Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
kerukunan


__ADS_3

Rinjani benar-benar sedang merasa sangat di manjakan oleh suaminya, kali ini Ansel membawa sang istri ngadem di kebun mangga , yang kebetulan sedang musim berbuah


" Abang, ini" Seorang santri memberikan dua buah mangga masak yang baru saja ia petik untuk Ansel


" Terimakasih Ilyas, bagaimana kabarmu?"


" Baik bang Alhamdulillah" Anak remaja itu terlihat begitu akrab dengan Ansel


Ansel meletakkan mangganya di tempat duduk papan kayu. Lantas merogoh kantongnya untuk mengambil beberapa lembar uang dan di ulurkan untuk dua anak yang membantunya memanjat mangga


" Tidak usah Abang, kami sudah sangat cukup disini, Alhamdulillah sekarang ada kantin berkah setiap Jumat, jadi uang jajan kami bisa lebih irit" Jawab anak yang tadi di panggil Ilyas oleh Ansel


" Simpan, siapa tau nanti di butuhkan untuk menebus kitab atau apa gitu" Ansel bersikeras memaksa dua anak itu menerima pemberiannya


" Terimakasih Abang"


Interaksi suaminya yang tampak ramah dengan siapapun membuat hati Rinjani tersentuh, Ansel, adalah pemuda baik dan berhati lembut


Rinjani mengamati Ansel yang sibuk mengupas mangga dengan tersenyum lucu


Ansel membuka mulutnya untuk bertanya kenapa Tanpa suara


" Kaka disini banyak julukan, ada yang memanggil Gus, ada juga yang memanggil Kaka Abang"


Ansel tersenyum


" Tapi setau aku yang di panggil Gus, itu orang yang sering muncul di televisi dengan rambut model sebahu , seperti ulama muda gitu deh!" Protes Rinjani


Suara tawa Ansel kian terdengar


" Heran ya ... ada bule di panggil Gus? , dulu saja waktu pertama kali nya aku kesini mereka memandang kedatangan ku seperti sesuatu yang mustahil, seperti keheranan gitu, tampak sekali kebingungan mereka, terlebih ustadz Yusuf pengurus tempat ini"

__ADS_1


" Sebenarnya kalo dari silsila pesantren, orang yang dipanggil Gus itu adalah anak kiyai atau ustadz yang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan Ning untuk anak yang berjenis kelamin perempuan, tetapi karena di sini mayoritas orang Jawa, Gus yang di sematkan untuk ku mungkin berarti sedikit beda, istilah nya yaa untuk sebuah panggilan Gus yang mereka maksud adalah cah Bagus, atau sebenarnya lebih ke pangilan untuk ku karena tampan" tambah Ansel seraya tersenyum lebar


" Aku juga dari Jawa kak, tapi yang sering ku dengar itu mas, bukan Gus" protes Rinjani


Ansel hanya mengangkat bahu sejenak, sebelum tangannya menyuapkan potongan mangga untuk Rinjani


" Yang harus kamu ketahui, suamimu ini memang istimewa sayang" Ansel mengulum senyum dengan mengoda Rinjani


" Idih, kenapa Kaka jadi genit sih?"


" Genit sama istri ngak dosa Lo sayang, malah berpahala" Ansel memainkan alisnya naik turun yang membuat Rinjani tak mampu menahan senyum


Menghabiskan waktu bersama di bawah naungan pohon mangga tak membuat mereka jemu, suasana yang masih asri di tambah angin lembut yang menerpa wajah keduanya membuat rasa sejuk dan menenangkan


" Kaka ngak bisa manjat pohon?" Tanya Rinjani penasaran


" Sepertinya"


" Kok sepertinya?" Protes Rinjani


Kening Rinjani berkerut


" La terus bisanya manjat pohon yang kayak gimana?"


