
Rinjani duduk menikmati sarapan bersama keluarga besar Al-Biru, dilengkapi dengan kehadiran Bibi Maria dan Phonix Jabir beserta istri dan anaknya
Andrean dan Andrea memutuskan pulang terlebih dahulu karena anak sulung mereka sedang kurang sehat, di tambah Andrea kembali mengandung anak kelima saat ini membuat Andrean makin protektif
Ben, Maina bersama Aalona tidak ikut bergabung, karena Maina tidak bisa mencium aroma bumbu faktor kehamilan membuat Maina Anti dengan dapur, Ben sebagai seorang suami mencoba memaklumi meskipun terlihat pria itu tampak tak memahami sebenarnya, karena Maina bercerita semasa hamil Aalona dulu, ia tak seperti ini.
" Jadi siapa sebenarnya yang menghamili Merry ?" Tanpa basa-basi Kaka Nikolas bertanya. Dia adalah Mahmud Al-Biru, Kaka tertua Papa Ansel yang menetap di Norwegia, sayang Mereka beda Ibu, membuat mereka tak sedekat kerabat yang lain
Jeselyn menghentikan tangannya yang menusuk daging dengan garpu, begitu pertanyaan menyudutkan itu di dengar nya
Sementara Merry hanya bisa meremas tangannya di bawah meja dengan wajah yang menunduk dalam
Mahmud berdecak " Kalian ini hidup di negara yang mayoritasnya orang muslim, bagaimana kau tak malu mendengar kabar anak gadismu Hamil diluar nikah, bukankah itu perbuatan hina dan layak di sebut pezina?"
Suasana meja makan menjadi hening, karena perkataan mengejutkan Mahmud
Phonix Jabir berdiri membuat semua mata terpaku dan khawatir kalau ketua mafia itu tersinggung dengan ucapan Mahmud, namun Mahmud yang tak mengenal siapa Phonix Jabir hanya meminta maaf atas tak nyamannya perkataan nya untuk di dengar
Phonix Jabir hanya mengangguk sebelum menarik tangan istrinya yang di ikuti oleh kedua Putranya untuk menjauh dari meja makan
Ansel pun tak ingin jika Rania, si kembar bahkan bayi yang masih di dalam perut istrinya mendengar sesuatu yang kurang pantas, Ansel pun juga ikut pamit undur diri kembali bersama istri dan anak-anaknya
Para suster langsung antusias menemani si kembar dan kedua anak Phonix Jabir bermain di tempat mewah itu, sementara Phonix Jabir sedang menatap wajah istrinya dengan serius
" Kenapa?" Alara Halime bertanya seraya tersenyum
Phonix Jabir hanya mengeleng dan membalas senyum istrinya
__ADS_1
" Aku bisa melihat wajahmu yang dulu Mas, aku seperti kembali muda " Lirih Alara Halime menengadah
" Apa wajah cacatku sungguh tak nampak?"
" Kau tak pernah cacat mas, luka-luka mu adalah bukti bahwa mas adalah pria yang sangat bertanggung jawab, mas terluka karena ingin menyelamatkan nyawa ku" Alara Halime menangis dalam pelukan Phonix Jabir, Setelah melihat ketulusan cinta seorang Ansel untuk Rinjani, Alara Halime seolah di paksa mengingat masa lalu, suaminya pun rela melakukan apapun demi menyelamatkan hidupnya, membersamai hidupnya yang layu tanpa menyerah, jika cinta Ansel bisa tersambut, mengapa cinta suaminya yang begitu besar untuk nya terus ia sia-siakan, bagai tamparan keras dan cambukan tak beradab rasanya saat hatinya mulai menyadari akan kebodohan yang ia lakukan selama ini
" Kau hidupku Ara"
Mendengar panggilan kesayangan nya disebut kembali oleh sang suami. Alara Halime semakin tergugu
" Apa kau ingin kembali tidur?" Phonix Jabir kembali bertanya
" Sebentar lagi mas" Alara Halime kian merapatkan tubuh kecilnya pada dada bidang yang berdetak keras saat ini. Phonix Jabir mencium bibir Alara Halime lembut, membuat sang empu menengadah dan sama sekali tidak keberatan jika sang Suami ingin menciumnya lagi
Tentu saja Phonix Jabir masih menginginkannya, tubuh Alara Halime langsung di angkat tanpa bertanya lagi, tubuh Alana Halime langsung di bawa kembali kekamar dan dibaringkan di tempat tidur untuk segera di susul. Meski sebenarnya pria itu tidak berani menyentuh istrinya terlalu intim karena takut tak bisa mengontrol diri dan membuat istrinya kembali down, tapi untuk sekedar memeluk Phonix Jabir berani
Sementara Alara Halime kini sudah menyadari kesalahannya, lima belas tahun prianya telah bersabar menghadapi kebodohannya, untuk saat ini dirinya akan benar-benar merebut kembali hati pria yang sedang menaunginya ini
" Boleh ku lepas kemeja mu, mas?" Alara Halime menengadah menatap mata abu-abu suaminya
Phonix Jabir tersenyum tipis dan mengangguk mengizinkan.
