
"Astagfirullah, jam berapa ini??" Seorang pemuda tampak gelagapan dengan segala kebingungan nya.
" Pak-Pak, bangun!!" Sembari membangunkan pria paruh baya di sampingnya pemuda itu mencoba untuk duduk.
Pria paruh baya itu meringis memegangi pundaknya yang terasa remuk.
" Mobil mas nya benar-benar di bawa kabur??" tanya pria paruh baya itu tampak menyesal.
" Saya sudah duga sebenarnya Pak, mobil itu sedikit aneh saat melewati pos tempat anak-anak nongkrong, sebelum saya menemukan bengkel Bapak, saya memang merasa ada yang mengikuti"
" Jadi bagaimana? apa mas nya mau lapor polisi??"
" Tidak perlu Pak, biarkan saja, mereka tidak melukai saya samasekali, memang hanya mobil saya yang mereka incar sejak awal, Bapak sendiri bagaimana??"
" Saya baik-baik saja, hanya sedikit pusing.
Saya tidak menyangka, karyawan saya tega melakukan ini pada saya, uang dan ponsel saya juga di bawa kabur" ungkap sang bapak saat memeriksa laci dimana dirinya menyimpan uang hasil penjualan onderdil dan juga servis" Bapak itu meraup wajahnya dengan raut susah hati.
Ansel mendesah, seandainya dirinya tidak pesan kopi, mungkin dirinya juga bakal di pukul seperti Bapak montir mobil itu sampai pingsan, beruntung dirinya memesan kopi karena sedikit mengantuk, siapa sangka kopinya malah di campur obat tidur yang membuat dirinya tidur seperti orang yang pingsan.
" Saya harus pulang pak, takut istri saya khawatir" ungkap Ansel, ponselnya berada di mobil yang di bawa kabur oleh pencuri.
Ansel mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka, ada motor metik yang sepertinya masih bisa di pergunakan, ini sudah jam delapan pagi, kalau dirinya tidak segera pulang Rinjani akan khawatir, namanya musibah mana bisa di cegah, kemalangan tidak bisa di halangi, beruntung Ansel tidak di celakai hanya di beri obat tidur.
Ansel merogoh dompetnya, bahkan dompet itu juga ada di jas yang di lepasnya membuat Ansel mendesah.
" Masnya pakai saja motor itu, tidak papa, saya percaya mas orang baik" Sepertinya bapak itu mengerti kegalauan Ansel.
__ADS_1
Ansel berpaling
" Apa tidak apa-apa Pak"
" Tidak apa-apa mas, kita sama-sama terkena musibah, mas kehilangan mobil saya kehilangan uang"
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Rinjani tiba-tiba tak sadarkan diri setelah sampai di rumah, membuat semua orang panik, Ben langsung menghubungi Dokter keluarga mereka.
" Rinjani hanya shock, mungkin ada hikmahnya dia pingsan, agar pikiran nya tenang, kalau terus setres akan berbahaya untuk janinnya" Dokter yang seumuran dengan Ben itu mendesah " Kalau dia sadar, sebisa mungkin kalian harus tenangkan, jangan biarkan dia sendirian dulu" Ben menganguk, perasaan Ben juga sedang kalut.
" Pihak rumah sakit mengatakan golongan darah nya bukan milik Ansel" Ungkap sang Papa membuat kepanikan mereka sedikit terurai.
" Apakah kemungkinan besar Ansel masih ada??" bibir Mama Ansel bergetar.
" Syukur lah Tuhan___ Lantas dimana Ansel Pa??". Baru saja mereka berunding sebuah suara membuat mereka semua mendesah lega
" Ma, Pa" Ansel menghampiri orang tuanya yang terlihat bersama Ben, dan Dokter keluarga mereka, sedangkan Andrean masih ikut mencari keberadaan korban bersama tim SAR
" Ansel" Pekik mereka bersama, mereka merasa lega, justru Ansel yang merasa panik, karena adanya Dokter keluarga mereka dan tak adanya Rinjani sang istri, ada sebuah pikiran khawatir.
