Perjalanan Hidup

Perjalanan Hidup
Bab 109 : Menang 1 triliun


__ADS_3

Johan yang ada di bawah panggung pun tercengang, si Diman yang ada di atas panggung pun juga tercengang.


Tadinya dia juga sudah menjual banyak lubang yang besar, meskipun gerakan seni bela diri ini terlihat sangat ganas, dengan berlari sambil mengarahkan kepalanya, tetapi faktanya arah depan kepalanya terbuka lebar, berdasarkan tingkatan yang diselidiki saat bertarung dengan tangan kosong, Hardi seharusnya bisa memukulnya dengan satu tinjuan atau satu tendangan saja.


Sampai saat itu, dia baru bisa memanfaatkan kesempatan untuk terjatuh dan tidak bisa terbangun, dengan begitu bisa membuat pertandingan tinju terjadi hal yang tidak terduga.


Tetapi kejadian yang terjadi di depan matanya, dengan yang dia bayangkan sebelumnya benar-benar berbeda!


Dan terlebih lagi adalah, dia merasa sikunya baru saja menyentuh Hardi sampai jatuh, Hardi sudah jatuh begitu saja.


Melihat pergerakan yang ada di depan matanya, sudah jelas sudah pingsan.


“Apakah tenagaku tidak terkendali kan dengan baik, langsung membuatnya pingsan begitu saja?”


Di saat Si Diman sedang bingung dengan masalah ini, wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi, “Pemenang pertandingan kali ini adalah, Diman!”


Setelah wasit mengumumkan hasil nya, di dalam lapangan penuh dengan suara sorakan, benar-benar momen yang luar biasa, sampai hampir bisa membuka atap rumah.


“Richardiman, Dimaaan, Dimaaaan ”


Di antara gelombang suara yang meriah, bos lainnya yang duduk di kursi VIP juga berturut-turut menunjukkan wajah tersenyum terhadap Johan :


“Presdir Jo, bawahanmu Si Diman ini sungguh berharga ya, tak terkalahkan, berturut-turut memenangkan 20 pertandingan, hebat!”


“Hebat sekali, selamat ya presdir Jo, kali ini anda memenangkan seluruh kemenangan lagi, kagum, kagum!”


“Presdir Jo, kamu segera transfer kan Si Diman ini kepada ku saja, ini benar-benar sumber pohon keuangan mu loh, hebat sekali!”


Semuanya berturut-turut berkata, masing-masing orang menyampaikan pujian kepada Johan , mengaguminya telah memenangkan uang pertandingan demi pertandingan.


Tetapi Johan yang di saat ini justru sangat ingin menangis, bagaimana ini bisa terjadi?


Uang taruhan yang sudah dikeluarkan sebesar 2 triliun rupiah pada taruhan di luar sebelumnya, adalah untuk membeli taruhan dengan kemenangan Hardi .


Meskipun dia tidak yakin apakah Diman bisa mengalahkan Hardi atau tidak, tetapi dia bisa yakin pada akhirnya si diman pasti kalah!


Sial ini sih masih mending, awalnya masih ingin gila-gilaan, ingin mendapat keuntungan tetapi tidak menginginkan harga diri lagi, hanya ingin mendapat keuntungan besar.


Tetapi tidak disangka, tiba-tiba sekarang muncul masalah, itu 1 triliun !!!

__ADS_1


Memikirkan itu, hati Johan langsung mendidih, terlebih merasa dalam tubuhnya ada sesuatu yang mengarah keluar.


Dia sudah tahan dan tahan, akhirnya tidak bisa ditahan, ‘phuk’ dengan memuntahkan banyak darah.


Orang di sekitarnya pun terkejut setengah mati, buru-buru membujuk nya : “Presdir jo, presdir jo, anda jangan terlalu bersemangat, tidak mungkin, hanya menang miliran lebih saja, jangan terlalu bersemangat sampai melukai badan, benar-benar tidak layak……”


Johan benar-benar sudah ingin menangis, aku terlalu bersemangat apakah karena memenangkan uang? Aku kehilangan 1 Triliun, 1 triliun loh..


Dan di saat itu juga, Alif berdiri datang kemari, tersenyum sambil datang mendekati depan Johan ..


Menyalakan sebatang rokok, Alif menepuk-nepuk bahu Johan “Bagaimana, presdir Jo, sangat senang bisa memenangkan 100 miliar rupiah) dari ku?”


“Tidak mungkin, bukankah hanya 100 miliar saja, aku sudah kalah pun tidak berkata apa-apa, kamu memenangkan uang kecil itu saja sudah membuat mu terlalu bersemangat, sekarang kamu tidak mungkin jatuh miskin sampai keadaan seperti itu kan?”


Presdir perusahaan Bakti telah datang, bos-bos di sekitar segera bubar.


Mereka pun tahu Alif dan Johan tidak akur, dan juga selalu berjuang hidup dan mati.


Jadi masalah ini mereka tidak berani ikut campur, juga tidak ada bagian untuk ikut campur, paling banyak hanya ramai melihat dari samping, masih harus menjauh sedikit.


Johan menatap mata Alif , tidak berbicara, hanya mengambil tisu yang dibawa bawahannya untuk mengelap bekas darah di ujung mulutnya.


