
Rinjani tampak linglung begitu tiba malam, para sahabat Ansel yang lain menjemput anak-anaknya. Sementara untuk dirinya akan di jemput esok hari, ingin protes tetapi Rinjani mendapatkan kabar dari Mama Ansel bahwa Ansel sudah datang namun belum bisa menemuinya. Esok hari mereka akan menjemput Rinjani dan dibawa menemui suaminya
Menghadapi situasi seperti itu, membuat Rinjani di penuhi tanda tanya, sebenarnya ada apa dengan Ansel? apakah suaminya dalam keadaan baik-baik saja?
Sementara Ansel sedang membujuk Phonix Jabir agar mau tampil tanpa masker besok
" Aku menginginkan kado itu!"
Ansel dapat mendengar helaan napas berat pria di sampingnya
" Permintaan mu selalu di luar nalar" dengus Phonix Jabir
" Anda harus tau kecanggihan kosmetika modern Tuan ku" Tentu saja Ansel mengulum senyum mendengar gerutuan sang ketua mafia
" Terserah"
" Anda setuju?"
" Ku pikir harusnya aku marah, namun nyatanya aku tak bisa menolak keinginan mu"
Mendengar itu Ansel tersenyum cemerlang. pemuda jangkung itu menghampiri Alara Halime lantas meraih punggung tangannya untuk di cium
" Tidak ada salahnya bukan jika seorang putra ingin mencetak album keluarga lengkapnya dengan senyum yang terlihat di bibir setiap orang?, meski nanti kami jauh, aku ingin membawa seluruh keluarga bersama ku, akan ku pajang di ruangan khusus, agar bisa selalu kupandang setiap saat"
" Sungguh manis" Alara Halime mencium puncak kepala Ansel
" Oh astaga ... bahkan aku belum kau beri Kecupan" Canda Phonix Jabir menatap Ansel dan Alara Halime
__ADS_1
Alara Halime terkekeh kecil, kemudian merentangkan tangannya untuk menyambut tubuh tinggi besar sang suami, Phonix Jabir mendekat dan tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meminta haknya yaitu kecupan dari sang istri
" Apa Ibu angkat mu dari London sudah dalam perjalanan?"
" Ya, dia terbang tadi malam, mungkin beberapa jam lagi akan sampai" Jawab Ansel
Alara Halime tersenyum ..
Ternyata tidak hanya sekedar ia yang bisa jatuh hati pada sosok Ansel, tetapi ada wanita lain yang meng klaim pemuda itu sebagai anak selain dirinya, bahkan lebih dulu
Ansel dikejutkan dengan kabar tentang Rinjani yang tak sadarkan diri, sebenarnya tidak benar-benar tak sadarkan diri, Rinjani diam-diam meminum obat tidur sedikit, karena terlalu gelisah, dan resah hatinya sehingga sama sekali tidak ada hasrat untuk tidur, Rinjani tidak ingin kelelahan dan membuat kandungan nya bermasalah, itulah dia meminta orang yang bertanggung jawab tentang kebersihan Penthouse Ansel untuk membelikannya obat tidur.
Namun karena terlalu sibuk dengan pikirannya Rinjani belum sempat masuk kedalam kamar tidurnya saat obat itu sudah bereaksi, Rinjani memang meminta obat yang berdosis ringan dan aman untuk dikonsumsi oleh wanita hamil, tetapi tetap saja efek kantuk itu membuatnya terlelap bersandar di bawah sofa, karena Awan datang dan melihat posisi Rinjani, Awan jadi berprasangka bahwa Rinjani pingsan, sementara orang yang bertanggung jawab membersihkan
Penthouse Ansel sudah pulang saat sore hari
" Tolong jangan menangis lagi, sayang ...! aku tidak kuat melihat mu begini." Ansel menghapus sisa lelehan air mata dari sudut mata Rinjani dengan ujung telunjuk
" Kenapa kau tega melakukan ini Kak?" Rinjani menyampaikan keluhannya
Ansel menarik napasnya dalam-dalam lantas meletakkan kedua tangannya di pipi Rinjani yang masih sembab oleh sisa tangis
Ansel tidak kuat menahan desakan dalam dada untuk tidak nakal pada sang istri. Saat ini Ansel bagaikan musafir di Padang pasir yang menemukan sumber air untuk segera ia minum untuk menghilangkan rasa dahaga
" Maafkan aku ya?" Masih dengan menangkup kedua pipi Rinjani, Ansel berkata lembut
" Untuk apa?"