Ansel tersenyum lebar


" Pohon pepaya"


" Pepaya" bio Rinjani


" Ya ... milik istri" Ansel nyengir watados

__ADS_1


" Astagfirullah Kaka, aku serius nanyain nya ..." Rinjani berseru kesal


" Sayang aku juga serius jawabnya" Ansel juga masih membela diri, dengan tawa kecilnya yang membuat Rinjani semakin memberengut


Sorenya, Ansel membawa Rinjani dan anak-anak nya masuk ketempat Seorang wanita yang bertugas membantu anak-anak sekitar mengaji


Rinjani melihat Rania yang juga ikut melantunkan ayat-ayat Allah dengan merdu, meski dirinya bukan muslimah yang taat, tetapi Rinjani dan keluarga selalu menyisihkan waktu untuk mengaji bersama


Seorang wanita paruh baya mengulurkan sesuatu pada Rinjani, yang di terima oleh Rinjani dengan senyum tulus


Ansel mendekati kedua Putra nya membawa mereka mendekat ke arah tumpukan iqro dan meminta Ivan dan Ivander untuk memilih satu untuk mereka sendiri


Wanita yang sedikit lebih muda menghampiri kedua putra Ansel dan mengajak keduanya untuk belajar mengenal huruf Alif


Ansel beranjak ingin menyaksikan anak-anaknya dari jauh, namun pemuda itu terpaku saat melihat istrinya yang baru masuk kedalam dengan kepala yang terbungkus hijab berwarna hijau botol, yang bahkan terjulur ke bawah hingga telapak tangan, bawahan yang dikenakan sang istri berupa sarung Bali, jika boleh jujur tampilan Rinjani saat ini adalah tipe wanita impian Ansel


Impian Ansel adalah memiliki pasangan yang taat agama nya, keibuan, penyabar, menerima dirinya apa adanya dan yang paling ia impikan adalah wanita berhijab


Ada hal yang membuat jiwa lelakinya meronta, bukan karena amarah atau emosi yang mengendap, Ansel benar-benar merasa sedang melihat wanita impian nya sedari dulu tengah berdiri, melihat tampilan Rinjani yang tertutup justru membuat Ansel hanyut dengan rasa dahaga


Suara Senda gurau, berlarian di dalam aula membuat Rinjani ingin segera ikut masuk kedalam, namun justru Ansel meraih tangannya dan menariknya semakin jauh


" Biar anak-anak terbiasa di didik tanpa di dampingi, mereka akan lebih cepat belajar saat di beri kebebasan, kalau kita ikut menemani anak-anak tidak akan bersikap natural" Tutur Ansel lembut


Rinjani mengangguk dan mengikuti langkah Ansel


" Kita kembali kerumah?" Tanya Rinjani saat Ansel mengajaknya keluar dari aula pesantren dan berjalan ke arah rumah yang tadi mereka tinggalkan


" Kata Ustadzah Niken, tadi ada santri di minta mengantar ketan tawa, kata Ibu Nani tadi Ilyas di minta mengantarkan singkong rebus kelapa, ke rumah. Kata Ibu pengurus ... Tadi Ada santri di minta mengantar serabi dan kolak pisang, dan masih ada makanan lainnya dari para Ustadzah untuk kita sayang. Mungkin karena kita tidak ada, semua makanan yang di kirim itu masih bergeletakan di teras, karena pasti yang di tugaskan mengantar harus buru-buru karena dekat waktu ngaji "


" Kenapa pada kirim makanan untuk kita kak?"

__ADS_1


" Itulah mengapa aku ingin hidup di lingkungan ini, karena di sini perlakuan para warganya sangat baik, mereka ramah, perduli dan saling menyayangi, hidup disini rukun, tidak hanya mementingkan kepentingan duniawi mereka juga selalu ingin saling berbagi seolah saling mengumpulkan pahala dengan iklas, karena sejatinya dunia sementara sayang, akhirat selamanya"


" Sayang, ngomong-ngomong kau sangat cantik"


__ADS_2