Tetapi ternyata Alif tidak jadi pergi, justru setelah itu berkata: “Tidak berani berbicara ya? Takut dipermalukan ya? Apa yang perlu dipermalukan?”


“Sebelumnya presdir jo diam-diam mengeluarkan uang 1 triliun, di tempat taruhan lain membeli taruhan Hardi yang akan menang, ditambah memerintah si Diman sengaja mengalah di pertandingan ini. Selama ini, para hadirin sekalian sudah menyia-nyiakan uang kalian, secara tak terlihat semua terbantai oleh Si Johan ini.”


“Setelah aku mengetahui informasi ini, aku mengeluarkan 1 triliun, membeli taruhan diman menang, dan membuat Hardi sengaja kalah.”


“Jadi, kalian sekarang harusnya sudah mengerti Johan purnomo ini yang tidak tahu malu ini, mengapa bisa muntah darah!”


Setelah Alif menjelaskan, orang di sekitar tiba-tiba membuka mata lebar.


Kali ini mereka akhirnya sudah mengerti, mereka lalu mengatakan, Johan bagaimana mungkin bisa muntah darah karena uang 100 miliar saja, ternyata dari dalam sudah bermain cara gelap seperti ini, menganggap mereka orang bodoh dan memasuki mereka ke dalam lubang!”


“Presdir Johan, yang kamu lakukan benar-benar baik sekali, terlalu baik sekali!”


“Johan, bisa juga kamu, berapa tahun ini sia-sia menjadi teman mu, ternyata kamu menusuk ku dari belakang, kamu cukup kejam!”


“Tidak heran kamu presdir Jo terlihat seperti orang yang kaya, dengan kemampuanmu kamu bisa memperoleh semua keuntungan yang ada di depan mu ya? Kamu hebat!”

__ADS_1


“Sialan, untungnya kali ini ada presdir To menghentikan permainan mu duluan, jika tidak kamu semua dijadikan orang bodoh yang sudah dipermainkan oleh mu, sial……”


Semuanya mengutuk, berturut-turut menunjuk Johan sambil mengecam.


Mereka juga sudah tidak takut akan pembalasan dendam si Johan, bagaimana pun ada presdir perusahaan Bakti Alif to yang mengangkat bendera.


Mereka sudah digerakkan menjadi satu garis pertempuran dengan ALIF, tentunya ingin "menembak meriam" terhadap si Johan ……


Johan yang saat ini, akhirnya paham apa yang terjadi, lalu dia berkata bagaimana Hardi bisa kalah dengan begitu cepat dan rapi.


Marah sambil menunjuk ke Alif , Johan mengikis lantai sebentar lalu berdiri, “Sialan, ternyata kamu lah yang berulah, kamu bertinju palsu!”


Saat itu Alif tertawa, “Bagaimana, kamu Johan purnomo lah yang bertinju palsu, jadi tidak memperbolehkan aku bertinju palsu, hmm?”


Di samping, Edward berbicara sekali lagi.


“Aku beritahu kamu Johan, lain kali sedikit lah bermain cara gelap dengan bos ku, dengan kecerdasan mu yang seperti ini, gosok dan buatlah sebola kecil tanah dari kaki bos kami dan masukkan ke mulut ,kambing itu pun bisa mempermainkan mu hidup-hidup.”


“Dengan kamu yang seperti itu, masih berani bertarung dengan bos kami, bagaimana matinya pun tidak tahu!”


“Jangan membicarakan bos kita lagi, saat mulai bertarung, Kamu bahkan tidak sebanding denganku, dengan kedua tanganku tidak ada keuntungan yang tidak dapat aku peroleh, bahkan seratus kosong delapan orang pun bisa tertipu oleh ku.”


“Sampah seperti mu, awalnya jika bukan karena lari lebih cepat, aku sudah memotong-motong dan menjadikan mu bakso Kambing!”


Edward berkata, itu pasti nya tiada ampun, bahkan jika ini hanya sebuah bohongan pun tetap membuat orang lain marah.


Johan marah sambil menunjuk Edward, seluruh badannya gemetaran, seperti terkena penyakit darah tinggi dan aliran darah di otak yang tersumbat.


“Bagaimana, penyakit epilepsinya kambuh ya, kamu jangan memuntahkan busa putih, kalau tidak orang mengira kamu mengiklankan sabun cuci baju!”


Edward masih ingin mengatakan sesuatu, tangan Johan sekali diayunkan, akhirnya di antara kemarahan muncul auman suara, “Potong dia!!!”


Perkataan ini sekali keluar, saat itu ada lima enam orang menerobos kemari, Edward saat itu sangatlah terkejut.


Namun saat Alif melangkah maju, lima enam orang itu berturut-turut mundur.


Alif, adalah orang hebat yang bahkan membuat kakak mereka ketakutan, terlebih lagi sekali datang langsung menampar wajah mereka, lalu badan mereka langsung melangkah mundur.


Orang hebat seperti ini, mereka ingin turun tangan pun, sama sekali tidak cukup berhak!”

__ADS_1


Alif memanggil Edward. langsung meninggalkan dengan sombong, hanya meninggalkan kata-kata di sini——


“Johan, 1 Triliun ya, aku berterima kasih ya, terima kasih atas kemurahan hatimu itu!”


__ADS_2