Alara Halime mulai melepaskan kancing kemeja suaminya, menyentuh dadanya yang ditumbuhi berbulu kasar. Pria itu menunduk dan menciumnya, ciuman hangat dan lembut, tidak memaksa namun terasa mengetarkan, dengan kesadaran Alara Halime membalas ciuman suaminya, membuat ciuman itu meningkat secara perlahan. Alara Halime di cumbu seraya di gosok-gosok bahunya dengan rahang kasar yang menimbulkan sensasi geli
Meski begitu Alara Halime merasa nyaman , seperti sedang diberi keterangan bersamaan dengan rasa diinginkan
Alara Halime menatap wajah suaminya. Alara Halime tau bahwa suaminya bukan anak muda lagi, wajahnya tak lagi setampan dan serupawan dulu, tapi pria yang sedang menaunginya ini memiliki cinta yang luar biasa untuk nya
__ADS_1
Alara Halime mendekatkan wajahnya, mencium wajah Phonix Jabir dan menelusuri rahangnya yang kasar, ia sadar atas keterkejutan suaminya, tetapi wanita itu tampak abai, Alara Halime benar-benar ingin menebus kesalahannya yang sudah sangat menyiksa pria besar yang sedang menaunginya ini
" Ara, apa boleh aku menginginkan mu??" tiba-tiba Phonix Jabir bertanya sambil menarik dagu Alara Halime, dan wanita itu langsung paham apa yang diinginkan oleh suaminya
Alara Halime mengangguk, tentu saja dia mau melayani suaminya, saat ini dia sudah waras, dan akan berusaha agar bisa membuat suaminya tak menyesal membersamai nya
Dengan berani Alara Halime melepas pakaiannya sendiri, membuat Phonix Jabir meneguk ludahnya kasar
" Sentuh aku mas, lakukan apa saja, aku siap" Alara Halime berkata dengan nada lembut tapi penuh keyakinan. Akhirnya keduanya benar-benar menghabiskan waktu paginya untuk saling berbagi
Setelah beribadah di atas ranjang, siangnya Phonix Jabir keluar bersama tiga anak buahnya dan Ansel
Sementara Rinjani dan Alara sibuk bermain bersama kelima anak kecil yang terus membuat Rinjani tertawa, sementara Bibi Maria dan kedua orang tua Ansel sibuk berbelaja keperluan anak Ansel dan Rinjani yang bahkan belum lahir, melupakan keluarga besarnya yang sedikit bermasalah
Hari sudah gelap saat Alara Halime kembali kedalam kamar nya, bersamaan dengan datangnya Phonix Jabir
" Kau tampak pucat, Ara" Phonix Jabir berbicara sambil menangkup pipi istrinya
" Tidak, mas, aku baik-baik saja"
" Katakan saja jika aku terlalu berlebihan"
" Tidak, bukan begitu" Alara Halime mencium tangan suaminya " Aku sama sekali tidak keberatan melayani mu kapan saja mas"
" Mengapa?" Phonix Jabir seperti mimpi mendengar ucapan istrinya
" Aku mencintaimu mas, dan aku ingin menjadi milikmu, kapanpun"
__ADS_1
" Aku akan betah dirumah jika kau seperti ini" Phonix Jabir semakin mengikis jarak mengendong lagi istrinya untuk dibaringkan dan di tindih karena gemas