Perjalanan Hidup

Perjalanan Hidup
Mengukir Kenangan


__ADS_3

Lelah menelusuri jalanan di Kota Surabaya dengan berjalan kaki sambil bergandengan tangan di sekitar alun alun, Cantika dan Verrel memutuskan untuk duduk sejenak di bangku taman yang sudah disediakan oleh pengelola taman.


"Gimana perasaan kamu udah baikan belum?" Cantika duduk sambil mengayunkan kakinyapun seketika menoleh melihat Verrel yang sedang duduk menyamping menghadap dirinya.


Cantika tersenyum kemudian mengucapkan "Terima kasih ya" Sampai memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Verrelpun tersenyum melihat sikap Cantika yang sudah seperti biasanya, penuh dengan keceriaan dan wajah yang selalu sumringah.


"Sayang, kamu masih mau keliling atau pulang?" Cantika menimang nimang ucapan Verrel dengan menengadahkan kepalanya ke atas seolah sedang berfikir sambil melihat bintang bintang yang bersinar terang malam ini.


Malam yang pekat, cuaca yang cerah, sehingga memperlihatkan dengan jelas deretan bintang bintang yang penuh dengan cahaya. Verrelpun bercerita kembali kesana kemari membuat Cantika tertawa dengan cerita yang Verrel buat.


"Haha, ternyata kamu gokil juga Mas"

__ADS_1


"Kamu makin cantik kalo tertawa kayak gini sayang" Verrel masih betah duduk menyamping melihat Cantika.


"Iih gombal" Cantika memukul pelan lengan Verrel yang masih intens menatapnya dengan penuh damba.


"Mas kangen, pulang yuk!" Seketika Cantika menoleh menatap tajam netra Verrel yang Cantika tahu apa maksud dan tujuan yang tersimpan didalam ucapannya.


Cantika hanya terdiam masih setia menatap dengan tajam wajah Verrel.


"Iih masss" Cantika mencebik kesal dengan mengerucutkan bibirnya.


"Semakin kamu banyak alasan maka semakin lama, dan itu akan menghambat waktu kita yang sebentar lagi akan pagi" Tanpa menjawab ucapan Verrel Cantika berdiri, menghentakkan kakinya kemudian berjalan menuju hotel terdekat yang mereka pesan.


Verrel memutuskan untuk menginap malam ini di hotel terdekat selain untuk menyenangkan Cantika, Verrel juga ingin merasakan suasana yang baru.

__ADS_1


Verrel tersenyum sambil mengikuti langkah sang Istri yang selalu membuatnya gemas setiap hari. Wajah marah, kesal, ceria dan bahagia itu selalu Verrel ingat di manapun dirinya berada. Entah apa dan bagaimana reaksi wajah itu saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Marahkan, kecewakah, atau datar seperti biasanya saat mereka ada masalah. "Sayang maafin Mas" Ucap Verrel dalam hati.


Menapaki langkah demi langkah rasanya Verrel tidak rela jika waktu cepat berlalu. Ingin rasanya Verrel menghentikan waktu agar kebahagiaan ini tidak akan pernah usai.


Ada sesuatu yang membuat Verrel merasa berat untuk pergi ke Riau, terlebih harus tinggal beberapa tahun yang akan datang. Firasat demi firasat itu semakin kuat tanpa bisa Verrel kendalikan.


Dan rasa takut itulah yang membuat Verrel terus menggempur Cantika setiap ada kesempatan, rasa takut kehilangan, rasa takut ditinggalkan membuat pikiran Verrel tertutup sehingga dia memutuskan sendiri bahwa Cantika harus hamil dan mengandung putranya, agar tidak ada alasan untuk Cantika pergi meninggalkan dirinya.


Verrel yang punya firasat yang tidak baikpun tidak dapat mengungkapkannya dengan kata kata dan setiap hari hatinya hanya bisa merasakan sesuatu akan terjadi tetapi entah apa.


Yang jelas Verrel tidak mau mendeskripsikan rasa cemasnya itu dan memilih membuangnya jauh jauh. Verrel hanya bisa berdoa, dan berdoa semoga semuanya baik baik saja sesuai dengan apa yang ia harapkan.

__ADS_1


__ADS_2