Perjalanan Cinta Rinjani

Perjalanan Cinta Rinjani
Pembebasan


__ADS_3

Ansel sampai di rumah nya bertepatan dengan kedua orangtuanya dan kedua tantenya yang berjalan dengan lesu juga hendak menuju pintu rumahnya


Sangat terlihat penyesalan di wajah dua orang yang sempat mencaci maki ia karena keadaan mentalnya, tetapi Ansel sama sekali tidak marah, karena ia sudah biasa di perlakukan seperti itu, kedua orang tuanya pun dulu juga selalu menganggap dirinya pemuda lemah dan cacat mental


Ansel sampai terkejut saat tiba-tiba kedua tantenya memeluk kaki nya dengan berjongkok di hadapannya, bersimpuh dengan tangis yang pecah


" Tolong bantu Kami ...." Dengan tangis dan air mata berderai mereka mengiba memeluk erat kaki Ansel


" Oh Tuhan ... Tolong jangan seperti ini" Ansel ikut duduk menekuk lututnya, tidak mau sampai ada orang yang seperti menyembah berhala


" Maafkan kami .... maafkan kami .... tolong bantu Jingga dan Merry" tidak perduli, Hanny dan Jeselyn tetap tak bergeming dan berjongkok kian menunduk di hadapan Ansel


" Berapa uang yang kalian miliki?" Ansel berkata dengan tenang, menarik tangan tantenya agar tak menangkup di dada


Bola mata keduanya sama-sama gelisah, sama sekali tidak berani membalas tatapan Ansel


" Berapa banyak uang yang sekarang ada?" Ansel kembali bertanya


Tidak mendapat jawaban, Ansel kembali bertanya


" Katakan saja!" Kali ini Ansel sedikit tegas


Keduanya mendongak dan mengeluarkan dua lembar kertas berbentuk panjang, Ansel langsung menerima membaca dua kertas dan menjumlah keseluruhan nilainya


" Ini sudah cukup" kata Ansel yang mampu membuat empat mata itu terbelalak


" Tapi - tapi-tapi ... i- itu ..." Hanny terbata ingin mengatakan sesuatu


Ansel tak lagi bicara, pemuda itu sibuk meraih telpon genggamnya dan sibuk dengan benda pipih itu sebelum Ansel menerima panggilan masuk


Beberapa saat Ansel mengajak mereka masuk.


" Bu dimana istri ku?" Tanya Ansel pada asisten rumah tangganya yang tengah menyuguhkan minuman


" Nyonya ada di kamar Tuan, baru saja main sama si kembar sebelum si kembar tertidur"


Ansel mengangguk dan berjalan menuju kamar tidur mereka, begitu pintu terbuka, bertepatan dengan Rinjani yang baru keluar dari kamar mandi


Rinjani tersenyum dan segera menghampiri Ansel


" Katanya sebentar, ini sudah lewat jam makan siang" Rinjani cemberut


" Sekalian tunggu Rania pulang sayang" Ansel mencium kening Rinjani

__ADS_1


" Kaka sudah sholat?"


" Baru mau, makanya mau sekalian mandi"


" Mau di tunggu?"


Ansel mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi


Selesai shalat bersama Ansel kembali mendapatkan panggilan telepon, Rinjani memperhatikan suaminya yang bicara sedikit jauh darinya, tampak Ansel begitu serius bicara dengan seseorang di sebrang sana, sesekali Ansel terdengar berdecak dan juga mengeluh, sepertinya pembicaraan yang terjadi pada seorang teman atau kawan bukan pada rekan bisnis, di akhir panggilan Ansel ada menyebut nama nya, membuat Rinjani menengadah


" Dari Phonix Jabir" Terang Ansel begitu kembali mendekati Rinjani


Mata Rinjani membola karena tersentak, bukankah Phonix Jabir itu seorang ketua mafia? bagaimana bisa suaminya berbicara sesantai itu? bahkan ada nada keluhan dan decakan di beberapa kalimatnya?


" A- ada apa?"


" Jangan khawatir, semua sudah beres, Pak Phonix Jabir hanya memberitahu bahwa Jingga dan Merry sedang di antar kesini oleh anak buahnya" Jelas Ansel, sambil menenangkan istrinya yang tampak terkejut


" Ha?" Rinjani tampak Ling Ling, yang makin membuat Ansel gemas dan segera menjawil hidung mancungnya


" Ada Tante di bawah, aku temui mereka dulu, sayang ngak usah ikut, istirahat saja"


" Apa aku ngak boleh ikut turun?" Tanya Rinjani lirih


" Bukan tidak boleh, aku hanya tak mau anak kita mendengar kata-kata kasar, prilaku mereka tak terduga, tutur kata yang keluar sering kurang baik, aku tak ingin anak kita terkontaminasi"


Rinjani tak mampu menahan tawanya saat mendengar ucapan suaminya, ada-ada saja Ansel, memangnya air, terkontaminasi?


