
Alif merasa Widia mungkin tahu tentang Arya.
Namun faktanya ini di luar dugaan, dan Widia berkata bahwa dia tidak tahu.
"Aku baru kembali dari rumah sakit, karena ayahku baru keluar rumah sakit. Arya sudah pergi ketika aku datang kemarin."
"Ada sebuah surat izin yang ditinggalkannya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Sekarang aku tidak bisa menghubungi nomornya, malah aku ingin bertanya padamu!"
Kejadian ini membuat Alif terkejut, karena Arya seharusnya tidak seperti ini.
Jika sesuatu terjadi padanya, sepertinya tidak mungkin. Jika sesuatu benar-benar terjadi padanya, kenapa dia tidak meminta bantuan?
Alif melihat surat izin yang diserahkan oleh Widia, dan kemudian menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi pada Arya.
Widia mengatakan bahwa ini adalah surat izin yang ditinggalkan oleh Arya, tetapi sebenarnya tulisan tangan pada surat izin itu sama sekali bukan tulisan dari Arya.
Meskipun terlihat sangat mirip, itu hanya tiruan, seperti huruf mandarin pada 'Az', di sini ada tiga di dalamnya, tetapi Arya selalu menulis dua garis, Alif mengoreksinya beberapa kali, dan Arya selalu melakukan hal yang sama, dan ini merupakan hal yang sudah biasa.
Tetapi huruf mandarin dalam surat cuti ini ada tiga garis dan sangat jelas tulisannya.
Akan tetapi tulisan ini mirip dengan tulisan Arya, dan Alif tahu itu bukan tulisan tangan Arya.
"Apa Arya mendapatkan masalah?"
Ketika Widua bertanya dengan rasa ingin tahu, Alif tersenyum dan berkata, "Kenapa, tidak apa-apa, jangan khawatir!"
Dia dengan lembut memeluk Widia, dan kemudian mencium pipinya, "Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja, aku akan pergi dan melihat."
Setelah menenangkan Widia sebagai guru konselor, Alif meninggalkan sekolah dan langsung menuju ke rumah Arya.
Tetapi ketika Alif pergi ke rumah Arya, dia melihat bahwa pintu toko buahnya ditutup.
Tetangga mengatakan bahwa mereka telah ditutup toko hampir seminggu.
Ada seseorang mengeluh, karena orang itu sudah membayar uang untuk membeli buah, tetapi keesokan harinya toko itu tutup, dan tidak bisa mengambil buah tersebut.
Orang tua Arya memang hanya memiliki bisnis kecil saja, tetapi mereka memperhatikan kredibilitas dia sebagai penjual.
Mereka tidak mungkin sampai membohongi soal uang, dan terlebih lagi itu hanya berapa puluh juta saja, jadi Alif yakin sesuatu telah terjadi pada keluarga Arya.
Jadi dia tidak mengatakan apa-apa, memecahkan jendela pemadam kebakaran di pinggir jalan, mengambil kapak dari dalam jendela tersebut dan membobol pintu rumah Arya.
Pintunya terbuka dalam dua atau tiga kali, dan kemudian dia memasuki halaman belakang.
Rumah Arya terdiri dari bagian ruangan selatan dan utara, di sebelah ruangan selatan dia membuka toko, dan di ruangan utara sebagai tempat tinggal mereka sekeluarga.
__ADS_1
Saat ini, ruangan bagian utara dikunci, dan dikunci dari luar.
Tetangga lain juga mengikuti, mencoba ingin tahu kejadian ini saja, tetapi Alif menghentikan mereka.
Dia sangat khawatir, jika sesuatu masalah benar-benar terjadi pada rumah Arya, kemungkinan besar tempat ini akan menjadi sebuah tempat kejadian perkara.
Jika terlalu banyak orang, hal itu dapat menyebabkan kerusakan pada tempat kejadian perkara ini.
Jadi dia menakut-nakuti orang dengan kapak besar itu, dan memaksa beberapa orang untuk memanggil polisi.
Inilah yang dibutuhkan Alif, dia berusaha untuk menakuti orang-orang ini sehingga mereka tidak berani maju lagi, dan juga ingin menyuruh mereka untuk melaporkan kepada polisi, dan melihat bagaimana polisi melihat hal ini.
Dengan kapak, ruangan pintu bagian utara dibelah dengan kapak, dan bau busuk segera keluar.
Bersamaan dengan bau busuk ini, nyamuk dan lalat pun berdengung.
Bagaimana bisa ada bau busuk dan begitu banyak nyamuk di tempat tinggal orang? Ini tidak masuk akal.
Dan setelah melihat pemandangan di dalam rumah, semuanya menjadi masuk akal--
Di tanah, tiga mayat ditempatkan secara acak, dan tingkat kebusukkannya sangat tinggi.
Jangankan untuk melihat rupanya, untuk melihat bentuk tubuhnya saja tidak bisa sanggup melihatnya, ada beberapa tempat yang sudah terlihat tulang-tulangnya, dan terdapat belatung yang berkelok-kelok di daging busuknya yang menjijikkan, tapi juga sangat menakutkan.
Alif mengepalkan tinjunya, dengan urat biru menonjol di dahinya.
Dia tidak bisa melihat wajah Arya, tapi tidak bisakah dia melihat pakaian yang dikenakan Arya?!
