Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Pilihan sulit


__ADS_3

Boleh ngak sih author nih ketawa gitu, si reader mah, musti di ambekin dulu baru semangat komentar, padahal nih ya.. komentar kalian tu penyemangat banget buat author.


Terimakasih untuk reader yang selalu ingetin typo, dan kesalahan ketik__


Terimakasih juga untuk reader yang setia kasih like, meskipun yang baca ratusan ribu yang like cuma puluhan ribu, bagi author tidak masalah.


Cuma sedikit sedih sih, ya kan, maunya tu di like, setiap bab, setidaknya hargai jemari author yang sering keseleo saat ngetik, tulis a jadi s tapiii di usahakan untuk di Revisi..


Gitu deh uneg-uneg author...


Pokoknya author cinta reader..


Happy reading ❤️🙏❤️🙏


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pagi hari seorang perawat pelan-pelan membangunkan Ansel yang tidur terduduk dengan kepala yang menyampir pada bibir ranjang, sedangkan tangan nya setia mengenggam tangan Rinjani.


" Ya Allah Aku kesiangan"


Ansel mencium kening Rinjani sebelum berlalu ke masjid rumah sakit, sudah jam enam, tapi tidak apa, Ansel segera bergegas sholat subuh, sholat nya memang hanya beberapa menit, tetapi doa nya yang begitu panjang.


Beruntung ini hari Minggu, Ansel tidak kekantor, dirinya hanya pulang untuk melihat keadaan anak-anaknya nanti, baru kembali lagi menemani belahan jiwanya.


Seorang Dokter menghampiri Ansel dan berbicara pelan-pelan


" Lakukan yang terbaik Dok" Ujar Ansel dengan mata berkaca-kaca


Beberapa tenaga medis sedang menangani Rinjani yang baru saja di bawa masuk kedalam ruangan dokter kandungan. Sementara Ansel ikut lemas tak berdaya, kenyataan kandungan Rinjani yang semakin lemah akan berbahaya untuk sang Ibu, mendengar kabar seperti itu Ansel bisa apa??

__ADS_1


Bahkan saat Keluarga Al-Biru lainya datang, Ansel sampai tak mampu membuka suaranya.


Bagaimana sebuah bencana bisa datang bertubi-tubi menimpa mereka seperti ini?? Ansel benar-benar belum memikirkan satu persatu


Dokter keluar dari ruangan nya dan mengeleng pelan. " Pilihan ada di tangan Bapak"


Kalau boleh memilih Ansel tidak ingin dalam pilihan sulit seperti ini, apapun pilihannya dia akan tetap kehilangan salah satu dari mereka


Ansel sedih, terluka, panik dan juga bingung, tetapi dia harus mengambil keputusan, karena Rinjani harus segera di tangani


" Kondisinya sangat lemah, kami khawatir dengan kondisi Ibu nya jika harus mempertahankan bayinya" ucap Dokter.


Kedua orang tua Nurry sudah terduduk lemas, apapun keputusan Ansel mereka akan tetap kehilangan salah satu keluarga mereka lagi, air mata terus mendesak keluar di setiap mata keluarga Al-Biru, bahkan Ben begitu ikut merasa bersalah pada keluarga majikan nya itu.


Dalam hati Ben bersumpah, akan selalu mengutamakan keluarga Al-Biru, karena kemalangan yang begitu banyak menimpa mereka berawal dari ayahnya.


Rasanya sudah seperti di timpas sebilah pedang berkali-kali Ansel menghadapi hal seperti ini, kemalangan kehilangan anak harus ia terima untuk kedua kalinya, tanpa bisa memeluk buah hatinya


Maksud Ansel adalah kehilangan Ibu kandung dan Ayah kandung, karena si kembar bukan darah daging Ansel yang sebenarnya, lagipula bayi di rahim Rinjani masih sangat kecil, jika memang jalan Tuhan seperti ini, Ansel hanya bisa pasrah menerima nya.


Selepas Dokter pergi Ansel langsung terduduk terpengkur dengan tangan yang meremas kepalanya.