Ansel merangkul bahu istrinya. " Aku ngak ngelarang, oke ayolah kalo ikut turun"


" Ya udah aku disini aja" putus Rinjani


" Lo kenapa?" tanya Ansel


" Takut air ketuban anak kita terkontaminasi" Jawab Rinjani seraya tersenyum geli


Kini giliran Ansel yang tergelak


" Aku akan berusaha agar masalah ini cepat selesai sayang, aku ngak suka ketenangan istri ku terganggu"


Ansel mengenggam tangan Rinjani " Aku baik-baik saja Kak" Sanggah Rinjani " Yaudah Kaka turun gih, nanti kita lanjut ngobrol nya"


" Baring gih sayang!"

__ADS_1


Rinjani mengangguk dan berjalan menuju tempat tidur. Berbaring miring, Ansel mengganjal punggung Rinjani dengan guling, depannya juga di letakkan guling, kaki Rinjani di naikan sebelah pada guling depannya, menarik selimut sebatas pinggang, Ansel juga mengontrol suhu AC. Setelah memastikan istrinya nyaman Ansel mengecup kening istrinya


" Tidurlah!"


Ansel turun dan segera bergabung dengan ke empat orang yang sedang makan siang, Ansel ikut duduk, karena ia memang belum makan, sepanjang acara makan tak ada satupun yang buka suara, kedua tantenya bahkan tidak berani melihat ke arahnya


Usai makan Ansel membuka suara


" Merry dan Jingga sudah dalam perjalanan kesini, uang tadi berikan saja ke Papa, aku memakai uang perusahaan untuk mentransfer"


Hanny dan Jeselyn mendongak dengan mata yang berbinar terang. " Kami akan berusaha mencari uang untuk mencicil ....."


" Tidak perlu, itu sudah cukup" Potong Ansel


" Maksudnya apa Sel?" Nikolas ikut bingung dengan apa yang dikatakan oleh Ansel


" Aku sudah bicara pada Phonix Jabir, dan aku mendapat keringanan dari istrinya, perusahaan juga tak akan disita"


" Mustahil" Papa Ansel berseru tak percaya, sedangkan jeselyn dan Hanny langsung sujud syukur di lantai


Mereka akan kembali bicara, namun bel berbunyi dan setelah nya dua gadis yang tengah mereka bicarakan muncul


" Ya Tuhan ... Ya Tuhan..!" Seru Jeselyn dan Hanny, mereka segera menatap Ansel dengan raut wajah bahagianya, Hanny dan Jeselyn juga tak tahan langsung memeluk tubuh keponakan yang selama ini terus mereka hina dan remehkan, dari bibir mereka tak berhenti berucap terima kasih


Sedangkan Jingga dan Merry meminta maaf pada Tante dan Om nya setelah itu menatap sungkan pada Ansel


" Tante berhutang selamanya pada mu" Hanny mendongak menatap wajah Ansel


" Tidak sama sekali, Tante Jingga sudah dewasa, semakin hari usia akan bertambah, restuilah pria yang berniat baik untuk meminangnya, sampai kapan Tante akan ikut campur hidup putri Tante?, Tante juga akan kesepian di masa tua, selagi sehat apa Tante tidak ingin mengendong cucu? dan syarat memiliki cucu adalah merestui Anak Tante menikah bukan, Tante aku adalah orang yang saat itu menarik Tante saat kejepit badan mobil, aku mendengar keluh kesah putri Tante, jika terus seperti itu bukan tidak mungkin Tante bisa benar-benar kehilangan jingga"


Ada keterkejutan di wajah Hanny, jadi Ansel adalah orang yang telah menyelamatkan nyawanya kala itu?


Sementara ditempatnya berdiri Jingga menangis mendengar ucapan Ansel, dia tidak pernah dibela dan diperjuangkan seperti ini. Bahkan para calon suaminya tidak pernah memiliki niat untuk membebaskan ia dari Mama nya yang otoriter dan memperlakukan nya seperti boneka yang bisa di atur


" Maaf jika aku sudah terlalu lancang" Ucap Ansel setelahnya


" Tidak" Sanggah Hanny " Kamu benar, Tante memang bukan Ibu dan keluarga yang baik" Hanny menangis sekali lagi" Tetapi aku janji setelah ini akan menjadi Ibu yang baik untuk putri ku" Kepala Hanny mengangguk" Aku akan mendukung siapapun pilihan Jingga untuk menjadi suaminya, kalian semua saksi nya, Ansel kamu benar-benar pemuda yang luar biasa, terimakasih sudah membuka mata wanita tua ini, Tante berhutang kepada mu seumur hidup"


Hanny melangkah cepat merangkul putrinya yang menangis " Maafkan Mama Jingga, maafkan Mama"


Merry tak bisa berpaling dari pesona Ansel, Setelah hari itu, penglihatan Merry pada Ansel berubah dua ratus delapan puluh derajat, gadis yang lebih muda dari Jingga itu seolah jatuh hati pada Ansel, namun bahkan untuk sekedar mendekat saja dia begitu malu


Sedangkan di hati Ansel sangat lega, masalah yang membelit keluarga nya sudah beres, Ansel bisa lega meninggalkan kota ini bersama keluarga kecilnya, rumah impiannya juga hampir selesai di bangun, membuat pemuda itu tak sabar untuk segera membawa anak dan istrinya pergi

__ADS_1


__ADS_2