari tau!" Jawab Regan yang sadar Ansel tengah menatapnya.


" Sekarang!" Tekan Ansel.


" Njirrr .. gue masih pusing efek minum Sel!" keluh Regan, yang tak mendapatkan ekspresi apapun dari Ansel.


Regan mengangkat tangan nya mengalah "Okeee, ayo keruangan gue!" Pemilik club yang tengah mereka tempati itu mengalah.


Kedua temannya yang ikut berdiri kembali duduk saat mendengar suara Ansel.


" Tetap disini, aku ada tugas lain untuk kalian!" Setelah mengatakan itu Ansel berlalu bersama Regan, sedangkan Julio dan Awan kembali duduk ditempat mereka.


" Gue yang polisi saja ngak segalak dia!" keluh Awan


" Kayak Loe ngak tau Ansel saja!" Julio mengeleng.


" Gue baru tau kalau dia jadi penerus perusahaan, insyaf juga dia jadi petualang dari kemarin mau nyamperin dia tapi tugas penyelidikan gue belum kelar!" Desah Awan, teman Ansel yang menjabat sebagai Intelijen kepolisian.


" Sudah dapat tambatan hati kali!" Ucap Julio menimpali, teman Ansel ahli dalam bidang bedah membedah, Julio adalah dokter spesialis bedah plastik, sedangkan Regan, adalah ahli dalam bidang telematika.


" Tidaaaaaaaak .....!!" Dua orang wanita meraung begitu mengetahui anak perempuan mereka hilang, Hanny dan Jeselyn panik, terlebih ada seseorang yang mengirimkan pesan ancaman di ponsel mereka masing-masing, niat mereka bersembunyi terusik, kini mereka dilanda rasa takut.


######


Kira-kira siapa yang mengirimkan pesan ancaman kepada Hanny dan jeselyn?? mungkinkah Ansel?

__ADS_1


ditunggu jejak cintanya..


happy reading ❤️❤️❤️


__ADS_2