Kedua orang tua Nurry sampai tak sanggup menatap putra bungsu nya, lagi-lagi harapan putranya hancur, tetapi mereka juga tau Ansel tidak akan sanggup jika Rinjani yang pergi, wanita itu ribuan kali lebih penting bagi Ansel dan ketiga cucunya.


Belum genap Lima belas menit mereka menunggu, seorang suster tergopoh-gopoh menghampiri Ansel.


" Pak bisa ikut masuk kedalam??" Tanya suster itu dengan nada penuh permohonan.


Dalam hati mereka semua berdenyut, terlebih melihat tangan suster yang terlapis sarung tangan itu tampak bekas terkena darah.

__ADS_1


Tak tunggu waktu, Ansel mengikuti langkah wanita yang memanggilnya, meskipun kakinya terasa tak menapak di lantai Ansel tetap menguatkan diri.


Hingga saat dirinya bersama suster masuk kedalam ruang dimana sang istri terbaring, air matanya mengalir


" Beri penyemangat terakhir Pak, sepertinya bayi anda tidak mau meninggalkan rahim Ibu nya, detak jantungnya kembali normal.


Terisak Ansel mendekat ke arah Rinjani yang terbaring lembut, tangan nya yang sedingin es menangkup kedua pipi istrinya.


" Sayang___ " Ansel ingin bersuara tetapi tenggorokannya tercekat, rasa sesak memenuhi hatinya, membuat isakanya yang semakin dominan.


Ansel tidak bersuara, tetapi dirinya menciumi seluruh wajah Rinjani, begitu juga perut wanita nya yang masih ada jel disana, Ansel tak perduli, dirinya hanya berusaha membujuk wanita yang berharga di hidupnya.


Mereka yang menyaksikan pasti tau seberapa cinta pemuda itu pada pasien cantik yang saat ini masih terbaring lembut tak berdaya.


" Sayang__ Aku akan memberikan apapun yang kamu mau, Tolong buka mata untuk kami, anak-anak kita membutuhkan mu, dan lagi___" Bibir Ansel bergetar, dengan air mata yang tiada henti " Buah hati kita saat ini sangat mengharapkan kamu membuka mata, dia kuat, seperti Ibunya, seperti kamu, dia tidak lemah seperti Daddy nya, seperti aku__"


Ansel menengadah " Bisa tinggalkan kami dua menit saja" Mohon Ansel pada suster dan Dokter.


Mereka menyetujui dan berlalu keluar, keluarga Al-Biru menangis saat melihat para Dokter dan suster itu menghapus air mata mereka.


Sedangkan Ansel kembali menciumi lembut istrinya, seperti sedang membujuk agar Rinjani segera membuka matanya


" Bangun lah Rinjani, bangunlah sayang __ aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa mu, apapun akan kuberikan padamu, tapi tolong buka mata indahmu untuk ku__ tolong___"


Ansel masih terus mengecup pipi Rinjani yang pucat, kiri, kanan, bergantian tetapi Rinjani sama sekali tidak bergeming.


" Jika aku mampu, aku akan merelakan apapun hanya untuk kau kembali membuka mata sayang, jika memang aku tidak akan pernah memiliki darah daging seumur hidupku aku rela, aku hanya membutuhkan mu Rinjani, hanya kamu, tolong berjuang lah untuk ku, untuk kami, untuk anak kita" Ansel membenamkan wajahnya di kepala istrinya.


Sudah dua menit berlalu, tim medis kembali masuk, tidak mengatakan apapun, Ansel juga langsung keluar meninggalkan Rinjani dengan sejuta luka lara hatinya.

__ADS_1


Ansel juga tidak kembali duduk bersama keluarganya, Ansel memilih berlari keluar untuk menghilangkan sesak di dadanya, sebenarnya Ansel hanya terlihat kuat diluar, hati pemuda itu sedang remuk redam.


Kalau digambarkan dia adalah sebuah bangunan yang megah di luar, tetapi dalam nya hancur, Ansel kuat demi anak-anak nya, tanpa memikirkan mereka mungkin Ansel sudah kehilangan kontrol pada diri nya.


__ADS_2