
" Pemuda yang memiliki gangguan kecemasan?" Gunam Phonix Jabir. " Cuih, mustahil! ... ketenangan jiwanya bukan karena pengaruh obat, tetapi untuk apa dia menemuiku?" Phonix Jabir bimbang sendiri, begitu membaca seluruh informasi yang di berikan anak buahnya plus data dari komputer mengenai siapa pemuda yang berani menemuinya
" Bos dia adalah penerus Kantor Teknologi Al-Biru" terang satu anak buah Phonix Jabir
" Bukankah dia baru datang dari berobat? untuk apa dia menemuiku?"
Belum sempat mendapat jawaban, satu anak buah nya menginformasikan bahwa pemuda yang semalam datang menemuinya sudah datang kembali
" Bawa dia kemari!" Titah Phonix Jabir
Ansel dipersilahkan masuk kedalam ruangan yang sama seperti semalam, dimana Phonix Jabir telah menunggunya
" Katakan! .... sebenarnya apa yang ingin kau ajukan untuk ku??" Tanya Phonix Jabir tak sabar
" Mengenai harta yang Anda incar"
Kening Phonix Jabir berkerut " Aku tak pernah mengincar harta! ... omong kosong apa yang kau ucapkan haaa?" Suara berat Phonix Jabir mengelegar
Ansel tersenyum, kemudian mengulurkan satu berkas di hadapan Phonix Jabir. Dengan wajah mengeras Phonix Jabir menerimanya dan langsung membaca lembaran demi lembaran yang membuat keningnya semakin berlipat
" Apa maksudnya dengan ini dan perihal kedatangan mu?"
" Ansel memutar video dari dalam ponselnya dan mengeser ponselnya tepat di hadapan Phonix Jabir
Sekitar dua puluh menit kemudian, ponsel Ansel telah mengelap
Phonix Jabir mengangkat dagunya, menatap wajah Ansel yang tetap berdiri tegak di hadapannya yang duduk
" Dia wanita ku, istri ku, mantan Kaka ipar ku"
" Lantas apa hubungannya dengan kedatangan mu ?"
" Aku sudah merebutnya dari dua pria lainnya, dan kini setelah aku mendapatkan wanita yang bisa menerima ku dengan segala kekurangan ku, anda akan mengambilnya. Tentu saja kedatangan ku untuk menyelamatkan harga diri anda, bagaimana mungkin anda merampas istri dari seorang pria gangguan mental seperti ku?" Jawab Ansel tenang namun lebih panjang dari biasanya
Video yang di tunjukkan kepada Phonix Jabir adalah video dimana dulu Ansel ngamuk-ngamuk, tidak hanya bersama Rinjani tetapi banyak video lainnya, termasuk tiga foto pernikahan Rinjani dan Akbar, Nurry serta dirinya
Bibir Phonix Jabir berkedut, sebelum tawa mengelegar itu mengema
" Bahkan aku tak mengenal wanita yang kau tunjukkan itu!"
" Dia Rinjani Aqilla, wanita yang akan anda rampas lima hari lagi!" Kali ini Ansel menatap tajam lawan bicaranya, sebelum melanjutkan ucapannya
__ADS_1
" Setau ku selama ini, seorang mafia besar seperti Anda tidak menerima sembarang jaminan, bahkan mengenai wanita sekalipun anda selalu meminta gadis, bukan wanita yang sudah pernah melahirkan!" Tekan Ansel, seperti sebuah ejekan
" Bangsat" Umpat Phonix Jabir, sebelum teriak memanggil anak buahnya
" Tunjukkan kepada ku, berkas orang-orang yang hutangnya jatuh tempo Minggu ini"
Ansel menyeringai, begitu matanya menangkap satu berkas atas nama perusahaan Papanya
" Yang biru!" tunjuk Ansel
" Mereka menipu ku!" Suara gigi Phonix Jabir bergelutuk, sesaat membaca berkas yang di tunjukkan Ansel
" Akan kuberikan perusahaan milik Papa dan dua gadis cuma-cuma, asal nama istri saya anda ganti dengan..... " Ansel mengambil lagi ponselnya kemudian menghubungi Andrean melalui video, beberapa saat panggilan itu terjawab dan langsung menunjukkan dua Gadis yang sangat cantik tengah menangis
" Jingga dan Marry"
" Siapa dua gadis itu??"
" Anak dari orang yang berhutang pada Anda"
" Kau mau mati?" bentak Phonix Jabir merasa dipermainkan oleh Ansel
" Ini kesepakatan yang ingin saya tawarkan untuk Anda Tuan "
" Mendapatkan kemerdekaan istri ku"
" Kantor mu?"