Tapi dia tidak implusive. Dia masih menunggu polisi datang. Bagaimanapun, polisi bisa lebih baik menyatakan bukti fisik dan menilai penyebab kematian ketiganya.
Polisi tiba sekitar sepuluh menit kemudian. Setelah mengetahui bahwa itu adalah pembunuhan, polisi segera menjaga tempat kejadian dan memberi tahu Tim Resese Kriminal untuk datang.
Setelah beberapa saat, Tim Resese Kriminal datang dengan didampingi oleh seorang dokter forensik.
Tetapi Alif tidak jelas tentang hal berikutnya, karena dia telah dibawa oleh polisi untuk diinterogasi.
Bagaimanapun juga dia dan Arya adalah teman sekelas yang sangat dekat. Banyak orang yang mengetahui hal ini. Oleh karena itu, wajar baginya untuk mendobrak pintu. Polisi tidak mengatakan apa-apa berdasarkan ini.
Tapi polisi menanyakan secara detail, "Maksudmu, kamu memberi Arya kartu bank yang isinya 8 miliar rupiah?"
Aluf mengangguk, "Ya, jadi aku menyuruhnya untuk memeriksa kartu bank itu, melihat apakah uang itu masih ada."
"Lagipula, aku sangat mengenal keluarga Arya. Keluarga mereka sangat sederhana dan baik hati. Mereka bukan pembuat onar. Bahkan jika terjadi pertengkaran mulut antar tetangga, tidak mungkin sampai saling membunuh."
Untuk petunjuk yang diberikan oleh Alif, polisi merasa itu sangat penting, dan mereka secara khusus menggambar pena merah dalam lingkaran.
__ADS_1
Setelah itu, polisi bertanya lagi: "Lalu siapa kamu?"
Alif tidak menyembunyikannya lagi, "Aku Presdir dari Perusahaan Bakti, Alifto."
Niat awal polisi adalah untuk menanyakan bagaimana kondisi keluarga Alif, jika tidak, dari mana uang 8 miliar itu bisa ada?
Namun apa yang sekarang polisi itu pikirkan, ternyata dia adalah Presdir Perusahaan Bakti yang ternama di kota ini.
Orang banyak mendengar bahwa Presdir Perusahaan Bakti masih muda, tetapi kali ini Presdirnya sangat muda sekali!
Usianya baru 20 tahun, dan sudah menjadi Presdir dari Grup Bakti utama, yang membuat para Tim Resese Kriminal berusia 30 tahun ini merasa sangat malu.
Pada akhirnya, setelah membicarakan beberapa hal, polisi mencatat nomor ponsel Alif dan mungkin akan perlu menghubunginya lagi.
Untuk ini, Alif cukup kooperatif dan segera memberikannya.
"Jika kasus ini dalam tiga hari selesai, aku akan memberi biaya peralatan untuk Tim Resese Kriminal senilai 30 miliar rupiah. Jika dalam seminggu, aku akan memberi Tim Polisi Kriminal biaya peralatan senilai 100 miliar rupiah. Dalam sebulan, aku akan memberi Tim Polisi Kriminal peralatan senilai 600 miliar rupiah ."
Polisi terkejut dengan ini.
Dia pernah melihat kerabat dan teman korban meminta polisi untuk menyelesaikan kasusnya secepatnya, perasaan itu bisa dimaklumi.
Para polisi mengerti perasaan yang seperti ini, perasaan dimana seorang keluarga atau teman yang ingin cepat-cepat kasus ini terpecahkan.
Tetapi mereka sangat jarang mendapatkan uang seperti ini, bukan dengan memasukkan uang ke dalam saku mereka, tetapi memberikan peralatan kepada Tim Resese Kriminal.
Dengan ini, mereka akan lebih cepat dalam menyelesaikan kasus ini.
Terus terang, jika mereka dapat menyewa satelit militer dari AS , mereka dapat langsung menghubungi satelit saat menyelesaikan suatu kasus, dan sangat mudah sekali!
Tetapi masalah ini tidak semudah itu, kemudian seorang polisi berkata: "Aku sangat memahami perasaan kamu. Ini adalah tugas kami untuk menyelesaikan kasus ini. Yakinlah bahwa kami akan menyelesaikan kasus ini secepatnya. Mengenai bantuan yang kamu sebutkan tadi, kami masih perlu berbicara dengan atasan kami, dan aku tidak bisa mengambil tindakan apapun."
"Tapi aku masih ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu, karena kamu ingin memberikan semangat atas pekerjaan kami....."
Setelah berbicara dengan polisi, Alif meninggalkan rumah Arya.
Tapi begitu dia pergi, dia pergi ke sisi Alin.
Pada saat ini, Aline sedang mengurusi toko nya, dengan santai menyesap tehnya, merencanakan rencana untuk membicarakan urusan bisnis kepada para pemimpin, dan kemudian bekerja keras untuk memperluas ruang lingkupnya, sehingga dia dapat mengikuti jejak Alif.
Tetapi pada saat ini, Alif datang dengan tergesa-gesa.
Aline terkejut, "Kemarin malam kamu baru melakukannya, hari ini kamu mau aku lagi? "
"Sayangku, kenapa aku merasa keinginan dirimu semakin lama semakin besar ya....."
__ADS_1