" Ma, apa istri ku baik-baik saja??" tanya Ansel khawatir, padahal semua orang tengah menatapnya haru, Ansel terlihat baik-baik saja, tanpa ada noda darah sedikit pun.
Melihat Mama nya yang menangis lega, Ansel justru semakin panik, dan secepat kilat berlari menuju kamar nya bersama Rinjani.
" Sayang___" Ansel cemas melihat istrinya yang terbaring dengan jarum infus menancap di punggung tangannya.
__ADS_1
Semua juga segera menyusul, Ansel meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi, pun menceritakan Kemalangan yang menimpanya.
" Ya Tuhan__" Desah Ansel yang merasa bersyukur, semua akan baik-baik saja.
Semua juga ikut bernapas lega. " Kapan istri ku sadar Dokter?" Tanya Ansel mengelus puncak kepala istrinya.
" Dia sempat terguncang, mungkin kita harus sedikit bersabar, biarkan saja, mereka berdua pasti baik-baik saja" Ansel mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
" Mandi dan makanlah Sel, setelah itu beristirahat lah" Mamanya memeluk tubuh Putra nya yang sempat dikiranya benar-benar akan cidera atau celaka.
Mungkin ada hikmahnya kejadian ini terjadi, Ansel benar-benar dapat melihat kecemasan dan kesedihan kedua orang tuanya sama persis saat Nurry dengan kondisi buruk, rasa haru tak bisa di cegah menelusup di relung hatinya, kedua orang tuanya memiliki cinta yang sama untuk dirinya maupun Nurry, selama ini dirinya selalu salah menduga, Ansel ikut memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkan nya kedunia dengan hati yang bahagia, benar yang dikatakan Rinjani dahulu, terkadang apa yang kita pikirkan tak semua benar, cinta Ibu adalah cinta yang tak butuh balasan, tetapi tidak ada Ibu yang tidak menyayangi anaknya, dan Sekarang Ansel percaya, ternyata baik Nurry atau Dirinya hanya salah menyimpulkan.
" Aku temui anak-anak dulu Ma, Ansel juga sempat memeluk sang Papa, mata tua itu terlihat sendu menatap nya, bagaimana tidak, hampir saja orang tua itu kehilangan harapan nya, orang tua akan kehilangan harapan saat anak mereka tiada, sedang untuk seorang anak akan kehilangan kenangan saat orang tuanya pergi untuk selamanya.
Ansel masuk ke kamar si kembar, Ivan dan Ivander langsung memeluk nya.
" Tadi malam, anak-anak sempat rewel Tuan, sampai nyonya ikut tidak tidur menenangkan anak-anak" pengasuh si kembar memberi tahu.
Ansel menciumi kedua putranya dengan sayang. " maafkan Daddy jagoan" Ansel mengambil alih menyuap Ivan dan Ivander, sebelum dirinya meninggalkan si kembar untuk mandi, usai mandi Ansel merebus kentang dan meletakkan di kamar, pemuda itu kembali turun untuk sarapan yang terlambat bersama Ben dan kedua orang tua nya.
Rinjani merintih kecil, pandangan nya memindai setiap sudut kamar, saat kesadarannya mulai pulih, wanita itu langsung panik, namun pandangan nya jatuh pada dua buah kentang rebus yang memiliki aroma familiar.
" Ansel" Rinjani gegas turun dari tempat tidur, tak berhenti mengunakan nama suaminya, dari ujung tangga Rinjani melihat Ansel yang duduk bersama ketiga orang lainnya, Rinjani berlari terburu-buru menjerit kan nama Ansel.
Semua yang melihat Rinjani tergesa menuruni tangga terbelalak, begitupun Ansel, Ansel langsung berdiri dan menyingkirkan kursi belum sempat menghampiri istrinya, Rinjani sudah melompat kegendongannya dengan tangis, tubuh pemuda itu sampai terhuyung karena sangking kaget nya.
Ketiga orang lainnya hanya mampu memandang haru kearah Rinjani dan Ansel, Rinjani menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil yang mengadu pada Ibunya, Ansel sendiri masih shock melihat istri nya yang melompat begitu saja dalam gendongannya, mungkin Rinjani sampai lupa jika dirinya tengah mengandung sangking semangatnya.
__ADS_1