Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Berdua


__ADS_3

Rinjani masih bergelung lembut di peraduan bersama pemuda tangguh yang baru saja membuatnya merasa lemas tak bertenaga.


" Kenapa Kaka selalu memperlakukan aku begitu lembut ??" Tanya Rinjani yang masih berbaring di sebelah lengan suaminya.


" Aku hanya ingin kau merasa dimulyakan saat bersama ku. Jika kau tak merasa nyaman. Katakan saja. Aku akan berusaha memahami dan memperbaikinya. Rin__! aku bukan pria yang memiliki ilmu agama mempuni , tapi aku memiliki ketulusan hati untuk membahagiakan mu, mengandeng tangan mu, untuk berjalan bersama mengapai apapun yang kamu mau, aku masih belajar memulyakan istri ku seperti cara Rasulullah teladan kita dalam memulyakan Khadijah binti Khuwailid, ku harap kau bersabar berlayar bersama pria yang masih memperbaiki iman nya, tetap bersama ku, menjadi makmum ku hingga Allah memanggil salah satu di antara kita"


Tidak biasanya Ansel bicara serius begini, membuat air mata Rinjani menitih tanpa sadar, hatinya jadi ketar, ketir karena jawaban lembut suaminya.


Mengulas senyum, Ansel meraih pergelangan tangan istrinya.


Dulu Rinjani sempat berpikir, jika luka sebuah penghianatan yang sempat tergores akan susah di sembuhkan, hingga Rinjani akan menyendiri di waktu yang lama, keinginan untuk merajut kembali hati yang pernah hancur pasti akan sulit. Namun begitu mudah cara Allah menghapus luka hati, mengantikan nya dengan senyum bahagia, kehadiran sosok pengayom yang memberikan nya dua jagoan tampan bonus gadis cantik serta keutuhan keluarga, meski itu pun kembali hancur berkeping-keping, lagi-lagi Allah menyembuhkan hati nya yang berserakan dengan waktu yang tergolong cepat, pemuda di sampingnya menjadi pelabuhan hatinya yang pernah hancur dua kali, pemuda yang menjadi rumah tempatnya pulang.


Pelan bulir bening merembes di pipi seiring rasa haru yang menjalari hati.


" Kok menangis?!" Ansel menghapus bulir yang mengalir di pipi Rinjani


" Perjalanan kita menuju titik ini tidak mudah Kak, tentu aku akan selalu membersamai Kaka dan juga anak-anak, aku berharap selalu seperti ini bersama Kaka dan keluarga kita, tidak ada lagi cerita pahit tentang kegagalan" Rinjani mengulas senyum tulus, ikut memeluk tubuh suaminya, Rinjani tak memungkiri lukisan kelam yang pernah mewarnai kehidupannya dulu masih terpahat rapi di memory nya, tetapi keajaiban hati yang bisa membuat manusia tetap bisa bahagia di masa depan meski luka masalalu tetaplah tersimpan di memori nya.

__ADS_1


Pelan tangan Ansel membingkai wajah Rinjani, menyatukan dua kening mengulas senyum semanis madu membuat Rinjani diam tak bergeming


" Rin, Sampai kapanpun aku takakan membiarkan mataku lelah untuk melihat mu


takkan kubiarkan hatiku lelah untuk mencintaimu, karena kamu dunia ku"


" Bagaimana jika aku yang bosan melihat Kaka, dan lelah mencintai Kaka??" Goda Rinjani pada suaminya.


" Aku memiliki Tuhan tempatku mengadu, tak kan lelah aku menyerukan namanya dan berdo'a agar bosan dan lelah mu tak kan pernah ada, ku seru namamu di setiap doa, Allah maha segalanya, aku berdoa agar hatimu terpatri hanya untuk ku hari ini, esok dan selama aku masih bernapas"


Tak mampu Rinjani membendung rasa syukurnya, ini untuk pertama kalinya Dirinya mengoda suaminya, tetapi siapa sangka suaminya begitu pandai membuat hatinya mengharu biru, lagi-lagi air matanya meleleh tanpa diminta, di sertai seru syukur dalam hatinya.