" Anda mengincarnya, maka silahkan anda ambil"
" Aku bukan pengemis yang harus kau kasihani!" Sinis Phonix Jabir
" Dua tahun Tuan ku! ... Mustahil masalah ini tidak kami ketahui, jika tidak dengan Anda sengaja membiarkan hutang itu berlarut hingga pada masanya bunga membengkak hingga anda bisa mengambil perusahaan Papa saya"
" Lantas mengapa kau tak memohon untuk perusahaan Papa mu?" Tanya Phonix Jabir, sedikit bingung karena lucu saja menurut nya minta kok setengah-setengah, lagian untuk soal wanita Phonix Jabir sama sekali tidak keberatan untuk menukar dengan dua gadis itu, tetapi mengapa pemuda ini tidak memperhitungkan juga harta keluarga nya?
Ansel tersenyum tipis
" Saya akan memperjuangkan apapun hak saya, dan hak saya adalah istri saya, tugas pembebasan berikutnya, tentu saja siapa yang berbuat dia harus berani bertanggung jawab"
" Kau mengancam balik orang yang berhutang pada ku??" tanya Phonix Jabir takjub
__ADS_1
Ansel mengangguk
" Mereka berani membawa kami dalam masalah, tentu saya tidak akan membiarkan mereka bebas dari masalah, mereka berani mempertaruhkan nyawa istri saya, rasanya adil jika kini mereka merasakan hal yang sama seperti yang saya alami"
Tidak dipungkiri Phonix Jabir terpesona dengan pemuda dihadapannya
" Bagaimana jika aku tetap meminta uang ku kembali, dengan jumlah 3,7 triliun itu dan tidak menerima penukaran jaminan mu itu??"
" Akan saya bayar, kalau perlu hari ini juga"
Andai saja Phonix Jabir punya serangan jantung barang kali pria itu langsung tersungkur di lantai, bagaimana ada pemuda se keren ini??
" Bagaimana jika aku memiliki tawaran yang lain?"
Ansel hanya memandang lurus lawan bicaranya, membuat Phonix Jabir berdecak, tidak ada respon apapun dari pemuda di hadapannya
" Jadilah tangan kanan ku, aku akan membebaskan semuanya"
Tak ada reaksi apapun dari Ansel, pemuda itu tetap tak bergeming, membuat Phonix Jabir rasanya ingin meledak
" Bisa kau menjawabnya?" Bentak Phonix Jabir
Ansel tersenyum
" Sudah kukatakan Tuan, jaminan nyawa harus dibalas dengan jaminan nyawa, aku tidak perlu repot bekerja untuk siapapun, tugasku menunggu bagaimana dua wanita yang berhutang pada Anda berusaha untuk mencari tebusan, jika mereka berhasil bukankah aku tinggal menerima kantor keluarga ku? ... jikapun tidak, aku sama sekali tidak perduli, anggap saja itu hukuman bagi sodara yang tak tau diri dan untuk kantor milik keluarga ku, barang kali itu memang harta anda yang selama ini Tuhan titipkan pada keluarga kami"
Phonix Jabir terperangah, cara Ansel bersikap beserta tingkah lakunya sama persis dengan sifatnya dulu saat dirinya muda, melihat sosok pemuda di hadapannya itu, Phonix Jabir seolah melihat cerminan diri nya kala muda.
" Pulanglah!, besok kau akan menerima berkas kesepakatan dengan nama istri mu yang sudah berganti nama dua gadis itu, ingat jangan kau beri aku status gadis tapi tak virgin"
Alis Ansel naik sebelah sebelum pemuda itu berkata
" Maaf Tuan, untuk itu saya tidak bisa menjamin, karena saya belum melihatnya secara langsung"
" Bajingan!"
Ansel tak gentar, hanya senyum tipis yang tersungging di bibirnya, Phonix Jabir tau akan itu
" Pergilah!"
" Jam berapa besok sa ..."
__ADS_1
" Pergilah!" Potong Phonix Jabir dengan bentakan lebih keras membuat Ansel tersenyum, benar-benar senyum seperti saat bergurau dengan kawannya
Setelah Ansel berjalan menuju pintu, Phonix Jabir memandang punggung Ansel nanar, pemuda pemberani dan sangat sayang jika di sia-siakan, kesempatan untuk menjadi tangan kanannya bukan suatu hal biasa, banyak orang menginginkan posisi itu, tapi pemuda itu, bahkan menampakkan ekspresi apapun tidak, very amazing young man.