__ADS_1
" Aku sudah membuatmu berprasangka dan khawatir, namun percayalah ini sama sekali bukan keinginan ku"
" Maksudnya?"
Ansel membuang wajah, kemudian menunduk. Sebelum menekuk lututnya di hadapan Rinjani, Ansel mengenggam tangan Rinjani yang terasa dingin
" Jawab kak! mengapa Kaka tega membiarkan aku tidur sendiri tanpa kehadiran mu bahkan kau juga tak menghubungi ku lewat pangilan maupun pesan ... Kamu tega!" suara Rinjani kembali bergetar, tak lama air mata lagi-lagi tumpah
" Jangan menangis sayang please!" Ansel menghisap air asin yang meleleh dari mata istrinya
" Iya, tapi jawab mengapa Kaka lakuin ini padaku? .. katamu tak mau membuatku sedih, tapi dengan menjauhkan aku darimu kau membuat duniaku jungkir balik. Kau harus tau kak, sakit sekali menahan kesedihan dalam dada" Rinjani menekan dadanya dengan telapak tangannya yang tadi di genggam oleh Ansel
Ansel menghembuskan napas panjang, kemudian menengadah melihat wajah wanita terkasih yang sedang menangis karenanya
Rasa sesal seakan membungkus dalam jiwa. Walau sebenarnya ini bukan juga kemauannya, namun melihat kesedihan Rinjani Ansel ikut merasa bersalah
" Kak aku minta maaf jika aku punya salah, namun tolong jangan buang aku untuk jauh dari mu"
Perkataan Rinjani bagaikan tamparan keras yang membekas di pipi Ansel. Pemuda itu tak lagi membuka suara, Ansel hanya semakin beringsut, lalu berdiri dengan kedua lutut untuk menciumi perut istrinya, lalu memeluknya lama dengan lelehan air mata yang cepat ia hapus agar Rinjani tak mengetahuinya. Setelah cukup lama Rinjani segera menarik pundaknya untuk duduk sejajar dengannya
Rinjani menyapu lembut sudut mata suaminya, kemudian meraih telapak tangan Ansel untuk dikecupnya beberapa kali
Rinjani tak menemukan jiwa tengil suaminya, yang ada Rinjani mendapati tatapan rindu dan cinta yang sama di mata Ansel, membuatnya menyesal sudah berkata yang tidak-tidak karena emosi
Rinjani menempelkan telapak tangan Ansel kembali pada perutnya " Kak, kata adek dia rindu di jenguk Daddynya, Kak maaf jika kata-kata ku membuat Kaka tak nyaman, aku hanya ingin mengatakan aku sangat takut kehilanganmu, kak aku jatuh cinta pada sosok suami ku ... aku rindu" aku Rinjani yang langsung memeluk tubuh suaminya, yang sempat membuatnya terguncang karena rasa takut.
Segala sesuatu di dunia ini bahkan di Alam semesta ini tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya. Dia lah yang maha berkehendak. kalau di kantor-kantor, kita bisa analogikan, segala sesuatu yang terjadi di kantor harus seizin atasan/manager yang mempunya otoritas tanggung jawab, dan inipun kadangkala banyak kejadian yang terjadi tanpa sepengetahuan atau izin atasan/Manager, bahkan hal yang negatifpun kadang tak terpantau oleh mereka. Tak ada yang luput dari pandangan Allah semuanya dalam gengamannya, jumlah butir pasir di muka bumi inipun Allah mengetahuinya, saya sedang menulis tulisan inipun Allah mengetahuinya. jangankan yang tersurat yang tersirat tersembunyi dalam lubuk hati kitapun Allah pun mengetahuinya. Dia lah Allah, tak ada yang luput dari pandangan-Nya. bukankah ini tiga kata yang bermakna luas yakni 'Atas izin Allah'
__ADS_1
Itu yang tengah terjadi pada sepasang suami yang harusnya di pisahkan karena sebuah tradisi, namun apalah daya jika yang maha pemilik hati tak meridoi perpisahan mereka meski hanya 48jam, kini mereka sudah kembali di persatukan, tidak hanya bisa saling tatap keduanya bisa saling bersentuhan, Ansel sendiripun tak mampu menolak apa yang sang istri berikan karena bagaimanapun ia selalu merasa candu dengan seluruh apa yang ada pada Rinjani.