" Sayang masih kangen!" Bisik Ansel mulai nakal dengan mengesek ujung hidungnya di telinga Rinjani " Sepertinya aku kecanduan" ujar pemuda itu sambil terkekeh sendiri.


Rinjani hanya mengerling mendengar ucapan suaminya. Rinjani sadar banyak wanita muda di luar sana yang menginginkan Menikah dengan pria mapan seperti Ansel, Ansel tidak hanya mapan tapi juga tampan, pemuda sempurna yang justru memilih menikahi janda beranak tiga seperti dirinya.


Hari sudah kembali pagi ketika Rinjani terbangun lebih dulu dan mendapati lengan Ansel masih melingkar di pinggang nya, Rinjani hendak beringsut, tetapi Ansel semakin mengeratkan pelukan pada pinggang Rinjani, dan semakin merapat, pemuda itu masih tidur. Rinjani bisa mengetahui dari irama napasnya yang teratur, dan detak jantungnya yang konsisten tidak berubah, napas Ansel terasa hangat dan lembut menerpa puncak kepala Rinjani, Rinjani meraih telapak tangan Ansel dan menciumnya lembut.

__ADS_1


" Apa sudah azan??"


" Belum kak sebentar lagi"


" Sepertinya aku baru tertidur beberapa menit yang lalu" Suara Ansel terdengar berat dan serak.


Rinjani hanya mengelengkan kepalanya ringan, benar' mereka memang baru tidur sekitar jam tiga atau setengah empat.


Rinjani sudah siap bangun, ketika tiba-tiba Ansel meraih wajah Rinjani untuk menatapnya


Bukannya jadi bangun, Rinjani malah terlena dengan tatapan lembut suami nya, perhatian Ansel tak teralih tetap satu yaitu wajah cantik istri nya, yang sedang terbaring lembut di sampingnya, Ansel membelai Rinjani, menelusuri hidung mancungnya yang ramping dan terus menyapu bibir merah Cherry yang membuatnya candu untuk terus menciuminya


Rinjani kembali memejamkan mata, napasnya terasa hangat dari hembusan bibirnya yang sedikit terbuka, wanita yang sangat cantik untuk di lihat di pagi hari


Melihat itu, Ansel kembali melepas kancing kemejanya satu persatu, Rinjani membuka matanya saat telapak tangan hangat Ansel, menyusuri pinggul, sisi pinggang semakin naik hingga menemukan gumpalan lembut di dadanya yang kian berisi


Rinjani bisa mendengar ketika napas suaminya ikut berdesis menahan Geraman rendah dari pangkal tenggorokannya

__ADS_1


Bibir Rinjani mulai mengeluh saat Ansel terus menjamahnya dimana-mana, Rinjani benar-benar akan menjerit jika Ansel tak merampas bibirnya dalam, meredam suara penyatuan cinta mereka, bukan di isi untuk pertama kalinya tetapi Rinjani masih sangat sesak untuk ukuranran pemuda bule seperti Ansel, ditambah Rinjani yang suka melakukan senam kegel dan pandai merawat tubuhnya seperti sang mertua, meskipun sudah melahirkan si kembar, bahkan pernah mengandung lagi sebelum sekarang, tetapi berat tubuh Rinjani masih sama layak nya dulu masih gadis, hanya sayatan bekas operasi Caesar saja yang membuatnya tak bisa berbohong bahwa dia adalah seorang wanita yang pernah mengandung, selain itu semua masih padat dan sintal seperti wanita karir yang sukses memanjakan mata suaminya, karena uang bisa membuat seseorang bisa menjadi seperti apapun, ada uang kulit belang jadi mulus , semua bisa, dan Rinjani juga melakukan perawatan untuk memanjakan suaminya baik Nurry maupun Ansel, karena Rinjani harus bisa menempatkan diri, suaminya seorang pengusaha, kemanapun akan banyak wanita berkeliaran. 'untuk menundukkan pandangan suami istri harus pandai merawat diri ' Itu adalah pesan yang di ucapkan oleh Mama Nurry saat membawa Rinjani melakukan perawatan perutnya Setelah masa nifas, dan Rinjani masih melakukan perawatan nya satu Bulan sekali . all because of the power of money.


__ADS_2